
“Pak Dimas kalo ngomong pake english gantengnya jadi level maksimal, kalau di sini nggak ada pujaanku, pangeran kegelapan tambatan hatiku, aku pasti juga bakalan ngejar-ngejar Pak Dimas, bisa-bisa aku juga jadi penguntit! Bukannya nggak ngerti perasaan cewek-cewek cakep tadi ya pak, eh dia pake Birkin 3 miliar loh, itu yang pake dress hitam yang dadanya gede, cuantik kayak wonder woman, kalah Gal Gadot!" sahut Cecilia tanpa bernapas.
"Cewek-cewek di sekitar Pak Dimas semuanya cantik dan kayaraya, emang tipenya yang begitu ato cuma takdir, pak? Tadi mukanya Dewi Khayangan udah kayak Suzanna yang pembalasan dendam Nyi Blorong! Angker-surangker! Kalo dia bisa semua orang di sini udah bakalan disembur kali pake api dari mulutnya. Bapak ototnya spektakuler yah sehari bisa fitnes berapa jam pak? Pake alat yang mana? Kalo mbak seleb udah balik pasti dia bakalan ngomel-ngomelin Pak Dimas nih! Mudah mudahan kalau terjadi aku ada di...wwwwoooooowww.... Gilaaaa..... "
Aku mendengarkan Cecil bicara sambil membuka sisa-sisa pakaianku di pantry.
"Gilaaa gilaaa!! Beneran memikat ketampananmu Pak Dimaaasss. Saya jadi pingin cepet-cepet kawin jadinya!!"
"Kalo mati juga sama-sama jadi busuk..." sahutku.
"Tapi kan belum mati pak, kesempatan saya buat menikmati surga dunia. saya harus video call ibu saya buat bilang makasih," serunya dengan pandangan masih melekat ke otot perutku.
"Dimas," Meilinda masuk ke ruangan, Cecil langsung menunduk menghormat lalu berlari kecil sambil keluar dari pantry.
"Aku mau bicara, kapan ada waktu." Tanya Meilinda.
Aku mendiamkannya
Mau ngomong aja pake minta ijin, emang aku petinggi organisasi.
Hm..
Aku masih kesel, bahkan keselnya nambah level.
Jadi pingin lebih lama pura-pura ngambek.
Aku menyambar kemeja dan diam saja melewatinya sambil keluar dari pantry.
"Dimas kamu sadar sih apa yang barusan kamu lakuin ke aku? Kamu ngerti nggak perasaan aku?!" katanya sambil mengikutiku.
Aku berjalan dengan langkah lebar karena peserta sudah menungguku di ruang meeting.
“Dimas!! Aku nggak suka ya kalau tingkah kamu lari-larian kayak begitu!!” teriaknya di tengah ruangan
Penuh orang
Penuh pejabat
Penuh penonton.
Aku mendesah berat, kapan ya drama berakhir, sebentar lagi aku mungkin akan ambil cuti seminggu tidur di rumah.
Ya sudahlah, gencatan senjata dulu.
Aku kembali ke hadapannya dan menciumnya.
Aku bisa mendengar semua orang terkesiap. Beberapa bersiul.
"Aku meeting marketing dulu. Kamu baca email. Ada temuan buat divisi kepatuhan." sahutku sambil keluar dari ruangan dan menuju ke lift.
Sekarang gencatan senjata, sebentar lagi paling berantem lagi gara-gara temuan.
Yang penting bisa napas dulu.
**
Aku beneran cuti...
Cuma dibolehin dua hari sih sama Pak Danu.
Itupun karena Berita Acara sudah selesai, dan aku jarang banget ambil cuti.
Aku bertekad istirahat total, dengan aktivitas full ranjang dan kamar mandi doang.
Eh, tambah rokok dan kopi, deng!
Kemarin selesai meeting ternyata aku tidak bertemu Meilinda, mungkin dia lagi di ruangan Divisi Kepatuhan, ngomel-ngomel ke anak buahnya gara-gara email temuanku.
