
Aku menginjakkan kaki di Lobi gedung Garnet yang kini dipenuhi dengan orang lalu lalang, agak segar sedikit daripada yang tadi, karena sudah numpang mandi di rumah Bang Sa'ad, sudah numpang ngopi, numpang makan gorengan dan numpang mobilnya buat kembali ke kantor.
Hanya kemejaku beberapa kancing atasnya lepas karena Yolanda Cs menarik-nariknya agak kasar. Sudahlah kupakai saja apa adanya karena nggak ada penggaknti, dan ekstra kacamata hitam Rayban KW punya Bang Sa'ad, karena mataku jadi sensitif cahaya.
Mungkin pengaruh obat perangsang.
Beberapa orang melihatku dengan terperangah, mungkin penampilanku saat ini sedikit absurd. Aku langsung menuju lift untuk ke lantai 5 tempat ruang meeting.
Aku saat ini sedang menahan hasrat yang susah payah kutahan untuk tidak meledak! Karena Yolanda Cs tidak melakukannya sampai aku selesai jadi kepalaku sekarang sangat pusing.
Rasanya pingin mukul orang, atau dipukul juga boleh, biar aku bisa lebih waras sedikit, kembali normal.
Bukan, aku bukan orang mesum. Tapi memang begini metabolisme tubuh laki-laki.
Bukannya aku suka dengan perlakuan mereka, tapi di kerjai semacam ini aku malah tersiksa. Aku memang tidak terlalu khawatir dengan hidupku karena aku mengenal setiap individunya. Yang ada di diriku lebih ke arah perasaan kesal dan jijik.
Kalau Bang Sa’ad terlambat menemukanku, apa jadinya diriku, pasti trauma yang dialami lebih mendalam.
Aku bisa melihat Roll Royce Phantom VII kebanggaan Sang Shareholder terbesar Garnet Grup diparkir di depan gedung di barisan VVIP. Di sebelahnya si seksi Lexus milik Meilinda.
Udah berapa lama aku tidak membelai setirnya?
Kangen masa-masa itu...
"Des," sapaku saat melihat Desi.
Ia terperangah melihatku.
"Astaga! Astaga! Astaga!! Mas Dimas!!!" ia megap-megap.
"Dimana demonya?" Tanyaku.
"Ruang Meeting utama!" Desi menunjuk ruang meeting ujung dekat jendela.
"Udah berapa lama mereka di sana?!"
"Sejak habis jam makan siang jadi udah 3 jam negosiasinya berjalan," Desi menyalakan kipas angin portabelnya untuk mengipasi lehernya dan matanya tak lepas menatap dadaku yang mengintip dari balik kemeja. Aku lalu berjalan ke arah ruangan yang ditunjuk Desi.
Beberapa tenant yang juga menyewa ruang meeting melihat diriku lekat-lekat sampai memutar tubuh mereka mengikutiku berjalan. Bodo amat lah, nggak ada waktu untuk mengecek penampilan!
Bahkan saat aku membuka pintu ruang meeting, Keadaan langsung hening.
Kayak setan tiba-tiba lewat...
“Selamat Sore, maaf saya terlambat,” sahutku sambil tersenyum, kupasang semanis mungkin agar bisa mengambil hati semua orang.
Masih hening...
Lalu Pak Sebastian yang ada di kursi ujung, melambaikan tangan padaku sambil menepuk kursi di sampingnya.
“Sini, Boyo!!” Serunya sambil menyeringai. Kenapa tampaknya dia senang sekali melihatku, seperti mengejek.
Aku berdecak sambil berjalan ke arahnya.
“Sudah selesai main dramanya?!” tanyanya menyindir.
“Baru Pre-opening Pak,” Balasku asal-asalan.
“Dasar Kethek...”
“...Dikit lagi pingsan...” sambungku.
“Lagak kamu kayak yang paling ngganteng,”dengusnya. “Kalau nggak gara-gara Rolex, wis modar kowe!!”
“Inggih Ndoro, Matur suwun” sungutku.
**
"Pokoknya tuntutan kami ada 3 hal. Satu, kami menuntut kenaikan gaji 5x dari nilai UMK, kedua, apabila tenaga kami tidak dibutuhkan lagi kami menuntut PHK dengan pesangon 24x take home pay, ketiga, atas perlakuan Bu Meilinda sehari-harinya kepada kami yang menurut kami tidak diperlakukan sebagai manusia, tidak sesuai dengan kaidah HAM, kami menuntut ganti rugi masing-masing 1 miliar rupiah per orang atas mental kami yang tersakiti! Untuk penuntutan kami ini, kami diwakilkan oleh Lembaga Bantuan Hukum yang berwenang!" sahut Pak Jaka.
Aku mendengarkan sambil sibuk menjahit kancing. Selena meminjamkan peralatan menjahitnya barusan.
Bukannya tidak memperhatikan, tapi menurutku lebih penting dadaku yang terbuka daripada pembahasan demo. Saat ini udah 3 orang yang keluar dari ruang meeting karena kepanasan akibat terlalu lama memperhatikanku.
Aku berasumsi, dari tadi Pak David dan Pak Danu sudah melakukan negosiasi dan mengatakan kalau perusahaan ini adalah perusahaan swasta jadi segala peraturan mengenai penggajian sudah diatur sendiri secara internal, tapi tampaknya yang membuat mereka tidak terima adalah sikap Bu Meilinda yang suka emosional.
"Gimana Mas, masukan kamu?"
Aku mengangkat kepalaku, menatap Pak Sebastian.
Kenapa aku?
