Office Hour

Office Hour
Hadiah Ultah Meilinda



Persiapan merit adalah hal yang paling ribet dalam hidup. Dan menguji emosi. Menyatukan banyak kepala yang merasa berkepentingan adalah yang paling butuh kesabaran. Jadi aku lebih banyak diam.


Intinya lambat laun aku merasa ini adalah acara pesta Meilinda dan Pak Sebastian. Bukannya pernikahanku.


Biarlah, toh aku adalah pihak pengantin laki-laki. Tugasku cuma seserahan, mas kawin, dan akad.


Sambil memperhatikan Meilinda makan desertnya aku main candy crush yang sudah kuupdate jadi level saga dan belum beranjak sejak minggu lalu dari level 65, yang katanya level kutukan.


"Kamu dari tadi cuma makan desert," sahutku.


"Desert lebih lengkap vitaminnya, aku harus diet biar kebayanya muat,"


"Makan sayur, lah. Jangan pingsan lagi," sahutku.


"Kamu pernah lihat hewan makan sayur jadi kurus nggak? Kuda nil? Sapi? Makannya sayuran terus tapi mereka gemuk. Sedangkan karnivora nggak ada yang gemuk,"


Aku menatapnya sekilas.


"Kamu nyamain diri kamu sama kuda nil?"


"Dimas!" ia berseru kesal.


Aku tergelak. "Sayang, mereka hewan, punya metabolisme yang berbeda dari manusia. Tapi terus terang, aku baru tahu kalo bidadari makannya desert seharian,"


Kami terdiam


Dia terdiam


Aku diam karena lanjut main game, udah gagal 2x naik level.


"Dimas... Kamu barusan ngegombalin aku?"


"Hem..." aku hanya bergumam. Malas ngaku.


Aku bisa melihat kalau dari sudut mataku bahwa wajah cantiknya merona.


Lalu sandwich tunaku datang.


"Makan. Yang ini nggak bikin gemuk," sahutku sambil menyodorkan sandwichku padanya. Aku memang sengaja pesan itu karena melihat dia hanya makan desert. Aku sendiri sudah kenyang makan steak pake nasi.


Tetep pesen nasi.


Padahal udah pake kentang, tetap cari nasi.


Beginilah anaknya tukang nasi uduk. Akrabnya sama nasi.


Hanya disodori sandwich aja kenapa mukanya jadi merah malu-malu Mpuspus begitu?!


Akhirnya Meilinda menggigit sandwichnya dan mukanya langsung sumringah. Tuh, kan dia sebenarnya laper.


Sejujurnya aku nggak masalah dia mau gemuk atau kurus, yang penting dia sehat dan nggak kesurupan.


Saat aku meneruskan level 65 yang daritadi gagal naik level, aku menangkap pemandangan aneh yang terdeteksi sudut mataku.  Ada pasangan yang masuk ke restoran tempatku makan.


Yang mana, aku sangat mengenal keduanya.


Yang mana, aku setiap hari bertemu mereka berdua.


Yang mana, mereka adalah pasangan yang penuh keganjilan.


Aku tergoda untuk berseru kaget. Bibirku udah gerak-gerak gatal pingin ngemeng ngecengin. Tapi rasa ingin tahuku dan jaimku secara lagi ada di restoran mevvah ternyata lebih besar, dan akhirnya aku hanya terpaku di tempatku semula sambil memperhatikan.


Mereka ada di belakang Meilinda tapi menghadapku, jadi Meilinda tidak tahu karena aku hanya diam.


Mungkin dia pikir aku masih fokus dengan gameku, tapi sebenarnya layar ponselku sudah mati karena aku sibuk memperhatikan pasangan di depanku.


Pasangan itu mengambil tempat duduk di pojok, tapi masih terjangkau dari pandanganku.


Dan pemandangan yang tidak bisa kulupakan seumur hidup terjadi sekitar 10 menit kemudian saat mereka selesai memesan makanan.


Astaganaga...


Aku melihat Vampir mencium Cihuahua!!


Aarrghhh!! Mataku silau melihat keajaiban Illahi!


Akhirnya aku mengumpat sambil memandang lantai. Hal itu menarik perhatian Meilinda dan si cantik langsung mau menoleh ke belakang.


Aku langsung mencegahnya.


"Jangan toleh-toleh, aku foto aja," cegahku sambil memfokuskan kameraku dan menangkap gambar si pasangan ganjil.


Meilinda langsung terperangah melihat hasilnya.


"Ya ampun!Sejak kapan..." ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, lalu terbahak. "Ya Tuhaaaannn..." kekehnya spechless.


Aku hanya memandang piring steakku yang sudah habis dan tiba-tiba nggga bisa menahan diri untuk tidak mengirim pesan singkat.


Wa dariku : Lionel, nggak mau tau yah, kadonya harus dobel nanti di kawinan gue, nggak boleh satu kado mewakili berdua.


Send.


Lalu aku bisa melihat wajah Pak Danu langsung berubah angker saat membaca pesan masuk diponselnya. Mata elangnya mencari keberadaanku, dan kami pun saling bertatapan.


Ia memicingkan matanya.


Aku langsung merinding kayak diliatin sama Lucifer.


Tapi masih sempat pasang jari tanda damai.


"Gue kadoin borgol, nanti Cecil kadoin kuncinya," balasnya.


