
Tidak sampai 15 menit data-data sudah diemail sama Alex dan dana sudah nangkring di rekening perantara Bank . 5 Milyar. Lumayan, jadi kurangnya 45 miliar lagi. Di laporan pengirimannya ada note di beritanya : Subuh-subuh minta duit, gue bukan buappak lo!!
Tapi aku dikasih juga. Apa kuakui aja Alex sebagai ‘bapak’ wakakaka. Kan seru kalo Bianca jadi ibu tiri ku.
By the way, hebat juga dia bisa transfer ruang segitu jam setengah enam pagi. Itu berarti dia pakai akses unlimited, prestise bagi orang-orang yang punya platinum card dan dana di rekeningnya mungkin udah puluhan triliun. Kenapa aku cuma minta 50 miliar ya...? duitnya juga bukan untukku tapi untuk disimpan di bank-ku.
"Udah ya Pak, sisa dana tunggu nanti siang." aku melambaikan ponselku pada Pak Stephen sambil menyeringai penuh kemenangan.
Setahuku dari Fendi, sudah sejak lama Sarah mengejar-ngejar Beaufort Co. Tapi selalu ditolak. Kebanyakan perusahaan besar dan multinasional seperti itu memang memiliki kriteria tertentu untuk penempatan investasinya, diprioritaskan Bank yang berplat merah. Sedangkan aku, walaupun bank swasta namun skalanya sudah besar tapi tetap saja mereka mentalkan.
Bisa nolongin dari dulu sih sebenernya, tapi aku nggak suka sama Bu Sarah.
Tapi Pak Stephen hanya menatapku lurus-lurus.
Spontan aku pun tak jadi pergi dan bertanya. “Kenapa Pak? Kurang? Kalo kurang saya minta 1 triliun sekalian nih,”
“Jangan Dong!” seru Pak Stephen panik, “Gue mau bayar bunganya pake apa, sueee!”
Yah, dia kelimpungan. Wekekek.
“Si Dimas jaringan ne akeh coeg, Ojo sesumbar lambe-mu. Ki arek iso mbikin Pak Sebastian hold meeting Cuma buat nemui Dimas nang Lobby,” kekeh Pak David Huang.
“Iya gue udah denger beritanya, satu gedung heboh. Apalagi si Arman pake turun ke bawah,”
Kenapa sih pada takut sama Pak Arman? Orang-orang yang kukenal kebanyakan nggak ada yang mau berurusan sama Arman, masih lebih baik berurusan dengan Pak Sebastian.
“Yuk, Ndew, kita cao ke ruangan!” aku akhirnya mengajak Andrew yang dari tadi cengengesan Om-nya kukerjai. Lagian mancing duluan.
Saat berjalan di koridor, kuperhatikan penampilan Andrew nyentrik juga. Kayak Pak Haryono waktu muda. Rambut gondrong sampai punggung digerai, kemeja dan celana hitam-hitam. Biasanya orang-orang yang mendapatkan keistmewaan dalam hal penampilan memiliki prestasi tersendiri di bidangnya. Pak Sebastian juga tidak terlalu kaku untuk mengatur mengenai cara berpakaian. Karena dia memang merekrut orang-orang yang bukan sembarangan. Pasti semua memiliki attitude dalam bekerja.
Jadi kalau di kantor penampilan nyentrik, pas ketemu nasabah outfitnya udah beda lagi, lebih berkelas.
Andrew tuh mirip model Prancis namanya Willy Cartier. (Coba cek google, wakakak).
"Lo mau atur meja dulu atau apa adanya aja?" tanyaku ke Andrew.
“Apa adanya aja lah asal seruangan sama lo,”
“Gue udah punya 4 kru. Semua hebat-hebat. Yang dua fresh graduate tapi kemampuan udah setara yang kerja 10 tahun, feelingnya pada tajem sampe gue kadang jiper sendiri,”
“Anak jaman sekarang kritis-kritis bro,” desis Andrew. “Gue denger Mas Sena ada dibawah lo. Dia yang barusan lo bilang fresh graduate?”
