Office Hour

Office Hour
Cieee Pacar Cieee



Selena Al Farouq, Bapaknya dari Turki, ibunya dari Bolivia. Bertemu di Indonesia, jadilah Selena. Farid Al Farouq, ayah Selena, juga pasti mengenal Bu Lastri. Ia dan Sebastian berteman sejak SMA.


Pak Sebastian memberi Pak Farid modal untuk membangun bisnis furniture, kayunya diambil dari lahan tebang pilih milik pak Sebastian di daerah Sumatra. Farid AL Farouq bertemu Isabella saat pameran furniture internasional. Mereka menjalin cinta dan dikaruniai satu orang anak yang cantik jelita, Selena.


Selena diberkahi kekayaan seumur hidupnya. Dan ia tidak menyia-nyiakan kekayaan orang tuanya. Hidup Glamor dijalaninya, sampai di satu titik ia merasa bosan dan tak berguna hanya menjadi benalu orang tua. Padahal menurutnya, ia memiliki banyak kemampuan. Ia ingin sukses tanpa uang ayahnya.


Manusia harus menjalani hidup penuh makna, dan seperti Bapak ibunya, ia ingin jatuh cinta secara normal. Bertemu dengan tidak sengaja, mungkin mengalami cinta lokasi, lalu kencan dengan jalan-jalan di taman kota. Hal-hal yang sederhana seperti itu.


Dan lagi ia tidak terlalu suka dengan nama belakangnya. Ia merasa identitasnya tergerus oleh nama besar bapaknya.


Ia percaya bisa mandiri tanpa bantuan bapaknya.


Lalu ia belajar dengan serius, mengambil sebanyak mungkin gelar sarjana, dan melamar di perusahaan besar tanpa tahu kalau perusahaan itu ada hubungannya dengan Bapaknya juga.


Paling tidak, Selena masuk ke Garnet Property dengan kemampuannya sendiri.


Saat ia dipanggil HRD untuk ditawari jabatan tinggi, barulah Selena mengetahui Farid Al Farouq, Sang Ayah, ada dibalik semua ini. Selena langsung menolak jabatan tinggi dan ingin tetap menjadi staff. Naik pelan-pelan dengan kemampuannya sendiri.


Mendengar hal itu, Farid Al Farouq sangat bangga dengan keputusan Selena.


Bahkan mungkin apabila Selena menjadi Office Girl, ia juga bangga.


Dan Pak Sebastian menghargai keputusan Selena, namun dengan syarat, Selena harus bekerja di bawah orang kepercayaannya.


Jadilah Selena ditempatkan ke Divisi Operasional Proyek, di bawah kepemimpinan Bram.


Sebagaimana sosialita biasanya, di luar sikap dingin dan telitinya sebagai karyawan, Selena juga bersenang-senang.


Party, clubbing, travelling, dan bercinta dengan cowok-cowok ganteng, bahkan menjalin hubungan dengan pejabat-pejabat muda dan rekan artis sudah biasa baginya. Untuk menanjak ke atas Selena butuh jaringan bisnis, dan ia memperluasnya dengan kenakalannya.


Ia masih muda dan tidak mengenal hidup susah, ia bersenang-senang menikmati hidupnya.


Sampai Bram muncul.


Laki-laki itu telah menjungkir balikkan kehidupannya. Ia menjadi jarang bergaul lebih sering bekerja, jarang party lebih sering menonton film dokumenter, jarang travelling lebih sering berkutat dengan laptopnya untuk mengamati pergerakan IHSG. Apa pun ia lakukan agar bisa mengimbangi Bram yang bersahaja, berwibawa, dan cerdas.


Apalagi berulang kali ia memergoki Bram pacaran dengan wanita yang penampilannya terlihat pintar, kalem dan bersahaja. Walaupun untungnya, tidak berlanjut, namun Selena mulai menjadi pribadi yang anggun, tipe wanita yang disukai Bram.


Walaupun ia tidak menjadi dirinya sendiri.


Kini, setelah berbagai kejadian muncul, ia akan berkencan dengan Bram!


“Pak Dimas, saya boleh pulang tenggo?”


(Pulang tenggo adalah istilah yang digunakan karyawan kantoran untuk pulang tepat waktu. Biasanya jam 17 tepat sudah ngibrit ke parkiran).


“Ini hari Jumat, mau apa sih pulang tenggooooo?! besok kan weekend,” Omel Dimas yang masih berkutat dengan komputernya.


Sementara di depannya, Oky, Tresna dan Heksa terdiam padahal mereka udah menyandang ransel siap-siap pulang. Merasa tersindir nih yeee.


“Lah kita jadi balik nggak nih?!” gumam Tresna sambil lirik-lirikan ke arah Heksa.


