Office Hour

Office Hour
Fanatik



Kayaknya belakangan kesialan selalu mengikutiku.


Masih pagi, masih jam 6, jadi baru 8 jam yang lalu ketemu, sekarang sudah ketemu lagi. Ketemu aja terus terusan.


“Pagi-pagi udah ngeliat tampang kampret,” gerutu Pak Sebastian yang sedang duduk di ruang tamu.


Kelihatannya dia sudah mau berangkat ke kantor.


Tampangnya saat melihatku seperti anak kecil senang dapet mainan baru buat dibanting-banting.


Aku hanya berdiri mematung di depan pintu, lagi berpikir perlu tabur garam atau air suci.


“Nggak masuk?” dia bertanya lagi.


“Saya tunggu Bu Meilinda di sini saja pak," desisku sambil mengernyit.


“Ck, Nyali kok kayak keong, bagaimana kalo jadi adik ipar saya, tiap hari kan kita ketemu nanti," omelnya.


Itu Restu atau jebakan?!


“Nanti di depan kamar pengantin saya tulisin, ‘Area Haram Sirik-Man’,”


Terdengar kekehannya. Lalu ia melanjutkan mengamati ponselnya. “Bodo amat,” bisiknya pelan.


“Dimas! Ayo sini sarapan dulu!” Meilinda muncul dari lorong sambil melambaikan tangannya padaku dengan ceria.


Eh, dia cantik banget hari ini, bajunya pink!


Bagai terhipnotis aku melangkahkan kaki mendekatinya dan tidak mengindahkan Pak Sebastian lagi.


“Nuwun sewu dulu dooong,” Pak Sebastian misuh-misuh karena kulewati.


“Nyuwun sejuta Paaaak, misiiii,” seruku sambil kabur ke ruang makan.


*


*


Seperti hari-hari sebelumnya Aku dan Meilinda keluar dari mobil di pagi hari itu dengan Stylish.


Ini hari Rabu, tengah minggu yang biasanya lagi rame-ramenya meeting ngejar jumat tenang. Semua deadline biasanya terjadi di hari Rabu. Perpanjangan waktu di hari Kamis.


Pokoknya Pas Jumat semua harus selesai biar habis Jumatan bisa bobok siang di mushola sampe Ashar.


Gitu konsepnya.


Habis itu pulang tenggo. Wakakakak!


Aku sebenarnya sedikit menyesal karena waktu di Bandung nggak sempatin belanja soalnya keluar dari Lexus kayak gini harusnya aku juga mengupgrade hoodieku paling nggak jadi lebih fashionista laaah.


“Aku lupa kasih tau kamu, hari ini akan ada paket ya untuk kamu, dari kakak,” sahut Bu Meilinda sambil menyusuri Lobi yang dipenuhi netizen nyinyir, terutama sejak ia dekat denganku makin banyak saja orang berkumpul tak jelas yang khusus menampakkan dirinya untuk melihat kedekatan kami.


“Paket? Dari Pak Sebastian?” tanyaku.


Aku merasa dahiku gatal jadi aku menampakkan raut mengernyit. “Isinya apa? Pistol yang ada tulisan ‘tembak sendiri Jidatmu, dasar sampah’! Gitu?”


Meilinda terkikik manis, “Kamu jangan antipati sama kakak dong, kan memang begitu tingkahnya. Kamu beruntung loh dia nggak bikin kamu teraniaya sekeluarga seperti Jeffry dulu. Untung aja aku berhasil memblokade sikap beringas kakak biar Jeffry selamat,"


“Iya dia nggak bengis sama aku, soalnya guru SMA-nya ibuku, bisa durhaka sampe langit ketujuh kalo ada masalah sama aku dan Bram,"


Meilinda menatapku dengan alis terangkat. “Maksud kamu?” tanyanya.


“Eh, Pak Sebastian belum cerita ya?”


“Apa?”


“Nama ibuku Lastri, dulu mengajar di SMA Bhakti Putra,” sahutku.


“Hah?” Meilinda tampak berusaha mengingat. “Bu Lastri? Sulastri yang guru Matematika Ekonomi?"


