
Saat aku memasuki ruang rias entah bagaimana suasana langsung heboh. Lebih heboh daripada waktu aku fitting baju.
"OMG! OMG! OMG! Yang ini jauh lebih ganteng, Bo!!"
"Ya Ampun eike jadi gemetaran!!"
"Aduh gimana nih?! eike nggak tau gimana cara ngerias bidadara!"
mbuh...
Golongan tulang lunak lagi pada bawel...
Tapi aku sedang dalam suasana hati yang tidak menentu. Mood ku naik turun.
Meilinda ada di ruang rias sebelah, dan di ruang rias yang ini lebih banyak laki-laki, kecuali Selena nyempil meladeniku extra ngomel kayak dia adalah ibu mertuaku.
Eh, ngomong-ngomong... Aku punya ibu mertua nggak sih?
"Nih kopi! Extra gingseng biar situ melek semaleman!" omel Selena.
Aku memperhatikannya mondar-mandir sambil mengernyit.
"Mal..."
"Saya bukan malampir!"
"Rong,"
"Bukan Nyi Blorong juga!"
"Rang,"
"Apa tuh? Semut Rang-rang?!"
"Roro Jongrang,"
Dia tampak berpikir, lalu mengangkat bahu.
"Yah, yang itu boleh juga lah,"
"Pas udah jadi batu." Tambahku.
"Mau disantet pak?!"
Aku mendengus.
Semua bilang aku butuh tidur, tapi sepertinya mereka lupa kalau aku diurusi Selena, jangankan tidur, bernapas aja diprotes.
"Cuma mau bilang, hari ini lo lagi cantik." sahutku sambil membuka kacamata hitamku dan menyalakan rokokku.
Dia terdiam.
Lalu menatapku dengan menghela napas dan berkacak pinggang.
"Mau dipijetin?" tanyanya, mencoba sabar menghadapiku.
Aku menepok bahuku.
Baguslah kalo dia ngerti kodeku.
Seorang pria dengan peci hitam dan pakaian batik masuk ke ruang rias, aku langsung berdiri dan menjabat tangannya. Dia penghulu yang akan menikahkanku, aku beberapa kali bertemu dengannya sewaktu mengurusi administrasi.
"Nanti jangan salah nyebutin kabul looh," candanya.
Aku diam.
"Pak Fuqoha..." kataku. Lalu aku berbisik. "Bacaannya kayak gimana?"
Dia melotot padaku.
"Gimana sih mas?! Salah 3x batal nikah loh sampeyan!"
Aku menatapnya. Rasanya lidahku jadi kelu dan jantungku berdebar kencang.
"Nggak ada contekan pak?" aku menawar.
"Bisa! Buruan tulis! Walah Maas Maas! Saya kok bisa lupa mengingatkan kamu yah! Saya pikir kamu sudah tahu sendiri!"
"Saya kan baru kali ini nikah pak. Mana saya tahu!" dengusku.
"Ah, masa?!" Ujar Pak Fuqoha.
Dia bercanda ato enggak yah?!
Setelah dia menuliskan kata-kata 'saya terima nikahnya bla bla bla', aku menghapalkannya. Jangan remehkan kemampuan menghapalku dalam keadaan kepepet, udah pasti ala mahasiswa banget.
"Nah, sekarang saksinya siapa?" tanya Pak Fuqoha lagi.
Aku diam lagi.
Lalu menyeringai penuh arti.
"Mas... Niat nikah nggak sih?!" omel Pak Fuqoha.
Aku membuang muka sambil mencibir masam.
"Saksinya saya..." Pak Sebastian dan Trevor masuk ke ruangan. "... Dan anak saya."
"Walah walah MasyaAllah, Sekeluarga memang ganteng-ganteng semua yah. Saya serasa ada di khayangan." Pak Fuqoha menatap kami semua bergantian. Semua di ruangan itu juga diam.
Memangnya dia sudah tahu khayangan kayak apa?
Mungkin tahu kali, ya.
Mungkin dia pernah mati suri.
Mungkin, loh...
**
"Trev, Pak Hans didampingi siapa nanti di pelaminan?" bisikku sambil menarik-narik jasnya Trevor.
"Nenek gue." jawab Trevor.
"Nenek lo masih hidup?!"
"Tuh di ruang sebelah bareng tante Meli dia dateng dari jam 5 pagi loh," Katanya. Sejenak ia diam Lalu Trevor menatapku. "Lo tuh beneran orang paling ancur yang pernah gue kenal. Berani banget lo maju tanpa rencana, sumpah nyebelin!" umpatnya.
"Gue disini kan cuma aktor. Sutradaranya bokap lu! Kalo gue mah yang penting sah!" desisku.
Kami berempat duduk berhadap-hadapan di meja di tengah ruangan, menunggu pengantin perempuan di kursi kosong sebelahku.
Sesak...
Penontonnya ramai banget.
Aku duduk menyender berusaha santai sementara Pak Fuqoha dan Pak Sebastian mengobrol mengenai kasus korupsi yang lagi booming.
Lalu dari kejauhan terlihat tiga orang sosok wanita memasuki Aula hotel.
Astaga...
Meilinda cantik sekali.
Dan napasku jadi sesak.
Aku harus mengurangi merokok mulai sekarang...
