
...Harapan melambung tinggi menuju angkasa lepas. Seseorang yang dicintai tidak bisa dimiliki....
.......
YeonJin dan Hyerin sangat terkejut saat melihat Riana di sana. Wanita arsitek berhijab itu terus menampilkan senyum terbaiknya. Bola mata YeonJin bergulir ke arah sang paman meminta penjelasan lebih mengenai ini semua.
“Paman meminta Riana untuk membuatkan kalian rumah. Bagaimana kalian suka?” ucapnya tanpa rasa bersalah.
“Terima kasih banyak paman. Aku suka.” Balas Hyerin melebarkan bibir ranumnya.
Sedangkan YeonJin sudah mengepalkan kedua tangannya erat. Haneul tahu apa yang tengah dirasakan keponakannya ini. Namun, ia tidak peduli selagi dirinya tidak harus kehilangan harta bendanya.
“Baiklah mulai besok Riana akan bekerja untuk kita,” lanjutnya lagi. Riana pun mengangguk mengerti tanpa memperhatikan sorot mata tajam Kim YeonJin.
Malam menjelang setelah kejadian tadi siang. Pria itu terus berkendara tanpa tahu arah dan tujuan. Ia kalap, hatinya merasakan sakit yang teramat dalam. YeonJin tidak menyangka pamannya memberikan pekerjaan pada Riana untuknya. Ia tidak mau, sungguh dirinya tidak menginginkan hal itu. Terlalu dalam luka yang ditorehkan oleh adik dari ayahnya ini.
Dari dulu hingga sekarang Haneul, pamannya memang tidak pernah tulus dalam menyayanginya.
Brakk!!
Ia memukul kuat stir mobil tanpa dosa itu. Rahangnya mengeras menahan emosi yang membuncah. Selama ini YeonJin terus menerus mengiyakan permintaan konyol pamannya. Dan perjodohan itu salah satunya.
“Sial!! Sial!! Sial!! Apa yang dia inginkan? Harta? Cih, bahkan selama ini dia tidak pernah menganggapku seperti keluarga?!” Ia terus melajukan kendaraannya dengan kencang.
Ia sudah sangat jauh dari keberadaannya dan tidak tahu berada di mana sekarang. Tidak lama berselang mobil hitamnya berhenti disembarang tempat. Ia menelungkupkan wajahnya seraya menepis kekesalan.
“Apa yang harus aku lakukan? Pada siapa aku mengadukan semua ini? Eomma, aku merindukanmu. Sekarang aku sudah tidak punya siapa-siapa untuk berbagi,” seketika ingatannya kembali pada hari itu. Saat dirinya berada di rumah sakit menjenguk Kaila. Penuturan Riana yang terngiang membuatnya terpaku.“Berbagi? Tuhan?” racaunya tidak jelas.
YeonJin pun mendongakan kepalanya. Bola matanya terus bergulir melihat orang-orang yang berjalan di daerah tersebut. Kedua alisnya saling terpaut, heran.
“Aku ada di mana?” Ia tersadar lalu turun dari kendaraannya mengikuti orang-orang tadi.
YeonJin tidak mengerti dirinya seperti ditarik untuk mendekat ke sana. Tidak lama berselang ia tiba di depan bangunan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Di atasnya terdapat tulisan arab yang tidak ia mengerti.
“Indahnya. Kira-kira apa nama bangunan ini? Sungguh lukisan yang menenangkan. Ini pertama kali aku melihatnya,” racaunya seorang diri.
Dari dalam seorang pria menyadari keberadaannya lalu berjalan mendekati YeonJin yang tengah kebingungan.
“Anyyeonghaseyyo. Apa ada yang bisa saya bantu?” ucapnya ramah menyadarkan CEO itu.
“Ahh, Anyyeonghaseyyo. Emm nama bangunan ini apa, yah?”
“Ini masjid tempat beribadah umat muslim.”
Seketika YeonJin melebarkan pandangan. Ia jadi teringat tentang wanita berhijab yang dikenalnya. Namun, lebih dari itu ia merasakan aura positif yang terus menariknya untuk mendekat.
“Sungguh indah. Sebenarnya saya pernah membaca buku-buku tentang Islam. Dan saya sedikit tertarik untuk mendalaminya. Karena selama ini saya tidak pernah mengenal Tuhan,” jujurnya tanpa cela.
“MasyaAllah, beruntunglah Anda bisa datang ke tempat ini. Itu artinya Tuhan mengundang Anda untuk datang ke rumah-Nya. Perkenalkan saya Muhammad Haikal. Saya seorang imam sekaligus penceramah di sini. Jika Anda berminat saya bisa menjelaskan tempat ini.” Pria bernama Haikal itu menjulurkan tangan padanya. Dengan senang hati YeonJin pun membalasnya.
“Saya Kim YeonJin. Muhammad Haikal? Tapi Anda terlihat seperti orang Korea.” Tuturnya seraya mengerutkan dahi heran.
“Itu benar, dulu nama saya Lee Hyun Ji. Karena memutuskan untuk menjadi muslim saya pun memiliki nama Islam.”
YeonJin tercengang dengan cerita singkat Haikal atau Lee Hyun Ji ini. Pria pemilik senyum menawan tadi telah memberinya harapan yang begitu tinggi.
“MasyaAllah, jika kita mau belajar dan istiqomah saya yakin Anda bisa merasakan cahaya hidayah tersebut.”
