Office Hour

Office Hour
Masalah Kredit



Naratornya masih Tante Author, soalnya bakalan muncul adegan cinta-cintaan Rahasia yang Dimas nggak tau.


Kerja kali ini... perasaan si Dimas ini kerja melulu yak. Emang rajin bener masuk kantor ya. Kali ini para pegawai Bank Charming idola kita semua membahas masalah kegalauan para pemegang saham terhadap nasabah yang dibawa oleh Gunawan Ambrose.


Yang muncul saat dipanggil pake Toa adalah rangking ke 6 dari 10 orang paling ter-charming di Garnet Bank. Bambang Brahmabagyo.


Namanya sering disingkat jadi Bebeb.


Bukan, bukan bebebnya Om Vampir ya. Yang ini nama panggilannya Pak Bebeb. Jadi siapa pun yang menggil dirinya berasa mesra.


Tapi Pak Bebeb memng suka merinding sih kalau yang manggil dia adalah Fendi.


SI Bebeb ini Umurnya masih muda, masih awal 40an, tampangnya manis dan kalem. Tapi jabatannya beuuuh! Ajib!!


Dia adalah Kepala Divisi Credit Corporate dan Comercial. Yang bertanggung jawab terhadap seluruh kredit yang masuk ke bank ini. Targetnya si Bebeb dalam sebulan harus dapat pencapaian lebih dari 50 miliar kredit. Biasanya kredit gede-gedean macam begini diajukan oleh perusahaan multinasional, beliau ini selain bertugas men-screening kredit yang masuk, juga yang bertugas untuk mempertimbangkan kredit ini layak diberikan atau tidak.


Timnya paling banyak di antara semua orang di Garnet Bank, jumlahnya ada 50 orang di kantor pusat, dan sekitar 200an tersebar di semua cabang Garnet Bank. Kerjanya tiap hari mensortir kredit yang pantas diajukan dan menguntungkan pemegang saham, kelengkapan data nasabah, masalah legalitas, masalah kredit macet sebelum sampai ke Pak Jafar, dan masalah merepotkan lainnya. Bisa jadi dia sebenarnya adalah orang yang berperan paling penting bagi kesejahteraan karyawan semua, karena cuan terbanyak selain dari treasury (pemain saham) adalah dari bunga kredit. Dan karena pekerjaannya itu, semua karyawan selalu punya urusan dengannya. Di Raker kemarin, presentasi Bebeb adalah yang paling lama, ada kali seharian cuma bahas masalah kredit.


Bebeb dan Sarah bertanggung jawab langsung kepada Stephen sebagai Direktur Bisnis.


Pembiayaan (kredit) dan Pendanaan (Simpanan) semua itu adalah target bisnis sebuah Bank.


Terus terang aja, jabatan Bebeb ini jauh lebih bonafit dari Sarah. Bonusnya saja bisa jadi hampir menyamai Meilinda.


Tapi orangnya, ya ampuuuun. Santun dan kalem. Rendah dirinya ngalah-ngalahin abdi dalem keraton. Padahal bisa dibilang pekerjaannya menguras emosi cukup banyak setiap harinya.


Kalau ada pembaca yang melamar sebagai pegawai Bank, atau ada keponakan dan sedulur yang menjabat sebagai ‘Account Officer’... bukan Sales yah, kalau sales tugasnya cuma nyari nasabah tapi mengenai si nasabah itu amanah atau semprul dia masih masa bodo. Kalau udah Account Officer, nah... mohon elus-elus punggung mereka sebagai penyemangat. Karena pekerjaan mereka berat banget. Karyawan yang kerjanya Paling berat se-Bank. Account Officer inilah para anak buahnya Pak Bebeb.


"Permisiii..." Bebeb masuk ruangan sambil mengendap-endap. Danu bahkan sampai menghela napas karena kelakukan karyawannya yang satu ini sopan banget, nggak kayak kadiv kredit pada umumnya. Sepanjang karier Danu di Bank, ia juga pernah menjabat sebagai Kadiv Kredit dan pekerjaan di bidang itu adalah pekerjaan paling ribet sejagad. Dan ia salut karena perangai Bebeb tidak berubah, tetap sama seperti saat ia pertama kali masuk ke Garnet Bank, priyayi.


"Apa kabar Beb?" sahut Dimas.


"Walah... Raimu koyok ditubruk wedhus, Mas," (mukamu seperti ditabrak kambing)


"Iya, wedhus gembel," Dimas melirik Pak Sebastian.


Danu langsung ngeh kalau Dimas habis dipukulin sama Bigboss. Paling gara-gara Meli kemarin pingsan, pikir pria itu. Tapi dia juga melihat ada luka di pelipis Pak Sebastian, apa mereka beneran terlibat baku hantam atau bagaimana yah... Danu penasaran, tapi diam saja. Karena Dimas sudah biasa membuat sensasi.


"Mohon maaaaaf, ada yang bisa saya bantuuu?" tanya Bebeb sambil melihat ke arah Pak Sebastian.


"Proposal Johan's Company sudah sampai di kamu?" tanya Pak Sebastian.


Bebeb langsung pasang tampang masam.


