
Mau tahu apa saja yang terjadi dengan tongkat golf, Baca lagi Lady’s Gentleman karya Tante Septira Wihartanti, Bab... bentar, lupa. Hm, Bab 88 kayaknya. Waktu nulis sengaja dipasin biar babnya angka cantik.
Lanjut ke ceritaku yak.
Aku menunggu dokter untuk melepaskan selang infus yang dipasang di tangan Meilinda, sambil menatap cermin di meja riasnya, memeriksa lukaku.
Lumayan parah kayak maling sendal digebukin jamaah mesjid. Nggak sampe bengkak sih, baret-baret dan ungu aja. Tapi kenapa malah tambah ganteng yah... Haha!
Aku harus pamer ke Bang Sena nih.
"Mas Dimas mau sekalian diobatin nggak lukanya?" tanya Dokter keluarga Bataragunadi, Namanya Dokter Arjuna.
"Diobatin pake apa?" tanyaku
Dokter Arjuna memicingkan mata menatapku. "Ya, paling antiseptik, balsem otot, sama Doa. hahaha!"
Aku mengernyit.
"Dokter, yang perlu diobatin sebenarnya adalah mental saya." gerutuku.
Dokter Arjuna langsung diam.
"Saya sangat mengerti hal itu, Mas." sahutnya tiba-tiba serius.
Mungkin dia pernah dibentak Pak Sebastian, lalu trauma sampai sekarang.
Mungkin loh...
Bukannya mau fitnah sih...
“Saya itu kan juga sering ditugaskan untuk merawat anak-anak GSA. Wih itu kalau Pak Sebastian sedang ngamuk dan pelampiasan, habbbbis itu si Arman dicambuk pakai golok! Lebih parah dari ini! Belum kalau lukanya nggak cepat kering saya diomel-omeli loh! Dibilang gelar professor saya abal-abal lah, obat saya palsu lah! Padahal kan kesembuhan seseorang itu tergantung kondisi tubuh pasien! Ya kan Ya?!” Dokter Arjuna jadi curhat.
Lah mana kutahu tentang medis, kan dia dokternya.
Aku melirik Meilinda, dia sedang menatapku dengan pandangan menerawang. Aku balas menatapnya dengan pandangan bertanya, dia malah kelihatan makin sedih.
"Sudah beres ya Bu Meli. Kondisi ibu sudah membaik, berikutnya jaga kesehatan dan makan yang mengandung vitamin." sahut Dokter Arjuna sambil membereskan peralatan dokter-dokterannya.
"Mas Dimas, kalau mulai membengkak hubungi saya saja. Saya punya topeng dari silikon." tambah Dokter Arjuna sambil menyeringai.
Aku berdecak.
"Iyaaa, tengkyu Dok. Titidije." desisku cuek.
Topeng silikon...
Hm...
Bisa buat nyamar, biar para fans nggak ngeh kalau aku lewat. Mungkin suatu saat aku akan menghubungi Dokter Arjuna.
Setelah Dokter Arjuna keluar kamar diikuti diriku yang langsung mengunci pintu kamar, no passenger allowed, aku langsung merengkuh tubuh Meilinda ke dalam pelukanku.
Astaga...
Kekasih macam apa aku, nggak menyadari kalau dia jadi sekurus ini ternyata.
Sayup terdengar isakannya.
"Maaf yah," desisku lirih. Aku benar-benar serius minta maaf. Selama ini aku sudah sangat merepotkannya, dan bukannya membuatnya bahagia, aku malah sering membuatnya galau dan sedih.
Dia membenamkan wajahnya di leherku, aku merasakan dia mengecupku perlahan.
"Aku sayang sama kamu," bisiknya lirih.
"Iya..." aku mendes4h, lebih terdengar seperti keluhan.
Mengeluh karena menyesal.
"Aku juga," tambahku.
"Jangan pergi lagi," bisiknya.
"Iya," jawabku.
"Kamu nggak merasa terkekang kan sama aku?"
"Nggak usah nanya itu, kali,"
"Aku merasa selama ini jangan-jangan-"
"Aku yang pilih jalan ini," potongku. "Aku yang pilih sendiri untuk tetap bersama kamu. Jadi nggak usah pikir yang negatif,"
Aku melepas pelukanku, lalu menatap wajahnya.
Cantik...
Pucat...
Sendu...
