Office Hour

Office Hour
Gengsi Pembawa Siksa



Maryanti adalah staff divisi kepatuhan, sudah bekerja selama 5 tahun di sana. Sempat jadi anak buahku juga, dan setahuku orangnya lumayan ceria dan friendly. Salah satu wanita yang tidak tergiur penampilanku. Entah karena ia sudah menyerah duluan atau memang seleranya berbeda. Tapi aku lumayan salut dengan hasil kerjanya yang teliti dan cekatan.


Seperti layaknya manusia normal pada umumnya, sebenarnya Maryanti ini paling takut dengan Bu Meilinda. Kalau melihat Pak Danu saja, ia paling menunduk menghindari bertatapan muka, tapi ngebanyol mah tetap jalan. Cuma mengalihkan pandangan saja.


Tapi kalau ada Bu Meilinda, dia biasanya pura-pura sibuk. Entah main solitare atau ngetik di excel tapi huruf random.


Yang begini malah kena sial, saat Divisi Audit berdiri sendiri dan di pindah ke bawah kewenangan Direktur Utama, aku pun pindah, Maryanti tetap di Kepatuhan. Di bawah langsung otorita Meilinda.


Dia sempat nangis-nangis tuh di kamar mandi waktu dengar berita ini.


Tapi belakangan, karena Meilinda sudah mulai kalem, kuharap dia bisa bernafas lega.


Dan begitulah, kami semua mengenal Maryanti. Staff kepatuhan Garnet Bank, yang saat ini didatangi Debt Collector.


Orang bank punya hutang macet sampai didatangi Debt Collector dari Bank lain.


Epic?


Tidak.


Nyatanya hal seperti ini banyak terjadi.


Dan saat kami tiba di Gedung Garnet Bank, yak! Kami langsung ke lantai atas mendahului si bapak-bapak Debt Collector untuk memberitahukan hal ini ke Maryanti.


Maryanti yang memang terbiasa membawa bekal dari rumah, saat kami ceritakan langsung melongo.


Dengan polos dia berujar, “Saya baru pinjam dana segitu sekitar dua bulan lalu. Masa sudah langsung kol 5?” tanyanya.


“Mana gue tau,” desisku. “Lo yakin dua bulan lalu?”


“Iya, Pak. Ada nih tanggalnya,”


“Screen shot aja. Kadang memang ada Bank yang nyeleneh macam begini. Di mata mereka, nasabah recehan itu bukan aset, tapi beban,”


“Karena bunga kreditnya nggak besar?”


“Ya, dibanding nasabah milyaran. Sampai ada jokes, kalau pinjam di bawah 200 juta, nasabah yang pusing. Kalau pinjam di atas 200 juta Bank yang pusing,” aku menaikkan bahuku. Ya tapi memang betul sih.


Bank-bank besar senantiasa tidak mau tahu akan nasib nasabah dengan pinjaman lebih kecil. Mereka main masukan data ke ‘Pihak Ketiga’ yaitu bagian penagihan swasta untuk menarik cicilan-cicilan dari nasabah. Perlu diketahui, kebanyakan orang yang meminjam dana segitu, biasanya memang benar-benar dari kalangan tak mampu. Yang kebanyakan memang butuh dana. Jadi dengan ancaman keras sesekali, mereka akan gentar.


Apalagi, Bank tak perlu susah-susah melakukan penagihan. Tinggal terima beres.


Justru, kalau pinjaman di atas 200 juta, Debt Collectornya biasanya adalah karyawan bank itu sendiri dan bukan pihak ketiga, biasanya pendekatannya lebih friendly. Ada tawaran solusi, ada tawaran turun bunga, ada proses restruktur dan lainnya. Karena Bank juga rugi sih kehilangan uang ratusan juta. Sebisa mungkin balik modal.


Tapi kalau sudah diserahkan ke pihak ketiga, waaaah, isinya sudah maki-makian.


Kita pasang badan aja.


Saat si DC sampai di area Lobby. Maryanti sudah pucat.


Tapi salutnya, ia tetap mencoba menghadapi mereka.


Karena Maryanti mengakui, ia memang menunggak sebulan karena belum ada dana. Dan sialnya... uang sebanyak itu digunakan untuk ‘pacaran’. Jalan-jalan, kulineran, dan tak tau kemana wujudnya.


Maryanti mencoba pendekatan dengan cara yang lebih ramah, dan dari jauh kami melihat dia mencoba berkomunikasi dengan Bapak-bapak DC.


Ya, kami berjaga-jaga di sana. Para security juga berjaga untuk melindungi teman kami sambil mondar-mandir di sekitar mereka.


Tiba saat si DC akhirnya berseru : “Ya gimana kek caranya lunasin! Sama bunganya sekalian lah! Totalnya 18 jutaan semuanya jadi! Jual diri atau gimana Kek, tuh kan banyak mobil mewah di depan, minta aja sama mereka tuh duitnya!”


Anjrit!


Sudah jelas ya SDM yang dipekerjakan tidak mengenyam pendidikan sama sekali.


Aku emosi. Aku pun maju.


Tapi belum sampai aku menghampiri Maryanti...


