Office Hour

Office Hour
Vila Vampir (4)



Daerah Astanajapura, Cirebon.


"Pak, saya sudah sampai depan." aku mengetik pesan singkat saat kami sudah sampai di depan rumah nasabahku, kami berhenti di pepohonan tepat di depan gerbang rumahnya.


Lalu aku membuka whatsap Mas Bram.


Dia mengirimkan 5 buah foto.


Gambarnya golok semua.


Aku mesem-mesem.


"Baik mas, saya sudah suruh security untuk buka gerbang." Nasabahku membalas.


Lalu perlahan gerbang besi segede gerbang white house terbuka juga. Mobil Leon masuk melewati gerbang.


Lumayan gede rumahnya.


"Yang punya restoran empal gentong paling laris." Aku menjelaskan dengan berbinar.


Semua menepuki punggungku tanda salut dan berterima kasih.


Ini berarti : makan gratis.


Iya dong, musafir masa keluar duit.


"Waduuuhhh jadi juga kamu main kesini Maaasss!!" Bapak-bapak berperut buncit berkumis tebal menyambutku. Terlihat jarinya penuh tumpukan cincin emas berbatu mulia.


Kalo masak empal gentong bisa jadi salah satu cincinnya jatoh ke gentong nggak ya? Jadinya resep enaknya di situ?


"Pak Edo, apa kabar pak, sehat?!" Kami bersalaman dengan antusias. Lekukan cincinnya bikin sakit jariku.


Bunyinya cring cring...


"Alhamdulillah sehat-sehat semua," lalu dia berkacak pinggang sambil menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Gila kamu, makin ganteng aja. Saya tuh suka bertanya-tanya-"


"Tanya-tanya apa? Dukunnya dimana? Susuknya ditaruh dimana? Semedi dimana? Punya ajian apa? Dokternya siapa?!" sindirku.


Dia terbahak.


"Waduuuh jangan gampang tersinggung dong! Ini sih kamu laper tandanya. Ayo ayo makan dulu!" sahutnya sambil memeluk bahuku sambil masih terbahak.


"Teman-teman kamu juga model semua kayaknya!" Pak Edo menoleh ke belakang.


"Oya... Ini Leon dari Jualan Berlian Agency. Andrew dari PT. SKAI Kemrungsung, Daniel dari Gasak Gorengan Entertainment, sama Fendi dari Demit Lokal Corporation," sahutku asal.


Semua berdecak.


"Mulai ngelantur," gumam Andrew berbisik ke Daniel.


"Di dor aja Bang, sapa tau setannya keluar." sahut Daniel ke Leon.


"Palingan dia cuman laper." desis Leon sambil mengikuti kami.


"Sekali lagi lo ngatain gue Demit, gue iket terus gue cubit bokong lu." ancam Fendi.


Aku ketakutan.


Langsung insaf.


"Jadi, kalian ini mau ke mana sebenarnya? Kok tahu-tahu sudah sampai Cirebon?" tanya Pak Edo saat kami makan.


Enak bener empal gentongnya...


"Kita mau ke Kebon Teh Tampi, jauhan dikit." desisku.


"Area Gunung Sindoro?"


Kami mengangguk.


"Jalur Selatan ya?!"


"Melewati dua jalur pendakian sih. Kita mau Ke Villa Khamandanu. Tahu Pak?"


"Waduh..." desisnya sambil cuci tangan di mangkok stainless. Padahal wastafel tepat di belakangnya.


"Villa keramat ya... hem,"


Mamang Hans juga ngomong begitu.


Pertanda jelek ini...


"Katanya sih udah di aspal Pak,"


"Mana mungkin diaspal. Kalau iya, sudah tidak jadi jalur pendakian lagi dong. Jadinya Jalur kendaraan."


"Kelihatannya bersebrangan sama jalurnya. Kami sih belum tahu yah, belum ada gambaran juga."


Aku melirik Leon.


Dia memicingkan mata.


Kelihatannya dia mau bilang : jelas-jelas itu hutan belantara, kebon teh apa'an Tong?!


Tapi dia memutuskan diam karena sibuk makan.


"Dimas... Kamu pernah liat setan?"


Awkward question dari Pak Edo.


"Pernah Pak, pakai rompi tulisannya Tahanan KPK." sahutku.


Pak Edo menyeringai.


"Kamu, Leon? Pernah liat nggak?"


"Sering pak. Itu di sebelah bapak yang hidungnya mancung." desis Leon.


Dia menunjukku.


"Hidung lo juga mancung, anjaniiii..." desisku.


Pak Edo ketawa makin kencang.


"Gimana Andrew, pernah liat Setan?"


"Dikerjain setan sering Pak, dia suka ngomong di wa : gue OTW. Padahal baru bangun."


