Office Hour

Office Hour
Vila Vampir (3)



Ya pasti berangkat laaaaaaahhhh!


Kan seru!


Prinsip cowok : "WALOPUN TAKUT SETENGAH MATI, JANGAN NGAKU ! HADEPIN!"


Kalo nggak sanggup, ya lari aja dari kenyataan.


eh, tapi aku mau punya anak...


Gimana Meli kalo sampai kutinggal tersesat?


Jadi, aku nelp Lionel.


"Bro." aku meloud speaker panggilanku biar yang lain denger.


"Yep?" sapanya.


"Gue lagi siap-siap mau hiking, buka jalan ke vila lo."


"Ngapain buka jalan? Sekarang kan ada jalanannya, trotoar pula. Apalagi ini lagi terang bulan, udah ngesot aja pasti nyampe lah. Apa perlu gue charterin helikopter biar nyampe kesono instan? Kayak lo punya hasil fit n proper test, 2 minggu keluar hasilnya padahal yang lain bisa hampir sebulan, instan?!"


"Dih. Bahas-bahas fit n proper. Emang udah jodoh gue jadi budak cinta Mamas Yayan jadinya cepet keluar hasilnya kali!"


"Gue sampe sekarang masih penasaran loh apa yang OJK tanyain ke elo sampe lo cepet keluar hasilnya."


Oh jadi Lionel diem-diem curiga nih?!


Ceile berasa jadi seleb gue dinyinyirin.


(Fit And Proper Test adalah wawancara kelayakan dan kepatutan yang diadakan oleh OJK untuk menilai apakah seseorang layak dan memiliki integritas menjadi pejabat Bank. Ini penting banget karena tugas kami menghimpun dana masyarakat.)


"Kalo gue ga nyampe-nyampe sampe tengah malem, lo kirim heli buat cari gue, sapa tau gue nyangsang di Parang Tritis." sahutku.


"Nggak sekalian nyasar ke Bali? Jauhan dikit, Liburan namanya,” terdengar Vampir menggerutu. “Lagian kalau lo hilang gue juga yang rugi, gue ogah jadi Dirut lagi. Gue hubungin yang jaga Vila biar nungguin lo dateng, oke?"


“Yang jaga Villa namanya siapa?”


“Aki Tirem namanya,”


Dia menutup telponnya.


Aki Tirem...


Kayak pernah denger nama itu.


Aku menatap semuanya.


"Gitu katanya." kataku. "Eh, bentar..." desisku merasa ada yang lupa.


"Apa lagi bedul?" tanya Leon.


Aku berpikir.


"Tadi doi ngomong nggak sih yang jaga Vilanya... Orang ato siluman?" tanyaku.


Leon diam tidak menjawabku.


Tidak ada yang menjawabku.


Semua diam.


Aku merinding.


**


Leon memasukkan koper kami satu per satu ke bagasi Hummernya, lalu duduk di belakang.


Aku...


Protes lah!


"Kenapa lo teken tempet duduk di belakaaaangggg!!" seruku nggak mau kalah.


"Ya kan lo yang nyetir! Gue kan udah siap-siapin koper tuhh!!" balasnya.


"Siapa bilang gue mau nyetir?! Lo pikir ke Wonosobo cuma sejam dua jam?!" aku juga nggak mau kalah.


Males jadi supir.


"Bodooooo." desisnya sambil tarik topi ke bawah, "Kan elo yang punya hajat!" Dia siap-siap tidur.


"Njiiir..." sahutku sambil... ambil tempat di sebelahnya.


Tarik hoodie,


Ikutan Bobo Manis.


"Laaaah, Pada kayak anak kecil," Aku masih bisa mendengar keluhan Andrew. "Setir Fen..." perintahnya.


"Hah? Eike?!" jerit Fendi.


"Berisik." dengusku.


"Mas ganteng! Gueeee disuruh nyetir!" sahutnya dengan gaya kemayu.


"Iya, lo sasarin juga gue ga sadar, hidup kita di tangan lo lah." desisku.


"Hidup lo semua ada di tangan gue... keren juga! Oke lah gue yang nyetir. Cuma ke Wonosobo ini kan?!"


Sejam kemudian...


"Udah sampe mana?" Aku kebangun.


"Baru juga Cikampek!" sahut Fendi.


Aku tidur lagi.


Dua jam kemudian...


"Udah sampe mana?"


"Baru juga sampe Cirebon..." desis Andrew, dia udah ganti posisi sama Fendi.


"Cuy lo bobo lama amat kayak mati!" seru Daniel.


Ngiung ngiung ngiung...


Suaranya macam ambulan ke telinga.


Pengang.


"Makan nasi jamblang dulu yaaaa dari tadi gue cuma makan angin!" rengeknya.


Aku menguap sambil membuka hoodieku.


"Hm..." Jawabku tanda persetujuan.


Terdengar Leon ngorok di sebelahku. Udah nggak tidur berapa hari dia pules kayak supir truk!


"Bro, kalo gitu sekalian mampir ke Nasabah mumpung dah sampe Cirebon."


"Woi!! Ini tuh weekend! Holiday! Vacation!! Lo malah kerja!!" Daniel Jejeritan.


Pingin kusumpel mulutnya pake gorengan.


"Ini tuh kerja lembur, kan buat tugas kantor, nyari lokasi buat Gathering," aku menggosok-gosok telingaku.


Nggak Meli, Nggak Mak Lampir... sekarang Daniel. Mulutnya macam toa! Lama-lama telingaku masuk IGD.


"Kenapa sih Gathering nggak yang deket-deket aja kayak di Bogor ato Bandung?! Perjalanan macam begini kan nggak cocok buat acara kantor loh Mas. Lo pikir hari Seninnya nggak pada kerja?!" Sahut Andrew.