Ih, sensi... kenapa aku jadi De Javu gini. Kayaknya aku ada trauma sendiri sama Borgol dan kunci ya? Sejak kapan ya?


Lalu Meilinda menoleh ke belakang sambil pasang senyum licik.


Ia mengerling ke Pak Danu.


Pak Danu hanya bisa pasrah.


"Udahan aja yuk, nanti ganggu mereka," aku meminta bon ke waitress.


Meilinda mengangguk, lalu mengendap-ngendap keluar dari restoran.


Dan aku?


Aku bilang ke waitress kalau bon di meja kami digabung ke meja Pak Danu.


Disertai pesan singkat ke CEO Garnet Bank itu :


Traktiran Jadian.


Heheheheheheheheheheheh !!!


"Enak loh, mau?" tanyanya padaku. Aku menyeruputnya sebentar lalu mengernyit, rasa red velvet campur susu...


"Mending es teler," sahutku. Bukan seleraku, ternyata.


"Masa sih? Rasanya cewek banget, loh. Manis..."


"Kamu suka yang begitu, toh,"


"Aku cukup feminin loh,"


"Mending bunga atau coklat?"


"Bunga."


"Mending bunga atau tas dior?"


"Bunga."


"Mending bunga atau cincin berlian?"


"Berlian."


"Loh?"


"Investasi, soalnya," katanya dengan senyum dikulum. Kalau nggak di depan umum udah kucium.


"Mending berlian atau sepatu jimmy choo?"


Dia diam.


Mikir lamaaaaa banget.


Sampai-sampai aku berhenti di gerai shinlin, ngantri dan pesanan sampai di tanganku baru dia jawab.


"Berlian."


Aku terkekeh sambil menawarinya ayam. Dia menggeleng.


"Yakin?" tanyaku.


"Yakin berlian dan yakin nggak mau ayam." jawabnya.


"Hm..." kami duduk di bangku outdoor di depan air mancur. Ada banyak orang di sana yang berkumpul, ngobrol sok rame sok asik. Tapi matanya ke arahku.


Bisa dibilang hampir semua curi-curi pandang ke arahku.


Bahkan gerombolan cewek-ceweknya mengambil fotoku.


Ini sebabnya aku jarang ke tempat ramai.


Lalu aku menyerahkan kotak yang dari kemarin kusimpan di saku jaket balenciaga hibah.


"Apa ini?" tanyanya.


Aku hanya menyeringai. "Pasangannya ini." sahutku sambil membelai cincin kecil yang terpasang di jari manisnya, kubeli di solo waktu itu.


Ia membukanya.


Lalu tersenyum.


Aku meraihnya dan membuka kaitnya, lalu aku pasang di pergelangan tangannya.


Harganya setengah harga mobil dan sudah pasti receh baginya, tapi untuk mendapatkan ini aku mencairkan salah satu deposito pribadiku, hasil menabung 6 bulan. Dan mungkin hadiah termahal yang pernah kuberikan kepada seseorang. Itu pun dapet diskon 50% karena aku belinya di konter perhiasan Sandra Ellen Bagaswirya, pacarnya Konglomeratnya Bang Sena. Aku minta desainnya hampir sama dengan cincin yang sudah terlanjur kubeli, jadi ini jatuhnya pesanan khusus.


"Selamat Ulang Tahun," desisku.


Ia terpaku.


Sudah kuduga.


Ia bahkan lupa ulang tahunnya sendiri.


Ini bulan Mei gitu loh. Namanya jelas-jelas Mei-Linda, bisa-bisanya dia lupa.


"Astaga..." pekiknya.


Lalu air mata berjatuhan.


"Astaga, Dimas..." ia agak limbung, jadi kutahan dan kududukan di sebelahku.


"Minum, sayang," aku menyodorkan minum Red Velvetnya.


"Ya Ampun aku beneran lupa kalau-" desisnya. "Bagaimana kamu-“


Lalu beberapa saat ia terisak. “Ya Ampun..."


Aku hanya diam memperhatikannya, ia mengenggamku erat sekali.


Lalu aku bangga sama diriku sendiri melihat reaksinya.


Bulan lalu untung-untungan saja sih membeli gelang berlian itu. Tadinya aku mau beli bunga untuk menyaingi Stephen. Tapi kupikir kelihatan banget cemburunya. Aku harus berbeda dari Stephen, aku kan calon suaminya.


Karena memperhatikan sifat Meilinda yang glamor dan feminin, akhirnya aku membelinya.


"Kamu..." akhirnya ia selesai terisak dan menghapus air matanya. "Ini kan mahal, aku tahu merk ini. Dari LSJ loh! Punya Sandra Ellen kan? Ini bikinan khusus! Kamu..."


aku menunggu ia menyelesaikan kalimatnya.


"Kamu pasti menghabiskan banyak waktu untuk nabung buat ini kan?!"


Aku menatapnya.


Yah, begitulah.


Aku diam saja deh, nggak ingin dikasihani juga.


Yang penting aku sudah niat ngasih.


"Aku sayang kamu," sahutku sambil mengelus pipinya, menghapus air matanya.


Dia malah nangis lagi.


Kali ini extra memelukku.


Salahku sih, sekarang kami jadi tontonan.


"Sayang, mau pulang aja nggak? Udah banyak yang nonton gratis nih!" sahutku lagi.


Ia mengangguk perlahan.


Lalu kami pergi dari sana.