
“Mas, aku nggak masuk ya, badanku panas,” keluh Meilinda saat pagi itu dia menelponku.
Jujur saja, biasanya kami berkomunikasi lewat pesan singkat. Jarang untuk bicara melalui telepon.
Suaranya saat sakit malah terdengar seksi, membuatku berfantasi yang nggak-nggak.
“Panas? Demam?” tanyaku.
“Aku kecapekan kayaknya,”
Tak ayal hal itu membuatku merasa sangat bersalah.
Meilinda jarang sakit. Sekalinya sakit gara-gara diriku.
Miris.
Jadi setelah itu, kututup teleponnya dan berjanji untuk menjenguknya sepulang kerja.
Hari ini aku bangun agak siang. Rencananya memang ke kantor agak terlambat, tadi malam sudah ijin Pak Jaka untuk masuk setengah hari.
Aku keluar dari kamar mandi saat jam dinding berhiaskan gambar motor gede menunjuk pukul 7.00.
Mas Bram berdiri di depan meja makan sedang mengisi tumblernya. Ia bersiap-siap ke Jogja untuk mengurusi masalah pembebasan lahan.
“Ada paket tu Le, ” desisnya sambil menunjuk meja makan dengan dagunya.
Aku menyampirkan handukku di bahu dan menghampiri kotak yang tampilannya eksklusif. Saking eksklusifnya jadi mencurigakan.
“Dari mana Mas ?” tanyaku ke Mas Bram.
“Tadi subuh Pak Arman datang ke sini antar itu,”
“Pak Arman? Pak Arman GSA?”
“Ya iya, bukan Armand Maulana dong ah! Mikir pake GIGI,”
Aku cengengesan, “Kemarin si Meli memang bilang kalau akan ada paket dari Pak Sebastian,”
“Cieee manggilnya udah ‘Meli-Meli’ ajaaaa,” Mas Bram menggodaku sambil menoyor kepalaku.
Aku pun langsung unboxing paket dengan kotak eksklusif.
“Widihhh!!!” aku langsung teriak setelah membuka segelnya.
“Kenapa?” Mas Bram menghampiriku dengan kuatir.
Aku menatapnya setengah tak percaya.
Dua buah Rolex limited edition dan 2 buah ikat pinggang kulit buaya yang setahu aku logo huruf H di besinya mahal punya. Saat Mas Bram sedang mengagumi harta karun, aku mencari dengan teliti di setiap sudut kotak. Siapa tahu ada kode menjinakkan Bom-nya.
Pak Sebastian nggak mungkin ngasih ‘sesuatu’ tanpa ada ‘sesuatu’, kan?!
Kode tidak kutemui, aku beralih mencari memo ancaman.
Tak ada juga.
“Aku satu ya, ” desis Mas Bram sambil mengenakan salah satu jam tangan dan menenteng kopernya keluar. Aku mencium tangannya, dan melanjutkan mencari pesan-pesan tersembunyi dari setiap sudut kotaknya.
"Jolali nganggo katok sebelum berangkat!" masih kedengar Mas Bram berteriak padaku dari dalam mobilnya. Tapi panca inderaku tetap fokus ke merchandise.
Setelah aku menyerah, aku akhirnya makan nasi uduk ibuku sambil menatap jam tangan pemberian Pak Sebastian.
Mau ada kejadian apa lagi nih? Hari ini Meilinda nggak masuk gara-gara kejadian kemarin. Aku terus terang sangat merasa bersalah karena dia kan hanya mengikuti permainanku, akhirnya jadi keseret-seret. Aku juga habis dilibatkan ke dalam masalahnya sih, tapi tidak seberat masalahku kemarin.
Kalau ditanya seperti apa perasaanku terhadap Meilinda, sejujurnya perasaanku padanya mulai tumbuh.
Dia cantik, seksi, penampilannya juga anggun, masalah dia galak, sombong dan pelit sih bisa kuindahkan, tapi sifatnya menarik. Di satu sisi dia berlagak seperti independent woman, tapi detik berikutnya dia bisa manja minta ampun.
Aku sadar betul kalau ia masih bingung dengan keadaan ini. Terlihat kalau ia belum dapat melupakan Gunawan. Terkadang matanya menatapku tapi pandangannya menerawang seperti sedang memikirkan orang lain.
Dan yang aku kuatirkan, apabila Meilinda mau kuperistri, duh… belum ada bayangan, tapi seandainya dia mau kuperistri, apa dia mau hidup bersamaku di gubuk milikku? Saat ini harga satu tas saja bisa buat beli rumah, belum sepatu dan perhiasannya. Kalau hidup denganku yang pas-pasan ini apa dia mau meninggalkan gaya hedonnya? Terus kami beda 14 tahun, apa dia mau menjadikanku Kepala Keluarga?
Aku menghela napas.
Ibuku masuk ke dalam sambil menenteng belanjaan dibantu pak Ilham, tukang becak yang juga tetangga kami. “Belom berangkat Le?” tanyanya.
Aku menatapnya sambil berpikir untuk meminta restunya hari ini, tapi alasannya apa ya.
“Bu...” desisku. Ia duduk di depanku sambil membereskan isi dompetnya.
“Opo?” balasnya kalem.
“Kalau aku pacaran, boleh nggak?”