"Ntar sekitar dua bulan lagi ada libur 4 hari. Sabtu Minggu buat gathering, jadi leyeh-leyeh Senin Selasa. Gitu sih rencananya. Nah berangkatnya ya naik kereta, lah. Nanti sampe Purwokerto baru pada gue charterin Bis buat ke lokasi. " Aku mengutak-atik ponselku mencari jadwal yang sudah disusun manajemen dan Event Organizer.


Aku juga menambahkan "Acara Puncak cuma ada di hari pertama, sisanya leyeh-leyeh. Pak Danu mau bikin lomba mancing, kalo memang kita setuju Gathering di sana, dia bakal bikin kolam ikan buat lomba. Hadiahnya..."


Aku tertegun saat membaca keterangannya.


"Buset! Nggak salah ketik nih?!" gumamku.


"Hadiahnya appaaa??" Toa Daniel kembali beraksi. Karena kasihan sama panca inderaku, jadi aku segera melanjutkan membaca.


"Segramnya dihargai 20 juta,"


Mobil ngerem mendadak.


Ckitttt!!


"Lo Serius?!" seru Andrew, Daniel dan Fendi berbarengan.


"Ndrew, kita di jalan raya, bahaya!" AKu deg-degan sumpah, gila aja dia ngerem di tengah jalan gara-gara segram dua puluh juta.


"Oh iya..." Andrew menekan pedal gas lagi, tapi mobil akhirnya dia pinggirkan, neduh di depan sawah. "Lanjut bacain!"


"Sumpah berisik banget..." Gumam Leon.


Kami diam.


Raja Hutan udah kebangun.


"Mau pada cari mati yah," gerutunya.


Kami masih diam.


Leon merogoh Jaket Armynya.


Memeriksa kilauan beceng, type Tokarev 1933 dengan grafir ukiran etnik,


Memeriksa ketersediaan peluru,


Menyelipkannya lagi,


Cari kopi di sela-sela pintu.


Menyesap dalam-dalam dari tumblernya.


Tarik napas...


Tersenyum lega.


"Lagi pada ngomongin apa sih?" Pasang tampang polos.


Aku menggeser posisi dudukku sampe mepet pintu.


"Lo... kalo kebangun serem banget..." bisikku. Aku waspada penuh. Jariku otomatis mengetik 110 namun belum aku call.


"Masa sih?!" desis Leon. Ia tampak terkejut. Tampangnya beneran polos. "Memang gue salah apa lagi?"


"Lo ngapain meriksa-meriksa selipan?"


Dia tertegun.


Dia pake mikir bentar.


"Oooh..." sahutnya sambil menyeringai. "Itu reflek, kebiasaan waktu masih kerja sama geng, hehe,"


Senyumnya manis.


Membuat kami lebih deg-degan.


"Jadi, Ada cerita apa?" katanya sambil memeriksa tas di depannya, mengaduk-aduk isinya, lalu mengeluarkan sebungkus Chiki.


Aku menghela napas, melanjutkan membaca ponselku.


Tak lupa tanganku ikut merogoh Chiki.


"Hm..." baca sambil ngunyah. "Lanjut. Ikan yang diterjunkan rencananya 5ribu ekor... luas kolam, buset detail banget, seukuran kolam renang standar, dalamnya dua meter. Ah! Ini sih bakalan dapet!! Gurame pula!!" seruku kesenengan.


"Dapet 10 ekor aja langsung bisa buka usaha londri, gue!" sahut Andrew tertawa.


"Ini sih buang-buang duit namanya! Dasar konglomerat... Bersyukurlah gue jadi karyawan Garnet!" seru Daniel.


"Nggak ada gunanya kalo lomba kayak gitu tapi vilanya penuh setan. Namanya kesenangan sesaat." desis Leon.


Aku berdecak.


Bikin mood langsung turun aja deh.


Aku merogoh kantong Chikinya lagi.


Lalu aku menggelinjang.


"Ndrew, pingin pipis." Desisku.


"Pom bensin udah lewat," sahut Andrew. "Kita udah dua kali berhenti di Rest Area, elonya molor mulu. Pake ngigo nyebut-nyebut nama Bu Meli pula," dia menggerutu.


"Gue nggak level pipis di Pom," kataku, berusaha mengindahkan kenyataan kalo aku ngigoin Meli pas bobo, mudah-mudahan yang keluar dari mulutku bukan *******.


"Emang selevel elo mau pipis di mana?"


"Gue level pipis di botol."


"Kacrut..."


Andrew kembali menjalankan mobilnya. "Tahan sampe pom bensin berikutnya!" kata Andrew.


"Gue juga pingin..." Leon kembali merogoh tasnya.


Kali ini dia mengeluarkan Pocky.


"Level lo pipis di pom bensin juga?!" tanyaku.


"Gue fleksible...."


"Level dia mah pipis di pohon hahahaha!!" tambahku lagi.


"Kayak Singa sesuai namanya, Hahaha!! Kucing jantan gue juga suka ncrit feromon hahahaha!!" tambah Daniel.


Lalu kami menghentikan tawa karena terdengar bunyi.


Klik...!


Pistol dikokang.


Aku berdehem.


"Bercanda doaaaang... elah!" keluhku sambil menyambar Pockynya.


"Reflek biasanya kalo ada yang nyebelin. Kecuali sama Alex, gue tahan-tahan emosi," desis Leon sambil kembali mengunci Tokarev dan menyelipkannya lagi.


"Nasabah lo di mana lokasinya?!" tanya Andrew.


Aku menshare lokasi untuk map virtual.


Nggak banyak omong lagi.


Sibuk sama Pocky.