Office Hour

Office Hour
Eeees Eeees



“Pak Arman, Pak Arman,” aku menyusul Pak Arman dan mencubit sedikit jaket kulitnya saat dia berjalan pulang ke arah parkiran motor gedung. Meeting malam kami sudah selesai, tapi aku merasa perlu memastikan beberapa hal lagi.


“Apa sayang?” tanyanya sambil menoleh.


Langsung merinding dong aku...


“Jangan manggil sayang, nanti beneran,” gerutuku


“Ya siapa tahu lagi bosen sama cewek,” lah dia malah bilang gitu! Dia kali yang kebanyakan main cewek. Aku kan hanya ada satu wanita di hidupku.


“Besok itu... nara sumber sudah bersedia hadir kan?” aku tak yakin. Aku tak mau rencana ini gagal.


“Tenang saja Pak Dimas, sekarang pulang dan cuci kaki, tidur yang nyenyak. Saya lanjut kerja dulu,”


Begitu katanya...


Hebat, jam segini masih kerja aja!


**


Pagi harinya,


Aku tidur nyenyak.


Jahat nggak sih aku, dilagi kesayanganku lagi was-was dan kuatir, aku malah bisa tidur.


Namun pagi ini, sebelum ke kantor Pak Sebastian, aku harus bicara dengan Mas Bram. Kami berdua dipanggil untuk dapat hadir di Garnet Pusat. Termasuk Trevor juga digeret bapaknya buat nemenin.


Jadi, Pagi ini aku dalam kondisi was-was diomelin Mas Bram.


Kenapa?


Karena kemarin si Andrew minta nomornya Mas Bram padaku. Dan kupikir pasti mereka sudah bicara berdua.


aku mencari waktu saat ibuku juga ada di rumah sebelum dia pergi ke restorannya.


Ceritanya mau cari tameng.


Aku anak kesayangan ibuku? Iya.


Semua juga tahu itu.


Anak mama, julukannya.


Bodo amat, aku suka kok julukan itu.


"Mas..." sapaku.


Ia sedang di meja makan sambil merokok dan menatap kopinya. Kuduga dia sedang memikirkan cara berbicara denganku.


Ia melirikku, lalu menunjuk kursi di depannya dengan dagunya.


"Apa yang kalian rencanakan di belakangku?" tanyanya.


Oke, dia sudah lebih tenang saat ini.


Jadi mengalirlah dari mulutku semua yang kuketahui mengenai si Maklampir sialan itu. Mulai dari hubungannya dengan Andrew, sampai rencananya untuk membuat Andrew menjauh dengan bermesraan denganku.


"Apa saja yang sudah kalian lakukan, jelaskan secara detail." Katanya.


"Coba Mas tanya aku." sahutku.


"Apa kalian pernah berhubungan intim?"


"Tidak pernah."


"Apa pernah tersirat di pikiran kamu?"


Aku mengernyit. "Sama sekali nggak pernah."


"Bagian tubuh mana yang pernah kamu lihat?"


"Semua."


"Kenapa?"


Aku mengangkat bahuku. "Dia memamerkan hasil spa, mau aku pakai buat rencana biaya perawatan tubuh Meilinda kalau kami sudah menikah."


Mas Bram menghela napas.


"Kamu kenapa nggak cerita soal keberadaan bang sat ini?" ini maksudnya kayaknya si Andrew.


Aku menghela napas.


"Aku bukan pengadu, Mas. Tapi aku sudah ngomong ke Selena, kalau ia harus cerita. Tapi dia nggak mau, dia takut kamu marah terus ninggalin dia."


"Aku dengar semuanya malah dari Andrew, lebih menyakitkan mana?!"


"Dan menurut mas apa tujuan Andrew menelpon kamu? Selain agar mas marah dan kalian berantem, jadi dia ada kesempatan untuk kembali mendekati Selena."


Masku diam.


Ibuku datang dan meletakkan kopi di depanku.


"Le..." sahutnya ke Masku. "Menikah itu berarti menyatukan dua pikiran, melangkah maju ke depan. Masa lalu bukan untuk dilupakan, tapi untuk dijadikan patokan untuk lebih baik bertindak."


Masku mengangguk. "Inggih Bu," lalu menatapku. "Ini yang terakhir kalian bersekongkol di belakangku."


Ada nada mengancam di nada suaranya.


Aku merinding.


"Ya Mas. Maaf..." gumamku.


Aku mengerti akan keadaan diriku yang tidak akan bisa ditolak wanita mana pun. Bukannya aku bangga, aku mulai takut dengan 'kelebihan'ku.


Bukan nggak mungkin kalau aku niat, dengan sedikit effort, Selena akan berpaling padaku. Tapi itu bukan sifatku, dan jelas aku tak ingin bersaing dengan Masku sendiri.


