
Jadi, aku ceritanya ambil wudhu pake air aqua, karena ternyata keran masjid mati.
Selagi aku siap-siap sholat, diimami oleh Daniel, sementara yang lain karena tidak sekeyakinan menunggu di teras masjid sambil istirahat merenggangkan kaki.
Baru juga rakaat pertama, tiba-tiba Leon menarikku.
"Mas! Batalin sholatnya! Cabut Sekarang!!" teriaknya.
Kelihatannya doi panik setengah mampus.
Orang lagi sholat kok diomelin.
"Aduh-aduh! Napa sih bro!!" dia menarikku dan membopong Daniel di pundaknya.
"Gue diculik singa!!" seru Daniel.
"Nanti gue ceritain di mobil!" seru Leon.
Fendi udah melambaikan tangan ke kami supaya cepetan dan Andrew udah siap-siap di kursi pengemudi dengan keadaan mesin mobil menyala.
"Jalan sekarang, tapi kita berhenti sekitar 5 meter di depan." sahut Leon ke Andrew.
"Hah, kenapa harus berhenti?!"
"Lo mau nyasar lebih jauh, bro?"
"Nggak..."
"Pokoknya keluar dulu dari area masjid. Terus tunggu yang tadi."
Yang tadi...
Yang tadi itu maksudnya siapa?
Atau.. Apa?
Jadi Andrew menjalankan mobil keluar dari pagar masjid.
Lalu parkir di tanah petak 5 meter dari sana.
"Lo liat baek-baek tadi tuh lo sholat di mana." sahut Leon ke aku.
Aku...
Cuma diam.
Masih shock soalnya.
Anjay kita sholat di tengah kuburan.
Aku?
Langsung ketawa.
Semua melihatku seakan aku gila. Nggak tau, pingin aja ketawa.
"Beneran banyak banget ya akalnya nyesatin manusia..." desisku setelah selesai ketawa. "Hampir aje gue beneran sholat di kuburan. Pantesan tadi kran aernya mati."
Daniel memeluk lengan Leon.
Dia gemetaran.
Aku...
Keluar dari mobil.
Leon mengikutiku...
Kami menatap pekarangan kuburan di depan kami.
Aku dan Leon bukannya sok berani, tapi dalam hal ini dibutuhkan pemikiran yang matang karena saat ini kami sudah pasti tersesat di dimensi lain. Dimensi astral. Dan nggak ada gunanya buang-buang tenaga dengan panik dan kabur ke berbagai arah, karena sudah pasti bakalan muter-muter di satu area doang.
Jadi nggak ada jalan selain berpikiran jernih dan memohon pertolongan kepada Yang Maha Kuasa.
"Kalo dipikir, ini gangguan sejak kita tidur tadi."
"Hm..." desisku.
"Gue mikir dulu, gue bawa-bawa benda berbahaya atau nggak." sahut Leon.
"Ya iyalah lo bawa, mobil isinya senjata tajam n bedil udah kayak mau turnamen PUBG," gumamku. Aku juga mikir.
"Maksud gue benda yang bisa mengundang mahluk astral bro," sahut Leon.
"Tuh si Fendi." aku menyeringai.
Leon terkekeh
Kami santai banget sih ya? Entahlah aku seperti tidak mengkhawatirkan apa pun... seakan ada bisikan yang bilang, Tenang aja Dimas, bantuan sudah datang.
Tiba-tiba aku teringat...
"Ohiya... Ada. Mirah delima dikasih Pak Edo." kataku
"Ooo, itu tadi yang dibilang sama Gandalf. Katanya ada yang bawa kunti merah."
"Hah? Gandalf?!" Desisku. "Jadi ini di Shire gitu?!"
"Iya ini di dunia semacam itu."
"Gandalfnya rambutnya putih dicatok gitu?"
"Hm. Dipikir-pikir memang rambut sama jenggotnya bercahaya. Mungkin memang ada salon di dunia gaib. Kalah Pak Sebastian..."
"Mana dia?"
"Tahu-tahu menghilang tadi,"
"Saya di sini..."
Kami menengadah ke atas.