Meilinda sudah berada di dekat para Bapak-bapak DC dengan suara menggelegarnya, “HEH!! MULUTMU BAU SAMPAH YA!! SEKALI LAGI KAU NGOMONG KOTOR, KUGERET KAPOLRI KE SINI KUPASTIKAN KAU DAPAT HUKUMAN PENJARA ATAS TUDUHAN PERLAKUAN MENGGANGGU KETERTIBAN UMUM!! LEBIH BAIK KUSOGOK SIPIR PENJARA UNTUK SIKSAANMU DARIPADA AKU KELUAR DUIT BUAT LUNASIN HUTANG MARYANTI!!”


“Jangan ikut campur Buk! Ini dia berhutang ke kami! Jangan tiba-tiba dia merasa jadi korban terus kami yang jahat gini dong!


“Dengar Buuuu!” seruku tegas.


“SEMUANYA DENGAR KAN YA??” seru Meilinda ke semua orang di Lobby.


“Dengar Buuuuu!” seru semuanya, sampai ke pelayan-pelayan toko juga teriak ‘dengar’.


“KALAU BUTUH MAKAN NGGAK GINI CARANYA PAK!! APALAGI MENGUMBAR AIB DI DEPAN ORANG SEPERTI INI,  SEMUA ADA PASALNYA!!” Meilinda merogoh tasnya dan melemparkan dua gepok uang merah ke muka si DC dengan kencang.


“TUH 20 JUTA!! SAYA LEBIHIN BUAT KAMU SEMUA MAKAN SIANG!! MANA TANDA TERIMANYA DAN TOLONG MARYANTI, FOTO SEMUA ORANG DC SATU-SATU DENGAN UANGNYA!! PAK SEKURITI, KAWAL MARYANTI! JANGAN SAMPAI ADA LAGI DC YANG BERBUAT ONAR DI ‘GEDUNG MILIK SAYA’!!”


Kenapa tanda capital semua?


Iya, karena suaranya 6 oktaf.


Kencang sekali.


Kurasa setelah ini, Maryanti akan peluk kaki Meilinda.


**


Aku dan Maryanti ada di ruangan Meilinda sejam setelah itu. Kenapa aku ada di sana... aku digeret Maryanti. Mungkin dia pikir dengan adanya aku, kemarahan Meilinda akan mereda. Padahal sih kami kan sedang ‘break’ bukannya malah jadi makin runyam ya...


“MARYANTI!!” Seru Meilinda kesal. “Kalau mereka nggak ngomong kasar udah saya biarin aja kamu di sana! Kamu itu pegawai Bank, Kepatuhan pula! Kok bisa-bisanya malu-maluin sampai kolek 5 hah?!”


Maryanti hanya menunduk sambil gemetaran. Ia mencengkeram lenganku udah kayak mau lahiran, ekstra kukunancap di kulit.


“Mel, udah kuperiksa laporannya, Maryanti baru nunggak sebulan. Seharusnya nggak boleh dialihkan ke Pihak Ketiga dulu, pasti ada kesalahan sistem,” desisku mencoba menjelaskan.


“Ya protes dong ke Bank-nya sana!! Terlepas dari kamu butuh buat apa, dan tujuan kamu pinjam, saya tetap menyalahkan kamu! Awas kamu ngedumel ‘Bu Meli mah hidupnya udah sultan, udah enak,  nggak pernah ngerasain jadi manusia tertindas, selalu banyak uang, butuh apa-apa tinggal hubungi Pak Sebastian yang kaya raya sampai ke langit ketujuh! Ini tuh masalah disiplin! Buat individual!” dan dia ngerocos sampai sekitar setengah jam lagi.


Maryanti sampai menghela nafas panjang menahan sabar.


Hebat dia.


Aku aja udah ngantuk loh.


Udah sampai lima watt ini mataku ngederin omelan.


Sampai akhirnya tiba-tiba ruangan hening, Bu Meilinda cemberut sambil menatap jendela, dan Maryanti mulai terisak.


“Buuu...” gumam Maryanti akhirnya. Meilinda tidak menjawab panggilannya, cuma menoleh sambil tetap cemberut. Aku udah menelungkupkan kepalaku di meja sambil melirik Maryanti. “Makasih banyak buuuu, huhuuuuu!” isak Maryanti sambil menangis.


“Saya setelah ini berjanji nggak mau lagi traktir pacar saya makaaaannnn, bodo amat dia ngancem putus!”


“Udah saya duga, makanya saya omeli! Kalo kamu butuh uang untuk biaya keluarga, nggak bakalan saya maki-maki kayak gini!”


“Dia minta tas selempang Coach asli buuuu harganya 15 jutaaa hueeeee!”


“Bego,” gumamku.


“Iyaaa aku bego bangeeeet hueeee, yang didatengin DC nya aku dianya mah enak-enakan di pangkalan ojek sambil main kartu!”


“Udah sana kerja! Nanti saya hubungin teman-0teman saya buat blind date! Yang penting kamu putusin terus kerja yang bener sanaaa! AH bikin spaneng aja!”


“Saya janji akan mengabdi sepenuh hati buat Bu Meli mulai sekarang hueeee!” Dan Maryanti berdiri, lalu lari keluar ruangan sambil berikrar.


“Gue ngapain sih di sini?” keluhku sambil ikutan berdiri.


“Mas...” tiba-tiba Meilinda memanggilku. Aku menatapnya dengan kening berkerut.


Sesaat kami saling bertatapan tanpa bicara. Aku tahu yang dia akan bilang tapi aku juga seakan tidak bisa mengucapkan kalimat yang paling ingin kuutarakan.


Bahwa kami saling merindukan.


Tapi gengsi.


**