
Seminggu sudah dari saat hubunganku kandas dengan Meilinda. Kami sudah tentu setiap hari bertemu di kantor.
Dan walaupun tidak dilantunkan secara lisan, kami sepakat untuk bersikap seperti biasa. Namun rasanya dadaku sakit setiap melihatnya.
Contohnya hari ini, dia berdandan sangat cantik, entah bagaimana kulitnya jadi lebih cerah dibandingkan kemarin-kemarin. Dadanya juga lebih... menantang. Sampai-sampai pria yang biasanya tidak memperhatikannya jadi malah menatapnya tanpa berkedip, seperti Pak Danu dan Pak Haryono, dan sudah pasti termasuk aku.
Aneh juga, padahal aku sudah pernah melihatnya tanpa pakaian, seharusnya sudah terbiasa.
Tapi saat ini auranya benar-benar berbeda.
"Mas..." Meilinda datang dan duduk di depanku. Aku sedang serius membaca laporan yang ia buat mengenai mutasi seluruh karyawan Divisi Kepatuhan yang tempo hari dibicarakan di Raker.
"Sudah baca laporan saya?"
Suaranya lembut dan terdengar agak serak.
Sial... kenapa aku jadi deg-degan begini?!
Aku mengangkat memonya, "Lagi saya baca bu," sahutku.
Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku dan menempatkan dadanya ke pinggiran mejaku, mau nggak mau aku memperhatikannya. Sekilas.
Sekilas, tapi berkali-kali.
"Menurut kamu, agar kinerja saya tidak menurun saya harus apa?" Ia tampak ragu dengan keputusannya.
Aku mengangkat alisku.
“Ibu bisa coba untuk bekerjasama dengan staff bu, dengarkan setiap masukan dan puji kalau usaha mereka bagus. Daniel dan Maryanti lumayan bisa diandalkan kok bu, Okky dan Handri apa lagi, mereka sudah lama memback up Pak Jaka,”
Ia hanya menatapku sambil mengangguk pelan.
Sendu.
Aku balas menatapnya.
Astaga...
Aku nggak kuat, bisa-bisa lupa diri.
Aku berdehem untuk mencairkan suasana. "Tidak harus dengan traktir ini itu, dengan ibu mengakui kerja kami saja, kami sudah senang,”
"Sepertinya..." ia menggigit bibirnya. "Saya tidak terbiasa dengan hal itu jadi Saya butuh pandangan orang ketiga."
Aku diam.
Dia sebenarnya tidak butuh pandangan orang ketiga.
Orang macam dia mana pernah minta masukan orang lain? Sepanjang aku mengenalnya.
Entah apa tujuannya, tapi aku memutuskan tidak ingin ikut campur dalam permainannya.
Ya betul, aku mencintainya.
Tapi kali ini aku sedang bekerja.
"Menurut saya, sebaiknya ibu memberikan mereka komitmen terlebih dahulu agar mereka tidak merasa lupa diri seandainya ibu bersikap baik. Bersikap kalem sesekali boleh asal tetap tegas. Kita juga tak ingin pekerjaan seluruh unit tertunda karena ibu krisis identitas. Kan kalau proposal kredit mau diajukan harus ada tanggapan dulu dari divisi ibu," sahutku.
Ia hanya menatapku.
Pandangannya sayu, seakan menembus tengkorakku ingin mengintip yang kupikirkan.
Aku utarakan saja yang mau dia dengar. Toh, sepertinya ia memang mengharapkanku untuk mengatakannya.
"Hari ini Bu Meilinda cantik... Lebih cantik dari kemarin. Mau ada acara apa bu?" akhirnya aku berkata demikian.
Ia tersenyum tipis, tapi terlihat sekali kalau ia merona.
"Cuma outfit baru. New me." desisnya.
Aku tersenyum menanggapinya.
"Yang itu juga. Kelihatan..." aku terang-terangan menatap dadanya, tapi sambil mengernyit. "...lebih kencang."
Ia berdehem.
Lalu salah tingkah dan merapikan pakaiannya. Aku hanya menatapnya.
