
Warna jingga menyebur di atas cakrawala memperlihatkan lukisan Allah yang sangat indah. Perlahan sang raja siang pulang ke peraduannya menyiskakan gelap. Senja memudar berganti tugas dengan raja malam siap mengemban kewajiban guna menemani keheningan, satu persatu bintang bermunculan menampah cantik langit malam.
Di tengah kesunyian Kim YeonJin duduk di tepi tempat tidur menunggu sang istri yang sedang mandi. Ia tengah membuka kancing kemeja dikedua tangannya seketika berhenti kala iris kecilnya memandang ke atas nakas. Dahi yang tertutup pini halus tersebut mengerut pelan, tangan kanannya terulur mengambil selembar kain tergeletak di sana.
"Saputangan siapa ini?" gumamnya. Ia memperhatikan saputangan berbentuk segiempat tersebut dengan membolak-balikannya, merentangkannya dan meneliti setiap jahitannya. Sampai kedua alis tajamnya semakin menukik saat menemukan sebuah inisial di salah satu sudut. "Tunggu, inisial ini kan?" Ia bangkit dari duduk hendak menemui Riana.
Namun, sebelum terjadi sang istri lebih dulu keluar dari kamar mandi. Dalam balutan bathrobe tubuh ramping Riana terbungkus sempurna. Dengan rambut basah mengalirkan tetes demi tetes air berjatuhan dan mengalir di tulang selangkanya membuat YeonJin tertegun dan tanpa sadar meneguk ludahnya kasar.
"Sayang? Ada apa?" tanya Riana seraya mengeringkan rambut berjalan mendekat.
Sektika aroma sabun menguar menusuk indera penciuman. Menyaksikan sendiri pemandangan menggugah keimanannya membuat YeonJin tidak bisa menahan. Ia langsung membopong tubuh sang istri dan meletakannya di tempat tidur.
Malam itu mereka pun menikmati waktu bersama. YeonJin melupakan sejenak niat awal dan menjatuhkan saputangan di lantai begitu saja. Di tengah permainan, inisial yang tercetak dalam selembar kain tersebut terlihat jelas menjadi saksi cinta mereka.
...***...
Pagi menjelang dengan sangat cepat, setelah melaksanakan kewajibannya, Riana bergegas menyiapkan sarapan. Rutinitas tersebut terus terulang menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Ia tersenyum lebar kala menyambut anak serta suami tercintanya berdatangan.
Keluarga kecil itu duduk bersama di meja makan menikmati sarapan. Pembicaran riangan pun mengiringi menjadi teman setia. Keharmonisan tercipta kala hubungan mereka membaik seiring berjalannya waktu, meskipun badai terbesar masih belum surut.
Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai istri dan ibu dengan baik, Riana mengistirahatkan diri di belakang rumah. Ia menikmati waktunya dengan membaca buku novel romantis dan segelas teh hangat. Sesekali angin datang menyapu wajah cantiknya.
"Sayang." Di pertengahan suara serak nan dalam sang suami memanggil.
Konsentrasi Riana buyar dan menoleh ke samping kiri di mana YeonJin datang lalu berjongkok di hadapannya. Seketika dahi lebar itu mengerut dalam tidak mengerti, ia menunggu apa yang hendak di sampaikan sang suami.
"Ada apa?" tanya Riana penasaran.
YeonJin menjulurkan saputangan berwarna dongker dengan jahitan berwarna emas ke hadapan sang istri. Riana menatapnya sekilas dan kembali memandangi suaminya. "Dari mana kamu mendapatkan saputangan ini?"
Mendapatkan pertanyaan itu membuat jantungnya bertalu kencang. Ia lupa tidak menyembunyikannya disuatu tempat. Ia terdiam sambil mengigit bibir bawahnya pelan, bola matanya bergulir menghindari YeonJin yang tengah mengamatinya serius.
"Sayang, jawab aku! Ada inisial di saputangan ini. KDJ, aku tahu inisial ini. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya YeonJin menggebu kala tidak mendapati jawaban apa pun dari istrinya.
Riana terlonjak kaget dan kembali memandanginya lekat. "Baiklah- baiklah, aku mengaku. Kemarin siang aku bertemu dengan seseorang-"
"Siapa?" tanya YeonJin cepat.
"Siapa yang Oppa pikirkan? Itulah kebenarannya," ucap Riana ringan.
