Office Hour

Office Hour
Meeting Malam-Malam



Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam. Aku masih di kantor.


Menunggu.


Meilinda sudah kuceritakan, dan saat ini kami sedang menanti kedatangan Pak Sebastian dan Pak Arman.


Para Direksi ada di depanku, minus Pak Stephen.


Dalam kondisi begitu aku berpikir banyak hal. Kelakuan Gunawan ini memang khas manusia pengeruk harta. Kekayaan saudara sendiri saja tega ia keruk padahal keluarga Pak Sebastian sudah berbuat banyak padanya. Tipikal yang banyak terjadi di dunia bisnis. Hubungan antar keluarga bisa rusak dan sering kali memburuk sampai ke anak cucu musuhan kala menyangkut harta. Idealnya memang berbisnis dengan orang lain saja dari pada dengan saudara.


Tapi bukan itu yang kupikirkan... tapi GSA.


Ini organisasi yang unik.


Aku ingat minggu lalu Tresna dan Heksa sampai bagi-bagi martabak saat tahu mereka diterima kerja di GSA. Sekaligus Heksa merayakan diterimanya dia menjadi ASN di salah satu Kementrian yang berhubungan dengan kebijakan di bidang transportasi.


Sepertinya GSA ini menyimpan banyak rahasia. Bisa jadi Pak Arman lah yang selama ini membantu Mitha mengungkap semuanya. Kupikir tadinya itu hanya perusahaan penyalur satuan pengamanan yang didirikan Pak Sebastian untuk berhemat. Tahu kan dia itu orang yang selalu diincar terorojing.  Ya pasti pengamanannya sekompi lah. Dari pada buang-buang duit buat nyewa, mending dirikan saja perusahaan sendiri.


Saat ini kami hanya bisa menunggu mereka datang.


Kami semua tegang sampai...


"Makan dulu yah pizzanya yaaaa!" Cecilia masuk sambil bawa 3 kotak pizza.


"Ya Ampun ada dewi penolong perut!" Seru Pak Haryono lega. "Dari tadi doong! Dikit lagi gue bakalan pingsan kali!"


"Wes mangan no ben wareg. Sebentar lagi dimaki-maki sampai loyo!" sahut Pak David sambil menyambar dua potong pizza dan menggigit potongan besar.


Aku nggak nafsu makan...


Mungkin kalau yang di depanku soto betawi, ya lain lagi urusannya.


Aku menatap orang-orang di depanku makan dengan lahap, sementara aku memeluk Meilinda dari belakang dan mengecup lehernya, menenangkannya. Kalau ada sesuatu yang berhubungan dengan Gunawan Ambrose, dia jadi galau.


Tapi tetap, aku memegang kartu AS Gunawan. Jadi aku agak tenang.


Apakah Kartu AS ku?


Nanti juga tahu...


Hehe...


Lalu ada yang menarik perhatianku.


Tatapan Pak Danu ke Cecil.


Mendayu...


Lembut...


Terlena...


Nggak cocok banget, tahu nggak?!


Bikin merinding!


Dan akhirnya Cecil menghadap Pak Danu. "Aku pulang duluan ya?" sahut si Cihuahua berambut barong.


Si Vampir mengangguk pelan dan mengelus pipi makhluk fana di depannya.


Lalu Sang Vampir pun mengecup punggung tangan si barong. Co Cuwiiiit.


Kelakuan mereka ini diiringi dengan tatapan melotot semua orang di sana. Sampai-sampai Pizza di tangan Pak Haryono terjatuh ke lantai.


Mereka semua diam menatap sosok Cihuahua Barong yang berlalu, dan lalu menoleh ke arah si Vampir yang masih menatap pintu keluar dengan pandangan menerawang.


Pletak!


Potongan sossis menghujani Pak Danu.


"Si Bang- sat! Beneran dia isep darah perawan!!" Seru Pak Haryono ke Pak Danu.