"Em, baru-baru ini saya mulai yoga lagi. Untuk ketenangan batin dan tubuh yang lebih fit," Katanya.
Aku mengangguk mengerti.
Ketenangan batin.
“Pak Dimas,” Selena menghambur masuk ke kubikelku. “Eh, Mbak Mel,” Ia mencium pipi Meilinda. Kenapa aku dipanggil Pak Dimas dan dia manggil Meilinda tetap Mbak Mel, coba?! Keliatan banget pilih kasihnya.
“Pak Dimas, antrian semakin banyak, mau sampai kapan Pak Dimas di sini? Mereka sudah tunggu 3 jam dari pagi. Operator sudah bosan ditanya-tanya terus kapan Pak Dimas mau keluar menemui mereka!” Selena ngomel. Ini pasti masalah antrian barisan para fans.
“Masih kerja,” sahutku cuek.
“Kalau begitu kasih pesan saja ke operator kalau ada cewek yang cari Pak Dimas jangan ketemuan di kantor, Dong! Booking kamar di hotel mana, kek, biar mereka tunggu di sana dan dirimu bisa langsung kesana kalau jam istirahat. Kan saya yang mau lewat juga jadi kehalang sama barisan yang ngantri!” Dia mengomel.
Sejak aku mengumumkan ke Bram dan Selena kalau aku dan Meilinda putus, ini cewek yang paling sewot. Sehari-harinya nganggap aku musuh.
Ya tapi usulnya bukannya jelek sih. Aku juga lama-lama nggak enak sama Desi.
"Oke, saya hold dulu yah mas, memonya. Saya akan edarkan surat komitmen." Meilinda tampangnya jadi suram.
“Mbak Mel! Tunggu dulu, aku mau pinjam Si Kadiv Kampret ini loh, yang rencana kita waktu itu. Ridho nggak dirimu?” Selena berbicara begitu ke Meilinda, aku tak mengerti maksudnya.
Meilinda hanya menghela nafas bagaiakn punggungnya dipenuhi beban segunung.
“Di sudah bukan punya gue, kan udah gue bilang terserah lo asalkan Bram ngizinin,”
“Jadi fix ya nih gue boleh apa-apain nih kadal?”
“Iyaaa,” desis Meilinda malas sambil mengibaskan tangannya dan akhrnya ia keluar ruangan tanpa menoleh lagi padaku.
Kami menatap sosok Meilinda yang menjauh. Selena melirik padaku dan berdecak.
Bukan urusannya juga sih.
Ia duduk lagi di mejanya dan memeriksa ponselnya.
Aku mendekatinya dari belakang.
“Tergantung lo sih Pak, mau dibantuin nggak?”
“Soal antrian?” tanyaku.
Ia mengangguk pelan. “Mau cari jalan pintas ya?” tanyanya lagi.
“Mau dipercepat aja, gue udah nggak tahan,” keluhku.
“Akhirnya lo juga yang nggak tahan... gue ijin Bram dulu. Gue punya rencana tapi ekstrim.”
Aku menunduk mendekatinya, memperhatikannya mengetik pesan ke Mas Bram di ponselnya.
"Darling Honey Sweety, si kampret minta aku bantuin dia ngusir fansnya. Aku boleh pake teknik hardcore nggak? Fansnya level brutal, pasti tau lah kamu."
Begitu ketik Selena.
Aku mencibir masam. Maksudnya apa teknik Hardcore?! Ni cewek beneran nyebelin. Entah apa yang membuat Masku luluh padahal kelakuannya bar-bar begini.
"Dimas udah nyerah ya? Lemah kali tu bocah. Silahkan aja kalo kamu nggak capek." Masku balesnya cepet juga.
Tapi kenapa isi WA nya tak kalah nyebelin gitu?!
Selena menatapku, aku menoleh, hidung kami yang sama-sama panjang bersentuhan.
Tepat saat itu Andrew masuk ke ruangan dan pandangannya langsung tertuju pada kami. Kami memutuskan untuk tidak mengindahkannya.