"Jawabannya nggak jelas semua hahahaha. Saya mau denger dari Daniel dan Fendi juga!" Sahut Pak Edo.


"Kalo saya, suka denger suara Setan pak, ngomongnya : gue pinjem duit dibalikin besok, eh besokannya dia malah maki-maki saya begitu saya tagih." jawab Daniel.


Yang ini bener banget.


Dasar Setan.


"Temen- temen saya setan semua pak, kan saya sendiri Demit," dengus Fendi menyindirku.


Aku terkakak.


"Mana lemburannya dapetnya dikit pulak. Nggak sesuai sama setor nyawa," tambahnya.


"Makan Fen... makan yang banyak biar nggak stress." aku menyendokkan secentong nasi lagi ke piringnya.


"Lo harus curiga kalo Dimas udah bertingkah manis kayak gini, lo tuh mau dijadiin tumbal buat genderuwo penjaga Vila." desis Leon.


Fendi ternganga.


Aku ketawa makin kencang.


Boleh juga idenya mumpung udah setengah jalan.


Bungkus lah.


"Terus terang ya Pak Edo, saya sekarang tidak bisa membedakan mana teman mana setan." Fendi melambaikan tangan gaya kemayu.


Pak Edo menyeringai.


“Jalur ke villa itu konon keramat. Mohon maaf, saya banyakmendengar cerita, kalau bulan ini banyak yang ke sana untuk perewangan, jadi mereka mengikat kesepakatan dengan astral untuk macam-macam hal. Energinya paling besar di bulan ini,”


Aku terdiam sambil makan, setengah tak percaya sebenarnya.


"Ngomong-ngomong Pak, barangnya sudah siap, belum?" tanyaku.


"Suudahh doong, Pesanan Pak Bram Kan? Ayok!" Pak Edo menyuruhku untuk mengikutinya ke salah satu ruangan.


aku memberikan kode ke teman-temanku :


Pak Edo menyerahkan beberapa golok pesanan Masku. Model Cirebonan memang bentuknya lebih sederhana, namun langsing dan ringan. Pas untuk sehari-hari. Mungkin Masku mau jadi jawara hahaha... Atau jangan-jangan buat bertani jagung.


Kalau aku nggak terlalu suka karena modelnya terlalu biasa. Aku lebih suka yang mentereng soalnya biar enak dipajang.


"Nih, Mas. Bawa. Jimat. Isinya Mirah Delima..."


"Buat apa'an sih pak?!"


"Biar nggak digangguin laaah..."


"Ini tuh cuma di kaki gunungnya, kita nggak ke atas."


"Nah, kalau kamu disasarin gimana? Tau-tau muncul di Prambanan?!"


"Eh, emang ujungnya disana? Muncul di Prambanan ya kebeneran lah, bisa sekalian travelling."


"Jangan asal ngomong, yang saya maksud bukan Prambanan yang di dalam kota yah. Ini Prambanan negeri gaib, bisa-bisa kamu nggak ketemu lagi sama istri kamu. Mau anak kamu nggak punya bapak?! Lebih parah, anak kamu diasuh bapak yang lain?! Istri kamu tuh cuantikk loh!"


"Iya paling Pak Edo yang gangguin istri saya." akhirnya aku terima juga mirah delima dari Pak Edo, daripada dia bawel terus.


Setelah kami kenyang, kami kembali melanjutkan perjalanan. Tak lupa dibawain kerupuk kulit dan dibubgkusin makanan, dia juga bawain kemeja batik cirebonan. Lumayan nanti di kantor pada pake kembaran biar kayak boyband.


Satu Tujuan Band.


Bertaruh Nyawa Menelusuri Villa, Mendaki Gunung Lewati Lembah, Sungai Mengalir Indah Ke Samudra...Bersama teman bertualang.


...terus aja nyanyi...


**


Masalah mulai muncul saat Daniel yang nyetir.


Jadi, kan, kita sepanjang jalan nyetirnya ganti-gantian. Sebenarnya waktu udah sampai Purwokerto, kita sempat meeting di Warmindo gara-gara Daniel ngidam indomie jadilah bela-belain mampir padahal nggak sejalan sama jalan ke arah Wonosobo.


Tahulah kalo si anak betawi satu nih penggemar mie instan, cocok lah dia pacaran sama anak penjual bakmi macam Isabel, udah nggak perlu takut bapaknya Isabel melanjutkan kedigdayaannya dalam dunia mie-miean udah pasti menantunya bisa melanjutkan perjuangannya.


Jadi karena habis makan MSG, kekenyangan, kami semua ketularan ngantuknya Fendi (dia kalo makan micin langsung keliyengan, terus ketiduran) kecuali Daniel yang udah pakar per-bakmie-an, jadi kami mempercayakan hidup kami di tangannya. Dia giliran jadi driver kali ini.


