Office Hour

Office Hour
Battle Rap



Naratornya kembali lagi ke diriku yang ganteng ini, Dimas Tanurahardja Sandro. Kadang Selena mengubah namaku jadi Dimas peTaSan.


Inget kan tempo hari aku jualan Mbak Birkin Ke Bu Ajeng Atmo di Solo? Aku berkunjung ke sana di sela-sela interogasi polisi. Aku tidak menceritakan secara detail di bab sebelumnya, karena menurutku pekerjaanku juga chaos.


Sebenarnya pekerjaanku nggak segitu ribetnya kalo nggak ada orang macam Posan, Albert dan Kompol Mleduk macam Dirga, si komandan itu diem-diem otaknya miring kalo di depanku doang... salahku sih ngeracunin dia.


Ah iya, gara-gara keribetan di Cabang Solo, Aku juga harus bikin Berita Acara yang tebalnya bisa 100 halaman. Belum laporan OJk, belum persiapan Rakor, Belum Raker, Belum hasil temuan yang kolek 5 satu-satu harus aku datangi ke lokasinya.


Aku kasih kerjaannya ke Selena sih, tapi kasihan juga dia nggak ada yang bantuin, karena Daniel kan sudah kusuruh-suruh buat bikin laporan rutinitas bulanan. Sementara anak lain nggak ada yang pemikirannya se-teliti Selena. Karena kebanyakan di divisi ini laki-laki, Maryanti ada di bawah divisi Meilinda. Jadi aku sepertinya butuh seorang lagi anak buah perempuan untuk membantu Selena.


Sebelum jarinya kram gara-gara ngetik kebanyakan, atas Takdir Illahi, aku dipertemukan dengan orang-orang yang akan menjadi rekan seperjuangan Selena.


Kalau anak buahku sudah dapet kerjaan banyak, lalu kerjaanku ngapain sekarang?


Masih banyak lah... mereview pekerjaan mereka, ngopi, ngrokok, ngopi lagi, ngrokok lagi, makan di kantin... maen game.


Enak deh ternyata punya anak buah... ehehehehe.


Nah, inilah kisahnya.


Bu Ajeng Atmo adalah anak dari pengusaha tekstil dan property di Solo. Ia dinikahkan dengan orang yang memiliki  aset di hampir sebagian besar wilayah Surakarta dan masuk ke jajaran 20 besar pengusaha terkaya di  negara ini. Harta bapaknya aja udah banyak, ditambah lagi harta suaminya. Silakan bayangkan.


Beliau kenal sama ibuku karena mereka teman SMA, tapi Aku nggak berani ngomong di depan manajemen karena takutnya kalau kita terlalu terbuka nanti jadi merambat ke hal lain. Aku hanya bilang kalau Bu Ajeng Atmo teman pesbuk ibuku, ya memang benar sih mereka dipertemukan kembali lewat jejaring sosial setelah sekian lama berpisah.


Disela-sela interogasi polisi, Aku berkunjung ke rumahnya yang nggak kalah besar sama si Kreji Up, eh, Kreji Rit Darmawangsa.


Dan ribetnya bukan main, di gerbangnya aku harus nitipin Kartu identitas segala, terus diperiksa mobil pakai detektor, diasap disinfektan, didetektor lagi seluruh badan, harus isi buku tamu dan aku juga difoto tiga kali tampak wajah, tampak samping, tampak seluruh badan. Macam berkunjung ke istana negara.


Rasanya pingin balik aja lagi ke kantor polisi makan bakso.


Lalu aku menunggu di ruang tamunya yang kayak lobi istana Versailles. Kalau aku tiba-tiba berhalu ngeliat Marie Antoinette bisa jadi dampak dari kilauan furniture disini.


Ini pinggiran meja emas beneran nggak ya, jadi pingin ngopek pakai kuku deh...


Belum juga kuku ku nempel, Bu Ajeng Atmo datang dengan gaya estetik menuruni tangga.


“Dimas ya, anaknya Mbak Las...” sahutnya menyapaku.


Anjay... seksi banget nih ibu-ibu.


Rambutnya sudah putih dan wajahnya sudah berkerut, tapi badannya masih bagus dan langsing. Dia menggunakan uang suaminya dengan baik. Mau tahu seperti apa sosoknya, coba googling Yasmina Rossi.