Manik kecil YeonJin membulat seketika, mulut kemerahannya terbuka perlahan dengan jantung berdetak tak karuan. Tanpa sadar air mata mengalir membasahi pipi, Riana mengulas senyum dan menangkup wajahnya. Perlahan ia menghapus jejak cairan bening itu lembut lalu membubuhkan kecupan hangat dikedua kelopak mata sang pujaan hati.
YeonJin menggenggam pergelangan tangan sang istri kuat. Isak tangis pun pecah seketika, kelopaknya menutup kuat serta dadanya terasa sakit begitu saja. Bertahun-tahun lamanya ia dipisahkan dengan orang yang paling menyayanginya setelah sang ibu. Kini takdir berkata lain membuatnya tidak bisa berkata-kata.
Riana mengecup dahinya dalam menyalurkan kekuatan. "Oppa, mau bertemu dengan beliau?" tanyanya pelan.
YeonJin mengangguk pelan dan membuka mata lagi. Ia memandangi iris bening sang terkasih dalam sorot mata sayu. Riana tidak kuasa melihat suaminya lemah dan menariknya ke dalam pelukan. "Menangislah jika itu bisa membuat Oppa lega," cicitnya. YeonJin membalasnya tak kalah erat dan membenamkan wajah berair di bahu Riana.
...***...
Keesokan harinya, Riana meminta untuk bertemu dengan pria baya di restoran itu lagi. Sepanjang jalan YeonJin terus menggenggam tangannya kuat seolah tidak membiarkan sang istri pergi barang sedetik saja. Tidak lama berselang mereka pun tiba di tempat tujuan.
Riana menggandeng YeonJin masuk dan menemukan tidak banyak orang terlihat. Di sana, di salah satu meja, sosok yang ia yakini sudah pergi tengah duduk menikmati secangkir teh. Dalam balutan jas abu tua dan di bawah lampu temaram, keberadaannya membuat maniknya memanas dan seketika air mata mengalir tak tertahankan.
YeonJin kembali menangis haru menyaksikan sendiri dengan kedua matanya, jika pria baya tersebut masih hidup dalam keadaan sehat. Perlahan ia berjalan mengikuti sang istri hingga mereka pun tiba di hadapannya.
"Ka-Kakek," cicit YeonJin pelan.
Kim Dae Jun mengangkat kepala dan terkejut saat mendapati cucu tersayangnya. "Kim YeonJin?" panggilnya balik.
YeonJin mengangguk berkali-kali, Dae Jun beranjak dari duduk dan mengitari meja sampai mereka berhadapan satu sama lain. Entah siapa yang memulai kedua pria yang terpaut usia sangat jauh itu pun saling merengkuh satu sama lain. Kerinduan selama bertahun-tahun lamanya tersalurkan dalam satu waktu.
Kini takdir mempertemukan mereka kembali. Tidak ada yang tahu rencan Allah dan sebaik-baik rencana adalah milik-Nya. Riana tersenyum haru dan ikut menitikan air mata menyaksikan sendiri interaski antara cucu dan kakek tersebut.
Ia tidak pernah menyangka jika sosok Kim Dae Jun masih hidup dan sekarang datang untuk membantu menyelesaikan permasalahan keluarganya. Ia senang melihat sang suami tersenyum bahagia bisa bertemu dengan anggota keluarganya.
"Kakek masih hidup? Ya Allah, apa ini keajaiban?" lirihnya pelan.
Dae Jun melepaskan pelukan dan mecengkram pelan kedua bahu sang cucu. "Tidak, Nak. Kakek masih hidup dan sehat. Maaf, selama ini Kakek meninggalkanmu. Apa kamu hidup dengan baik?" tanyanya kemudian.
YeonJin mengangguk dengan semangat. "Aku hidup dengan sangat baik dan aku bertemu istri yang luar biasa." Ia lalu merengkuh pinggang Riana menariknya mendekat.
Dae Jun tersenyum hangat menyaksikan pasangan muda di hadapannya. "Syukurlah, Kakek lega mendengarnya. Terima kasih sudah hidup dengan baik, selama ini Kakek tidak bermaksud membohongimu."
YeonJin mengangguk paham, "Aku mengerti. Karena apa pun yang Kakek lakukan itu pasti ada tujuannya. Kakek tidak usah merasa bersalah, aku baik-baik saja."
"Kamu memang anak yang baik, YeonJin," balas Dae Jun lagi.
Kehangatan yang sudah lama menghilang pun kini kembali. YeonJin sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan kakeknya yang sudah memperlakukannya sangat baik. Ia lega ternyata sang kakek belum meninggal dan ia berharap setelah ini kebaikan akan terus menyertai keluarganya.