Dan jelas terlihat kalau ia sangat mengkhawatirkanku.
"Kamu nggak papa?" tanyanya sambil mengelus luka di sudut bibirku.
"Masih bisa berdiri, masih bisa meluk kamu. Jadi... kayaknya sih nggak apa,"
"Yang 'itu' gimana?"
"'Itu' apa?"
"Itu." Bola mata Meilinda melirik ke bawah sekilas.
"Apa?" aku masih nggak ngerti.
Dia menghela napas sebal. "Yang ini Dimas..."
Aku merasakan jemarinya menyentuh kejan-ta nanku.
Oh.
Yang itu.
Masih ada sih, masih melekat di situ.
Apa yah inti pertanyaannya?
Aku merasakan alih-alih menyentuh pelan, kini ia semakin berani membelainya terang-terangan.
Aku bangun.
Bukan aku yang bangun, tapi 'adekku' yang bangun.
"Kamu... mau nanya apa sih?" aku mengernyit.
Dia menghela napas lagi, lalu memicingkan mata.
"Kamu masih perjaka nggak?" tanyanya lugas.
Ceile... Mau nanya itu aja susah amat.
"Kalau udah dioral, dihitung masih perjaka nggak?" tanyaku akhirnya.
Dia diam.
Terus air mata mulai menetes.
Salah lagi deh aku...
"Mel..."
"Ini salah akuuu..." isaknya sambil menutupi wajahnya. "Aku telat banget menyelidikinya! Harusnya dari hari pertama mereka datang aku mulai hubungi detektif, padahal aku udah feeling kalau ada yang aneeehh,"
Aku menghela napas. "Di sini yang satu-satunya harus disalahin adalah para penculik," sahutku sambil menghapus air mata yang turun di pipinya.
Lalu ia menatapku. Lurus. Dengan tekad yang sudah ia kumpulkan.
"Ayo nikah!" sahutnya. "Biar nggak ada lagi yang mengganggu kamu!"
"Masih lama yah? Aku bisa usahakan cepet."
"Isshh... nggak ada cepet-cepetan." cegahku. "Ikutin aja prosesnya. Kita disuruh seminar ya udah ikutan, disuruh ini-itu ya patuhin aja."
"Kelamaan, sayang... Nanti ada yang mau ambil kamu lagi!" serunya.
Aku menyeringai.
Ih manis banget deh kalo lagi ngambek.
"Kita mau nikah pakai niat. Kalau main cepet-cepetan, buru-buru, takutnya nanti malah maksain lalu ada kejadian yang nggak bagus," sahutku.
Dia terdiam.
Lalu menghela napas lagi.
Dan akhirnya mengangguk.
"Sekarang," aku mengangkat dagunya dan mencium bibirnya. "Aku mau lagi." bisikku.
Aku menggenggam tangannya dan mengarahkannya ke tubuh di antara kedua pahaku. Menginstruksikannya untuk membelai.
Ia agak terperangah.
Namun setelah beberapa saat menyeringai menggodaku.
"Mau lagi?" ulangnya.
Aku tidak menjawab, sibuk sama lehernya. Lalu aku merasakan jemarinya membuka resleting celanaku perlahan.
"Aku masuk, boleh?" Aku mendengar dia berbisik begitu. Tapi aku lagi sibuk sama dadanya, jadi aku acuhkan. Terserah dia lah gimana caranya.
Lalu aku merasakan sesuatu menggenggam erat milikku. Aku nggak tahan untuk tidak mengeluarkan suara, jadi aku menghentikan aktivitasku, fokus ke bawah.
Ia membelaiku dari atas, ke bawah, lembut tapi tegas.
Aku mengangkat wajahku dan menciumnya.
"Aku sterilin yah..." sahutnya saat menarik bibirnya.
Sterilin maksudnya apa yah?
Aku diam saja, mau tahu apa maksudnya, dan biar nggak ketahuan bego-bego amat.
Dan terjawab saat tangannya mendorongku sampai setengah berbaring, lalu tubuhnya mulai menuruni tubuhku.
Lalu memasukan tubuhku ke mulutnya.
Oh, itu toh maksudnya.
****
Sekitar tiga hari setelahnya, saat weekdays pagi-pagi sebelum ke kantor, setelah mendaftarkan pernikahanku di KUA, aku pergi berkunjung ke gedung Garnet Property. Rencananya menanyakan mengenai tender yang dilakukan Gunawan Ambrose.