“Bu Ajeng? Iya bu saya Dimas,” Aku mendekat dan meraih tangannya yang ia ulurkan padaku, lalu aku mencium tangannya. Ia tampak menatapku dengan pandangan antusias dari atas ke bawah. Bukan pandangan asing bagiku, karena hampir semua wanita yang bertemu denganku pertama kali, tingkahnya ya seperti itu. Menatap dari atas ke bawah.


“Kamu... mirip Emilio banget ya, Tapi bibir kamu mirip Lastri.”


Emilio itu nama bapakku. Iya nggak usah ketawa, bapakku orang Italy soalnya. Menikah dengan ibuku dan menetap di negara ini. Begitu-begitu bapakku fasih bahasa Jawa jadi kami anak-anaknya juga bisa.


Bu Ajeng ini... kelihatannya dulu suka sama bapakku. Kelihatan dari caranya menatapku.


“Bu Ajeng sehat? Maaf ya bu merepotkan,” desisku.


Dia mengibaskan tangannya. “Ah rapopo Le. Aku itu penggemar tas, kebetulan yang kamu tawarkan itu jarang ada yang punya. Itu koleksi langka loh! Benar kamu jual hanya 700 jutaan? Harganya bisa sampai 1,5milyar loh Mas,”


“Hem... terus terang bu, ini barang gratifikasi sebenarnya, yang punya salah satu pejabat di kantor saya. Kami orang bank nggak boleh terima yang seperti ini jadi sesuai informasi dari beliau, harganya segitu,”


“Aku nggak enak loh beli segitu. Kalau kamu mau jual ke aku 1,5 nggak papa loh.”


Loh...


Tawar menawar macam apa ini?!


“Bagaimana kalau aku beli 1 milyar, sisanya kamu mau barter pakai apa? Atau mau pilih saja tas lain seharga segitu untuk Mbak Lastri?”


Menggoda.


“Nggak usah bu... dikasih tas mahal nanti dia tuman.” sahutku.


Bu Ajeng tertawa. “Eh, kamu nggak boleh ngomongin ibu kamu begitu! Hahahaha”


Aku menyerahkan Mbak Birkin dan nomor rekening milik Garnet Bank. Ia memeriksa isi kotak dengan mata berbinar.


“Haduh ini sih apik tenan! Ayuneee...” desisnya mengagumi.


Sudah lega.


Mbak Birkin sudah ada di tangan kolektor yang tepat. Aku nggak harus menjelaskan dia butuh pakai  AC dengan kelembapan 25 derajat untuk melemaskan otot-otot buayanya kan?!


“Dimas sudah makan? Mau tambah minum? Saya punya Chateau tahun 1950 loh kalau kamu penggemar wine,”


Aku menelan ludahku. Pingin tapi harus kembali ke pelukan Dirga secepatnya kalo nggak mau dia ngomel-ngomel.


“Bu, ada yang harus saya informasikan dulu sebelumnya,” lalu aku menjelaskan tentang rekeningnya yang terkena fraud.


“Ah, nggak apa-apa kok,” dia kembali mengibaskan tangan. “Itu cuma 200jutaan kan ya isinya, mudah-mudahan berguna buat orang yang membutuhkan. Saya nggak akan nuntut kok. Apa mau saya siapkan surat pernyataan?”


CUMA... dua ratus jutaan...


“AKu malah lupa ada uang segitu di rekening,”


Beuh!!


“Kami akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengembalikan dananya di rekening ibu, tapi memang butuh waktu sedikit lama sampai putusan pengadilan.” Kataku.


“Nggak papa Dimas sayang, Orasah repot.”


Sekarang namaku ada embel-embel ‘sayang’nya.


“Ah,tapi... mungkin aku ada sedikit permohonan ke kamu.” Bu Ajeng tampak berpikir. Aku menunggu kalimat selanjutnya. Kalau berhubungan dengan ranjang, aku bakal lari.


“Aku boleh titip CV anakku ke Bank kamu? Bolehlah dia mulai dari bawah biar ngerti penderitaan cari uang,”


“CV itu maksudnya surat lamaran kerja bu?” tanya mengonfirmasi, siapa tahu aku salah persepsi, kan?!


“Iya.” Bu Ajeng mengangguk. “Saya punya anak cuma satu, tapi Anak itu kerjanya jumpalitan, ngalor-ngidul dari satu kampus ke kampus lain, belajaaaaar terus, tapi belum sampai sarjana eeeh udah ambil title lain. Entah apa yang dia cari. Sebentar lagi mau daftar ke Chicago, Saya nggak suka dia begitu... lebih baik dia langsung kerja. Seringkali dunia belajar dan dunia kerja sangat berbeda, bukan?”


