Office Hour

Office Hour
Lagi-lagi Berdebat



Dan pagi ini, padahal hari Minggu yang cerah loh ini, aku bangun dengan perasaan galau dan badmood.


Entah kenapa...


Aku memang mood-moodan orangnya, tapi hari ini aku rasanya kayak kesal terus.


Aku memang sudah dikabari kalau hari ini fitting baju terakhir dan pematangan acara, dan aku nggak bisa mundur lagi.


Padahal aku pingin mundur.


Karena terlalu sakral... Aku nggak cocok sama komitmen. Walaupun aku yang memilih untuk berkomitmen tapi aku beneran ragu apakah aku sanggup berkomitmen.


Apalagi saat aku melihat jumlah tamu undangan. 2.500 undangan, itu berarti lebih dari 5.000 tamu. Dan catering dipersiapkan untuk 6.000 tamu.


Aku padahal berharap acara kecil kecilan yang sederhana, dengan tema outdoor tengah hutan macam resepsinya Bella dan Edward di film Twilight.


Dan tamunya...


Astaga!


Pejabat negara semua. Mereka bahkan mengundang menteri dan tokoh publik dari beberapa negara.


Mati aku!


Semua ini dipersiapkan selama kurleb sebulanan, dan aku jarang terlibat. Pokoknya tahu-tahu semua sudah diatur. Antara enak dan nggak, aku seperti jadi boneka saja.


Kebanyakan memang tamunya Pak Sebastian dan Pak Hans, Pak Sebastian nih malah nggak ngadain resepsi saat menikah, jadi dia menumpahkan obsesinya di pernikahanku!!


Saat ini dia memicingkan matanya menatapku sinis sambil mengunyah nasi uduk ibuku.


Kenapa sih pagi ini semua ada di sini? Rumah ibuku perlahan jadi semacam basecamp buat gengnya... Seperti masa lalu mereka. Ada Pak Farid dan Pak Malik Adara juga yang mana adalah ayahnya Milady. Kurang satu orang, mereka menjulukinya Jago katanya lagi di Dubai, tapi bukan nggak mungkin dalam waktu dekat dia juga akan bergabung.


"Yang mau nikah, semangat dong! Kok kusut begitu." kata Pak Malik Adara sambil memijat bahuku.


"Dia udah jiper duluan ngeliat undangan gue," sahut Pak Sebastian.


Tepat sasaran pukulan telak.


"Jangan jadiin pernikahan orang lain sebagai obsesi kawinan pribadi dong! Sapa suruh nikah main rahasia-rahasiaan!" gerutuku.


"Pas mau merencanakan resepsi, Lady sudah hamil. Ya Batal..." dia berdalih.


"Nggak papa kali resepsi pas hamil muda. Kan belom kelihatan besar. Bilang aja malu sama umur..." gerutuku lagi. Dia langsung diam. Kayaknya aku juga tepat sasaran.


"Awas kalo kamu nggak jadi nikah," ancamnya kemudian.


"Dih... Kalo mau ngadain pesta-pestaan, masih ada Trevor kali! Suruh aja dia nikah,"


"Nunggu Trevor nikah sampe kapan?! Bisa-bisa saya udah didalem tanah, dia baru nikah!"


"Ayooo iki loh gorengan e wis mateeng.." ibuku dengan kalem meletakkan sepiring pisang goreng diatas meja di antara kami.


Kami menyudahi perdebatan kami dan duduk kalem lagi. Pak Sebastian kembali mengunyah nasi uduknya, aku fokus ke gorengan.


"Pagi-pagi uwis rame yooo, aku yo sueneng kalo pada sowan neng kene. Soal e Dimas karo Bram ra pernah berantem, dadine lebih sering sepi. hehehe." ibuku cengengesan.


Aku mendengus.


Ibuku ini... Apa selama ini dia kesepian?


Yah aku sama Bram memang jarang pulang sih kalau lagi banyak kerjaan dikantor. Tapi beliau tidak pernah mengeluh, jadi kami pikir dia baik-baik saja. Aku melirik Bram yang sedang ada diujung dapur lagi menggoreng pisang. Ia juga sedang menatapku.


Kami berdua langsung merasa bersalah.


"Sebentar lagi kan ada Selena, terus ada cucu-cucu, bu! Sudah nggak sepi lagi!" sahut Pak Farid ceria.


"Dan ada kami! Kita akan sering ke sini! Iya kan Yan!?" sahut Pak Adara.


Pak Sebastian sedang mengelus janggutnya sambil memicingkan mata. Ia menyisir seluruh ruangan.


