
Aku fokus ke ponselku.
Kenapa level kali ini susah banget sih!
Aku berdiri di depan conveyor belt, sementara di sudut mataku aku bisa melihat Selena menguap sambil memperhatikan koper yang berbaris rapi didepannya menunggu diambil oleh pemiliknya.
Kami tertidur sepanjang perjalanan, baru bangun saat pramugari memberitahu bahwa pesawat sudah mendarat di Adisumarmo.
Selena sempat memanjangkan kepalanya menatap ponselku, lalu berdecak.
Mungkin karena dia pikir aku sibuk dengan pekerjaan,
maaf ya soalnya sudah menginjak level 1543.
Wanita itu menatap jam tangannya. Pukul 19 lebih sedikit.
Aku sebenarnya menyesal karena tadi harus bersibuk-sibuk di kantor terlebih dahulu. Tahu gitu ambil cuti aja kan jadi bisa istirahat di rumah dulu sampai sore baru berangkat ke bandara. Tapi kalo nggak begitu nggak bisa ketemu Meilinda. Lumayan tadi sempet french kiss, hehe...
Tapi sekarang, aku beneran jenuh.
Koper lewat di depannya, Selena ambil lalu membuka rodanya.
Aku memikirkan Meilinda, belakangan dia jadi lebih sensitif. Terus terang aku kerepotan tarik ulur kesabaran.
Kenapa sih wanita nggak langsung saja ngomong maunya apa, galau kenapa, aku harus bagaimana... kan kita sudah sama-sama gede.
Kalau memang seandainya dia ingin hubungan yang lebih jauh ya aku akan coba jalani walaupun menikah belum jadi prioritasku saat ini. Kalau dia ingin hubungan erat ya mau nggak mau aku bersedia menikahinya karena aku memang sudah memilih jalan yang lebih jauh bersamanya.
Apa dia takut ditolak, tersakiti olehku?
Bukannya lebih mudah kalau diperjelas lebih cepat ya?
Mana mungkin aku ujug-ujug tanya : oke, kita pacaran tapi aku nggak mau nikah yaaaa.
Apa pulang dari Solo aku ngomong macam begitu saja? Capek tahu ngadepin cewek ngambek.
“Pak, sedikit lagi saya diemin ada kemungkinan bapak bisa diculik tante girang dan posisi bapak tetap seperti itu tanpa sadar kalau yang menggiring bapak bukanlah saya.” Eh, aku hampir lupa ada cewek satu ini!
Loh sudah megang kunci mobil aja dia, cekatan juga dia sudah ke tempat penyewaan mobil segala.
Karena nggak mau kalah aku berujar
“Ah kamu penuh teori, saya kan merhatiin kamu dari sudut mata, looh,” desisku, tapi mataku nggak lepas dari layar ponsel.
“Kamu yang nyetir yah, saya tanggung ini,” kataku selanjutnya.
Selena memutar bola matanya. Mungkin dia merasa capek.
Kasian...
hehe
“Pak Dimas!!” serunya.
“Apa sih?!” balasku, kesal karena dia teriak padaku, didepan orang di tengah bandara gue diteriakin macam maling?!
“Serius pak, kopernya ditinggal?!”
Astaga...
Mana didalemnya ada buaya birkin kesayanganku, modal bonus anak-anak. Aku menyeringai dan setengah berlari ke Conveyor belt.
“Ini kemana ini?!” desis Selena sambil mengemudi.
“Hotel.”
“Hotel apa?”
“Hotel terdekat yang lewat saja deh.”
“Kita belum booking hotel?!” seru Selena.
Kupingku pengang, Bu Meilinda Kedua ini judulnya, bener-bener dah disekelilingku cewek-ceweknya pada sadis sama kupingku.
“Haduh jangan teriak-teriak dong ah! Saya lupa ngomong ke bagian umum, ya sudah lah yang kita lewatin saja kita inepin,” aku beneran lupa, baru inget pas tadi di pesawat sebelum ketiduran.