Aku mengangguk.


“Tapi mengenai diterima atau tidaknya tergantung manajemen ya bu.” desisku.


“Saya malah pingin dia ditolak...” dia tertawa.


“Kenapa bu?”


“Biar dia tahu kerasnya dunia,” desis Bu Ajeng, matanya tampak berkilat. “Sebentar saya email kamu data datanya ya.”


Aku sebenarnya tidak berharap banyak anaknya Bu Ajeng mau melamar kerja di tempatku, karena dengan pengalaman sekeren itu dia bisa mendaftar di kantor dengan bidang usaha yang lebih menarik. Kerja di Bank, walaupun dirimu sarjana kimia juga bisa diterima di sini asal mau belajar. Jadi setelah mendapat email dari Bu Ajeng ya aku langsung teruskan ke Pak David.


Jadi di sinilah ia berada... di depanku dan Pak David.


Seorang wanita dengan postur tubuh mungil tapi rambutnya keriting megar-megar. Senyumnya lebar dan menyenangkan. Wajahnya nggak mirip ibunya. Di biodata sih usianya lebih tua dari Selena, tapi tampangnya kayak anak kecil, Babyface banget. Dan dia punya 4 title degree ternyata. Hebat...


“Nama saya Cecilia Wira Atmo, Pak Dimas. Ya Ampun luar biasa rupawannya Pak Dimas ini! Ohiya, saya belum ada pengalaman kerja ya pak, selama ini kegiatan saya cuma keliling dunia, terus terang gelar sarjana saya tidak ada yang berkaitan dengan dunia ekonomi apalagi perbankan karena menurut saya tidak perlu belajar ekonomi di universitas, pergerakannya terlalu cepat kalau dijadikan buku mungkin halamannya bisa setara dengan garis khatulistiwa saking sering berubah-ubah ketentuannya, kayak badai begitu loh pak, pergerakannya suka-suka Yang Maha Kuasa, atau malah Illuminati? Wah ya ndak tahu yaaa HAHAHAHAHA! Ya memang masih bisa diprediksi makanya kalau bekerja berdasarkan prediksi ya nggak perlu belajar teori lagi kan ya HAHAHAHAHA!!!”


Aku dan Pak David menunggu Cecilia selesai bicara sambil bersandar di pinggir meja.


“... Pak Dimas kenapa bisa tampan elok-mencolok begitu? Operasi plastik di mana pak? Pasti mahal banget ya sampe bisa natural begitu? Ibu saya nggak berhenti ngomongin Pak Dimas loh sampai difoto tiga kali sampai bapak saya mau dukunin foto bapak hahaha, ngomong-ngomong saya belum tahu kerjaan saya apa nantinya, ya saya sudah bertekad akan bekerja sepenuh hati menggunakan ilmu yang saya miliki mudah-mudahan ada yang berguna! Btw, saya ambil art, music, design, psikologi, filsafat, dan broadcast ya suka-suka saya saja belajarnya habisnya duit bapak saya banyak banget mending saya pakai buat belajar, ya ga? Kalo urusan santunan sih sudah dihandle ibu saya sih, dia banyak banget yayasannya,”


“Bro... kok gue capek ya...” desisku.


“awakmu baru gitu ae wis pegel, iki apa kabare kupingku dirusuhi iki arek ndek wingi? Wis ngompor iki ngebulane!!” (Kamu baru segitu saja sudah pegal, apa kabar kupingku dari kemarin di ganggu sama ini anak? Sudah hampir terbakar ini asapnya) begitu kira-kira translatenya.


“Ada yang bisa bikin dia bungkam nggak?”


“Aku mung ono selotip, lem korea tuh di Syarif,” gerutu Pak David Huang.


“Bisa jadi lawan bicara yang tepat buat Selena...” desisku, disertai anggukan Pak David.


“Oke, Cecilia.” Aku memotong ocehannya. “Maaf ya saya potong. Saya butuh sumpah kamu soalnya.”


“Sumpah?” Bisik David bertanya. Mana ada karyawan disumpah, emangnya pejabat teras.


Cecilia menatap kami berdua bergantian.


“Di sini disumpah juga pak? Kayak sumpah jabatan begitu ya pak? Ya Ampun deg degan jugaaa!”


“SSHhhh!!” aku memotong lagi.


“Dengerin saya. APAPUN yang terjadi, kamu DILARANG untuk sesumbar soal temuan yang dilakukan Divisi SKAI ke orang diluar divisi. Paham?!”