Apa maunya coba? Ni orang kayaknya memang berniat mengerjaiku dari awal...
"Saya sih setuju-setuju saja dengan pak Jaka," sahutku.
Semua langsung heboh.
Bu Meilinda ternganga melihatku.
"Tuh kan! Dimas saja bicara begitu!" Pak Jaka terpekik senang.
Aku menyeringai.
"Kalau..." aku mencondongkan tubuhku. Semua menyimak. "Tuntutan Pak Jaka itu dikabulkan, saya mau ikutan menuntut. Soalnya pasti saya akan jadi milyuner. Coba dihitung berapa kali Bu Meilinda bentak-bentak saya dulu."
Semua tertawa.
"Lalu... Saya juga perlu mengajukan tuntutan terhadap Pak Jaka" tambahku.
Tiba-tiba semua terdiam.
"Pak Jaka juga suka bentak-bentak Cabang, dulu. Seharusnya Cabang juga bisa menuntut Pak Jaka yah," sahutku.
Semua masih diam.
“Maryanti, masih simpan draft yang waktu itu dicoret Pak Jaka kan ya?” tanyaku.
“Masih Pak!” seru Maryanti bersemangat.
Aku mengangguk puas, “Saya pernah tanya ke Pak Jaka kenapa Nasabah yang erat kaitannya dengan Partai tidak dimasukkan ke area mitigasi. Malah draft dari Maryanti yang sudah benar dicoret lagi dan ditulis kalau Nasabah itu tidak ada hubungannya dengan partai mana pun. Pak Jaka, perlu diketahui, masalah ini adalah hal fatal penyebab Bapak diminta untuk selesai masa tugasnya,”
Semua masih menyimakku.
“Tadinya kami menyembunyikan hal ini karena masih menghargai kinerja bapak bertahun-tahun di Garnet. Tapi sekarang bapak datang ke sini, sama saja membuka aib sendiri. Kami pun tak ingin disalahkan LBH dan Depnaker,”
Paj Jaka terlihat mundur selangkah. Aku bisa meihat titik keringat mulai muncul di dahinya. Mungkin ia mengira kami tidak menyelidiki sampai sejauh itu.
Aku memiliki banyak anak buah berdedikasi. Dan aku percaya instingku. Jadi setelah Cecilia menemukan cela pelaporan, kuminta ia juga menyelidiki dimana rumah Nasabah. Dan saat Cecilia mengunjungi si nasabah, dengan iming-iming hampers boleh gratisan dari Milady tentunya, si Nasabah malah cerita bahwa...
“Nasabah memang meminjam dana dari Bank untuk kegiatan partai, yang mana hal itu dilarang sesuai dengan ketentuan OJK untuk tindakan APU-PPT (indikasi pencucian uang). Dan yang lebih parah, ternyata si Nasabah adalah sepupunya Pak Jaka ya? Pantas saja sudah macet tidak dimasukkan ke pelaporan Collectibilitas ya?” desisku sambil menghentikan kegiatan menjahitku.
Soalnya ketusuk jarum.
Kacamataku ketinggalan di ruangan.
Beneran Faktor U ini. Mau nusuk lobang kancing malah kena telunjuk.
"30 tahun bapak bekerja di Garnet Bank, sehari-hari di Divisi Kepatuhan belom pindah-pindah divisi, kok bisa kecolongan pelaporan? Bukannya kami menuduh macam-macam ya, tapi kalau sudah begini dari pada kami mengajukan macam-macam lebih baik kami hentikan saja masa kerja bapak, Kalau bapak bilang itu salah Bu Meilinda sebagai direktur yang mengacc paling akhir, jadi logikanya mendingan dia kerja sendiri aja. Jadi yah tenaga bapak sudah tidak dibutuhkan sebagai kepala divisi, karena Bu Meilinda sudah berikrar mau kerja sendirian saja daripada percaya sama kinerja bapak. Coba nanti kita sama-sama baca SOP, bisa tidak Direktur kerja sendirian saja?"
Aku membuka bantex. "Saya akan sedikit menjabarkan mengenai kinerja Pak Jaka dan Tim, melihat dari kasus yang belakangan terjadi. Sekali lagi, bukan maksud saya menuduh loh ya..."
"Saat saya masih ditugaskan di Divisi Kepatuhan, saya diberikan porsi pekerjaan untuk semua wilayah Indonesia, kecuali untuk Cabang Solo dan Surabaya. Alasannya karena cabang itu cabang besar dan butuh penanganan khusus. Jadi untuk Cabang Solo dan Bali ditangani Pak Jaka langsung." Sahutku.
"Saat kasus cabang Solo, kami Divisi Audit menemukan banyak kejanggalan yang terjadi sudah berlangsung bertahun-tahun, lalu... Nasabah yang kemarin kami laporkan karena ikut partai politik, adalah Nasabah pengajuan dari Cabang Surabaya, walau pun Nasabah tinggal di Jakarta," lanjutku.
Kami menatap Pak Jaka.
"Pak Jaka..."desisku. "Sekarang giliran bapak untuk memberikan pembelaan, Jangan bilang kalau gaji di sini nggak sesuai dan tekanan kerja besar ya, namanya Manjalita suteja, Pak. Itu orang-orang dari Depnaker yang bapak seret-seret ke sini digaji jauh lebih kecil dari bapak loh, kalo gaji pejabatnya jangan tanya saya, tanya ke netizen budiman,”
Terdengar kekehan Pak Sebastian di sebelahku.
"Duh... berdarah, lagi,” gerutuku sambil mengulum telunjukku yang mulai mengeluarkan cairan merah.