Aku menggaruk kepalaku. “Kalau jabatannya aku nggak tahu soalnya belum lahir waktu itu hehe," lalu aku pun mengutak atik ponselku mencari foto ibuku.


Tampak Meilinda terpekik pelan saat melihat tampang ibuku.


“Ya Ampuun! Kangen banget akuuuu!" Meilinda menatap ponselku senang, tangannya menutupi mulutnya menyembunyikan bibir tebalnya yang membentuk tawa.


“Dia ini yang paling berjasa terhadap kesuksesan kami sekarang loh mas. Dia juga mengajarkan kami lewat Les sepulang sekolah, membuat Kakak yang paling antipati sama ekonomi malah justru tertarik,”


Aku mencibir.


Ibuku itu... Bisa mengajarkan Big Boss pelajaran ekonomi biar jadi konglomerat kenapa sekarang malah cuma bisa jualan nasi uduk?!


“Aku mau ketemu beliau ya, pliiiis! Tolong bikinkan janji,” kata Meilinda dengan mata berbinar.


Aku terkekeh.


“Ibuku selalu standby, kapan-kapan aku ajak makan nasi uduknya. Dia punya restoran di Bekasi,"


“Oke! Oke!" dia tampak sangat bersemangat. Kami berdua menunggu di depan Lift khusus Direksi.


“Kamu pernah lihat Bu Lastri marah nggak?” tanyanya tiba-tiba.


Aku tergelak. “Ibuku nggak pernah marah, yang sering sih nangis. Pas terakhir bapak meninggal. Paling banter dia menyindir kalau aku dan Bram jarang pulang,”


“Memang betul itu, sepanjang sepengetahuanku, Bu Lastri adalah guru yang sangat sabar, kecuali ada saat dia marah besar sampai-sampai memukul kakak pakai sapu lidi,"


Oh ya? Mataku ini sampai melotot loh dengernya!


“Hah?!” dengusku.


“Kamu nggak percaya?!”


“Nggak lah!! Aku aja yang anaknya belum pernah liat dia marah, 30 tahun hidupku!”


“Waktu itu dia memergoki kakak lagi nyabu di halaman belakang sekolah karena lagi frustasi patah hati,” Bu Meilinda melanjutkan ceritanya.


“Wow!”


“Lalu dia memanggilku yang sedang di gedung SD untuk menghubungi orang tua kami, dan memukul kakak berkali-kali pakai sapu lidi, lalu menyiramnya dengan air seember,”


“Tampang besi begitu bisa juga patah hati," gumamku menyindir Pak Sebastian.


Meilinda menatapku sambil mencebik. “Kamu tahu dengan siapa kakak jatuh cinta saat itu?”


“Siapa? Yang namanya Ratna itu?”


“Bukan, waktu itu belum kenal sama Ratna,"


“Lalu?!”


“Kakak jatuh cinta sama Bu Lastri,"


“Ah Masa!!!” seruku surprise.


Kok geli ya dengernyaaaa!


Meilinda bergumam sambil mendesis, “Shhh!” sambil mencubit pipiku lembut. Membuat orang-orang di dalam lift tidak bisa mengalihkan pandangan ke arah kami.


She's a genius.


“Iya kan waktu itu Bu Lastri guru muda, kalau nggak salah umurnya baru 25 saat jadi guru, dan kakak sudah 17 tahun. Kejadian itu sebulan sebelum Ujian Nasional. Bu Lastri waktu itu mengumumkan pada anak-anak sekelas kalau beliau akan menikah dan mengundang semua muridnya untuk datang,"


Aku mengucapkan syukur pada Tuhan berkali-kali karena hubungan cinta itu nggak kesampaian, bayangin kalau aku jadi kayak Trevor yang hari-harinya dipenuhi tekanan batin.


“Mulai sekarang dia nggak bakal berani ngapa-ngapain kamu dan Bram.” Sahut Meilinda.


“Itu sudah takdir, Lindaaa,” Aku menggoda Meilinda. Ia terkekeh. Tawanya membuat wajahnya semakin manis.