Selena menghela napas kesal.
Sampai di resepsionis Hotel, aku baru sadar kalo Selena mendaratkan kaki kami di Hotel Bintang 5 Ali** Hotel. Dari sekian banyak hotel yang tadi kita lewatin kenapa dia malah milih yang ini, coba?! Ya aku mengerti hotel ini memang yang paling matching sama tas mahalnya, tapi dia harus tahu dibayarnya pakai duit kantor.
“Len... serius ini kita nginep disini?” desisku. Kepalaku mulai berhitung biaya semalamnya.
Selena mengangkat bahu sambil mengisi daftar tamu.
“Bukannya banyak banget hotel yang jauh lebih murah? Kita nginep 3 hari loh Len,”
“Saya alergi sama hotel murah.”
Aku menggaruk tengkuk jadi beneran gatel, membayangkan pulang dari sini dibentak sama Pak Haryono.
“Lagian dar itadi maen game mulu, semua diserahin ke saya, ya saya pilih yang saya suka saja. Kalo mahal kan ada pak Dimas yang bayarin ya gaaaa?” eh, ini cewek beneran provokatif, kayaknya seneng bener dia bisa ngerjain aku. Nggak bisa dibiarin, udahlah aku nekat.
“Satu kamar aja bookingnya,” desisku akhirnya ambil jalan tengah. Karena aku sebagai Kadiv punya limit maksimal untuk biaya hotel, kalau melebihi limit bisa-bisa gajiku dipotong.
“Ya, ga bisa dong melanggar etika,”
“Gue lagi bokek, udah satu kamar aja, lo tidur di sofa.” Aku menggeret Selena ke lift.
“Ogah ah,” dia mencoba membebaskan diri.
------
Habis mandi aku berencana menghentikan kegiatan nge-game ku karena selama ini ternyata bikin aku nggak fokus sampai dikerjain Selena, jadi aku ambil kacamata dan membuka laptopku, memeriksa daftar yang kubuat dan mengatur rencana untuk besok. Selena belum sempat aku ajari apa-apa ya, lumayan ini bisa jadi on the job trainingnya.
Selena keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalutkan handuk, tubuhnya yang sintal dan dadanya yang cup C seharusnya bisa menggoda pria manapun tak terkecuali yang dinginnya minta ampun macam Bram.
Kecuali aku.
Rata-rata yang mengejarku bodynya hampir sama soalnya, begitu-begitu aja.
Meilinda lebih menarik karena lebih natural. Kelihatan sudah bodygoals sejak lahir.
Kalau milik Selena sepertinya dia ada treatment khusus biar tetap menarik.
Aku melambaikan tangan ke arah Selena bermaksud memperlihatkan isi laptopku agar dia bisa mempersiapkan dirinya untuk besok.
“Sini, cuy...” Ngantuk lagi deh, apa makan dulu ya?
Selena menghampiriku sambil mengeringkan rambutnya.
“Coba analisa rekeningnya.” Aku menggeser layar laptop ke arah Selena.
Selena menunduk, wangi banget pakai sabun yang mana sih? Apa bawa sabun sendiri ya? Macam Fendi tapi balutannya cewek.
Baru juga baca satu baris laporan dia tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya di pangkuanku.
“Serius lo duduk disini?!” seruku.
“Lagian nggak pengertian amat, nyuruh saya liat laptop tapi nggak mau geser,” sahutnya.
“Gue kan lagi capek Len...”
“Capek apa coba? Yang nyetir dan angkat koper kan saya dari tadi.”
“Capek mikir kali,”
“Capek maen game yang bener!”
“Lu kaya ga pernah maen game aje,” sungutku.
Duh, tertekan pula,
Ni cewek nggak pake ragu-ragu mendaratnya. Aku berusaha mencari posisi yang tepat biar ga pegal, tapi sia-sia. “Len, adek gue jangan di dudukin ntar dia menggeliat!”
