Office Hour

Office Hour
Nomor Telepon Mas Bram



Selesai menemani Selena, aku ke kantin menyusul Daniel. Disana sudah ada Fendi, Arya dan tumben-tumbenan si Bebeb.


"Gengs..." sapaku. Sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang lumayan pelik.


"Mas ngene Mas! Pelik iki Mas!” si Bebeb melambaikan tangan padaku. Ni lelaki yang biasanya kalem kenapa jadi beringas gini ya?


Bebeb pun melanjutkan ceritanya, “Aku nggak ingin tandatangan, tapi yo gimana aku itu Kadiv Kredit! Sama aja aku nggak ACC, bisa dipecat Pak Stephen! Dia maksa kreditnya Gunawan harus goal." keluh Bebeb.


"Bro,” Fendi menyenggol-nyenggol bahu Bebeb,  “Tahu nggak, pertama kali proposal itu dateng, malah ke meja gue, langsung gue tolak! Gue marketing pendanaan disuruh ngerjain kredit, katanya kalo Bebeb yang ngerjain bakalan lama! Lo tau yang dia bilang pas gue nolak tuh proposal? Katanya gue itu karyawan yang paling nggak berguna, makan gaji buta, nggak loyal sama perusahaan, dan gue didapuk jadi pengikutnya Dimas! Gileeeee!!" seru Fendi.


Aku menepuk bahu Fendi.


"Selamat, Bro... Anda juga ditolak jadi Pengikut saya! Macam gue bikin organisasi aliran sesat aje," candaku.


"Kalo gue di mutasi ke bagian lain, wah, dengan senang hati, bro..." sahut Fendi. “Gue tahu Beb, lo tuh sengaja lama-lamain karena pasti ada ‘something wrong’ kan! Makanya gue nggak ambil resiko lah! Enak aje karier gue dipertaruhakn demi Gunawan yang gue nggak kenal juga tampangnya! Jaman sekarang banyak yang ngaku sodaranya ini itu! Niiiih gue nih! Udah kenal sama dedengkotnya Bagaswirya!”


Kenal sama Putri aja lagaknya udah selangit.


Ya tapi aku lebih baik ngumpet di kamar Pak Sebastian sih daripada ketemu lagi sama Putri.


Mereka masih mengeluhkan mengenai Gunawan Ambrose saat mataku menatap sosok lain


Rasanya aku mengenalnya.


Wanita berkerudung tertutup dari atas ke bawah, berwajah innocent dan mata yang selalu berbinar. Dia di area non-smoking sedang menyuapi anaknya. Sepertinya dia hanya membawa anak bungsunya karena tidak terlihat krucil lain berlarian disekelilingnya. Biasanya teriakan Romanoff menggaung di telingaku tapi kali ini sepi sunyi senyap.


Aku menghampirinya.


"Siang, bu. Istrinya Pak Gunawan kan?" Godaku.


Ia mengangkat wajahnya, lalu bersemu merah.


"Iiiih apa sih Dimaaaas!" sapanya sambil memukul lenganku. Kemarin rasanya dia tidak ingin bersentuhan denganku, sekarang berasa sodara aja.


“Ngapain di sini, cantik? Roman sama Rizky dimana?’


“Sekolah lah Mas, lagian mereka nggak boleh tahu aku ke sini, kau diem-diem aja,”


“Hah?”


“Suamiku kan di sini, kamu pasti tahu kan?”


Aku hanya menarik nafas panjang.


Aku bisa mengendus kenapa dia ada di sini. Wanita dengan feelingnya, instingnya yang tajam tdak bisa diremehkan. Apalagi insting seorang ibu.


Aku mencoba mengalihkan obrolan ke hal lain.


“Aku mau nikah loh,” kataku.


“Hah?”


“Undangan kukirim lewat WA ya, yang cetakan Cuma buat direksi soalnya, berat dan banyak printilan. Kamu aku undang khusus soalnyakan teman baik,”


“Selamat ya Maaaas! Duh akhirnya melepas masa lajang. Nikahnya pasti sama... Mbak Meilinda yak? Boss kamu itu yang kemarin ya? Hehehe,” ia tampak menggodaku.


Aku cemberut, benar-benar si Mitha ini... pantas saja GSA merekturnya. Tajam sekali feelingnya. Seingatku aku tak pernah bilang kalau sedang terjalin hubungan cinta dengan Meilinda padanya.


“Dari mana sih kamu tahu,” gerutuku.


“Yaaah, hehe,” dan raut wajahnya berubah kadi masam. Dalam diam dia menyuapi Raka kembali.


Aku merasakan ada hal yang aneh yang terjadi.