"Sudah Pak, sedang dianalisa tim sayaaaa,"


"Gimana penilaian awal kamu secara lisan?" tanya Pak Sebastian.


Bebeb mengelus kedua lengannya. "Yah... Laporan keuangannya baguus dan jaminannya mengcover pinjaman 150%."


Lalu keadaan hening.


"Sudah?" tanya Pak Sebastian.


"Eh? Ehm... Sudah bagaimana pak?" tanya Bebeb. Kelihatan sekali senyumnya yang dikulum menyimpan perasaan luar biasa galau.


"Sudah diam-diamannya? ngomong aja sejujurnya, mumpung nggak ada Sarah." kata Pak Sebastian.


Bebeb menyeringai.


Lalu menarik napas panjang.


"Ada opini dari divisi reviewer?"


"Naaaaah... Dari Reviewer sih rekomendasi tapiiii dengan catatan. Ada sekitar 20 catatan, seperti harus menaikan aset dan menggunakan KAP dalam negeri, itukan berarti mereka sebenarnya tidak rekomendasi tapi nggak berani hold jugaaaa, istilahnya nolak halus lah paaaak...dan baru saja... Ehm!"


Merekaa menunggu Bebeb menyelesaikan kalimatnya, tampak ia berpikir keras mencari kata-kata yang dirasa pantas untuk diucapkan di depan Pak Sebastian namun akhirnya setelah beberapa detik ia menyerah juga karena tidak menemukan istilah halus.


"Baru saja Tim Reviewer diamuk Pak Stephen." begitu akhirnya Bebeb bicara.


Mereka semua diam.


Hening lagi.


Bebeb berdiri bersandar di dinding menatap lantai, Sebastian mengelus jenggotnya yang putih panjang, Danu tetap dalam posisi semula berdiri di depan Dimas sambil melipat kedua tangannya di dada, dan Dimas menengadah menatap plafon. Dimas bahkan tidak memikirkan kredit, tapi menghitung biaya pernikahan.


Terutama seserahan untuk Meilinda.


Tidak berapa lama, muncul Sarah dan Stephen mengetuk ruangan Danu.


"Boss!" sapanya sambil menghampiri Pak Sebastian dengan antusias.


"Siang Bapaaak! Kebetulan sekali Bapak ada di sini!" Sarah berlagak ceria.


Pak Sebastian masih dengan tampang muram dan angkuh yang biasa jadi trademark-nya menyambut mereka dengan senyum sinis.


"Gimana? Kerasan kamu di sini?" tanyanya ke Stephen.


"Kita bawa prospek baru loh Boss! Bapak pasti kenal lah sama perantaranya! Si Gunawan pak!"


"Iya, dia baru saja saya blacklist dari kehidupan saya karena mempermainkan Meilinda. Kalau perijinannya di Rusia sudah habis Desember nanti, bakalan saya pensiunkan dia," gerutu Pak Sebastian.


Semua diam lagi.


Kali ini diwarnai dengan sedikit ketegangan.


"Saya lanjut kerja dulu. Urusan saya hanya kalau mereka sudah jadi nasabah." Dimas beranjak dari duduknya, memecah suasana tegang. "Tapi kembali lagi, Asal perijinan bankable dan kalau ada kelalaian ada aset yang lebih mudah dicairkan daripada aset tetap untuk menutupi hutang, misalnya jaminan deposito, kami sih nggak akan ganggu-ganggu. Jangan terbiasa mencampur-adukkan masalah pribadi dan pekerjaan, Oke Kakak Ipar?! Caooooo." Dimas kabur dari sana.


Danu mengernyit. Seperti biasa Dimas walaupun terkesan cuek tapi sebenarnya ia peduli. Baru saja dia pergi tapi meninggalkan clue untuk solusi kredit yang sedang dibahas. Pinjaman dengan jaminan deposito, back to back... boleh juga diusulkan untuk Gunawan Ambrose, sebagai bukti kalau Johan's Company kredible.


eh, ngomong-ngomong, 'Kakak Ipar' itu maksudnya apa?


Wah, dia akan interogasi Dimas lebih lanjut nanti! Pikirnya.


Ternyata diskusi berlanjut agak alot sampai setelah jam makan siang, perutnya sudah lapar, akhirnya Pak Sebastian -seperti biasa- memenangkan pertempuran yang tidak bisa diganggu gugat. Namun Danu merasa Stephen dan Sarah belum berhenti sampai di situ.


Pak Sebastian pun mewanti-wantinya supaya mempelajari benar-benar semua prospek dari Stephen, jangan sampai ada yang tidak ‘bank-able’ lagi.


Saat semuanya sudah pergi, Danu baru sempat memeriksa ponselnya. 2 miskol dari... Cecil, Dan ada 2 pesan singkat.


Tulisannya ...


Pesan pertama : Mau makan siang bareng?


Pesan kedua : kelihatannya kamu masih sibuk, nanti kubawain somay aja yah.


Lalu Ia menghela napas dan duduk bersandar di kursi kulit mahalnya.


Dan sebuah senyum terkulum di bibir vampirnya.


Cieee.