“Tinggal dilemesin lagi di toilet, ribet amat sih pak...” Selena masih memperhatikan layar laptop.
“Pak, darimana bapak tahu kalau transaksi ini bukan hanya satu? Kalau saya lihatnya seperti ini kan sudah dirangkum sama bapak. Tapi saya penasaran kok bisa bapak menemukan keganjilannya diawal?” tanyanya
Aku menyeringai.
“Ya, itulah istimewanya gue,”
“Kalo cuma niat pamer kemampua, nggak usah bawa saya ke sini,” sahut Selena kesal.
“Lo itu masih muda tapi tingkah lo kayak nenek-nenek Len...” Aku mengernyit.
Aku bisa melihat kilatan mata licik di wajahnya, lalu senyumnya itu bikin perasaan nggak enak. Kalo macem-macem serius gue bakal lapor polisi.
Eh! Beneran dia gerak-gerak!!
Bangun kan...
“Heh,hanya segitu pertahananmu Pak Dimas? Ternyata tidak setangguh tampangnya,” Selena tersenyum licik. Dia meremehkanku. Oh, ngajak saingan nih.
“Tandanya gue masih normal,” desisku sebal.
“Jadi ini bagaimana awalnya bisa nemu transaksi mencurigakan?!” tanyanya.
“Jadi...tadinya gue cuma nemu satu transaksi. Gue sudah ngebatin, tumben ada nama itu, kedengeran asing. Nasabah cabang Solo kan nggak banyak-banyak amat itu. Beruntungnya gue, nama si nasabah itu susah macam orang keraton, jadi keinget di benak gue. Di rekening ada banyak dana tapi dianggurin sudah lebih dari dua tahun. Yaudah gue anggap mungkin si nasabah baru inget punya duit di Garnet Bank pas dia lagi butuh, begitu kaaan. Dikit lagi lo gerak-gerak melulu gue jorokin dari jendela!” Omelku.
“Punya Pak Dimas gede juga ya,” Selena mengangguk terlihat kalau ia merasa salut.
“Memang cuma lo doang yang punya anggota tubuh gede? Sombong,” sungutku.
Lalu aku punmelanjutkan penjelasanku, mencoba serius. “Terus sekitar dua hari kemudian, ada lagi penarikan, nasabah lain dengan nama yang kurang familiar. Gue cek ternyata sama-sama nasabah nggak aktif. Tiga hari kemudian ada lagi. Nah untuk keempat kalinya, yang jadi korban adalah temennya nyokap gue. Duitnya memang banyak tapi rekeningnya dianggurin sudah setahun. Ya untuk itulah kita di sini, besok kita eksekusi.”
“Saya dieksekusi juga nggak malem ini?” dia bicara begitu padaku.
“Tampang lo serius tapi hati lo licik ya...” gerutuku.
Selena tersenyum jahil, wanita itu membuka handuknya.
“Saya lagi h0rny nih Pak, kan nggak ada yang tahu juga. Cuma kita berdua...” Ia merapatkan tubuhnya ke dadaku, tangannya memeluk leherku.
Aku diam.
Mulai waspada saat ia menyapukan bibirnya ke sepanjang rahangku.
“Ya?” Selena membelai bibirku lalu mendekat.
Terasa hembusan napasnya yang berbau manis menyapu bibirku.
Aku menghela nafas panjang. “Len, Lo liat ini layar hape gue, dikit lagi gue teken nih tombol!” Tertera di layap ponselku Emergency call 110.
Dan ia terkakak.
“Astaga! Saya nggak tahan... Sori!!” serunya disela-sela tawanya.
“Tega banget Pak, cowok lain sudah klepek-klepek, Pak Dimas frigid ya!” sahut Selena sambil beranjak dan mengambil handuknya.
“Selera gue bukan yang macam lo kali,” sungutku.
“Oh, yang milf macam Bu Meli ya? Ngerti deh...” Ia beranjak dan menjatuhkan dirinya di ranjang.
Aku selamat malam ini. Nggak tau besok.