QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Niat Buruk (Season 2)



Suara air panas yang mendidih menjadi musik pengiring kesendirian. Uap yang mengepul dari penggorengan peneman kehampaan. Sayuran yang tengah dipotong bergema dalam pendengaran. Jam sudah menunjukan pukul setengah delapan malam.


Rutinitas sebagai seorang ibu dan istri kembali dijalani oleh Riana. Selama hampir dua tahun lamanya ia berumah tangga bersama Kim YeonJin banyak kenangan berharga menggantikan luka masa lalu.


Tanpa ia sadari sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang. Seketika Riana tersentak dengan tindakan tiba-tiba sang suami. Hampir saja ia mengiring jari telunjuknya sendiri. Kepala berhijab itu menoleh ke belakang mendapati Kim YeonJin tersenyum lebar.


"Kapan *O*ppa pulang kenapa tidak terdengar sama sekali suara pintu? Berhenti mengjutkanku seperti ini," ocehnya membuat YeonJin mengerutkan dahi.


Ia lalu melepaskan pelukannya dan berdiri di samping Riana. Netra kecilnya terus memperhatikan sang istri yang tengah cemberut, YeonJin tidak mengerti. Karena baru kali ini Riana memperlihatkan kekesalan.


"Apa ada yang terjadi, Sayang? Kenapa kamu sensitif sekali?"


Mendengar pertanyaan YeonJin, Riana kembali menghentikan kegiatannya. Ia kembali teringat kejadian tadi siang di mana pertemuannya dengan sang ayah mertua. Degup jantung bertalu kencang tanpa sebab, entah kenapa Riana tidak bisa mengatakan apapun pada suaminya tentang Kim YeonSun. Ia tidak ingin menambah bebah untuk Kim YeonJin, biarkanlah waktu yang memudarkan semuanya.


"A-ani, tidak ada apa-apa. Mu-mungkin karena masa periodku hampir datang jadi agak sensitif. Aku minta maaf," ungkapnya gugup tanpa sedikitpun memandang ke arah sang suami.


Senyum mengembang di wajah tampan YeonJin lalu memberikan kecupan hangat di puncak kepala Riana.


"Oh seperti itu, baiklah aku tadi terkejut tidak biasanya kamu seperti ini." Ucapnya seraya kembali merangkul Riana.


Sekilas Riana menatapnya dan mencoba fokus membuat makan malam. "Aku minta maaf,"


"Tidak apa-apa, Sayang aku mengerti. Kalau begitu aku mandi dulu dan memanggil anak-anak untuk makan malam."


"Baiklah,"


Setelah percakapan singkat tadi YeonJin meninggalkan Riana kembali sendirian. Ia menghela napas berat lalu memandang ke depan di mana dinding putih di hadapannya menarik perhatian. Perasaan bersalah semakin menyeruak dalam dada.


"Apa tindakanku ini benar? Ya Allah hamba tidak ingin membuat kesalahpahaman dan menambah beban pikiran lagi untuknya. Semoga tidak terjadi apa-apa," monolognya kemudian.


Tidak lama berselang YeonJin sudah kembali bersama kedua buah hatinya. Ia yang tengah menggendong Hyun Sik tersenyum lebar ke arah sang istri. Riana yang baru selesai menata makanan di meja pun membalas senyuman sang suami dan menyambut buah hatinya.


Setelah semua anggota keluarga duduk Riana buru-buru melayani mereka dengan baik. Ia pun menyodorkan semangkuk nasi ke hadapan Kaila dan suaminya. Ia lalu mengambil alih Kim Hyun Sik dan duduk di samping Kim YeonJin.


Acara makan malam pun berlangsung meriah seperti biasa. Di mana Kaila dengan celotehannya mampu membangun suasana di dalam rumah menjadi hangat. Riana dan YeonJin tertawa riang mendengar cerita putri kecilnya ini.


"Mamah dan appa tahu, tadi siang paman Jimin terlihat malu-malu saat mengantarkanku dan eonni Jasmin. Kaila tidak menyangka paman Jimin bisa seperti itu." Ungkap Kaila lalu memasukan sesendok nasi ke dalam mulut.


"Apa mungkin kisahnya akan sama denganku? Ya Allah hamba harap Engkau memberikan hidayah pada Jimin. Hamba percaya Engkau sebaik-baiknya pemilik kehidupan," benaknya dalam diam.