"Hardcore tuh apa maksudnya Mal?" tanyaku ke Selena sambil merendahkan suaraku. (Mal... Mala, maksudnya Malampir).
"Ya sesuatu yang biasanya dilakukan pasangan untuk mengusir pengganggu. Udah gue bahas sih sama Bram,"
"Bersedia bahas ke gue juga ga?"
"Enggak,"
"Terus dari mana gue tahu kalo nyawa gue nggak terancam?"
"Mau mundur juga boleh, nggak rugi gue,"
"Ngambek cepet amat," sungutku.
"Tadi manggil gue Mal maksudnya apa?"
"Mal? Malampir,"
"Bajing Tiga Warna Panda Juling,” Selena mulai memaki. "Hei, cium leher gue."katanya tiba-tiba.
"Buat apa'an? Pamer wangi parfum? Gue nggak suka bau kemenyan gini,"
"Gblk, parfum gue lebih mahal dari sepatu lo! Mantan gue lagi ngeliatin, bayaran gue buat bantuin lo, biar dia tau gue udah tertutup buat dia,"
Aku menatapnya dengan pandangan bertanya. Dia yang dimaksud itu 'dia' siapa?
"Arah jam 2 di belakang lo," bisik Selena.
Aku langsung ngeh siapa yang ia bicarakan. Andrew toh maksudnya...
Aku menghela napas. "Harus yah pake cium-ciuman?" Keluhku sambil menunduk "Lo tinggal kasih dia Mas Bram aja, takut amat sih lo."
"Bram bakalan nanya, gue harus jawab apa coba? Bisa habis gue,"
Aku menelusuri leher Selena dengan hidungku. "Takut amat sama Mas Bram,"
"Lo pernah ngeliat si mamas meradang nggak?"
"Ya pernah tapi nggak segitunya juga kali. Dia udah komitmen sama lo, gue pikir apa pun masa lalu lo pasti dia bakalan terima," desisku sambil mencium leher Selena. Lebih lembut kulitnya Meilinda sih, yang ini kayak cium tembok. Dingin dan licin.
"Kalo ada masalah, gue nggak mau terlibat." bisik Selena.
Selena mencium bibirku.
Sekilas tapi terasa.
Terasa menyebalkan, lebih tepatnya.
"Enak nggak ciuman gue?"
"Kayak dicium tembok," balasku.
"Mau gue cium lagi? Kali ini pake teknik soang,"
"Yang berdarah-darah kayak kena santet itu yah? Gue periksa dulu asuransi kesehatan limitnya tinggal berapa,"
Selena menciumku lagi, kali ini dia beneran menggunakan teknik Frenchfries, eh Frenchkiss. Kenapa sih Perancis dibawa-bawa?!
Aku ikut aja lah alurnya.
"Hm, sekarang gue tau kenapa lo dikejar-kejar. Bibir lo enak juga rasanya," desisnya.
"Pujian nggak guna." sahutku sambil menegakkan punggungku. Capek juga yah nunduk terus.
Iya, rencana Hardcore si gadis bar-bar adalah berfoto mesra denganku, lalu menguploadnya di media sosialnya.
Ada foto ciuman segala.
Pantesan minta-minta izin... awas aja kalo nggak berhasil, gue minta kupon diskon makan AYCE.
Lalu kami berdua menatap Andrew yang juga menatap kami sambil memutar-mutar pulpennya. Mukanya bete banget.
"Sejak kapan lo disitu?" tanyaku pura-pura nggak tau.
"Gue nyapa lo kok tadi, mas."
"Ohya?!" aku pura-pura kaget
Dia hanya mendengus.
Lalu menegakkkan tubuhnya dan membuka bantex dengan kasar.
Aku melirik Selena yang mengerling padaku.
Ia juga memanfaatkanku agar Andrew menjauh. Kan bisa rusak hubunganku dan anak buah kesayangan.
Kalau disuruh milih, tanpa pikir panjang aku langsung milih Andrew untuk jadi partnerku dibanding Selena. Biarlah keberadaannya jadi urusan Mas Bram saja.