
Makan malam kali ini begitu meriah, berkat kehadiran Jasmin dan Jimin ruang makan tersebut menjadi lebih hidup. Canda dan tawa menemani kebersamaan, kedekatan pun semakin terasa erat kala jalinan kasih mulai terajut. Dalam diam Riana memperhatikan Jasmin yang tengah berhadapan dengan Jimin.
Ia terus menerus menoleh ke samping di mana Jasmin lebih banyak menunduk mengalihkan pandangan. Riana bangga dan senang, sebab sepupu dari mbak Sarah ini sangat menjaga diri. Di tengah euforia tersebut kedatangan tamu tak diundang pun merusak suasana.
Aroma lembut bunga mawar mengalir mengenyahkan kegembiraan di sana. Jasmin mendongak dan bersitatap dengan wanita itu. Jimin dan YeonJin beranjak dari duduk, sedangkan Riana memandanginya lekat. Ada kecanggungan dan keterkejutan ia rasakan dalam diri dua pria tersebut.
"Maaf, Anda siapa, yah? Kenapa bisa masuk ke rumah orang seenaknya?" tanya Riana memulai pembicaraan.
"Pa-park Yona?" Jimin tampak gugup melihat wanita berambut ikal sepinggang hadir di tengah-tengah mereka, YeonJin pun tidak percaya.
"Park Yona? Oppa, dia siapa?" tanya Riana menyadarkan.
YeonJin langsung menatap sang istri dan kembali duduk. "Dia mantan kekasihnya Jimin, ah ... tidak mungkin mantan tunangannya."
Mendengar penjelasan itu Riana dan Jasmin pun melebarkan pandangan. Keduanya tidak menyangka bisa bertemu dengan mantan kekasih Choi Jimin. Selama Riana mengenal sekertaris dari suaminya, baru kali ini ia mendengar hal tersebut. Rasa penasaran pun seketika menyeruak dalam dada, ia lalu menoleh melihat Jasmin yang terdiam.
"Annyeong, maaf aku mengganggu kalian. Em ... bisakah aku bergabung?" tanya wanita bernama Park Yona tersebut.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Dan kenapa kamu bisa masuk ke rumah orang seenaknya?" Jimin geram seraya mengepal kedua tangan erat.
Jasmin yang menyadari perubahan itu hanya melihat dalam diam tidak tahu harus berbuat apa. Ada sesuatu tidak nyaman menghinggapi hatinya. Ia pun berusaha tetap tenang dan melihat apa yang terjadi selanjutnya.
"Oh, tukang kebun yang membukakan pintu untukku. Kata Eommanim kamu ada di perusahaan, aku sudah ke sana dan tidak mendapatimu. Kata karyawan kamu sering datang ke rumah Kim YeonJin sajangnim dan aku meminta alamatnya pada mereka. Jadi di sinilah aku sekarang," ungkap Yona kemudian.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun Jimin berjalan mendekatinya lalu menarik pergelangan tangan Yona dan membawanya keluar dari sana. Wajah Jimin merah padam dengan napas tidak beraturan, YeonJin yang menyaksikan itu hanya menghela napas berat. Atmosfer di sana pun seketika berubah menjadi hening dan kaku.
YeonJin menatap ke depan di mana Jasmin masih kukuh memandangi ke mana kedua sosok itu pergi. Air muka datar membuat keduanya tidak nyaman. Mereka sadar atas apa yang terjadi dan berusaha tidak membuat keadaan semakin bertambah runyam.
"Em ... Jasmin, Park Yona sudah –"
"Aku minta maaf ... aku permisi pulang dulu." Setelah mengatakan itu Jasmin beranjak dari sana dan berjalan meninggalkan mereka.
Riana yang menyadari perubahannya pun berdiri dari duduk seraya memanggilnya, "Jasmin, tunggu. Apa kamu tidak apa-apa?" tanyanya.
Jasmin menoleh ke samping kanan dan melihat lantai sebagai objek pandangan. "Aku baik-baik saja, memang seharusnya aku harus bagaimana? Kalian tidak usah khawatir." Berbagai perasaan rumit pun memupuk membawa diri Jasmin menghilang dalam pandangan.
Riana kembali mendudukan diri di kursi tidak percaya jika keadaan runyam seperti itu bisa mendatangi mereka. YeonJin yang khawatir melihat sang istri pun menggenggam tangannya hangat, seketika Riana pun memandanginya lekat. Pandangan mereka bertemu satu sama lain mencoba menyalurkan kebaikan.
"Tidak usah khawatir, semuanya akan baik-baik saja," ucap YeonJin meyakinkan.