Sedangkan Riana gelisah dalam dirinya. Sesekali ia memperhatikan sang suami yang begitu perhatian pada putri kecilnya, Kaila. Meskipun mereka bukan anak dan ayah kandung, tapi kedekatannya melebihi itu.


Ada ketakutan sendiri kala pertemuannya dengan Kim YeonSun kembali menyapa. Entah kenapa ia takut sesuatu terjadi pada Kaila. Ia tidak bisa melihat air mata kesedihan mengalir di wajah buah hatinya. Terlebih keadaan mereka sudah baik-baik saja.


"Ya Allah hamba percaya di balik semua ujian yang Kau berikan ada ketetapan terbaik. Aku merasakan firasat tidak baik. Semoga hanya perasaanku saja dan tidak ada yang terjadi," batin Riana.


...***...


Jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh pagi. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah Riana kembali ke dalam kamar hendak membawa Hyun Sik ke ruang keluarga. Namun, sebelum niatnya tersampaikan ponsel di atas nakas bergetar berkali-kali.


Riana pun berjalan ke samping tempat tidur lalu mengambil benda pintar tersebut. Tertera nama mbak Sarah di layar. Buru-buru Riana membaca pesan teks terakhir yang dikirimnya. Sedetik kemudian kedua matanya terbelalak lebar dengan mulut menganga sempurna.


"Astaghfirullah hal adzim apa lagi ini ya Allah?" bisik Riana membaca pesan yang disampaikan mbak Sarah.


Pesan itu berisi, "Riana, apa benar ini kamu? Ciri-ciri dalam artikel tersebut entah kenapa mirip sekali denganmu. Ada apa sebenarnya?" Sarah pun membubuhkan link artikel yang baru saja liris beberapa jam lalu.


Riana langsung membukanya dan terkejut membaca judul artikel yang mengatakan "pemimpin perusahaan gallery art **** diduga menelantarkan orang tuanya sendiri akibat hasutan sang arsitek yang sekarang menjabat sebagai istrinya."


Isi dalam artikel tersebut berkali-kali lipat membuat Riana tercenang. Ia tidak percaya setelah pertemuannya dengan Kim YeonSun kemarin mendatangkan malapetaka baru. Bak bom atom secepat kilat meledak begitu saja.


Kini media sosialnya dipenuhi dengan komentar demi komentar dari pada netizen yang menyudutkan drinya tanpa tahu hal sebenarnya. Riana tidak kuasa membendung air mata kesedihan kala mendpatkan berita tidak benar adanya.


Bahkan terdapat foto pertemuannya dengan sang ayah mertua kemarin. Ternyata diam-diam Kim YeonSun tidak bekerja sendirian. Pria paruh baya tersebut menyewa beberapa orang untuk bekerja sama dengannya.


Di sudut ibu kota, tepatnya di salah satu bangunan tua yang sudah lama kosong Kim YeonSun melebarkan senyum kemenangan saat melihat artikel yang baru saja diliris. Wajah penuh kemenangan pun tercetak di sana seraya pandangannya tidak pernah lepas dari layar benda pintar tersebut.


"Tidak kusangka berita ini meledak dengan sangat cepat. Kamu harus merasakan bagaimana susahnya hidup dalam bayang-bayang omongan orang-orang. Sudah saatnya kalian menerima kedatanganku," gumamnya dengan suara parau.


"Kembali bekerja," lanjut Kim YeonSun pada tiga orang pria yang berdiri di hadapannya. Setelah mengangguk singkat mereka pun keluar dari ruangannya.


Setahun yang lalu pernikahan keduanya kandas. Sang istri menipunya habis-habisan dan kabur membawa semua kekayaannya ke luar negeri bersama pria lain. Sepertinya karma tengah mendatangi Kim YeonSun. Pria itu tidak terima dan berusaha untuk mengikuti jejak istrinya, tapi sayang dirinya tidak punya apapun. Semua aset sudah berubah nama menjadi wanita itu. Kim YeonSun terpuruk dan hampir putus asa.


Setelah memutuskan untuk kembali ke ibu kota, YeonSun melihat berita mengenai sang anak yang sudah sukses kembali merilis kariernya. Senyum penuh makna pun mengembang dengan niat buruk mendatanginya.