“Lo kenal sama Sena juga?”
“Siapa yang nggak kenal...? dia pacarnya Sandra Bagaswirya,”
Aku terpaku dong.
Bagaswirya...
“Siapanya Gerald?”
“Adek kandung Pak Gerald,”
“Anjrit... si Sena pacarnya?”
“Betul. Kaget kan? Kita semua juga kaget. Dan yang lebih ngagetin lagi, Pak Arman udah lama suka sama Sandra, tapi ditanding sama Sena malah kalah,”
“Woaaaaah! Gue bakal interogasi si Senaaaa!” lalu akupun teringat sesuatu dan senyumku pun spontan menghilang. “Itu berarti, si Sena kenal sama Putri Gandhes,”
“Jangan sebut nama itu, ntar muncul...” gumam Andrew langsung tegang.
Kami terdiam.
Dan ponselku pun bergetar. Aku sampai kaget sebenarnya soalnya hape kuselipkan di kantong ******. ***** posisi tegang eh dia getar, kan geli-geli kesemutan gimana gitu!
Nomor tak dikenal, terus aneh gitu nomornya. 081000666000. Ini nomor apa’an sih?
“Halo?” aku menyapa dengan hati-hati.
“Pagi Pak Dimas, Ini Banda,”
Aku langsung tutup teleponnya.
Lalu diam
Lalu melirik Andrew.
Lalu tersenyum getir.
Sue bener. Disebut, anteknya langsung nelpon.
“Itu masih Banda, Mas... belom berhadapan sama Aki Tirem,” gumam Andrew.
“Siapa Aki Tirem?” setelah bertanya begitu, aku langusng teringat lukisan di ruang tamu rumah Hambalang. “SI kakek-kakek yang lukisannya di sana...” aku mengusap wajahku.
Andrew mengangguk masih tegang, “Dedengkotnya Banda,”
“Anjrit...”
Dan teleponku pun berdering lagi. Maish nomor yang sama. Tapi kali ini belum kuangkat dia udah jawab sendiri.
“Pak Dimas, jangan ditutup dulu dong. Penting nih...” suara Banda dari seberang.
“Nying, gue belom pencet call,” gumamku.
“Jadi gini Pak, Kanjeng Gusti dalam perjalanan ke sana soalnya mau arisan berlian sama Bu Meilinda. Masalahnya ini kan saatnya Raker, tapi Bu Meilinda tidak angkat-angkat teleponnya,”
“Arisan berlian...”gerutuku, “Si Princess masih tidur, paling hapenya lobet,”
“Jadi apa mau dibatalkan saja jadwal hari ini, atau bagaimana?”
“Kenapa lo tanya gue, gue bukan manajernya,” gumamku sebal.
“Tapi kan Pak Dimas pasti di dekat bu Meilinda, hahahaha!” eh si Banda ketawa. Ketawa menggelegar pula... serem gilak!
“Gue tanya dululah, ntar biar dia sendiri yang ngehubungin Putri, duh pusing dah gue pagi-pagi udah urusan sama astral!” keluhku sambil mematikan ponsel.
“hebat...” Andrew bertepuk tangan, “Bisa santai gitu ngomong sama genderuwo...”
“Si Putri lebih serem,”
“Gue nggak pernah ketemu Putri. Jangan sampe deh gue ketemu,” Andrew mendahuluiku masuk ruangan Audit. “Ngomong-ngomong, Jarang loh ada yang bisa bikin om gue diem kayak tadi. Hehe, seru juga liatnya." Andrew mengalihkan pembicaraan ke topik lain agar kami tidak terlalu sport jantung.
"Gitu ya. Lagi beruntung aje gue," sahutku.
Dalam sekejab udah akrab aja kita.
"Gue pindah kesini soalnya diminta Pak Hans. Katanya lo butuh staff..."
Aku mengernyit, perasaan nggak bilang apa-apa sih sama Pak Hans, kenal aja enggakk. Mungkin Meilinda yang bilang kali yah.
“Pak Hans itu... bapaknya Pak Sebastian bukan?” tanyaku.