“Cuek aje, konser JKT 48 dimulai sejam lagi, belom kita macet-macetan ngibrit ke sana,” Oky mengendap-endap sambil berjinjit keluar ruangan selagi mata Dimas tertuju ke layar komputer.


“Kita beli cemal-cemil dulu woy, di Grand Indonesia sneknya nggak bersahabat buat dompet,” bisik Heksa.


“Tu bocil-bocil kagak tau kali ye kalo gue bisa kali ngeliat tingkah laku nggak jelas mereka pake mata batin...” gerutu Dimas sambil tetap mengetik.


“Dimaaaaas, gue balik duluan ye, mau pacaran!” seru Daniel sambil masuk gaya balerina salto, nyambar tas, nyambar helm, keluar lagi.


“Gue dikarunia-i Staff-Staff gada akhlak,” gerutu Dimas.


“Lagian Pak Dimas jam segini, besok weekend pula ngapain sih pake susah-susah bikin presentasi buat hari Rabu? Nggak usah lah keliatan se-perfect itu. Kerjaan mah nggak habis-habis Pak!”


“Gue pacar dari adik owner. Kalo kerja gue asal-asalan, bisa-bisa sniper diujung sana narik pelatuk ke jidat gue,” desis Dimas. Tapi sesaat kemudian, dia mengangkat wajahnya dan menurutkan kacamatanya sampai batas hidung mancungnya itu, mengernyit menatap Selena dengan curiga, “Tumben lo pulang tenggo, biasanya males pulang,”


“Saya mau cari baju baru, tas baru, sepatu baru, mau ke salon, mau ke spa, mau manicure juga. Bapak mau ikutan?” tantang Selena.


Dimas meliriknya curiga.


“Sini lo,” desisnya sambil melambaikan tangan ke Selena dan duduk menyender ke kursinya.


Selena mendekat dengan malas.


“Apa pak?” Selena mendekatkan wajahnya karena Dimas memberi aba-aba dengan telunjuknya untuk lebih mendekat.


“Bram suka cewek yang lemah lembut, gue saranin lo dandan natural.” bisik Dimas.


“Tau aja lo, ulet keket!” sahut Selena pendek sambil menyeringai.


“Dan... nggak usah bawa pengaman, nggak ada yang muat,” kekeh Dimas.


Selena langsung mencubit pipi Dimas dengan gemas.


Dan saat itu Meilinda masuk ke ruangan Dimas.


Ia menatap keduanya dengan pandangan tajam.


Selena menegakkan tubuhnya dan menyapa Meilinda lalu beranjak pulang.


Dimas menatap punggung Selena yang menjauh sambil tersenyum jahil dan memutar-putar kursinya.


“Ada apa, Sayang?” tanya Meilinda.


“Nggak ada apa-apa...” desis Dimas sambil melanjutkan pekerjaannya.


Tingkahnya semakin membuat Meilinda semakin curiga.


“Ngga ada apa-apa kok cubit-cubitan,” gerutu Meilinda.


“Kamu sensitif banget sih, sini...” Dimas menepuk-nepuk pangkuannya.


Walau pun curiga, tapi menghadapi Dimas, Melinda mudah luluh. Dengan perlahan ia duduk di pangkuan Dimas dan mencium bibir pria itu.


**


Hari Sabtu siang,


Selena dan Bram janjian di lobi Mall terbesar di Jakarta. Milik Pak Sebastian juga tentunya. Selena datang satu jam lebih awal dari waktu pertemuan saking semangatnya. Jantungnya berdebar-debar senang.


Saat Selena memasuki Mall, orang-orang sudah memperhatikannya lekat-lekat. Bahkan beberapa security reflek menunduk menghormat padanya, hal itu membuat Selena terkekeh geli.


Ia seharusnya berencana berjalan-jalan dulu agar degupan jantungnya menjadi lebih tenang, mungkin membeli beberapa camilan dan minuman kekinian agar rileks, tapi ternyata dari jauh pun sosoknya sudah terlihat. Mencolok menjulang tinggi dan sangat berwibawa.


Bram dalam balutan kaos santai, ternyata lebih memikat dibandingkan dalam balutan kemeja kantoran.


Pria itu terlihat berbicara dengan pihak pengelola Mall, wajar karena Mall ini salah satu yang terbesar milik Garnet Grup dimana Bram bertindak sebagai pengawas proyeknya. Rencananya Mall akan diperluas untuk area khusus tenant showroom mobil mewah.


“Loh... Mbak Selena?” Sapa salah satu pengelola. Bram ikut menoleh.


Lalu menyisir penampilan Selena dari atas kebawah, dan tersenyum terpesona.


“Bu Lusi, sehat bu?” Selena cipika-cipiki dulu dengan kepala Mall.


“Haduh, mbaknya sekarang cantik buangett! Dulu memang sudah cantik, sekarang lebih cantik lagi! Sampai silau mata saya,” sahut Bu Lusi.