"Kenapa ini semuanya cinta lokasi hah?! Sejak kapan Garnet Bank jadi tempat perjodohan?!? Aku harus sortir bener-bener karyawan yang ngelamar!!" Pak David histeris.


"Ini salah si Kunyuk ini! Yang masukin lolita ke sini tuh dia!!" Pak Haryono menunjukku.


Aku terbahak mendengar julukannya untuk Cecil.


Lolita... tampangnya doang. Umurnya kan udah mateng!


"Cepetan telen pizzanya, Big Boss di lobi." sahut Pak Danu menatap ponselnya sambil memicingkan mata vampirnya.


Mereka langsung buru-buru melahap semua potongan yang terdekat dari tangan mereka.


**


Pak Sebastian menghampiri kami dengan wajah lebih tegang dari biasanya. Kali ini tampak sekali kemarahan yang tertahan di raut wajahnya.


Dan Pak Arman.


Langsung sigap tepat terencana fokus menuju meja di depan kami dan menyambar satu-satunya pizza yang tersisa.


Sat Set Sat Set gerakannya.


“Lumayan, saya laper banget loh, capek habis ngurusin hidupnya si Boss yang ribet,” gumamnya sambil menggigit sepotong.


Eh, baru kali ini aku melihatnya sompral. Ternyata Pak Arman manusia biasa ya.


“Tutup pintunya, saya mau bicara serius,” desis Pak Sebastian sambil duduk di sofa dan mengenakan kacamata bacanya.


**


Kami sekarang berkumpul di ruangan Pak Danu yang ditutup rapat.


"Informasi dari Dimas benar adanya." Kata Pak Sebastian. "Saya menerjunkan beberapa tim untuk menginvestigasi masalah ini, dan beberapa pengacara dari Rusia dan Indonesia. Semua karyawan untuk proyek tambang berlian kami rumahkan sampai batas waktu yang tidak ditentukan untuk direview ulang terkait indikasi kerja sama untuk penipuan. Saat ini mining dalam keadaan dijaga oleh intel federasi Rusia." Pak Sebastian duduk di kursi kulit milik Pak Danu. Kami semua mendengarkan dengan seksama.


"Tadi pagi mereka kesini memperkenalkan diri. Gunawan bilang semua status sudah legal sesuai dengan kebijakan pemerintah. Dan mereka menunjukan surat kuasa dari Garnet Grup." Kata Lionel, eh, Pak Danu.


Akhirnya semua jadi tahu nama panggilan kesayangannya kan...


"Saya ataupun Ayah saya tidak pernah menandatangani surat kuasa untuk agen dengan nama itu. Kecuali Gunawaan sendiri yang tandatangan. Tidak ada yang memeriksa ke-Autentik-kannya." Kata Pak Sebastian.


"Mereka mengejar waktu sampai minggu ini untuk memenangkan tender."


"Kami sudah melakukan pengecekan ke instansi terkait, tender untuk proyek itu sudah dimenangkan oleh Beaufort Property tadi sore. Bukan kita ataupun Johan's Co. Dan tidak ada pendaftaran dengan nama itu." Kata Pak Arman.


Kami semua terdiam.


Semua waspada.


Apakah perusahaan milik Gunawan fiktif?


Ataukah itu hanya pengalihan isu untuk sesuatu yang lebih besar?


Apakah semua ini digunakan Gunawan untuk memberi kode ke kami agar kehidupannya tidak diganggu?


Apakah aku bisa... Merokok di beranda sebatang aja sekarang?


Sepet banget nih mulut.


Tegang melulu soalnya dari pagi.


Yang bener aja, aku nggak daftar jadi tentara yang tiap menitnya harus berkutat dengan ketegangan.


Aku cuma pegawai Bank gitu looooh...


Kerja bawaannya tertekan gaji nggak naik kan wasting time banget...


