
...Jika pada akhirnya tidak bisa bersama setidaknya jangan pernah menawarkan harapan....
.......
Waktu membuatnya sadar, jika selama ini ia mungkin kurang bersyukur atas pemberiaan Allah kepadanya. Hari ini tepat musim semi pertama datang ditahun sekarang. Semerbak bunga sakura memenuhi rongga pernapasaannya.
Jendela dapur yang terbuka memberikan aroma menambah semangat untuk jiwanya. Sebelum menjalankan aktivitas ia membuat sarapan sederhana untuk sang putri seperti biasa. Sebagai orang tua tunggal, Riana mencoba menjadi ibu yang terbaik. Berharap Kaila tumbuh besar seperti anak lainnya.
“Ya Allah ampuni hamba jika selama ini masih banyak kesalahan,” gumamnya memandangi awan yang berarak.
Semilir angin menyapu wajahnya yang pucat. Semalam menjadi pengalaman terberat dalam hidupnya. Selama 5 tahun ia tidak pernah menduga akan mendengarnya lagi dari seseorang. Selama ini ia sudah menghapus kata itu dalam kamus hidupnya. Tidak pernah ada dan tidak bisa tertulis kembali. Ia tidak mungkin bisa membuka hatinya untuk yang lain. Rasa sakit yang ia peroleh dari masa lalu masih membekas dan tidak bisa pergi.
“Sayang, ayo makan mamah sudah buatkan nasi goreng,” teriaknya saat tidak mendapati Kaila di meja makan.
Tidak lama berselang gadis kecil itu datang seraya mengucek matanya gemas. Riana tersenyum lalu menggendongnya cepat.
“Mamah Kaila bukan bayi lagi,” ucapnya dengan suara serak.
“Tapi Kaila tetap akan menajdi bayi mamah.” Balas Riana seraya menghujaninya kecupan.
Beberapa saat kemudian mereka pun menikmati sarapan bersama. Ditemani suara kicau burung Riana bahagia bisa melihat putrinya makan dengan lahap. Pada akhirnya ia bisa bangkit dari keterpurukan meskipun luka menganga itu masih terasa perih. Hari menyedihkan itu memang tidak sepenuhnya bisa ia lupakan. Namun, Riana bersyukur Allah menghadirkan Kaila untuk mengisi dan mengobati lukanya.
“Bagaimana kalau hari ini kita pergi jalan-jalan? Mamah dengar di dekat stasiun ada bazar halal,” ucapnya kemudian.
“Tapi Kaila kan sekolah. Mamah juga harus bekerja.”
Riana menggelengkan kepalanya singkat. “Hari ini saja Kaila tidak usah sekolah dan mamah tidak pergi bekerja. Bagaimana, apa kamu mau Sayang?” Kaila tersenyum lebar mendengarnya. Ia tidak menduga sang ibu bisa berkata seperti itu.
“Eung, Kaila mau.”
Seperti yang sudah direncanakan, ibu dan anak itu kini menuju stasiun yang berada di wilayah Timur Kota Seoul. Langit terlihat cerah, sepertinya alam mendukung kebersamaan mereka. Tidak lama kemudian mereka tiba di sana. Banyak sekali muslim yang datang dari berbagai negara. Ia merasa berada di negaranya sendiri.
Riana dan Kaila tersenyum senang melihat pernak-pernik yang dipamerkan. Tidak ketinggalan makanan halal yang menggoda indra pengecapnya membuat ibu satu anak itu kalap.
Berbagai makanan dibelinya. Ia menikmatinya bersama sang putri dibangku yang telah disediakan. Hari ini ia bahagia bisa terbebas dari beban yang menghinggapinya.
Di tempat yang berbeda, sedari tadi YeonJin tampak gelisah di meja kerjanya. Hal itu disadari oleh Jimin yang kebetulan tengah menyiapkan pekerjaan. Ia memandanginya lekat melihat sorot mata kekhawatiran di sana.
“Hyung pasti memikirkan Riana, kan?” Sontak pertanyaan itu membuat YeonJin menoleh cepat.
“Apa yang kamu bicarakan?” Jimin tidak langsung membalasnya lagi. Pria itu terdiam membaca gerak-geriknya.
YeonJin pun kembali mengalihkan pandangan bersikap acuh. Netra kecilnya menatap langit cerah. Awan berarak pelan memberikan efek ketenangan. Ia tahu jika hari ini Riana absen dari kerjanya. Hal itu membuatnya bertanya-tanya. Terlebih atas kejadian tadi malam. Tanpa sadar ia mengungkapkan perasaannya sendiri. Tidak ada kebohongan, itulah yang selama ini ia rasakan.
"Tidak biasanya Riana mengambil cuti sakit. Apa dia memang benar-benar sakit?" benaknya penasaran.