Lift terbuka di lantai 15, kami berdua keluar dan aku bisa merasakan diikuti dengan pandangan penasaran orang-orang yang masih di lift.


“Yang manggil saya Linda cuma Bu Lastri, orang lain manggil saya Meli.” Sambung Meilinda.


“Kalau aku bolehnya manggil apa selain ‘sayang’?!” Aku berbisik menggodanya.


Nggak tahu terdoktrin apa, pingin saja pagi ini main api.


Oke, aku tahu kadang aku menggodanya dengan cukup intens seakan aku ingin selalu melihatnya dengan pipi merona seperti saat ini. Tapi sosok di depanku ini sangat menggemaskan. Apalagi aku sudah melihatnya dalam berbagai ekspresi, dan hal itu benar-benar membuatku lupa kalau umur kami berbeda 14 tahun, pingin aja elus rambutnya.


Pasti semua berpikir pantas saja di kantor yang lama terjadi kejadian tumpah darah, aku juga baru tahu ternyata kalau aku lagi terpesona, aku bisa seromantis Cassanova.


“Panggil aku ‘Bu Boss’...” Jawab Meilinda dengan ekspresi yang dibuat dingin, “Tapi kalau di luar kantor, panggil aku ‘Cinta’ hihihi!” dan dia melenggang meninggalkanku yang bengong di depan lift.


Waduh!


Aku tegang lagi!!


Buruan ke Pantry!! Nenangin diri...


Tapi,


Baru juga buka Loker sudah ada...


“DIMAAAASSSS!!!!!!!” Teriakan membahana.


Suara Meilinda. Tapi bukan teriakan marah, itu teriakannya beda.


Aku langsung merasa ada yang tidak beres dan kakiku tanpa sempat otakku meloading reflek berlari ke ruangan Bu Meilinda.


MATI KAMU DASAR PEC-UN!!


Sebuah tulisan raksasa ditorehkan dengan Cat Merah terpampang di jendela raksasa ruangan Meilinda.


Lalu di atas meja Meilinda ada Boneka Barbie dengan pisau tertancap didadanya


Ya Tuhan!


Bayangan masa lalu langsung memenuhi benakku.


Tapi yang ini lebih berani, pelaku mengecatnya di jendela raksasa. Orang dari luar gedung juga bisa melihat kalau niat.


Aku merasa Meilinda yang berdiri di depanku limbung, otomatis aku menahan tubuhnya.


Tangannya mencengkeram erat lenganku dan gemetar hebat. Ia juga terlihat susah payah mengatur napasnya.


Waduh! Aku lebih kuatir keadaannya daripada ancaman di jendela.


Aku melihat orang-orang sudah berkumpul di ruangan Meilinda dengan teriakan-teriakan heboh mereka. Aku juga melihat Arya dan para Direktur datang.


“Arya, CCTV!” desisku memberi instruksi ke Arya. Arya langsung mengangguk dan berlari ke luar ruangan.


“Syarif, ambil alat pembersih, jangan lupa pakai sarung tangan dan masker,” desisku ke Syarif. Pria kerempeng itu masih terperangah menghadap jendela.


“Syarif,” aku memanggil menyadarkannya. Ia lalu seperti tersentak dan mengangguk lemah, keluar ruangan dengan tertatih-tatih.


Aku menoleh ke Pak Dirut. Dia tampak menggelengkan kepala sambil menahan geramnya, “Dokumentasikan semuanya Mas, jangan sampai ada yang terlewat,”


“Kalau sampai Pak Sebastian mengetahui masalah ini , manajemen bakalan diacak-acak," gumamku.


“Bisa runyam ini,” umpat Pak Dirut. “Kita coba selesaikan sebelum Pak Sebastian tahu ya,”


“Siap Pak…” desisku. “Kayaknya... lagi-lagi ini salah saya,”


“Mas, yang namanya vandalisme, yang harus disalahkan adalah pelaku. Di sini, Meli dan kamu kan korban,” Pak Danu sepertinya juga sudah mengendus kalo aksi perusakan ini adalah ulah fans fanatikku.