Kalau setiap hari dia berpenampilan secantik itu sudah pasti aku akan sering deg-degan.
Rokok adalah salah satu pemicu penyakit jantung.
Nggak nyambung?!
Biarin aja...
**
Perlahan tapi pasti bayangan masa lalu mulai berbaris di otakku.
Apalagi saat kami saling bertatapan dan ia tersenyum padaku dari kejauhan.
Rasanya wajahku jadi panas...
Aku melonggarkan kerahku, berusaha menarik napas menenangkan diri.
Lalu sekelebat bayangan masa lalu kembali muncul.
Saat kami pertama berjumpa.
Saat tragedi di Villa Putri.
Saat aku menjahilinya di ruang meeting dengan Birkin 700juta.
Saat aku menciumnya pertama kali di lobi hotel.
Saat dia merajuk padaku pertama kali dengan bilang : "saya cantik nggak sih?!"
Lalu saat kami berciuman yang kedua kalinya di dalam garasi rumah. Mungkin saat itu aku sudah mulai jatuh cinta padanya.
Lalu saat pertama kali kami mulai menjelajahi tubuh masing-masing...
Lalu aku teringat saat kami putus.
Aku benar-benar memaki diriku yang berbuat bodoh saat itu.
Wajah menangis Meilinda...
Aku bersumpah tidak akan mau melihat raut macam begitu lagi di wajahnya.
Meilinda harus selalu tersenyum saat bersamaku.
Tersenyum seperti saat ini.
Jangan nangis jangan nangis jangan nangis!
Dasar Dimas cemen...
**
"Hei..." sapanya. Matanya terlihat berbinar. Lalu ia mengangkat bahunya. Kebaya putih yang melekat sangat indah di tubuhnya.
"Gimana? Cocok?" tanyanya.
Aku tidak menjawabnya. Lidahku terasa kelu.
Sekedar kata-kata tidak cukup untuk menggambarkan betapa terharunya aku.
Aku meraih kedua tangannya dan mengecupnya perlahan.
Aku bisa mendengar keriuhan langsung membahana di sekitar aula. Tapi aku tidak peduli.
Aku yang sekarang benar-benar bisa bersimpuh dikakinya kalau ia memintaku.
Lalu sebuah kata-kata melintas di benakku. Dulu saat aku mendengarnya aku langsung terbahak karena menganggapnya candaan, tidak nyata dan naif.
Tapi entah bagaimana puisi itu selalu terbayang di benakku, karangan seorang pujangga dunia yang terkenal.
"Cinta membuka mataku dengan keindahannya, dan membeli jiwaku dengan kehangatan jemarinya."
Aku bisa mendengar Pak Sebastian mengerang mengejekku dari belakang. Aku tidak peduli.
Ini pernikahanku, aku bebas melakukan apa pun yang kusuka.
Kalau aku seterusnya dibilang menye-menye juga aku tak peduli.
Dan setitik air mata turun dari kelopak mata Meilinda.
"Itu indah sekali. Terimakasih..." gumamnya sambil menghapus air matanya dengan hati-hati.
Lalu aku membimbingnya ke arah kursi kosong di sebelahku.
**
Seorang wanita dengan paras luar biasa cantik mendekatiku.
Wajahnya sangat mirip dengan Meilinda.
Ia berbisik dengan bahasa Turki padaku.
"En sevdiğim kızımı sana emanet ediyorum. Ama ondan sıkıldığında onu incitme. Onu bana geri ver." (Aku titipkan anak perempuan kesayanganku padamu. Tapi apabila kamu mulai bosan dengannya, jangan menyakitinya. Kembalikan saja dia padaku.)
Sial...
Kata-kata yang sangat penuh makna.
Ibu Meilinda beralih ke Pak Hans dan memeluk beliau.
Mereka sudah bercerai sekitar 40 tahun lalu katanya. Pernikahan mereka tidak pernah disetujui oleh keluarga besar mereka, karena Pak Hans bukan dari keturunan bangsawan. Saat mereka bercerai, Meilinda baru berumur 4 tahun. Karena tekanan demi tekanan semakin gencar, demi keamanan anak-anaknya, ibu Meilinda memilih mundur dan kembali ke Turki.
Pak Sebastian sering ke Turki, berbisnis dengan Farid Al Farouq, sekaligus mengunjungi ibunya. Terlihat dari pandangan mata, Pak Hans dan mantan istrinya masih saling mencintai.
Di pernikahan pertama Meilinda, ibunya tidak datang.
Kini katanya, suaminya sudah meninggal. Jadi dia bisa menghadiri pernikahan Meilinda.
Tapi aku merasa, kisah cinta mamang tukang kebun dan putri bangsawan masih akan berlanjut...
Lalu wanita di sebelah Meilinda, Milady, meraihku dan mencium kedua pipiku, lalu memelukku.
"I'm so happy for you." Bisik Milady.
"Akhirnya punya kakak perempuan." balasku.
Tapi kami tidak lama berpelukan karena Pak Sebastian langsung menariknya menjauhiku.
Ceile, Sensitif amat...
“Awas kalau anak saya tampangnya mirip kamu! Ketularan Boyo nanti!” omelnya padaku.
Ya kalau anaknya mirip aku, kan jadi mencurigakan loh.
**