
Tebak, aku ada di mana sekarang?
Iya, Di Kantor Pusat. Di Gedung Garnet Grup.
Maaf saja tapi aku nggak tega ngeliat muka Vampirnya Pak Danu sedih muram kusut kayak tadi, gara-gara ‘kenakalan`ku’. Dan aku mengerti posisinya sekarang, juga semua yang dia katakan tadi memang adalah ketakutan terbesarku dari awal.
Jadi sore ini, sebelum pulang, aku pergi ke kantor pusat, berharap sekali lagi bertemu si empunya Garnet Grup.
Walaupun bosan juga hari ini bakalan ketemu dua kali sama beliau. Tapi demi ketertiban bersama, aku jalani semampuku.
Gedung Utama Garnet Grup yang mentereng di seantero Jakarta ngalah-ngalahin istana negara. 60 Lantai, didirikan di pusat kota, sudah pasti kelihatan dari pulau sebelah. Jangan-jangan dalam waktu dekat bakalan berubah status menjadi monumen, atau harta nasional, atau icon negara.
Saat aku membaca papan tembaga mengenai daftar tenantnya, kepalaku langsung pusing. Bisa ya ada daftar tenant setinggi 10 meter. Apa selfie saja di sini? Kayaknya instagramable banget.
Aku pun membaca 10 baris pertama dari 255 daftar tenant.
Nyerah...
Langsung saja whatsap Pak Sebastian. Kutulis kata-katanya seformal mungkin.
“Besok nikahkan saya dengan Meilinda atau Ibu saya akan mengutuk Anda murid durhaka.”
Bisa-bisa besok aku langsung dipancung. Aku menghapus tulisanku, lalu menggantinya dengan kata-kata yang lebih waras.
“Maaf Pak Sebastian, apabila berkenan saya ingin bertemu dengan Bapak, Ini mengenai Bu Meilinda. Saya saat ini sudah di Lobby Gedung Pusat.”
Send
Aku lalu mencari sofa yang kosong di ruang tunggunya yang seluas... mungkin bisa 1 hektar saking luasnya, sambil main Candy Crush.
Belum juga pencet Play Button seorang resepsionis menawariku minum.
Wah, service excellent banget ya.
Kopinya datang dengan resepsionis yang berbeda, dia bertanya aku dari mana dan mau bertemu siapa.
Aku jawab saja dari Garnet Bank Kantor Pusat mau bertemu Pak Sebastian. Dia bertanya sudah ada janji atau bagaimana, aku jawab aku sudah mengabari kalau menunggu di Lobby.
Tak berapa lama resepsionis yang berbeda datang menawariku kue.
Belum sampai semenit resepsionis yang berbeda datang menawariku password wifi yang sinyalnya lebih kuat.
Aku mengamati sekeliling sepertinya hanya aku yang mendapatkan pelayanan khusus. Kalau Pak Sebastian nggak datang juga entah berapa banyak resepsionis yang akan datang menggodaku.
“Pak Dimas,” suara yang kukenal, Pak Arman datang menghampiriku. Seperti biasa tampangnya rapi dan perlente. Benar-benar luar biasa tangguh ini orang. Type laki-laki ideal sepertinya.
Beliau ini sudah berkeluarga belum ya?
“Ya Pak?” sapaku. Kami berjabat tangan.
“Pak Sebastian sedang meeting, tapi dia akan segera menemui Pak Dimas,” katanya. “Lalu... mengenai kasus Bu Meilinda, apa Pak Dimas butuh bantuan kami?”
Hm, kami ini maksudnya siapa saja ya? Kalau sampai melibatkan GSA sepertinya berlebihan deh. Karena ini kan kasus internal kantorku, bukan kasus terorojingterojing. Masa akan sampai terjadi tembak-tembakan kan konyol nanti bikin hebohnya.
“Kalau masalah investigasi, kami sudah tahu pelakunya Pak, tinggal keputusan manajemen saja maunya bagaimana,” kataku.
“Baiklah, Pak, hubungi kami saja kalau butuh bantuan. Gratis kok, karena kepentingan kantor,” Pak Arman menyeringai.
Tau aja dia kalo yang gratis-gratis aku tertarik. Karena memang itu masalahnya dari pertama.
“Saya lanjut kerja ya Pak Dimas, silakan dinikmati suguhannya,” katanya.