“Paham Pak!!” serunya mantap.


“Jadi, kamu cuma boleh ngomong lebih dari satu kalimat ke orang di Divisi Audit, kalau orang di luar Divisi Audit, tidak boleh lebih dari....” aku menghitung dalam hati.


“ ... 10 kata.”


“Oke, SIAP Pak!!” serunya lagi.


“Serius ini kamu bisa?!” Tanyaku.


“Bisa, kok Pak!! Kita kerjanya macam detektif ya pak?!”


Aku dan Pak David menghela napas berat.


**


Selena memegangi dahinya bagaikan sedang pusing dikejar-kejar debt collector, iya memang pusing soalnya ngedengerin di sebelahnya ada beo cuap-cuap semangat.


“Di sini semua ganteng - cantik ya mbak, kayak kerja di agency model! Aku pernah sekali ke kantor YG Entertainment ngeliatin trainee-trainee di sana bahkan nggak sebanding sama di sini, di sini orang-orangnya tinggi-tinggi, eh tapi pernah sih sekali waktu ke Turki di sana rupawan semua tampangnya, Tapi masih lebih The Best Pak Dimas mungkin yang bisa mengimbangi hanya ketampanan Nabi jaman dulu kali ya! Mbak Selena lagi ngerjain apa? Tadi pak Dimas bahas temuan, temuan itu apa sih ya? Kayak kita menemukan barang bukti yang perlu dibahas lebih lanjut kali ya itu yang  saya tangkap sih!”


“Iya Benar, secara teori sih begituuu,” Jawab Selena masih memegangi dahinya.


“Kayaknya saya belum pernah liat aturan-aturannya Mbak, kalo ada yang saya nggak ngerti saya tanya-tanya ya! Mohon dibantu! Mbak Selena tasnya Fendi Limited edition ya mbak, gila ngedapetin ini kan susah mbak hanya dijual 20 piece di dunia, pasti Mbak Selena bukan orang sembarangan ya!”


Aku menonton adegan itu sambil ngopi, melihat Selena tersiksa begitu serasa disinari cahaya surga. Aku nggak berhenti tersenyum dari tadi.


“Cecilia...” kata Selena lemas.


“Panggil Cecil saja mbak!” serunya senang.


“Oke, Cecil.,” Selena menghela napas. Wuih kayaknya mau Battle Rap ini.


Aku mencondongkan tubuhku menanti adegan.


“Tugas dan fungsi kita di Bank ini untuk menjaga agar transaksi yang memiliki risiko dan sudah terlanjur berjalan dapat dikendalikan menjadi sejalan dengan peraturan, jadi penting banget kamu membaca peraturan terlebih dahulu sebelum sesumbar dengan saya mengenai ilmu yang kamu miliki. Saya juga memulai saat tidak tahu apa pun tapi setidaknya saya sudah bekerja lebih dulu di area property, Jadi harapannya kamu bisa lebih tenang dan bekerja dengan rileks karena mencari kesalahan orang lain yang memiliki seratus topeng itu bagaikan mencari jarum di dalam tumpukan jerami, dan kamu tidak usah mengkhawatirkan Pak Dimas, mau dia gantengnya selangit ketujuh, kek, mau dia pinternya setara Galileo, kek, mau dia sudah punya 100 selir hati, kek, mau barang-barang saya mahal semua, kek, hal itu hanya fana, duniawi, sifatnya depresiasi! Lebih baik kamu melakukan sesuatu yang bisa dibawa sampe mati seperti memperbanyak ilmu karena di sini kamu akan belajar mengenai sifat orang lain, raut wajah dan kesaksian yang bohong dan yang jujur itu bagaimana, juga bisa membantu orang lain seperti saya dengan langkah awal lebih tenang sedikit supaya tidak mengganggu saya yang lagi bikin Berita Acara temuan berpuluh-puluh halaman, ngerti?!”


Widihhhhh!!


Kami se-ruangan bertepuk tangan.


Cecil bahkan ikutan tepuk tangan sambil geleng-geleng kepala.


Selena berbicara nggak pakai napas. Hebat sekali!!


“Mbak Selena pinter bangeeeet! Angkat aku jadi muridmu mbaaaak!!”


“Ogah! Itu berguru sama yang lagi ongkang-ongkang kaki di sana!” serunya menunjukku. Aku nyengir.


Eh, tunggu...


Enak aje ketampananku dibilang bersifat depresiasi.