“Aku harap hyung jangan meneruskan perasaanmu,” Kembali Jimin berujar. Pria yang lebih muda dua tahun darinya ini terlihat serius. Tidak biasanya Jimin seperti itu. Layaknya seorang kakak yang tengah menasehati adiknya.
Terlebih ada tembok besar yang menghalanginya yaitu, PERBEDAAN.
...***...
Senja sejatinya selalu datang ketika hari menjelang malam. Warna orange menyebur bertubrukan dengan lavender. Suara burung terdengar nyaring kembali ke dalam sarangnya. Begitu pula dengan para pekerja yang hendak pulang ke rumah masing-masing.
Jam baru menunjukan pukul setengah 5 sore dan pemimpin perusahaan itu sudah meninggalkan meja kerjanya. Tidak ada yang tahu kepergiaannya sekarang. Entah kenapa sedari tadi ia terus merasa gelisah dalam diam. Beberapa saat kemudian ia tiba disebuah bangunan apartemen yang ditinggali seseorang.
Baru saja ia keluar dari mobil langkahnya terhenti saat melihat wanita itu tengah berjalan seraya menggendong sang anak. Dari jarak 10 meter mereka bisa mengenali satu sama lain. Riana, wanita arsitek itu terkejut melihat kedatangan atasannya.
Buru-buru ia pun mengambil langkah lebar untuk masuk ke dalam gedung tempat tinggalnya. Namun, sayang YeonJin lebih dulu mencegah kepergiannya.
“Riana, apa kamu sakit?”
Ia hanya mengangguk seraya terus menunduk tidak kuasa melihat pria itu sekarang. Bayangan tadi malam dan ucapannya terus berputar dalam kepalanya.
“Riana, bisa kita bicara?” pintanya kemudian. Riana memikirkannya cukup lama, hingga pada akhirnya ia pun mengiyakan.
Di sinilah mereka sekarang, duduk berdampingan di bangku dekat apartemen dengan adanya jarak. Sedari tadi Riana bungkam melihat putrinya yang tengah terlelap.
YeonJin terus memerhatikannya. Dilihat dari sudut mana pun wanita ini terlihat sangat rapuh. Entah kenapa perasaan ingin melindungi menyeruak dalam dada.
“Aku minta maaf atas kelancanganku tadi malam. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu,” jujurnya. Sekilas Riana menganggukan kepala. Lama ia tidak bersuara membuat YeonJin semakin gelisah.
Hingga, “lebih baik kita tidak usah membahas hal itu lagi. Saya akan melupakannya dan berpura-pura tidak ada yang terjadi. Terlebih sekarang Anda akan segera menikah, lebih baik fokus saja pada Hyerin. Wanita itu sangat mencintai Anda. Dan kita pun masih akan berhubungan dalam pekerjaan. Saya tidak mau hal tersebut membuat kita menjadi canggung.” Ungkapnya.
YeonJin mencernanya baik-baik. Ia sadar apa yang sudah diperbuatnya. Kata pernikahan yang ia dengar membuatnya tidak mau bersama Hyerin. Namun, bagaimana lagi banyak sekali saham yang diberikan ayahnya pada perusahaan itu. YeonJin menerima perjodohannya karena masalah pekerjaan. Ia tidak mungkin mengkhianati Park Jung Guk. Bisa-bisa perusahaannya mengalami penuruanan. Atau mungkin kebangkrutan akan menguasai.
“Eung, aku mengerti. Apa aku boleh bertanya sesuatu?” Riana kembali mengangguk mempersilakan.
“Bagaimana jika ada seorang pria yang sangat mencintaimu tapi berbeda keyakinan?”
“Sebesar apapun rasa cintanya, mereka tidak mungkin bersama. Karena dalam agamaku jika ada dua insan yang saling mencintai, tapi berbeda keyakinan itu tidak diperbolehkan. Dan jika itu terjadi padaku, tentu saja aku akan memilih kepercayaanku.” Tegas dan jelas perkataan Riana tadi seketika menamparnya.
YeonJin bungkam seribu bahasa setelah mengetahui fakta tersebut. Sejauh apapun ia memperjuangkan cintanya tetap saja, pada akhirnya mereka tidak bisa bersama. Terlebih ada sesuatu yang belum ia ketahui tentang masa lalu Riana. Khusunya mengenai ayah Kaila.
“Oh yah apa boleh aku bertemu Kaila lagi?”
“Seperti kataku tadi malam, aku harap kalian tidak usah bertemu. Sepertinya malam segera datang, aku pergi dulu.” Riana bangkit dari sana lalu mengangguk singkat padanya kemudian berlalu.
Angin dingin berhembus menemani kesendirian YeonJin. Pria itu diambang kebimbangan saat ini. Kesempatan untuk terus dekat dengannya sirna sudah.
Ada rasa sakit menyapanya begitu saja.