“Bisa saja deh bu,” Selesan terkikik sambil sekilas melirik Bram. “Lagi ngomongin pembukaan showroom ya bu?”


“Lah iya, kan mbaknya dulu yang cariin vendor ya. Sekarang nggak ada Mbak Lena, Jadinya Pak Bram deh yang mondar mandir sendirian ya pak?!”


Bram cuma tersenyum.


“Oke bu itu saja, pastikan keamanan di setiap ruangan minimal dua orang security ya bu. Saya jalan dulu.” Pamit Bram.


“Mbak Lena mau masuk dulu? Ada kue itu,” tawar Bu Lusi. Dia tak mengira kalau Bram dan Selena akan pergi bersama.


“Nggak usah bu, saya ada janji,” sahut Selena.


“Pacarnya sudah datang? Kalau belum tunggu saja di dalam,” sahut Bu Lusi.


“Pacarnya sudah datang kok bu,” sahut Bram sambil meraih pinggang Selena dan bergerak menjauh.


Bu Lusi terperangah dan tersenyum malu. Sedetik kemudian dia sadar yang terjadi dan kipas-kipas sendiri pakai tangan, “Ya Ampuuuun! Couple of The Yeaaar! Kamera mana kameraaa!!” serunya shock.


Bu Lusi yang orang lain saja begitu, Apalagi Selena.


Ia merasa kakinya langsung lemas


Jantungnya berdetak kencang


Dan tubuhnya bagai dialiri listrik


Bahkan untuk tersenyum pun ia tak bisa.


Pacarnya! Dia bilang aku Pacarnya! Seru Selena dalam hati.


Setelah agak menjauh dari Bu Lusi, Bram melepaskan pegangannya dan menggandeng Selena.


Astaga-Astaga-Astagaaaaaa!! Pekik batin Selena.


“Tangan kamu dingin banget Len, kamu sakit?” tanya Bram.


Selena tak menjawab.


Lidahnya terasa kelu.


“Atau... grogi?”


Haduh, tepat banget deh. Selena berdehem.


Bram terdengar terkekeh pelan.


Jadi benar kata Dimas, Pikir Bram, Sialan itu anak! Bisa banget dia baca isi hati wanita.


Jadi sebelum acara nge-date ini, Bram sempat mengobrol sama Dimas.


Flashback sejenak,


“Kamu nggak pulang?” Tanya Bram.


“Nginap Mas, sudah bilang ibu.”


“Nginap... sudah sejauh itu hubungan kamu?”


“Bukaaannn!” sahut Dimas. “Aku nginep di kantor kaleee... nih lagi makan indomie sama Syarif. Tadi yang katanya mau jemput aku, akhirnya aku malah ditinggalin di kantor sendirian tuh sapaaa yaaaa??” sindir Dimas kesal.


“Kirain nginep di Darmawangsa” kekeh Bram.


“Ada batasan kali Mas. Aku juga punya etika. Tapi kalo dia maju duluan ya diladeni hahahaha.” Dimas terbahak


Bram menggelengkan kepalanya.


“Tumben nelpon, kenapa?” tanya Dimas akhirnya.


“Aku ngajak Lena ngopi, Besok,”


“Jiaaaaahhh kemajuan Masku! Traktir jadian yaaaaa!!”


“Sembarangan,” sahut Bram.


“Mas, dengerin aku ya. Percaya deh, dia itu kesengsem sama kamu. 100%. Aku nggak tahu ya ada kejadian apa waktu kamu kerja sama dia, tapi aku berani bilang kalau dia itu sudah lama suka sama kamu, Mas. Terserah kalo besok kamu mau tarik ulur yang penting aku sudah ngomong. Besok dia pasti gugup ketemu kamu. Aku berani taruhan 100rb sama Syarif ini!”


“Apa sih Mas Dimas, aku kan ndukung Mas Dimas! Kalo taruhan itu sama Pak Bram...” terdengar suara Syarif dari seberang.


“Bagaimana Mas? Berani?!”


Bram menghela napas.


“Kalo dia cuma anggap aku teman biasa, kamu harus kasih rangkaian bunga lalu bilang cinta di tengah lobi gedung ke Bu Meilinda. Kalau dia bener ada hati sama aku, aku kasih Balenciagaku ke kamu. Deal?”


“Deaaal !! horeee Balenciagaaaaa!!” Dimas yakin banget kalau dia bakalan menang.


“Balen Aga itu apa mas?” terdengar Syarif bertanya.


Dan sepertinya kini Bram akan kehilangan jaket Balenciaga kesayangannya.


Sosok Selena saat ini sangat berbeda dengan Selena yang selama ini ia kenal. Lebih manis. Lebih ekspresif. Apa mungkin selama ini wanita itu meredam sifat yang sebenarnya? Kalau benar, dengan tujuan apa?