"Boss, jangan berpikiran mau renov ini itu buat club eksekutif ya, jangan ada tindakan absurd yang ekstrim, pertahankan keotentikan Rumah Bu Lastri," aku melempar remahan pisang goreng padanya.


Ia menatapku dengan pandangan 'kenapa dia bisa tahu' khasnya.


Lalu terdengar salam dari ruang tamu.


The Ladies coming.


Didahului dengan Milady yang masuk ke ruang makan dengan anggun dan membuat kami mendesah merasa damai.


"Ayah, nanti siang kita fitting yah, penerima tamu. Sudah jadi bajunya, tuh," kata Milady ke Pak Malik. Lalu dia menghampiriku dan mencium dahiku. Serta menyomot pisang goreng sisaku dan duduk di pangkuanku.


Yah dia dulu sering melakukan hal itu. Juga kalau aku berkunjung ke kantor Trevor, tapi sekarang? Di depan suaminya? Kelihatan banget kalau...


"Penganten baru udah berantem aja," godaku, merasa senang melihat wajah muram Pak Sebastian.


"Dia lagi ngidam," Dalih Pak Sebastian.


"Ini nggak ada hubungannya dengan ngidamku, tingkah kamu saja yang menyebalkan," sahut Milady.


"Setuju," timpalku.


Meilinda masuk bareng Selena sambil membawa beberapa pakaian.


"Untuk ibu sudah jadi nih. Dicoba yah bu," kata Meilinda sambil menyerahkan beberapa stel brokat ke ibuku. Mata ibuku kelihatan berkilauan dan antusias.


"Woh.. Apik tenan iki nduuuk! Tak coba yo!!" ia bergegas masuk kamar.


"Kamu mau berangkat jam berapa sayang?" tanya Meli padaku.


Hm...


Dia pakai setelan yang sering ada di ulasan haute couture.


Seksi, Cantik, Elegan.


Membuatku jadi...


"Astaga." dengus Milady sambil beranjak bangun dan menghampiri Meilinda. Lalu mendorong kesayanganku supaya dekat-dekat denganku. Yah jelas saja dia langsung berdiri, karena duduk di pangkuanku yah pasti terasa kalau pagi-pagi aku merasa berhasrat disuguhi pemandangan secantik Meilinda.


Aku nggak berani bangun dari dudukku, karena hanya memakai boxer. Meilinda hanya tersenyum dikulum menatapku, dia sepertinya senang melihatku kerepotan.


Tamparan mendadak menyambar punggungku. Selena menslapetku pakai taplak.


"Makanya, Pak Dimas... Bangun tuh pagi-pagi! Pake baju lengkap jangan kayak Bolang begini, sarapan bergizi jangan nyomot gorengan dulu, rejeki bisa dicaplok ayam kalo bangun siang!" Malampir melengkapi kegalauanku pagi ini. Ia menghampiri Pak Farid dan mencium tangan ayahnya.


"Sampe kapan lo mau manggil gue pake sebutan Pak?" dengusku sambil mengelus punggungku yang perih.


"Gimana klo diganti jadi kampret aja?" usul Pak Sebastian sambil menyeringai licik.


"Boleh juga," sahut Selena.


"Ya ampun, bahkan malampir juga di-likuidasi sama genderuwo, " sungutku, merasa mereka bekerjasama untuk membullyku.


Selena terkekeh.


"Nanti gue ganti panggilan kalau elo resign, oke?!" sahutnya.


"Mau sampe kapan itu? gue resign 28 tahun lagi kali! Pensiun lah," sungutku.


"Loh. Aku nggak mau resign loh." timpal Meilinda. Kami berdua terdiam dan saling menatap. Bukan saling menatap seperti di film-film romantis, kalau ini menatap yang ada percikat kilatnya.


"Salah satu dari kita harus ada yang resign, peraturan perusahaan. Aku nggak bisa resign, aku punya saham disitu. Paling aku jadi komisaris,"


"Ya kamu kan bisa jadi komisaris independent, aku nggak mau resign, aku dapet kerjaan itu pake jungkir balik, masa aku mau lepas gara-gara nikah?!"Aku nggak mau kalah.


"Dimas, kamu kan bisa masuk ke anak usaha lain!" kata Meilinda.


"Posisi kamu kan istri, jadi habis nikah kamu kerja ato Nggak, semua atas ridho aku."


"Loh, nggak bisa gitu dong! Gaji aku lebih bisa menutupi tagihan listrik, air, asuransi kesehatan, gaji pembantu dan lainnya. Kalau aku resign, kita bakal melarat!"