Dia menatapku dengan aneh.
“Memangnya ibu pernah larang?!”
Ah iya juga sih,
Oke ganti pertanyaannya.
“Opo sih!! Lebay! Ya pasti didoain lah, sudah jangan pikir aneh-aneh, kesambet nanti! Pakai baju sana!!”
Aku memutuskan untuk memakai Rolex itu dan siap-siap ke Kantor.
*
*
Sambil menguap aku meletakkan piring berisi gorengan di depanku.
Daniel langsung mencomot dua biji. Aku menggeplak tangannya. Ia cuek dan memasukan salah satu tahu dengan sekali telan. Fendi datang sambil membawa mangkuk berisi indomie telor dengan hati-hati.
“Pagi-pagi udah indomie aja, ” desisku.
“Sebelum nenek lampir dateng gue harus nge-micin. Biar kalo dia ngebacot gue ga denger apa-apa.” desis Fendi.
Dia termasuk jenis yang kena MSG sedikit langsung teler kayak orang mabok.
Hari ini rencananya mereka mau membahas temuan audit untuk divisi marketing yang kemarin kukirimkan.
Unit yang kukirimkan temuan harus memberi alasan dan jawaban mengenai action yang mereka pakai atau melaporkan kalau masalah tersebut sudah selesai ditangani , dan setelah lengkap terisi barulah divisiku membuat laporan akhir untuk mitigasi.
“Ada proposal yang dateng dari Johan's Company, mau bangun jalan layang di Jawa. Tapi para pemegang sahamnya orang Amerika semua, mereka pakai jasa agen dari Indonesia untuk peminjaman dana. Agennya katanya dari Garnet Grup,” sahut Fendi.
“Gue lagi perdalam proposalnya, kayak ada yang ganjel.” kataku.
“Kalo sister company mah masukin saja kali bro, sudah pasti ditandatangan,” sahut Daniel dengan mulut penuh gorengan.
Kenapa piringku jadi kosong? Bah! Si Kampret ngabisin gorengan.
“Lo ulur saja dulu sampe feeling lo jernih. Sapa tahu mereka cuma pakai nama saja. Siapa sih agennya.”
“Nama agennya Gunawan Ambrose. Kenapa belakangan gue sering denger nama itu yak?” kernyit Fendi sambil mengunyah mie-nya,”
Untung gorengannya udah dihabisin Daniel, karena aku langsung males makan.
“DIMAS!!!!” Pak jaka lari ke arahku.
“Kamu cepat ke ruang meeting! Pak Sebastian cari-cari kamu!!”
Hem...
ini toh firasatku.
Di saat yang sama Fendi juga mendapat telepon dari Bu Sarah untuk masuk ruang meeting karena Pak Sebastian ingin semua pejabat hadir.
“Elaaaah! Indomie gue belom habis, kagak jadi bangor dah gue!”
“Harusnya lo nggak usah makan Indomie kalo mau tampak ke-bego-bego’an,” desisku, “Cukup serbuk bumbunya lo isep aja pake hidung, wakakakaka,” kataku sambil beranjak dan menghabiskan kopiku.
“Sue’ lo mas...” gerutu Fendi. “Btw, itu Ide yang brilian,”
**
“Big Boss di ruangan meeting yang mana?” Aku masuk ke lantai ruang meeting sambil mengenakan dasiku dengan terburu-buru dan bertanya ke Desy, Resepsionist Garnet Bank. Kami memiliki 7 ruang meeting dilantai ini, seringkali juga disewakan ke tenant lain yang membutuhkan.
“Duh, Mas Dimas, pagi-pagi sudah bikin panas! Sini saya pasangin dasinya,”
Haduh orang lagi buru-buru malah pakai merayu pula, kalo nggak inget lo punya laki - anak Deeees, Des! Udah gue remes itu…
Skip!
Remes buku tamu maksudnya.
Buku tamu loh yaaa.
“Mas Dimas, lelang barang-barangmu kemarin jadi masalah, aku nggak dapet tambahan lagi deeeeh,” kata Desy.
“Berusahalah di jalan yang Halal, Des” gumamku.
“Ih, Mas Dim ih!” ia bersungut-sungut.
Alexander David Huang, Direktur Personalia, muncul dari ruang rapat besar dan menghampiriku. Terlihat sekali tampangnya penuh rasa kekuatiran.
“Iki si Jiancoeg ini sing sering bikin masalah! You bikin salah apa lagi, hah? Iki sampek dia takon-takon personalia, amsyong akuuu Maaas, Mas! ” Pak David menggeret lenganku untuk menepi.
Pak David memasangkan dasiku dengan cermat.
“Ini gara-gara Meilinda kemaren dikerjain dia jadi tanya-tanya biodata semua karyawan,” gerutunya.
“Belom tentu begitu pak,”
“Mana mungkin belom tentu begitu?!”
“Lah bisa saja dia mau pilih buat harem,”
“EH, kowe iki Jhiaaan raono akhlak ya, itu muka Big Boss wis WANGKEEEEEER koyok Banaspati nahan b3ol!” sahutnya sambil misuh-misuh masuk ruang meeting.
Aku hanya terkikik geli mendengar logatnya, sori nggak tahan, dan aku mengikutinya masuk ke ruang meeting, sambil mencomot permen di meja depan Desy.