Aku akhirny amenghadap Pak Danu menjelaskan keributan yang terjadi sekalian minta maaf, dia malah hanya mesem-mesem. Karena Cecilia terus mengintaiku dari balik pintu ruangan Pak Danu, akhirnya aku menyerah dengan mengatakan kalimat konyol : “Saya titip Tim ya pak,” dengan tambahan : “Kalo Cecil berbuat keributan, kurung aja di loker...”
Dari pagi kegiatanku aku cuma main game online diatas tempat tidurku dari balik selimut dengan AC volume maksimal. Semua panggilan dan pesan aku freeze aps hari ini. Aku juga sudah titip pesan sama ibuku kalau ada yang nyari bilang aja aku lagi pingsan.
Sekitar sore hari saat aku bangun dari boci, bobo ciang, aku beneran masih ada di balik selimut mau lanjut mengkhayal siapa tahu ketiduran lagi, tiba-tiba benda berat menimpa tubuhku.
“Haaaai Cintaaaaaa, Gimana colay nya? Lancar seharian?”
Ck! Kenapa malah suara Ratu Pantai Selatan sih yang kudengar!
“Gue baca Ayat Kursi nih,” ancamku, masih dari balik selimut.
“Menurut prediksi saya biasanya keributan akan sering datang sebentar lagi, besar kemungkinan berita menyebar mengenai lokasi terbaru Pak Dimas bukan hanya 2-3 cewek yang akan dengar tapi bisa setiap hari mengantri cari-cari Pak Dimas. Nah, Pak Dimas butuh pengawalan nggak?”
“Butuh,”
“Berani bayar saya berapa?”
“Kontak manager gue, dia tinggal di Darmawangsa,”
Terdengar kekehan sinis Mak Lampir, lalu ia menyibak selimutku dengan sekali kibas.
“AC volume maksimal, tapi tanpa pakaian. Kayaknya perlu sedia paracetamol sebentar lagi,” Begitu analisanya. Ia berjalan ke arah lemari pakaianku lalu melemparkan boxer ke mukaku.
“Mau dengar berita mengenai wanita tersayang dirimu di kantor nggak Pak? Pasti Pak Dimas memblokir semua pesan dan telepon masuk seharian kan? Kangen ga?”
“Kangen.”
“Terus?”
“Kayak cewek lagi PMS, deh. Payah ah. Saya bawa Martabak Orion itu, nggak bangun, saya sikat.”
Aku bangun. Demi martabak.
**
Aku melihat Meilinda duduk di ruang makan.
Kenapa dia ada di sini?
Aku beneran kaget tapi berusaha menunjukkan tampang malas saat melihat Meilinda duduk di ruang makan. Tampangku beneran acak-acakan dan aku keluar kamar cuma pakai boxer kesayangan. Aku berusaha acuh dan duduk di sebelahnya.
Selena meletakkan kopi di depanku dan piring berisi potongan martabak.
Asik!
Martabak Mozarella.
Moodku langsung membaik.
Sambil memasukan Martabak ke dalam mulutku aku dari tadi berpikir kalau ada yang salah hari ini. Baru terasa kalau perutku lapar, dari tadi cuma ngopi dan ngerokok doang soalnya di kamar.
Mas Bram duduk di depanku sambil menenteng kopinya, aku melihat ke arah dapur, Selena dan ibuku sedang membuat teh sambil terkikik-kikik.
Meilinda diam saja sambil memeriksa ponselnya.
Hm...
Gambaran keluarga yang harmonis. Semua orang berkumpul.
Eh? Loh?
“Ngapain lo di sini, Kampret!!” Seruku ke Selena.
Selena mencibir sambil menjulurkan lidahnya, meledekku. “Sayangku...” ia duduk di pangkuan Bram.
Plis deh kursi disebelahnya kosong begitu loh kenapa nggak duduk di situ saja? Dan lagi kenapa dia duduk di pangkuan Bram? Di depan ibuku?!