"Mel, kita kan sudah sepakat dari awal kalau apa pun yang terjadi kamu ikut aku. Ini yang aku takutin dari awal soal menikah! Kamunya kan yang mau tetap maju!"


"Ya kita udah saling suka, nggak ingin kehilangan, ya harus di sahkan daripada nanti jadi fitnah akhirnya! Aku ngajak nikah juga dengan tujuan baik, tapi aku nggak mau diatur-atur kamu! Aku maunya jalan berdampingan, bukan di belakang kamu terus!"


Ia berkacak pinggang menatapku.


Kami terdiam.


Sama-sama kesal.


Sama-sama nggak mau mengalah.


"Masuk kamar, sana! Diskusi berdua aja," Selena mendorong kami berdua ke kamarku.


****


Terkadang, walaupun saling menyayangi, kedua insan belum tentu saling cocok.


Diperparah dengan perbedaan umur mencolok yang terbalik macam aku.


"Maunya gimana?" tanyaku tanpa basa-basi.


"Maunya, aku tetap kerja di Bank, kamu bisa pindah ke retail atau otomotif atau e-commerce, terserah kamu, yang jelas salah satu dari kita jangan sekantor,"


Aku mengenakan kaos oblong putihku, celana jeansku, sepatu kanvas semata kaki, dan jaket Balenciaga hibah dari Mas Bram.


"Kamu yang resign. Titik. No Debat," sahutku pendek.


"Dimas! Pernikahan kita dua minggu lagi, sudah bukan waktunya keras kepala dan kekanak-kanakan!" omel Meilinda.


Aku menatapnya dingin sambil meraih dompetku, memeriksa isinya lalu beranjak keluar kamar. Terjawab sudah kenapa pagi ini aku badmood, ternyata mau ada kejadian.


"Kamu yang bilang sendiri mau ikut aku. Ini yang aku kuatirkan dari awal, jelas sekarang terbukti kan? Kamu nggak bisa hidup sama aku kalau masalah begini saja kamu nggak setuju sama aku. Istri ikut suami, kamu bikin harta gono-gini silahkan tapi untuk hidup sehari-harinya, kamu ikut aku, atau kita nggak jadi nikah." sahutku tegas.


Aku keluar kamar sambil uring-uringan. Rencananya mau tetap fitting baju biar panitia event organizernya nggak bawel terus-terusan.


"Dimas!!" seru Meilinda protes. Ia tidak beranjak dari posisinya semula.


"Ikut ato kutinggal?" sahutku cuek.


Dia hanya menggeram sambil akhirnya mengikutiku menuju mobil.


Sepanjang perjalanan sampai fitting baju selesai, aku dan Meilinda saling diam.


Matanya terlihat berkaca-kaca.


Akhirnya sorenya, saat perjalanan pulang, setelah setengah jam kudiamkan, aku balik arah nggak jadi pulang tapi ke salah satu mall terdekat di Jakarta Selatan.


Nggak tega juga soalnya.


Dan setelah parkir, aku meraih tangannya dan kugenggam.


"Maaf, sayang... Bukan maksudku merendahkan martabat kamu sebagai wanita," sahutku. "Tapi aku hanya ingin menjadi suami tanpa dihantui bayangan Bataragunadi. Sepanjang kamu masih bekerja di sana memakai saham keluarga kamu, aku akan seumur hidup diatur sama kakak kamu. Aku nggak suka hal itu. Aku juga punya harga diri."


Ia terdiam.


Lalu air matanya jatuh.


Dan ia menarik napas panjang.


"Oke kalau itu maksud kamu... Aku akan resign dan jadi komisaris independent. Tapi kamu juga harus keluar dari sana. Kita sama-sama melepas diri."


Aku menatapnya.


Lalu aku berpikir.


Menimbang.


Membayangkan masa depanku.


Kalau aku keluar dari sana aku kerja di mana? Belum tentu loh ada kantor yang mau menerima kecharminganku apa adanya.


Dan lalu aku menyerah. Karena perutku lapar. Tadi pagi kan cuma makan pisang goreng!


Memangnya harus mikir sekarang yah?!


Sudahlah makan dulu.


"Laper. Mikir sambil jalan aja," sahutku. Ia menyeringai.


Lalu aku menciumnya.


Dia menyambut baik ciumanku dengan membuka mulutnya dan menautkan lidahnya ke lidahku.


Dan jemarinya mengelus kejan tanan ku.


Di parkiran.


Aku menjauhkan bibirku dan berbisik. "Sebelum aku lepas kendali, kita keluar dulu dari Mobil, oke?!" desisku. Ia mendesah kecewa tapi mengangguk. Kayaknya dia juga udah nggak tahan jadi saatnya untuk berhenti.