Sampai aku tiba-tiba terbangun.


"Bro? Dah nyampe hotel mana?"


"Hotel? Kan kata lo lanjutin aje jalannya, pas tadi gue nanya mau belok ke Aston apa cari hotel lain."


"Ha?" Aku langsung terjaga.


"Ya jadi gue lanjut jalan..." Sambung Daniel


"Ini di mana?"


Keadaan di luar udah gelap.


"Kayaknya sih masih Ajibarang." Sahut Daniel.


"Ajibarang gimana? Ini tuh tengah hutan!"


"Ha? Emang Ajibarang macam gimana keadaannya?"


"Ajibarang jalannya macam Bekasi, tandus berangin."


"Loh... Di map virtual ini tuh Ajibarang."


"Bro, lokasi lo di peta tuh nggak maju-maju tuh!!"


Daniel memicingkan mata menatap layar.


"Loh... iya nih? Rusak apa yah?!"


Raja hutan bangun.


"Dah sampe mana?"


Pertanyaannya sama dengan yang kuajukan. Bedanya, dia menjawab sendiri.


"Lo nyasar ye?!" Tanyanya sekaligus jawabnya saat melihat keadaan di luar.


"Baru kali ini gue liat ada makhluk Tuhan yang bisa nyasar perjalanan dari Purwokerto ke Wonosobo! Tinggal ngikutin jalan gede susah amat sih!" Semprotnya.


"Gue mau ngejelasin juga susah kali, dari tadi udah ngikutin jalan gede ini! Terus ada plang ijo, Ajibarang belok. Ya udah gue ikutin!" Balas Daniel nggak mau kalah.


"Lah terus tadi kenapa nggak berenti di Hotel aja? Kan rencananya kita berenti di hotel!"


"Kata Dimas, 'jalan terus aja Bang'!"


"Gue ketiduran, kaga inget gue ngomong ke elo 'jalan terus aja Bang'!" Sahutku.


"Jelas-jelas itu suara lo gitu loh!" Seru Daniel.


"Hoi Gengs," sahut Fendi "Mana pernah Dimas manggil Daniel pake sebutan Bang. Paling banter Bang ke.."


Kami langsung terdiam.


Ah iya juga.


Jadi...


"Mending kita berhenti dulu, cari mesjid ato pom bensin terus tanya jalan. Dan... nggak usah ngomong aneh-aneh." Kata Andrew akhirnya.


Sepanjang perjalanan kami bungkam.


Bukan karena kesal.


Tapi karena waspada.


Kami fokus ngeliatin jalan. Leon sambil ngemil Beng-beng. Fendi bikin vlog #nyasarcuy.


Aku bisa melihat jelas tangan Daniel di setir mulai gemetaran.


takut nih yeeee


"Bro," desis Daniel.


ada sedikit nada gemetar di suaranya.


"Apa?" tanya kami hampir berbarengan, takutnya dia lagi dikerjain, yang kakinya ditahan di pedal gas ato remnya blong atau ada tangan tak kasat mata nggelitikin dia.


"Di sini tuh nggak ada Indomaret yah?"


kami berdecak.


masih aja nih anak.


buang aja gimana?!


Mungkin patokannya, kalo ada Indomaret jadi siuasi aman terkendali.


Tapi sekali lagi dia ngomongin itu, aku bakal beli franchisenya, kubuka Cabang di Puncak Gunung Lawu. Indomaret khusus Makhluk Astral, transaksi metode barter rempah-rempah macam jaman VOC.


Tak berapa lama berjalan kami melihat bangunan bersinar di depan.


Ada Masjid, besar.


Aku melihat juga banyak jama'ah yang keluar dari area masjid. Kulirik jam masih jam 18.30. mungkin mereka selesai sholat Maghrib.


"Kita berhenti di situ aja, gue belom Sholat juga." sahutku. Terakhir sholat di warung mie instan favorit Daniel. "Ngomong-ngomong, itu bangunan masjid, kan? siapa tahu penglihatan gue beda, hehe."


Ini ketawa kuatir.


Bukan ketawa ngebanyol.


Dunia persetanan bukan bidangku.


"Iya itu masjid." desis Leon.


"Terang kan Masjidnya?"


"Iya terang kok, ada banyak neonnya putih." sahut Andrew.


"Oke lah..." Daniel membelokkan mobil ke parkiran masjid.


Dan apa yang terjadi di sana?


Simak di episode berikutnya...


Betewe, ini kan tadinya mau ngebahas Pak Danu kenapa malah jadi setan-setanan? Pak Danunya malah jarang muncul