Aku lanjut duduk, tapi masih sempat mengamati Pak Arman. Sekilas, sebelum dia pergi balik badan, aku melihatnya main mata dengan para operator di belakangku.
Dan dari pantulan jendela aku bisa melihat semua operator menatap Pak Arman dengan pandangan menggoda.
Dan itu ada sekitar 5 operator wanita.
Mau berpikiran positif tapi situasinya mendukung untuk curiga.
Sekitar 15 menit berikutnya, banyak orang-orang setengah berlari menghampiri salah satu lift yang berada di ujung lorong, mereka berbaris teratur mengelilingi lift tersebut. Terang saja hal itu menjadi tontonan pengunjung di lobi tak terkecuali aku.
Ada apa ya?
Saat lift terbuka, orang-orang itu menunduk hormat.
Pak Sebastian keluar dari lift dengan gaya arogannya.
Gaya bener sih ini orang.
“Ayo makan siang!” sahutnya ke arahku sambil tetap berjalan macam majikan nyuruh-nyuruh jongosnya.
Makan siang jam 5 sore. Yak! Epic.
Aku pun mengikutinya dan kami menuju...
OMG OMG OMG!!
Aku hampir berteriak kegirangan.
Maybach Exelero 4 seat doooong!
Kalo bisa cium, aku nyosor deh sekarang kesanaaa.
Anjay bener!
Desain elegannya bikin mataku berkunang, Velg-nya aja udah gahar, apalagi interiornya nanti?!
“Jangan bengong aja di situ, saya laper nih! DI tempat kamu nggak disuguhi nasi!” seru pak Sebastian dari dalam mobil.
Aku masuk ke dalam ‘kereta pusaka dari baja’ dan duduk di sebelah beliau. Ada satu pengawal di kursi depan dan 3 orang pengawal mendampingi dengan mobil di belakang kami. Harus ya pakai pengawal? Presiden keluar dari lift saja nggak seheboh ini bro.
Sumpah, aku deg-degan. Kuhirup dalam-dalam udara saat masuk ke mobil itu, kuresapi dalam kalbu. Dan saat mataku terbuka, kuamati semua interior sampai mendetail. Akan kusimpan ingatan ini dengan baik di file otakku.
“Mimpi apa saya hari ini ketemu kamu terus,” gerutunya.
Lah yang nekat dateng ke kantor sopo. Eh, tapi itu kantornya sendiri sih, masa aku protes.
“Makasih ya pak Rolexnya, akan saya jaga dengan nyawa saya.” Aku mengangkat pergelangan tanganku.
“Biar kamu nggak ngaret...” desisnya.
Aku menyeringai, soalnya tadi pagi aku datang terlambat.
Aku menatapnya dengan pandangan ‘kok tahu sih’.
“Kamu suka makan apa selain perasaan wanita?” sahut Pak Sebastian.
Ya Tuhan, tolong! Jokes bapak-bapak.
“Makan angin Pak,” sahutku cuek.
“Jadi ada angin apa kamu mau ketemu saya?”
“Ada angin ribut pak,”
“Nggak lucu kamu,”
“Maaf Pak,”
Lalu hening.
Dia sibuk sama ponselnya. Begini toh rasanya bertemu calon ipar, tegang geli-geli gimanaa gitu. Ipar berasa mertua.
“Saya suka makan nasi padang,” sahutku asal saja daripada diem-dieman kayak lagi marahan begini.
“Oke. Padang Sederhana ya No,” Kata Big Boss ke drivernya.
Pak Prayitno, driver Big Boss mengangguk sambil berujar : “Baik Pak,”
Astaga Meilinda, kakakmu pake mobil 150 milyar! Tapi makannya nasi Padang.
*
*
Aku meminum es kelapaku.
Pak Sebastian memainkan ponselnya. Aku kuatir dia lagi wa-an sama intelnya mengenai diriku, tapi aku melihat tampilan layarnya di jendela kaca dibelakangnya, ternyata dia lagi main tetris. Haha.
“Mau apa kamu nekat ke kantor?” gumamnya dengan dahi mengernyit. Kayaknya ada balok yang salah taro jadi bangunan tetrisnya tinggi.
“Saya sudah tahu pelakunya,” sahutku.
“Ya bertindak dooong! Lenje banget kamu!!” serunya. Kami jadi bahan perhatian pengunjung. Tapi kurasa dia berteriak karena tetrisnya Game Over. Sekalian ngomelin aku sekalian ngeluh karena kalah.