Ataukah kelebihanku ini sebenarnya adalah kutukan?!


Namun ada sesuatu yang harus kukatakan.


"Mas... Ada satu lagi. Aku tahu dari Pak Sebastian sudah lama, waktu aku minta ke dia buat mutasi Gio ke Retail."


Ia menatapku sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Jadi... rencananya setelah aku dan Meilinda menikah, Pak Sebastian ingin Meilinda resign dari kantor dan sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga. Aku yang akan menggantikan posisi Meilinda. Jadi Andrew dipersiapkan untuk mengisi posisiku. Dan Selena... Akan ada tepat di bawah kepemimpinannya."


Aku yakin saat ini benak Masku dipenuhi sumpah serapah memakiku, tapi karena ada ibuku ia tidak mengucapkannya.


"Bu, boleh aku pukul sekaliii saja nggak si kunyuk ini?!"


"Langkahi dulu mayat ibuk." jawab ibuku.


Bram menggerutu.


Sudahlah...


Yang penting sudah kukatakan. Selanjutnya biarlah itu menjadi urusan Masku.


Yang penting di antara kita sudah tidak ada masalah.


**


Aku datang berdua dengan Mas Bram ke Gedung Garnet Pusat yang mevvah berkilauan kayak ada di planet lain. Eh, sudah kujelaskan di bab yang lalu mengenai jumlah tenant di gedung itu kan? Kebayang kan besarnya segimana? Kalau tersesat di sini, nggga heran juga sih.


Bedanya, kalau kemarin aku harus menunggu, kali ini kami disambut.


Dengan berlebihan...


Jadi, di lobi sudah ada barisan karyawan berpakaian rapi lengkap dengan jas, manset dan sarung tangannya.


nggak, nggak pake kacamata item, kok.


Masing-masing barisan jumlahnya sekitar 10 orang, satu orang berdiri di satu anak tangga, menunduk hormat waktu kami berdua nongol di tangga mau ke lobi.


Macam kami ketua geng Triad...


Saking kagetnya aku sampe reflek mundur dan pasang tampang curiga.


Lalu karena malu diperlakukan berlebihan, aku mengenakan maskerku sampai batas hidung dan kacamata hitam Ray**ban KW punya Bang Sa'ad yang sampai sekarang belum kukembalikan.


"Di sambut berlebihan begini, ada kemungkinan kita habis ini bakalan digantung nggak sih Mas?" tanyaku.


"Kamu kali yang digantung, aku kan siang nanti ngibrit ke Rusia sama Trevor..."


Aku mengernyit menganggapnya nggak setia kawan.


Jadi penampilan kami... Masku dengan jas lengkap bikinan desainer favoritnya, udah kayak model Penjahit India di Pasar Baru, lengkap dengan sepatu kulit buaya yang harganya belasan juta.


Lalu aku...


Yah...


Batik 200ribuan lengan pendek, nametag yang dilipat ke kantong, celana jeans hitam, sepatu kets semata kaki, kacamata hitam dan... Masker gambar tengkorak yang biasa kupakai naik kereta...


Kebanting?


Jelas. Aku kan cuma pegawai Bank.


Tapi kalo buka masker tetap aku yang menang kali, ya?


Ehem...!


Barisan bodyguard tadi mengikuti kami, seperti kami baru dilantik jadi Presiden, ke arah lift khusus diujung lobi, yang waktu itu dipakai Pak Sebastian.


Lalu di lift kami hanya berdua saja.


"Baru juga masuk lobi, udah tegang aja bawaannya,"


"Aku pernah ketemu Presiden waktu peresmian rumah subsidi, nggak seheboh ini loh," sahut Masku.


"Emang seleranya Big Boss begini kali. Kebayang nggak sih kalo jadi Milady," sahutku.


Masku terkekeh. "Tiap hari Milady ngomel katanya karena diperlakukan sesuai namanya... Terakhir dia ngidam eskrim,"


"Jangan bilang kalo makan eskrim disuguhin yang pake lembaran emas,"


Masku mengangguk. "Ceritanya begitu, sih..."


"Dimakan?"


"Katanya nggak ada rasanya, terus dia bilang lebih baik es mong-mong seribuan yang ada nangkanya."


"Es mong-mong udah langka Mas,"


"Ya makanya, akhirnya dicari sampe dapet, ketemu di daerah Jatinegara, terus di hire jadi koki khusus eskrim."


Aku bengong.


Perjalanan kami menuju lantai 50, di dalam lift jadi ngomongin tukang es mong-mong.


Btw, lantai 50... Kalo ada simulasi kebakaran cara turunnya gimana?