
Aku dan Sena akhirnya kembali ke kantor dengan lesu. Tentu saja sambil bawa-bawa gorengan tiga plastik dan persediaan kopi saset sebulan buat satu divisi. Ada kali aku beli 3 renceng. Kayaknya yang minum kita-kita aja kecuali Selena, karena dia punya coffee glider, dan seleranya dia biji kopi yang digerus sendiri. Kalo kami yang kalangan bawah ini udah puas dengan kopi yang bukan real kopi. Maksudku, dalam sebungkus kopinya cuma 2%, sisanya bahan-bahan entahlah.
“Mas Dimas!” Mas Sukuriti basement melambaikan tangan padaku, “Jangan lewat lobby ya Maaas, pake lift barang aja langsung ke lantai 15!”
Aku mencibir, Sena menaikkan alinya, “Kenapa Mas?” tanyanya.
“Nganu,” gumamku malas mmenimpali Mas Suku.
“Nganu apa sih? Lo bikin gue overthinking,” gumam Sena sambil menyerahkan sebungkus rokok ke Mas Suku sebagai salam tompel.
“Yang dateng orangnya lain lagi ya dari kemarin?” tanyaku sambil garuk kepala.
Mas Suku (Sukurity, hehe) menyeringai. “Yang ini lebih cantik mas,” ia mengacungkan jempolnya.
“Ya sudah ambil aja,” candaku.
“Ah Mas Dimas ini, saya mah bukan levelnya,”
“Siapa tau jodoh Mas, jodoh kan diatur Tuhan,”
“Bisa saja mas, kalo saya punya muka ganteng kayak mas Dimas ini pasti saya ambil semua mas, hahaha!” Mas Suku menepok bahuku.
Aku menyeringai masam.
Dia belum tahu dukanya jadi cowok ganteng...
“Bisa tolong disuruh tunggu di ruang meeting No. 6 Mas?” Sahutku, aku dari pagi sudah booking ruang meeting No. 6 seharian. Alasannya untuk menghindari keributan di area kantor dan ruang meeting No. 6 adalah ruangan yang full kaca. Jadi kalau hidupku terancam berasusila, bisa melambaikan tangan ke Desi yang berjaga tepat di depannya.
Kami pun sembunyi-sembunyi melipir ke lift barang yang membawa kami langsung ke lantai atas.
Belum juga masuk ruangan, Pak Danu memanggilku dengan cara melambaikan tanganku dengan bersemangat. Kayak Anak SD manggil Abang Bakso. Kebayang nggak ada vampir ngawe-awe?
Ternyata di dalam ruangan udah ada Pak Haryono dan Pak David Huang juga. Mereka tampak menantiku.
“Gimana jaminannya? Aman kan? Itu yang rekomendasiin dulu, marketing orangnya Gunawan,” kata Pak Danu.
Lagi-lagi Gunawan. Lama-lama dia hadir di mimpiku jangan-jangan.
“Marketingnya adalah kenalannya Gunawan...” dengusku sebal. “Lain kali yang rekomendasi beliau harus diadakan review yang benar-benar ketat. Kalau perlu kasih concern yang buanyak biar kesannya nolak halus,”
“Ya waktu itu kan Gunawan masih ada hubungan erat sama Pak Sebastian, Nggak tau sekarang kemana orangnya,”
“Biar saya bilang aja di sini sekalian. Sen, kasih liat Sen,” kataku ke Sena.
Sena mengutak atik hapenya dan meletakkan seplastik gorengan di meja Pak Danu.
Semua nontonin hasil dokumentasi sambil ngemil.
“HUAAHAHAHAHAHHAA!!” dan mereka akhirnya ketawa geli.
“Pekok emang nih pada, ini jadi bahan temuan buat KAP besok!” omelku.
“Urusan lo lah Maaas,” seru Pak Haryono.
“Ogah! Saya limpahkan ke Divisi Aset bermasalah aja,” sahutku merinding.
“Aset bermasalah kan di bawah divisi lo!”