“Aku sudah sampai ngebangunin dia, nyuguhin kopi, beliin martabak, masak aku malah dibentak. Haduh adik kamu itu nggak menghargai usaha kakak iparnya,”
Bram meliriknya sambil mengernyit, tapi dia diam saja sambil menyeringai.
“Anjirrr, kakak ipar!” desisku sambil menatap Bram dengan pandangan menggoda. “Laen kali bini-mu jangan masuk kamarku, virusnya bisa bikin AC konslet!”
“Heh! Yang nggak masuk kantor seharian gara-gara kecapekan ngurusin cewek! Mingkem sana habisin martabak!” seru Selena.
Aku kali ini beneran shock.
“Asw, galak banget,” desisku mencibir. “Oh gini lo yang sebenernya, eh lo disini boleh jadi kakak ipar gue, masuk kerja habis lo!”
“Bisanya bawa-bawa jabatan, chicken!” Mak lampir nimpuk gue pakai kotak rokok.
Bungkusnya masih disegel... pengertian bener ini cewek.
“Kurang baik apa gue, coba?! Sempet-sempetnya gue inget kalo rokok lu habis! Tuh udut sampe keracunan!” dia ngomel.
Aku terkekeh.
Yang penting sajen-ku lengkap.
“Cerita dong Mas! Dari tadi senyum-senyum doang. Ini kenapa Nenek Gayung bisa di sini?!” Sahutku.
Akhirnya Masku pun mulai bercerita.
**
Selesai makan ibuku mengobrol dengan Meilinda dan Bram. Sementara aku cuci piring dan Selena membantuku melap piring gelas yang sudah bersih sambil berdiri bersandar di meja dapur.
"Seharian bininya Pak Dimas mukanya ditekuk. Pas gue ke ruangannya mau minta tandatangan temuan audit yang buat divisi kepatuhan, kepergok sama gue lagi nangis." Selena bicara padaku sambil berbisik. Dia menggunakan bahasa santai, yang malah membuatku nyaman.
"Terus?" aku tertarik dengan ceritanya.
"Tadinya gue cuekin, gue tungguin dia baca laporan kita. Tapi gue ga tega akhirnya gue tanya juga. Ternyata pas gue kaga masuk lo malah bikin sensasi. Kebiasaan." Omelnya sambil nyelepet pahaku pake lap dapur.
Aku hanya diam. Kepikiran adegan Meilinda nangis gara-gara aku.
"Maksud lo apa ngediemin dia begitu? Dia udah usaha ngebelain elo, lo nya malah bikin dia malu di depan orang, di depan saingannya pula. Lo tuh sebenernya maunya apa?!"
Aku menghela napas.
"Nggak tau lah," sahutku singkat. Aku benar-benar keracunan AC kayaknya. Otakku beku.
"Dengar ya Pak Dimas," Selena menarik daguku agar aku menatapnya. "Gue tarik dia kesini biar lo berdua ngomong. Jangan sampai ada algi hati yang tersakiti. Udah cukup lo PHP banyak cewek gara-gara sikap nggak tegas lo itu bikin semua salah paham,”
Aku membebaskan daguku dari cengkeramannya, gila tenaganya kayak samson, memang pas jadi pasangan Masku. Kalau mereka menikah mungkin kuhadiahi Ranjang dari Baja aja biar nggak gampang meleyot.
"Kalo Pak DImas ga dengerin gue, ibuk bakal bertindak! Pak Dimas tahu sendiri ibuk sayang banget sama Mbak Meli, pilih mana hah?!"
"Oh, sekarang panggilannya jadi 'Mbak' nih. Udah merger yah lo berdua. Selamat yaaa," desisku sambil menyerahkan piring terakhir padanya.
"Duh Paaaak, ngomong baek-baek. Kesabaran wanita itu ada batasnya, dan itu ga lama! Nggak usah keras kepala!"
"Kaga usah lo bilangin juga, gue bukan anak kecil. Sok tau lo..." omelku sambil cuci tangan, lalu berjalan ke arah meja makan, narik tangan Meilinda, terus masuk kamar. Kunci pintu.