Aku pun menghentikan tangannya, karena tahu mulut Raka yang masih penuh bubur tidak akan mampu menampung suapan berikutnya. Lalu berkata, “Apa yang terjadi? Kenapa kamu di sini?”


Dia menghela napas. "Yah mungkin hanya prasangka burukku saja,"


"Apa? Aku mau dengar..." sahutku.


Mitha menatapku ragu-ragu.


"Ini cuma feelingku sih... Aku memang terbiasa cemburu dengan tingkah suamiku." sahutnya. Lalu dia mencondongkan tubuhnya dan berbisik. "Sepertinya tunangan kamu dan Gunawan saling kenal. Aku melihat Gunawan juga melihat ke arahnya seperti sedih. Dan tunangan kamu seperti ada dendam ke Gunawan."


Dia sangat tepat sekali. Insting Mitha nggak bisa diremehkan.


Istri, kalau sudah cinta dengan suaminya, instingnya pasti akan terasah tajam.


Itu sebabnya aku merasa tidak ada gunanya berbohong ke Mitha. Ia akan tahu kalau aku menyembunyikan kenyataan dan sekali berbohong ia tidak akan mempercayaiku lagi. Tapi aku berusaha tidak terang-terangan mengakui segalanya.


Aku menghela napas dan menatap Mitha.


Hanya menatapnya dalam diam.


Ia pasti bisa menangkap maksud pandanganku.


Dan benar...


Ia langsung menerka yang terjadi.


"Kamu..." ia mendesis. Tapi aku menggeleng, kode supaya tidak usah meneruskan kalimatnya kalau ia tidak ingin lebih merasa tersakiti. Ia punya 3 anak dari Gunawan. Ada hal-hal yang lebih baik tidak diungkapkan dan tetap diam demi keutuhan rumah tangga dan mental anak-anak mereka.


“Sekarang Meilinda sudah jadi milikku, dan kelihatannya ia juga sudah tidak mengindahkan Gunawan." Kataku.


Mitha hanya diam.


Matanya terlihat menerawang sambil menyuapi Raka.


"Dimas, jujur sama aku. Apa kamu tahu kalau Gunawan memiliki-"


"Aku tahu. "Sahutku cepat. "Meilinda tahu, seluruh keluarga Bataragunadi tahu, dan aku yakin kamu juga tahu."


"Aku berusaha tidak tahu. Aku memiliki anak-anak darinya." dengusnya. "Lalu... Apa dia... Sudah sejauh apa hubungannya dengan tunangan kamu?"


Aku menghela napas.


"Yah... banyak hal. Gunawan memanfaatkan kondisi Meilinda yang labil setelah bercerai. Tapi Gunawan sering minta Meilinda untuk mengirimkan foto-foto seksi dan phone s***..." sahutku. "Waktu kami bertemu kalian\, Meilinda belum jadi milikku... Kami sebenarnya memang membuntuti Gunawan ke Bandung. Untuk meminta penjelasan mengenai kelangsungan hubungan. Dan rupanya Gunawan lebih memilih kamu dan anak-anak\,"


"Iya, Karena kalau sampai kami bercerai, ia kehilangan banyak sekali, dan tidak akan sanggup menghidupi istri-istri dan anak-anak yang lain,”


“Kamu rupanyatahu mengenai istri-istrinya yang lain?”


Kami terdiam cukup lama.


Ia lanjut menyuapi Raka.


Aku menyesap kopiku.


Lalu menoleh ke geng ku yang masih asik ngegibahin Stephen dan Sarah.


"Mitha... Kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa catat nomorku." sahutku akhirnya.


Ia mengangguk dan memberikan nomornya.


"Dia sering tidak mengangkat telepon kalau lagi kerja, aku dicuekin bisa seharian. Tapi aku biasanya ada di sekitarnya. Yah, memang keterlaluan karena aku bawa-bawa anak kesini, Raka masih butuh asi, dia belum 2 tahun. Tapi aku merasa perlu mengamatinya,"


"Kamu mau ke atas? Kami punya ruangan menyusui, ada tempat tidur bayi kalau Raka ngantuk."


Matanya berbinar. "Aku mau!"


Kami berberes dan aku membantunya menggendong Raka. Sementara Mitha membawa tas peralatan bayi dan mendorong stroller.


"Gengs, gue ke atas sebentar..." pamitku ke geng. Mereka melongo menatapku menggendong bayi.


Bodo amat disangka macem-macem.


*****


Aku menghampiri Andrew saat kembali ke ruanganku.


Lalu duduk bersandar ke tepian meja di sampingnya.


Andrew hanya diam.


Dia tetap mengetik tapi gerakannya menjadi menghentak-hentak.