"Kamu memang istriku yang paling baik. Tenang saja semua ini pasti berlalu, mereka hanya perlu menyadai perasaan masing-masing. Allah akan menentukan yang terbaik untuk keduanya." Riana hanya mengangguk singkat dan percaya pada ketentuan yang di atas.
...***...
Jasmin sudah tiba di teras depan kepalanya menengok ke sisi kanan di mana pekarangan rumah itu menjadi tempat pertemuan Jimin dan Yona. Ia berhenti sejenak dan menyaksikan kebersamaan mereka. Namuan, saat adegan tidak terduga terjadi ia melarikan diri dengan berbagai praduga mengenyam dirinya.
Ia terus berlari dan berlari meninggalkan kediaman Riana dengan perasaan sesak tiba-tiba saja datang menerjang. Setelah dirasa sudah jauh, ia pun terdiam mengontrol emosi yang kian memupuk sanubari. Dadanya naik turun dengan keringat dingin membanjiri pelipis.
Tanpa ia sadari air mata mengalir tak tertahankan. Ia menangis dalam diam dan mengusap liquid bening itu kasar. Tidak lama berselang kedua kakinya menyerah, ia ambruk di jalanan beraspal dan menangis sejadi-jadinya.
Tidak ada satu kata yang terucap dari mulut ranumnya, Jasmin hanya mengalirkan kerunyaman dalam hati dengan menangis. Beberapa saat kemudian taksi pun datang dan ia bergegas pulang. Di dalam kendaraan roda empat tersebut ia termenung memandangi jalanan dengan pikiran kacau.
Di tempat berbeda, Jimin memandangi Yona dengan tajam. Sudah bertahun-tahun mereka tidak saling berkomunikasi dan kini waktu kembali mempertemukan. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa, kekesalan dan emosi menguasai dirinya. Ia berusaha tenang untuk tidak melukai seorang wanita.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah kamu berada di Jepang? Di mana Lee DoHyun? Bukankah kalian sudah menikah?" tanya Jimin beruntun.
Bukannya menjawab Yona menerjangnya cepat. Jimin terkejut melebarkan maniknya sempurna dan mendorong wanita itu untuk menjauh. Ia melihat mantan kekasihnya itu menangis seraya menunduk dalam. Dahinya pun mengerut tidak mengerti apa yang terjadi.
"Kenapa kamu menangis bukannya menjawab pertanyaanku?" tanya Jimin kembali.
"Aku datang ke sini, karena ingin meminta maaf padamu. Lee DoHyun, pria tua itu ternyata sudah mempunyai istri. Aku tidak pernah pergi ke Jepang dan selama ini bersembunyi di Busan. Aku malu bertemu denganmu, karena sudah mengkhianati pertunangan kita," jelas Yona dengan berlinang air mata.
Jimin melebarkan pandangan lagi. Ia termangu dan tercengang mendengar penuturan Yona. Selama ini ia sudah menyerah dan membiarkan cintanya kandas. Dulu ia sangat mencintai Yona dan berharap bisa menikah dengannya, tetapi wanita itu memilih pergi bersama pria lain yang lebih mapan.
Sudah tiga tahun berlalu dan kini ia datang kembali membawa bom atom yang meledak. Jimin terdiam menyaksikan air mata terus bercucuran dari wajah cantik itu. Jika pemandangan tersebut terjadi beberapa tahun ke belakang mungkin ia akan memeluk Yona dan menghiburnya. Namun, sekarang ia enggan melakukannya.
"Jadi, apa tujuanmu datang padaku lagi?" Jimin kembali membuka suara.
Yona mendongak dengan binar pengharapan dikedua matanya. "Bisakah ... bisakah kamu memberiku kesempatan kedua? Aku ingin memperbaiki hubungan kita, aku menyesal sudah mengkhianatimu. Aku masih mencintaimu, Choi Jimin."
Jimin mengulas senyum dan membalas tatapannya tidak kalah serius. "Inikah yang ingin kamu katakan? Maaf, aku tidak bisa bersamamu lagi. Perasaanku sudah menghilang sejak kamu pergi." Ia pun berbalik dan hendak pergi. Namun, Yona memeluknya dari belakang dengan cepat.
Adegan tersebut pun tidak luput dari perhatian Riana dan YeonJin. Sejak kepergian Jasmin, keduanya hendak memberitahu Jimin. Namun, drama yang terjadi di pekarangan lebih menarik perhatian dan membuat mereka diam dan menyaksikan.
Seketika keduanya terkejut melihat dan mendengar sendiri apa yang dikatakan serta dilakukan Yona. Riana mendongak ke arah sang suami cemas, YeonJin langsung merengkuhnya hangat. "Tidak apa-apa kita hanya harus percaya pada Jimin." Riana mengangguk singkat dan kembali melihat ke jendela besar yang terhalang gorden putih kala menyaksikan keduanya.