“Panggil YeonJin saja tidak usah formal. Sepertinya kita seumuran. Baiklah aku tertarik untuk mendengar penjelasanmu tentang Islam.”
“Baiklah kalau begitu mari.” Ia pun mengajak YeonJin untuk melihat masjid tersebut lebih dalam.
YeonJin tidak pernah menyangka kesakitannya kali ini berujung pada pertemuannya dengan seorang pria yang memotivasinya untuk terus belajar tentang agama Allah.
...***...
Di Indonesia, tepatnya di ibu Kota Jakarta seorang pria berusia 32 tahun tengah mengulum senyum di meja kerjanya. Ia tidak menyangka mendapatkan undangan kerjasama dari salah satu perusahaan properti di Negara Ginseng tersebut.
Ia terus membolak-balikan map yang menjadi langkah awal baginya untuk menemui masa lalunya di sana.
“Ini menjadi kesempatanku untuk bertemu dengannya lagi. Tujuh tahun berlalu dan aku tidak menyangka kehidupan wanita itu telah berubah.” Semirik tercipta di wajah tampannya.
“Arsyid penerbanganmu akan dilakukan besok.”
“Secepat itu?” wanita berhijab abu yang menjabat sebagai sekertarisnya mengangguk singkat.
“Em, kamu selalu saja bersikap seperti itu. Aura meskipun kita berteman setidaknya panggil aku bos ini di kantor.”
“Tidak ada bedanya bagiku.” Wanita bernama Aura itu pun pergi meninggalkannya begitu saja.
Arsyid, pengusaha muda itu kembali menatap lekat map yang berada dalam genggamannya. Ia tidak menyangka waktu terus berputar dan kemungkinan besar ia bisa bertemu kembali dengannya. Seseorang yang dulu pernah mengisi hari-harinya selama satu tahun.
“Aku sudah menantikannya. Apa kabar mantan istriku…” Gumamnya kemudian.
Seperti yang sudah dijadwalkan, kini penerbangannya menuju Negara Ginseng, Korea Selatan sebentar lagi lepas landas. Sedari kemarin senyum yang entah apa artinya terus mengembang di bibir keritingnya. Arsyid tidak sabar untuk menginjakan kakinya di sana. Terutama bertemu sosok yang “dirindukannya”.
Ia ingin memastikan sendiri kehidupan sang mantan istri yang sudah berubah. Satu tahun bukan waktu yang sebentar. Perjodohan itu membuat mereka menjalin rumah tangga bersama. Meskipun tidak pernah ada kata cinta yang terlontar dari bibirnya, tetap saja ia merasa penasaran dengan wanita itu sekarang.
“Sepertinya dia sudah sukses menjadi seorang arsitek. Aku tidak menyangka dia pergi ke negara itu. Riana, apa kamu merindukanku?” racaunya kembali.
Sedangkan wanita yang berada dalam pikirannya saat ini tengah mengerjakan proyek baru. Sedari tadi ia terus bersin-bersin tanpa henti membuatnya tidak bisa berkonsentrasi. Bola matanya bergulir ke sana kemari mencari debu yang tidak terlihat.
“Astaghfirullah, ada apa ini? Apa ada seseorang yang sedang membicarakanku?” ucapnya lalu berusaha fokus bekerja.
Ia mengembangkan senyum melihat coretan demi coretan yang sudah di tuangkannya dalam kertas. Ia mengerahkan semua kemanpuannya untuk merancang sebuah rumah.
“Semoga YeonJin-ssi senang dengan rancangan ini. Aku harap mereka bisa hidup bahagia dalam satu rumah. Hah~ menikah? Rasanya aku tidak ingin merasakan hal itu lagi. Sudah cukup luka yang pernah kurasakan dulu. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama,” racaunya seorang diri.
Bersama dengan langit siang hari ini selintas bayangan mantan suami mampir dalam ingatannya. Ia tidak tahu saja jika sekarang pria itu tengah melakukan penerbangan menuju negara yang menjadi tempat tinggalnya.
Bisakah takdir mempertemukan mereka kembali? Riana tidak mau membuka luka lama. Masa lalu itu harus terkubur rapat-rapat dan tidak usah diungkap lagi. Sudah cukup pengorbanan yang ia lakukan sekarang. Hinaan, cacian dan makian ditelannya bulat-bulat hingga akhirnya ia bisa membesarkan Kaila seorang diri tanpa pendamping.
Sosok pria yang ia pikir bisa menopang hidupnya, ternyata sang imam memberikan kepedihan dalam rumah tangganya. Bukan surga yang diterimanya melainkan siksa neraka. Ia tidak mungkin berpegangan tangan dengannya untuk bersama menuju jannah Allah.
Riana pun mundur lalu mengakhiri hubungan mereka dan memilih menjadi seorang single parent. Mengembang status baru ternyata tidak semudah yang ia pikir. Cacian dan makian itu kembali menerpa. Dan yang lebih parah fitnahaan terus menghujaninya tanpa celah. ‘Perebut suami orang’ pernah melekat dalam dirinya. Sudah berkali-kali ia menolak bantuan dari pria beristri, tapi tetap saja orang itu tidak mau mendengarnya. Sampai julukan tersebut menghampirinya. Itulah bagian kecil dari masa lalu Riana yang membuatnya bisa berdiri tegar seperti sekarang. Ia percaya Allah tidak pernah memberikan ujian melebihi batas kemampuan hamba-Nya.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286).