
Cakrawala membentang menyeburkan warna jingga dan lavender memberikan ketentraman. Cahaya hangat dari sang surya yang kembali ke peraduan memancar ketenangan. Kehangatan tersebut masuk melalui jendela besar di hadapannya.
Riana dengan setia masih memeluk sang suami erat. Tidak ada perkataan yang terlontar hanya isak tangis kecil terdengar. Seorang pria menangis dan terlihat rapuh di hadapan wanita yang dicintainya. Hanya sang istri yang bisa memberikan kekuatan.
Cinta terkadang mendatangkan kebahagiaan baru yang tiada tara. Namun, tidak sedikit juga menimbulkan malapetaka.
"Aku beruntung memilikimu,"
"Ehh?!"
Riana terkejut saat mendengar suara lirih suaminya. Ia lalu melepaskan rengkuhan dan memandangi wajah berair di sana. Dengan lembut ia menangup kedua pipi sang suami dan mengusap jejak cairan bening itu.
YeonJin tersenyum lemah dan menggenggam tangan hangat bertengger di wajahnya. Kemudian membawanya untuk ia kecup bergantian. Riana tercengang atas tindakan tiba-tiba dari suaminya itu.
"Oppa," panggilnya.
Kim YeonJin menarik sang istri untuk duduk di pangkuannya. Riana yang masih belum terbiasa merona hebat dengan kedua mata melebar sempurna. Kepala bersurai hitam lembut itu mendongak menatap ke dalam bulan wanitanya.
Tangan kekar YeonJin melingkar erat di pinggang Riana, ia sangat menyukai posisi seperti ini. Rasanya ia terlihat seperti seseorang yang berharga. Meskipun pada kenyataannya ada kerapuhan yang berusaha untuk disembunyikan.
"Aku sangat mencintaimu, Riana," adunya lagi.
Degup jantung wanita itu berdetak kencang, ia takut suaranya terdengar dan yang bisa Riana lakukan hanya mencengkaram pundak orang dicintainya. Tatapan keduanya saling mengunci satu sama lain. Menuruti kata hati pasangan suami istri tersebut saling mendekat dan sedetik kemudian penyatuan pun terhubung.
Langit yang semula berwarna keemas berubah gelap. Satu persatu penghias malam hadir menambah keindahan. Bintang yang berkelap-kelip di atas sana menjadi saksi kebersamaan dua insan saling menyatukan perasaan masing-masing.
Cinta melebur menjadi satu mengantarkan pada muara kebahagiaan. Luasnya kesabaran dan indahnya air mata membayang menjadi skenario yang Allah berikan. Selepas perginya kepedihan datanglah senyum kebahagiaan.
"Aku mencintaimu," sudah menjadi kata lumrah terlontar dari mulut keduanya.
Saling melengkapi, menutupi kekurangan dan menguatkan itulah cinta sesungguhnya dari sebuah perasaan.
"Akhirnya aku bisa menemukan wanita sebaik dirimu. Teruslah bersamaku sampai maut memisahkan kita." Jeda Kim YeonJin seraya memandangi wajah kemerahan sang istri.
Riana yang tengah berbaring di samping suaminya menyunggingkan senyum menawan. Tangannya kembali terulur dan mendarat di wajah tampan Kim YeonJin.
"Aku yang beruntung bisa dicintai oleh pria sebaik dirimu," balas Riana membuat YeonJin lega mendengarnya.
"Menyukai seseorang ternyata tidak seburuk pikiranku. Dulu, aku sempat tidak percaya akan yang namanya cinta. Bagiku cinta hanya memberikan luka seperti-" YeonJin terdiam beberapa saat dan Riana menunggunya dengan sabar. "Seperti cinta appa pada eomma. Pria yang kusebut appa menorehkan luka pada kami. Darisana aku menutup diri untuk tidak mencintai siapa pun, tapi sekarang-" YeonJin menutup kedua matanya merasakan hangat yang menjalar dari telapak tangan Riana. Ia kembali menggenggamnya dan membuka kelopak mata menatap dalam manik indah di depannya. "Sekarang aku bersyukur bisa bertemu denganmu dan jatuh cinta padamu. Aku sangat sangat mencintaimu. Berapa tahun aku hidup, aku hanya ingin menghabiskannya bersamamu Riana."
Pengakuan tiada akhir mengantarkan aliran listrik membuat wajah ayu itu merah padam. Beruntung cahaya remang menyembunyikannya. Riana tidak bisa mengatakan apapun, tapi yang jelas perasaannya sangat bahagia.
Keberuntungan selepas perginya rasa sakit memberikan senyum manis tiada henti. Masa lalu menyakitkan akibat kejahatan yang dilakukan mantan suaminya ternyata mengantarkan pelangi indah. Air mata kesakitan itu sudah mengering dan berganti kesenangan.