Dia mengangkat wajahnya dan melihatku dengan pandangan sinis.


Lalu ia kembali fokus ke layar komputer dan memainkan mousenya.


"Andrew, gue butuh bantuan lo buat prospek yang dibawa Pak Stephen dari Gunawan Ambrose. Lo nggak mungkin nggak tau. Kalian kenal."


Dia menghela napas tapi masih cuek.


"Lo tahu mana yang terbaik bagi perusahaan. Gue harap lo bersikap bijak... Gue butuh bantuan lo lewat jalan belakang." sahutku.


Ia menggebrak keyboardnya.


Lalu memicingkan mata menatapku.


Saat ini di ruangan itu hanya ada kami berdua karena sudah jam makan siang, orang-orang sudah istirahat di luar kantor. Jadi aksinya gebrakannya tidak menarik perhatian.


Andrew melipat kedua tangan di dadanya, diam dan menyender ke bangkunya. Ia sedang menenangkan diri, mungkin, terlihat ia memejamkan mata. Mungkin juga sedang mengutukku.


Tak berapa lama ia mengambil ponselnya.


Lalu menghubungi seseorang dan berbicara dengan bahasa Rusia.


Beginilah pria, sportif. Kerjaan ya kerjaan. Perasaan ya perasaan.


Sambil menunggunya mengobrol, aku ngibrit ke Pantry ngambil snack. Hari ini ada tamu di ruangan Pak Danu, Si Gunawan Cs itu.


Pasti persediaan snack berlimpah, suguhan mewah tiada tara. Aku ngemil dikit ah buat tenaga. Sekali-kali kudapan, masa ngopi mulu.


**


Saat aku kembali ke ruangan setelah menghabiskan 3 macam gorengan dan 2 kue basah, Andrew sudah selesai dengan teleponnya. Tampak ia tertegun membaca sesuatu di ponselnya.


Ia juga menggaruk cepol rambut di atas kepalanya sambil mengernyit.


Lalu menatapku dengan pandangan was-was.


"Tidak ada ijin kerja atas nama Gunawan Ambrose di tambang berlian Garnet Mining cabang Rusia. Selama ini mereka bekerja hanya memakai ijin perusahaan antar negara. Karena Gunawan tampaknya juga jarang terlihat di Rusia, sudah lebih dari setahun ia tidak ke cabang." Tumpah Andrew. "Gue kirim dokumen ke email lo."


Aku langsung tegang.


"Ijin perusahaan atas nama siapa?" Tanyaku.


"Johan's Company dari Amerika. Lo tahu apa artinya, Mas?!"


Aku semakin deg-degan.


"Itu berarti, penipuan dan penggelapan." sahutku.


Andrew mengangguk. "Johan's Company terdaftar secara resmi untuk mengurus tambang berlian milik Garnet Grup. Mereka bisa mengeruk untung sebanyak-banyaknya sebagai deklarasi dari wakil Garnet Grup. Dan Garnet Mining kehilangan hak devidennya. Untungnya, saat ini kegiatan tambang belum dimulai karena musim dingin. Namun karyawan harus digaji perjam, Jadi Johans Company berusaha mendapatkan dana talangan dari Garnet Bank." Jelas Andrew.


"Thank you... Lo bisa sampaikan itu ke Pak Sebastian?"


"Duh gimana ya... Gue ini ada konflik kepentingan sama Om gue. Kalau dia sampai tahu gue berkhianat, hidup gue terancam. Lo tahu Om Stephen orangnya dendaman. Gue lakuin ini karena Garnet Grup udah bantu hidup gue. Bukan karena elo yang minta,"


Aku menganggukmengerti, tadinya aku hanya inginmenunjukkan kalau dedikasi Andrew di pekerjaan tidak setengah-setengah, aku ingin Pak Sebastian tahu hal itu, "Kalo gitu, gue minta ijin lo buat kasih info ini ke Big Boss. Gue janji nggak akan sebut nama lo,"


Lalu ia menyodorkan ponselnya.


Aku mengernyit dan menerima ponselnya.


Di depan layarnya ada kontak, dengan nama Bram, namun belum diisi nomor telepon.


"Itu bayaran atas informasi yang barusan gue kasih ke elo," katanya.


Mam**pus aku...


"Lo mau ngapain?" aku lebih tegang daripada tadi, karena ini menyangkut Masku.


"Cepet isi nomor telepon si Bram. Gue janji lo bakalan terlibat secepatnya, bagaimana pun gue harus bicara dengan si Bram ini, man to man."


Mahal banget yah bayaran yang harus aku tanggung untuk perusahaan ini...


Sampai melibatkan keluarga.