“Bukan yang dibawah saya, tapi dibawah... Pak Arman,”
“Anjir, lo mau nyerahin gini-ginian ke GSA?!”
“Ada berapa sih dana BOPO kita?” (BOPO itu semacam penampungan khusus untuk biaya operasional. Gaji, alat tulis kantor dan pengadaan mesin masuk ke sini)
“Jangan pake BOPO doooong itu bakal gue beli program baru!” seru Pak Haryono.
“Kasih gue lah 5%, buat bayar biaya penertiban u tum GSA. Paling nggak kita masih bisa jual tanah tanpa bangunan buat nutupin NPF,” kataku mencoba bernegosiasi. (NPF itu semacam tingkat macet dalam satu Bank. Semakin tinggi NPF semakin jelek kredibilitas Bank karena nasabahnya banyak yang macet, dianggap kinerja audit tidak bisa berfungsi baik).
“Kowe dodolan omah nang ndi? Kan sindikat itu Mas,” tanya Pak David Huang.
“Ya makanya itulah kenapa saya ke GSA. Biar dia tangkep-tangkepin sindikatnya sekalian. GSA bisa dapat nama baik di POLRI soal cepu men-cepu, nah soal jual rumah kasih aja ke Sarah. Itu kan urusan divisinya dia,”
“Eh, tadi pagi si Sarah kenapa Bro?! Seru amat keliatannya!” tanya Pak Danu.
“Diapain lu bro ?!” Sembur Pak Haryono. Matanya kenapa berkilat menatapku ya, kayaknya dia seneng ngeliat Bu Sarah ngamuk. Mungkin hidupnya membosankan jadi melihatku disiksa semacam tontonan menghibur buat dirinya.
“Suka banget sih saya diapa-apain.” Sungutku.
“Mangsa empuk,” desisnya. “Lu suka cari musuh sih.”
“Memang itu kerjaan saya,” sesalku.
Terus Fendi bergabung.
“Dimaaaas Aww!” ia merajuk sambil membelai-belai lenganku. “Sorri tadi pagiii! Hay Sen, apa kabar?”
Sena melipir di belakangku, “Saya sudah punya pacar,” kata Sena sambil menunduk hormat ke Fendi.
“Takut amat sih gue kan cuma nanya kabar!” sahut Fendi.
“Heh Fen! Tanggung jawab lo! Itu Meja si Dimas retak digebrak Sarah, gaji lo dipotong buat reparasi,” Sahut Pak Danu.
“Lo bukannya cegah malah ikutan, anak buah macam apa lo!” sahut Pak Haryono. Memang 11 12 sama Pak Danu, partner in crime.
“Eh, bonus gue udah dipotong sekarang gaji gue dipotong, sekalian nggak turun jabatan jadi Syarif?! Lebih baik angkat galon daripada nanggepin Sarah!” Omel Fendi. Pak Danu mengangguk setuju, Pak Haryono terkekeh.
“Gue masih kalem sih, dia kan memang begitu. Untung udah gajian,” aku menyeringai. Di antara banyak kesialan, biasanya ada secercah cahaya.
“Itu bantex padahal kemaren sudah dimeetingin loh, dia nggak ada tanggapan iya-iya aja. Gue pikir nggak ada masalah tuh Mas, pagi ini gue santai aja minta tandatangan persetujuan, Laaah dia langsung teriak-teriak histeris.” Sahut Fendi.
Aku juga mengangguk, karena meeting marketing kemarin berjalan lancar sebenarnya, dan isi materinya sama persis dengan bantex.
“Walah, iku sih kangen karo Dimaaas, WAHAHAHAHAHA!!” sahut Pak David, suka bener ini orang.
“Kayaknya iya Pak, pada kehipnotis semua. Ni kampret kemarin masuk ruang meeting pakai baju nggak dikancingin! Ya pada diem semua lah nahan birahi! Lo habis diapain, Kacruuut... sampe gue juga ga bisa nahan kencing! Gblk!” Seru Fendi.