Saat masuk lift, aku bertemu Milady di dalam, kelihatannya dia baru dari basement mau naik ke lantai 20, lantai yang sama yang kutuju.
Lalu kami sama-sama menyeringai.
"My Lady..." aku membungkuk seperti ksatria membungkuk ke ratunya.
"My Lord..." balasnya membungkuk.
Lalu, disebelah Milady ada....
Ceile.
Dia lagi dia lagi!
"Tumben pak, pagi-pagi udah di property. Naik lift karyawan pula," sindirku.
Pak Sebastian hanya melirikku sekilas, lalu cuek dan sibuk dengan ponselnya sambil bersandar santai di dinding lift.
Yang penting aku udah ngucapin salam.
Kalau itu bisa dihitung sebagai salam.
"Nah, dirimu pagi-pagi udah di sini." sahut Milady sambil mencium pipiku. Salam biasa sih sebenarnya. Tapi yang di sebelahnya langsung menatapku angker.
Khodamnya Milady hampir ngamuk.
"Iya, mau nanya Trevor dan Bram soal tender Gunawan Ambrose. Minggu lalu ada proposal pengajuan pinjaman dari perusahaan Amerika untuk pembangunan jalan tol, katanya yang jadi agennya Gunawan Ambrose."
"Loh? Gunawan Ambrose bukannya sudah diblack list? Iya kan sayang?" Milady menoleh ke Pak Sebastian.
Pak Sebastian masih menatapku dengan pandangan yang sama.
Eh... tadi Milady manggil 'sayang'...?
Aku menatap Pak Sebastian.
Lalu ke Milady.
Lalu ke Pak Sebastian.
Lalu ke Milady.
Dan berdecak. "Udah resmi kayaknya," gumamku pelan. Tapi aku usahakan tetap kedengeran.
"Loh, kok elo tau kalo kita udah nikah?" sahut Milady.
Spontan aku langsung merinding.
Mencerna kalimat.
Wait for it.
Loading.
Dan berseru.
"Lo Serius, Lady?!? KAPAN!!" Seruku.
"Eeehh... Kemarin."
"Kemarin itu -Anjrit! Lo nikah sama genderuwo sehari setelah gue dipukulin sama dia?!?"
"Iii- Iyaaa siiih-"
"Kok bisa?!?"
"Yaaa...h..." Milady meringis merasa nggak enak.
"Dan lo kenapa nggak bilang-bilang? Meli nggak bilang-bilang?"
"Meli nggak tahu. Kamu juga diam saja, itu urusan saya." akhirnya si genderuwo bersuara juga. Angker abis!
"Jadi bapak yang satu ini pecinta kesadisan yaaaaa, habis dipukulin pake tongkat golf langsung terkesima sampe dinikahin. Khuhuhuhu!" sindirku lagi. Extra ketawa liciklicious
Mungkin orang lain yang berani sama Pak Sebastian, selain Milady, ya aku.
Dia langsung menghampiriku dengan tangan terkepal, berniat memukulku lagi tampaknya. Aku menyeringai sambil menghadangnya.
"Hei, Berantem mulu deh," tangan Milady mencegah dada Pak Sebastian untuk maju lebih jauh, lalu mengibaskannya ke arahku. Lalu ia menempatkan tubuhnya ditengah-tengah kami. "Udah jam kerja nih... Ayo kita semangat!" sahutnya sambil melenggok keluar lift meninggalkan kami.
Pak Sebastian memicingkan mata memperingatkanku.
Aku pasang senyum manis sambil mengikutinya.
"Kamu diam saja, ngerti?" geramnya ulang saat kami menghampiri Trevor.
"Siap Boss..." gumamku. Tangannya udah dibelakang leherku, meremas tengkukku dengan kencang. Kudengar dia dulu atlit martial arts yang combat sports dan menekuni Krav Maga. Jadi walaupun usianya sudah lanjut, staminanya masih prima. Dan sekarang aku hampir sesak napas dan pandanganku langsung berkunang-kunang. Tak diragukan, dia sedang menekan jalan darahku ke otak.
Kenapa sih aku bisa berani banget mempertaruhkan nyawa kayak begini.
Padahal tadi maksudku 'resmi' itu, resmi pacaran. Tidak menyangka kalau mereka sudah langsung menikah.