Melihat liquid bening mengalir di sudut mata sang istri, YeonJin langsung membawanya ke dalam pelukan hangat. Ia tahu jika air mata itu bukanlah kesedihan, melainkan kelegaan. Ia mengelus punggung Riana pelan menyalurkan perasaan terdalamnya.
Jika cinta yang ia miliki seluas samudera dan sedalam lautan.
Setidaknya Kim YeonJin ingin bermanja kepada istri tercinta. Ia hanya bisa bersikap seperti anak kecil di hadapan Riana.
...***...
Tidak ada kebohongan di dalamnya, tapi masih ada sesuatu yang belum sempat YeonJin katakan pada sang istri.
Saat ini mereka tengah menikmati sarapan bersama. Tidak lama berselang bel rumah ditekan seseorang. Buru-buru Riana bangkit dan menuju ruangan depan. Pintu terbuka menapilkan sosok wanita cantik tengah menampilkan senyum manisnya.
Riana sumeringah melihat kedatangannya.
"MasyaAllah, Jasmin akhirnya kamu singgah ke rumah Teteh. Alhamdulillah teteh sudah menunggumu. Kamu tidak kesulitankan mencarinya?" tanyanya kemudian.
Jasmin, keponakan Sarah menggeleng singkat. "Tidak Teh, tadi mbak Sarah mengantarkanku," jawabnya.
"Ahh, syukurlah. Ayo masuk-masuk, kita sedang sarapan. Kamu sudah sarapan? Kalau belum ayo sarapan bersama," tawar Riana seraya menggiring Jasmin masuk.
"Assalamu'alaikum, maaf mengganggu. Aku sudah sarapan tadi, teh." Jawabnya sambil mengikuti Riana ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam, emm, baiklah. Kaila sudah menunggumu dari bangun tidur tadi. Anak itu tidak sabar ingin bermain dengan Eonni Jasmin katanya," jelas Riana.
Jasmin hanya tersenyum senang mendengar ucapan tersebut. Obrolan ringan itu mengantarkan mereka menuju ruang makan berada. YeonJin yang tengah menggendong Hyun Sik menatap kedatangan sang istri bersama wanita lain. Sedangkan Kaila terlonjak senang dan langsung loncat dari duduknya.
"Eonni," riangnya seraya berlari menerjang sosok Jasmin.
YeonJin mengerutkan kedua alis tidak mengenali wanita berhijab lebar di belakang istrinya. Riana yang menyadari perubahan ruat muka sang suami pun langsung menjelaskan.
"Oppa, kenalkan dia Jasmin guru baru di sekolah Kaila. Dan dia juga keponakan mbak Sarah," jelasnya. YeonJin berdiri dan menganggukan kepala singkat saat tatapannya tidak sengaja beradu pandang dengan Jasmin.
"Jasmin, kenalkan dia suamiku Kim YeonJin," lanjut Riana memperkenalkan mereka berdua.
Jasmin hanya mengangguk mengiyakan dan kembali fokus pada Kaila.
Di tengah perkenalan tersebut tiba-tiba saja pintu rumah Kim YeonJin dibuka paksa oleh seseorang. Suara langkah kaki yang keras menggema dalam ruangan. Beberapa saat kemudian sepasang manik kecoklatan menatap penghuni rumah dengan napas tersengal.
Namun, pusatnya berubah kepada Jasmin yang tengah menundukan kepala seraya Kaila berada dalam pelukannya.
"Jimin? Choi Jimin?!!" panggil YeonJin saat melihat sekertarisnya datang begitu saja.
Ia tidak menyangka pria itu menerobos rumahnya yang menggunakan sandi di pintu masuk. Apa sang adik mengetahui sandinya? Pikir YeonJin.
"Ehh, ahh hyung," Jimin menjadi kikuk seketika.
"Apa yang terjadi?"
Jimin kebingungan menatap mereka bergantian dan kembali mendarat pada sosok asing di keluarga Kim. Ia menggaruk belakang kepalanya tidak tahu harus berbuat apa. Sebelum datang ke sana ia sudah tersulut emosi dan bisa meledak kapan saja. Tetapi, setelah melihat wanita asing itu amarahnya seketika menghilang.
"Tunggu sebentar, apa yang terjadi denganku? Dan siapa wanita itu? Apa dia adik Riana? Cara berpakaiannya memang sama seperti kakak ipar, tapi aku belum pernah tahu jika Riana punya adik. Aarrgghh, apa yang aku pikirkan?" Jimin tenggelam dengan pikirannya sendiri.
Sedangkan Riana, YeonJin, Jasmin dan Kaila menatapnya kebingungan. Ada yang berbeda dari cara pandangan Jimin saat melihat Jasmin, itulah yang ada dalam pikiran YeonJin kala menyadari hal tersebut. Senyum pun hadir melihat kelakuan adiknya itu.
"Apa kisahku akan dilanjutkan olehnya?" benak YeonJin.