Pak Haryono terbahak. “Lo ga liat kemaren seru banget, sampe bajunya Dimas robek-robek!! Ganas semua, gilaaa!!”
“Ada apa sih memang?” tanya Sena.
“Nah, nih pejantan belom tau ya, sini sini gue kasih liat aksi fans fanatik si Dimas,” Pak Danu melambaikan tangan ke Sena untuk mendekati komputernya. Ngeliat CCTV kelihatannya.
”Nggak usah...” Keluhku. Tapi Sena sudah keburu melipir ke dekat pak Danu.
“Waaaah, ini sih level Sasaeng ya kalau di KPop!” Sena tampak takjub melihat hasil rekamannya.
“Pusing aku, ki arek ben dino bikin heboh, tadi pagi itu habis dari ruanganmu, Sarah minta aku pilih antara kowe opo dia,” Sahut Pak David.
“Lo pilih sapa Pak Bro?” Aku deg-degan. Konyol aje kalo dia pilih Sarah. Bisa jobless aku.
“Aku pendukung garis keras kowe lah Coeeeeg!!” sahut Pak David.
Daniel mengetuk ruangan Pak Danu.
“Ehm, Mas...” panggilnya.
“Ada yang cari elo, tunggu di operator itu, cewek seksi bahenol,” sahutnya.
Yang lain pada menyorakiku, aku merengut masam. "Lagi-lagiiii!" seru mereka mengejekku.
“Sori bro, bisa minta tolong bilangin dia tunggu di ruang meeting Nomor 6, ntar gue kesana.” Sahutku.
“Siap, bro,” Daniel berlalu dari ruangan
“Apa lo di ruang meeting, ah bisaan lo!” Sahut Pak Haryono sambil menepuk lenganku.
“Haduh, Pak, nggak berani gue yang gitu-gitu di sini. Kecuali sama Meli,” sahutku. Disertai sorakan kesal semuanya.
“Ruang meeting 6 soalnya full kaca, kalo gue nyampe ******* kan bisa melambaikan tangan ke Desi, biar doi yang hadepin.” Aku menyeringai.
“Kali ini beda lagi sama yang kemaren ya? Kacau lah itu seksi semua, penjahat banget lo Mas!” Sahut Pak Haryono. “Harusnya yang masuk penjara tuh elo, bukan Sena! Lo itu harus dikarantina!”
Sena cengengesan, "Jangan lah Pak, bisa-bisa dia jadi Pangeran di sana, makan bukan cadongan lagi, tapi level warteg, kasta tertinggi apa malah nggak Mpet ngeliatnya?"
"Lah bener! Wahahahaha kita semua nggak ikhlaaas!" Pak Haryono ngakak.
"Lo ngedukung sapa sih Sen?! Tega nian!" desisku sebal.
“Yang kemaren bikin fantasi gue liar, montok abis, yang ngomongnya pakai bahasa Inggris.” Kata Pak Haryono sambil menggelengkan kepala.
“Dimas sekarang typenya yang kayak Meilinda, Lebih tua lebih matang lebih seksi,” Pak Danu bernada sarkasme. “Sudah bosen sama yang new comer, kali.”
“Type gue yang kayak Selena,” Pak Haryono menyeringai.
“Selena oke laaa. Tapi terlalu galak buat aku,” Kata Pak David. “Aku yang macam dateng pertama itu yang Korea punya, yang dicakar,” Maksudnya Pak David tuh Vanesa kali ya?
“Ah, elo, Selena dateng ke elo juga lo bakalan mati kutu,” Kata Pak Haryono. Pak David mesem-mesem.
“Type gue yang kayak... itu tuh yang anak buahnya Dimas yang baru,” Sahut Fendi.
Kami semua diam dan saling bertatapan. Fendi belum tahu kalau Ari itu perempuan. Sambil tersenyum licik akhirnya aku pun berujar, “Oke ntar gue bantu, khehehehehe,”
Semua juga terkekeh.
“Bener Mas? Asik! Ganteng banget sumpah. Sapa tuh namanya?”