“Iya, Bapaknya Pak Sebastian,”
Jadi bapaknya Meilinda, dan beliau adalah orang yang kumintakan restu kalau suatu saat aku menikahi Meilinda. Durhaka bener udah ngapa-ngapain anaknya, aku malah sama sekali belum pernah ketemu beliau.
"Kalo Om gue katanya dia pindah karena diminta Pak Sebastian. CAR Bank naik jadi jobdesk manajemen harus lebih spesifik, nggak ada lagi pegang double," kata Andrew.
"Hehe, ketahuan banget ya Mas? Dirimu udah jadi bahan gosip satu Garnet Grup sebenernya. Om Stephen kayaknya risih dengernya."
"Cinta-cintaan mulu... Kerja!" sindirku.
Andrew menyeringai.
"Sebelumnya dimana ndrew?"
"Garnet Hotel, Mas..."
"Kenal Farid Al Farouq dong."
"Kenal. Mereka suplier resmi pemasok perabot"
Aku hanya mengangguk. Besar kemungkinan dia juga mengenal Selena, tapi nggak kuungkit biarkan mereka ketemu dulu.
" Selain yang dua tadi, Sena dan Ari, ada lagi namanya Cecilia. Terus di bawah lo persis, ada Kepala Seksi namanya Selena, bombshell Garnet Bank. Lo berdua bagi tugas deh. Selena ngurusin marketing dan operasional. Mungkin lo bisa bagian akunting, legal dan sistem,"
"Bombshel Garnet Bank... Kenapa dia disebut begitu?"
"Soalnya dia bisa nemuin jarum ditengah jerami,"
Kami berdua mengangguk macam boneka hiasan mobil.
Lalu ia terdiam kayak lagi mikir. Diam sambil megangin dagunya dan mengutak atik ponselnya.
"Yang ini bukan orangnya?"
Aku memanjangkan leherku untuk melihat foto diponselnya. Lalu menatapnya heran. Ada foto Selena di ponselnya, berfoto berdua bersamanya, Andrew sedang mencium pipinya dan wanita itu tersenyum sumringah.
"Mantan?"
"Belom putus secara resmi sih, dia tiba-tiba menghilang," katanya.
Hem....
Tepat saat itu Selena keluar dari ruangan Meilinda dengan dandanan ala rumahan. Yang kumaksud dengan dandanan ala rumahan adalah pakai tanktop item, celana pendek, rambut diikat keatas berantakan, wajah polos tanpa make up.
Mengundang Maung Nerkam.
Lagi-lagi satu ruangan terpaku menatapnya, dan menghentikan aktivitasnya sejenak. Dan berkhayal beberapa saat.
Dasar tukang cari sensasi.
“Morning Buaya Kadut...” sapanya kepadaku sambil menguap. “Belom jam kerja loh ya, berlaku panggilan keluarga.”
“Ssst!” aku memberinya kode lirikan ke arah Andrew.
Mereka bertatapan.
Andrew menatapnya lekat-lekat dari atas ke bawah. “Akhirnya ketemu juga...” desisnya sambil terpana menatap Selena.
Selena langsung pucat dan mundur selangkah.
Lalu ia menarikku sambil berlari ke dalam ruangan Meilinda.
Banting pintu, lalu mondar-mandir bolak-balik mengelilingi meja tujuh kali sambil memegangi dahinya. Aku hanya memperhatikannya. Lalu dia komat-kamit nggak jelas. Mau tanya kenapa, tapi tingkahnya kali ini menarik jadi aku nonton dulu dia mondar-mandir dengan berbagai gaya.
“Kenapa dia di sini?!” Selena akhirnya menghampiriku, memepetku ke dinding. Tampang Selena sudah kayak orang habis ngeliat Setan.
“Karyawan baru.” Jawabku.
“Karyawan Baru?!?” Teriaknya. Melengking.
Tambah lagi ibu-ibu bersuara menggelegar.
Lalu diam lagi, mondar-mandir. Cecilia terbangun dan memperhatikan kami.
“Cepetan ngomongnya, mandi sana, banyak kerjaan ini!” omelku.