“Kalo grasa-grusu malah nggak kejaring pak, kalo mancing itu harus tenang,” aku mencari rokok di kantongku, mudah-mudahan masih ada sebatang.
Eh, nemu dua batang. Sip. Sundut.
“Jadi gimana? Siapa pelakunya? Berani-beraninya dia ngerjain adik saya. Kamu sih sok kegantengan!”
Pak Sebastian kalau ngomel gitu, satu belum dijawab, udah berondongan pertanyaannya.
“Menurut pengamatan kami, Pelakunya ada sekitar 14 orang, mereka membuat salah satunya untuk melakukan ancaman dengan sejumlah bayaran. Saya sudah identifikasi CCTV dan dia ternyata orang yang saya kenal, internal. Tapi saya masih pantau karena saya yakin dia juga tidak akan lari karena ada kepentingan. Saya tahu sifatnya sih, sudah setahun kerja sama saya,”
Pak Sebastian menatapku sambil ikutan bersandar di kursi.
“Terus, terduga bersalahnya mau diapakan?” tanya Pak Sebastian.
“Manajemen minta semuanya dipecat,” sahutku.
“Kamu maunya bagaimana?”
“Kenapa saya?”
“Kan kamu yang bikin masalah, ya kamu yang selesaikan, dong,”
“Hem, gimana ya Pak, menurut saya... kalau 14 orang dipecat sementara saya sangat mengerti manajemen sangat sibuk. Bagaimanapun mencari ganti 14 orang itu tidak mudah, mereka bibit unggul yang susah payah kami latih untuk jadi sesukses sekarang, terlepas dari tingkah mereka yang nyeleneh. Mungkin juga mereka melakukan hal itu karena pengalih perhatian dari tekanan kerja,”
“Gayamu Boyooo, boyo! Terus gimana?” desis Pak Sebastian.
“Usul saya sebaiknya mereka diberi SP3. Untuk pelaku utama, mungkin bisa dipindah ke anak usaha yang lain. Karena saya yakin sekali dia melakukan hal itu saat dalam ancaman,”
“Jadi kamu ketemu saya hanya untuk membicarakan hal ini?”
“Iya.”
“Baik bener kamu, ngapain juga kamu lakuin itu,” kalimat Pak Sebastian sepenuhnya sindiran.
Bukan sekali aku dikatain orang baik, ini masalah nurani. Akhirnya aku berkata ke Pak Sebastian mengenai konsep karyawan kelas bawah.
“Saya lihat dengan mata kepala sendiri bagaimana dia berjuang dan bekerja keras. Selama ini yang aktif, yang diomel-omelin saat minta data, yang disindir-sindir, yang hampir didukunin. Dia lebih bisa membantu saya karena ritme kerja kami hampir sama. Dan saya tahu berapa gaji anak itu dan permasalahan keluarganya. Jadi, untuk dia yang sudah berjuang, saya mewakilkannya untuk mohon maaf,”
Hening.
“Kamu itu sudah menyusahkan semua orang,” ujar Pak Sebastian.
“Iya pak saya tahu. Makanya saya akan bertanggung jawab atas segala resikonya. Biaya perawatan Meilinda, kalau perlu saya resign,”
“Resign?” Pak Sebastian mengangkat alisnya.
Aku mengangguk sekali.
“Saya nggak izinkan kamu resign ya. Nanti menjelang pernikahan kalian, Meli yang akan resign. Sebagai kepala keluarga, kamu harus tetap produktif. Di sini saya mengakui kinerja kamu, harusnya kamu bangga ke diri kamu. Mengenai masa lalu kamu, saya sudah anggap itu bagian dari resiko pekerjaan. Asalkan kamu serius terhadap Meli dan tidak ada motif kampret kayak yang sudah-sudah, saya sih santai saja,”
Aku mengangguk setuju.
Setelahnya kami terdiam dalam pikiran masing-masing.
“Saya akan pindahkan anak didikan kamu itu ke Unit Retail. Bagaimana?” akhirnya Big Boss berkata demikian.
Aku tersenyum padanya, berterimakasih.
Eh, tunggu dulu, perasaan tadi ada kalimat yang aneh,
“Tadi itu… Maksud bapak, menjelang pernikahan kalian, itu apa?” tanyaku.
“Ya memang kamu nggak ada tujuan menikah dengan Meli?”
Gawat!
Aku senyum saja biar selesai dan bisa pulang dengan selamat.