Dan lagi, buat apa sih kita ikutan?! Itu kan urusan manajemen, akuini hanya staff biasa loh!


Ah, emang dasar Pak Sebastian pingin ngomel aja. Tarik tuh si Stephen kampret buat dimaki-maki sepuasnya!


"Jadi... Saya mohon maaf telah menyusahkan kalian semua, tolong hold semua proposal dari Johan's Company." sahut Pak Sebastian akhirnya.


Nah, gitu dong!


Kami mengangguk menandakan kalau kami mematuhi perintahnya. Tapi aku tetap nggak bisa pergi karena genderuwo memberi kode supaya aku dan Meilinda mengikutinya ke ruangan Meilinda.


Nah, kali ini aku beneran merinding kayak mau sidang skripsi. Soalnya aku punya feeling, yang selanjutnya nggak akan ngomongin kerjaan tapi lebih ke hal pribadi.


Jadi dengan langkah gontai seperti nggak berotot, aku mengikuti Pak Sebastian.


*****


"Besok kalian ke kantor saya untuk ketemu Gunawan." sahut Pak Sebastian.


"Maksudnya, kak?" Meilinda tampak sewot.


Aku melirik Pak Arman. Kartu AS ku...


Pak Arman mengerling padaku.


Anjir dia ganteng banget, aku jadi deg-degan!!


Tobat Maaas, Tobaaat!


Lalu aku kembali fokus ke Pak Sebastian. Raut wajah pria itu... Seperti campuran antara marah dan sedih.


Ia tidak menjawab Meilinda, namun hanya menyerahkan ponselnya untuk dilihat oleh kesayanganku.


Aku memperhatikan Meilinda tampak pucat saat melihat tayangan di dalamnya, jemari lentiknya menutupi mulutnya yang ternganga kaget.


Aku pun mengintip ke ponsel Pak Sebastian dan mendengus.


Benar kan apa yang kutakutkan dari awal... Gunawan bukan pria yang polos. Hal penting seperti itu pasti ia simpan di harddisk eksternal untuk digunakan sebagai ancaman atau mengeruk keuntungan suatu saat saat dibutuhkan.


Video Meilinda saat video call.


"Kakak dapat ini dari..." Kalimat Meilinda bagai tercekat, dia tak sanggup meneruskan kata-katanya. Aku langsung memeluknya memberi kekuatan.


Terbayang betapa malu dan hancurnya dia saat ini, ditelanjangi didepan orang.


Namun aku berani bertaruh, Pak Sebastain lebih sedih daripada Meilinda. Adiknya sendiri dilecehkan di depan umum.


"Saya tidak minta penjelasan kamu," Pak Sebastian menghela napas. "Tapi perlu kamu tahu, kami sudah mencari segala cara untuk meredam penyebarannya. Dimas tahu?"


Aku mengangguk, "Saya tahu dari awal, Saya sudah cek semua media sosialnya, bahkan meretas ponsel dan laptop Gunawan melalui pelacakan dan ratusan platform, namun rupanya ia simpan di hardisk eksternal."


Kami semua terdiam.


Aku mengutak atik ponselku.


"Kapan Gunawan mau datang?" tanyaku.


"Pukul 10 pagi." jawab Pak Sebastian.


"Oke. Kita hadapi. Saya mau tahu apa maunya." sahutku.


“Sebentar Pak,” desis Pak Arman sambil berjalan ke luar dan berhenti di kubikel Tresna, lalu mengambil beberapa toples kue dari sana.


“Coffe break dulu. Tenang saja, untuk acara besok kami sudah hubungi nara sumbernya kok,” Pak Arman menyeringai dan meletakkan dua toples nastar di depan kami.


“Pak, saya yang setiap hari di sini aja nggak tahu ada toples ginian di lemari Tresna!” protesku.


“Saya kan GSA,” desis Pak Arman.


Bisa jadi semua CCTV di sini sudah diretas oleh GSA.