“Ari Sangaji,”
"Namanya aja udah Kerad!! Kiyut banget dah!!” seru Fendi kesenenngan.
Kembali kami saling lirik melihat dia malu-malu ta1 kucing.
“Type gue mungkin yang ceria, kayak Cecil,” sahut Pak Danu.
Kami langsung terdiam menatapnya.
Agak lama suasana langsung hening sehening heningnya.
Tapi aku nggak kuat lama-lama, jadi aku mengalihkan pandanganku ke lantai.
Sampai Pak Haryono buka omongan.
“Yang ceria atau yang muda? Lo pedo?” tembak Pak Haryono.
“Udah konslet otak lo,” Pak Danu membantah.
Merinding...
Dia nggak tahu ya kalo Cecil ngefans abis sama doi.
Dasar si Cecil rejeki nomplok...
“Apa muda? Cecil seumuran Dimas itu, lebih muda setahun doang,” kata Pak David.
“Ha? Serius?” seruku.
“Iya... taun 199*”
“AH masaaa!!” Seru aku dan Pak Haryono lagi.
“Itu kan bener feeling gue, udah mateng itu!” sahut Pak Danu sambil gebrak meja.
Kami kembali terdiam dengan pikiran kami masing-masing.
Beginilah kalo bapak-bapak bergosip.
Jadi, kalau melihat ada bapak-bapak Direksi berkumpul di satu ruangan terlihat serius membicarakan sesuatu, bukan berarti mereka ngomongin masalah pekerjaan, bisa jadi mereka juga ngomongin masalah hidup.
“Eh, gue manggil lo pada kan mau nyampein hal lain, ah pada gabut semua gosip mulu kerjanya!” kata Pak Danu tersadar. Kami menyimak.
“Si Stephen mau dipindah kesini.”
“Widiiiihhhh m4mpus si Sarah bisa habis ituuu!!” Pak Haryono setengah bersorak.
Kayaknya pada seneng kalo Bu Sarah menderita.
“Ruangannya nanti di sebelah ye.” Kata Pak Danu sambil menunjuk ruangan di sebelah ruangannya.
Aku terdiam. Nggak terlalu kenal soalnya. Aku cuma tahu Pak Stephen Kusuma WIijaya itu Direktur Bisnis dan Treasury, ia ditempatkan di gedung Garnet Pusat satu lantai dengan Pak Sebastian. Selama ini Bisnis dalam hal Pembiayaan dan Pendanaan dihandle langsung sama Pak Danu sebagai Presiden Direktur. Dan kini beliau juga memegang divisiku, Tim Audit. Jadi saat ini Pak Danu memegang area untuk tiga unit.
Memang banyak sih job nya, ya sesuai lah sama gajinya.
“Pembiayaan dan Audit tetap di bawah gue.” Kata Pak Danu. “Jadi mulai minggu depan gue handle Bisnis Pembiayaan dan Audit aja. Untuk Bisnis Pendanaan dihandle Stephen. Kalo Julian masih tetap di Garnet Pusat dia sekarang handle Treasury aja.”
“Lo ati-ati mas...” sahut Pak Haryono.
“Napa?”
“Sebelum lo masuk sini, Stephen itu pernah pdkt sama Meilinda. Tapi Melinya cuek.”
Oooooooo....
Daniel kembali mengetuk pintu.
“Maaf pak...” sapanya sambil menunduk menghormat.
Kami semua menatapnya, menganggap dia pengganggu.
“Mas, lo yakin semua dimasukin ke satu ruang meeting? Kalo nggak sampe tumpah darah sudah mukjizat banget itu,” desis Daniel dengan raut muka kuatir.
“Semua? Maksudnya semua? Yang dateng cuma satu,kan?!”
“Ini ada tiga yang udah dateng mas...”
Wadefak...
“Kasus loooooo!!!!” teriak Pak Haryono kompor.
Aku langsung menghambur keluar ruangan, tapi masih denger Pak Haryono teriak : “Mas, gaji lo dipotong buat sewa ruang meeting ya! Sehari 200rebu!!”