“Bukan di divisi kita kan?!” Selena berbicara penuh harap.
“Buat apa gue kenalin ke elo, kampret,” desisku, “Ya Jelas di divisi kita lah, tepat di atas lo!”
“F**k!!!” dia teriak lagi. (Lah malah ngomong jorok... hehe).
“Apa sih yang pernah kalian lalui sampe lo tiba-tiba panik gini?” Aku memicingkan mata mencurigainya, ya tahu lah, dia kan termasuk wanita dengan reputasi ‘player’ paling berprestasi yang pernah kutemui.
“Mantan gue,” Akhirnya Selena mengakui.
“Seberapa mantan?” tanyaku
“Maksudnya ‘seberapa mantan’ itu apa’an sih?!”
“Ada mantan yang dulu pacarannya begitu-begitu aja, ada yang lumayan Bucin level Innalillahi, ada yang nggak pake hati tapi pakai nafsu, Nah, lo yang mana nanti bisa lah kita nego pengendalian situasinya.” Aku menyeringai, berasa dapet kartu AS lagi yang bisa kugunakan kalau Selena mulai ‘membangkang’ dariku.
“’Begitu-begitu’ versi gue nggak sama kayak ‘begitu-begitu’ versi perjaka tua macam lo.”
“Kunyuk...” umpatku. “Jangan bawa-bawa prinsip.”
“Sebagai calon adek ipar gue-”
“Nggak ada!" potongku ."Gue pass kalo bawa-bawa hierarki keluarga!” aku hendak beranjak pergi.
Selena menarik lenganku.
“Tolongiiiinnnn...” dia tiba-tiba merajuk. Aku menyentil dahinya, cowok macam gue dilawan pakai puppy eyes, norak! Nggak kena laaah!
“Pak Dimas... pliiissss...” rajuknya. Ia memeluk dadaku dengan erat.
Eh bisa juga ini anak aktingnya, pakai ngelendot-ngelendot gini. Pakai air mata jatoh pula. Kayaknya parah banget masa lalunya sampe nggak berani ketemu Andrew.
“Lo itu, tinggal manggil Mas Bram kesini buat nunjukin hak paten, susah amat kayaknya sih?”
“Masalahnya,” Selena menatapku sambil berlinang air mata. “Andrew sama gue dulu... garis keras!”
Bentar, Aku mikir dulu... garis keras itu apa ya?
“Bagaimana dong kalo sampe ketahuan bisa-bisa gue nggak jadi nikah!!” Selena beneran kalut.
Aku masih berpikir, makna mengenai garis keras.
“Pak Dimas! Pak Dimas!” Cecilia menyenggol -nyenggol kemejaku. Eh, hampir lupa dia disini. Kadang keberadaannya nggak terasa, kayak ninja. Tapi dia bawel. Ninja bawel jadinya. Lumayan buat jadi mata-mata nih, asal nggak kepergok aja soalnya kalo ketahuan kasian yang mergokin karena bawelnya bisa bikin kuping kebas.
“Apa?” tanyaku.
“Garis keras itu...” Cecilia membisikiku “...pada saat berbuat gituan, semua gaya dipake dan bagian tubuhnya...” Bisik. Bisik. Bisik.
Aku jadi merinding setelah mendengar penjelasan Cecilia, ini sih kalo Mas Bram tahu bisa diblacklist karena jijik. Pantesan Andrew nggak bisa lupa sama Selena.
“Lo beneran berbahaya,” desisku sambil melepas pelukan Selena. “Apa sih yang ada di pikiran lo waktu itu?!”
“Waktu itu kan belom ketemu Bram! Mana gue sangka akhirnya gue jatoh cinta beneraaaannn!!” Tangis Selena makin keras. Ia nggak mau melepas pelukannya.
Astaga...
“Kamu ini kerjanya bikin nangis cewek ya sekarang,” Meilinda muncul dari balik pintu. Selena masih tetap memelukku sambil sesenggukan, kali ini malah kukunya mencengkeram punggungku. Badanku ini sebenarnya pelukable kayaknya ya.