Ada sesuatu di atas kap mobil.
Duduk di sana sambil menyeringai.
Matanya merah, bertaring, dan rambutnya putih panjang.
"Barong bukannya harusnya di Bali yah, ini kan masih di Purwokerto sonoan dikit." desisku sambil memicing.
"Tadi tuh tampangnya nggak kayak gitu, lebih bersahabat kayak nasabah minta kredit." kata Leon.
Aku terbahak karena merasa lucu aja mendengar penuturan Leon.
Lalu berdehem karena beneran awkward sempet-sempetnya ketawa pas lagi situasi begini.
"Ehem... Aki ngapain di situ? Turun sini, nanti kepleset..." desisku. "Saya mau wawancara sebentar."
"Kamu tuh bawa-bawa sesuatu yang anyir. Di sini jadi pada ngikutin dikira kamu mau ngasih makan,"
"Hm... Dirimu laper nggak?" Tanyaku.
"Tampang saya begini, sudah pasti saya lapar sekali."
Aku menyeringai.
"Apa?" tanya makhluk itu.
"Tolong bilang ke Lionel, kirimin driver."
"Mas Danu, maksudnya? Nah ini makanya saya di sini." sahutnya.
"Situ dari kapan di sini?"
"Dari awal perjalanan Jakarta sih, tapi saya tertidur. Saya bisa bangun kalau kalian tersasar ke dimensi ghoib. Nah Sejak temen kamu dibelokin... Saya bisa bangun."
"Ya udah. Saya kok nggak tega yah ngeliat taringnya si aki kepanjangan nanti sariawan. Nih mirah delimanya."
Lalu kita...
Ternyata ada di perempatan Ajibarang. Mobil berhenti nepi di pinggir jalan utama.
Di samping sawah, ada warung kopi.
"Eh... Loh...kok...loh..." Andrew keluar dari mobil, celingukan.
"Apa?" aku menatapnya sambil tersenyum simpul.
"Tadi kan di... Kenapa sekarang di..."
"Wait,"Desisku. "Itu liat ada warung kopi 10 meter di sana?"
Andrew dan Leon menoleh.
"Melipir dulu. Ngopi sambil makan jagung bakar. Okeeee?!"
**
Kami menikmati pisang goreng dan jagung bakar di warung pinggir jalan. Di sana dipenuhi oleh supir-supir truk yang juga sedang istirahat.
Terlihat Fendi dan Daniel kayaknya capek banget, mereka masih tegang. Andrew malah ekstra pijet-pijet jidat.
Leon sedang beramah tamah dengan para supir truk.
Aku... Santai makan pisang goreng.
Dan...
Gandalf tiba-tiba dateng, duduk di sebelahku.
Oh, tampangnya yang sebenarnya begini toh...
Kayak bapak-bapak biasa, setengah baya. Rambut putih dikuncir ke belakang, pake peci dan baju gamis kayak orang baru selesai tarawih.
Dia menyeringai padaku.
"Bagusan rambutnya panjang." sahutku
"Kan rapihan begini toh Mas?"
"Terserah aki aja sih,"
"Loh iya. Terserah saya dong." sahutnya menimpaliku.
Andrew dan Fendi menatap Gandalf.
Lalu panik dan berdiri sambil berteriak melipir ke tembok.
"Itu dia aki-aki yang tadi di mesjid Mas!!" seru Andrew sambil menunjuk Gandalf.
Gandalf menyeringai lebih lebar.
Matanya jadi merah berkilat.
"Nggak usah Sharingan di sini dong Ki..." desisku.
(Fyi : Sharingan adalah jurus di film anime Naruto. Sebuah Jurus ninja pada garis keturunan khusus ninja, yang bisa melihat gerakan musuh lebih cepat 3 detik sebelum kejadian. Sebelum mengeluarkan jurus ini, biasanya bola mata berubah jadi merah dengan pola unik. Coba tanya sama anak2 cowok... Haha)
"Saya suka kalau ada manusia yang takut sama saya." sahut Gandalf.
"Hm, Jadi situ nggak suka sama saya dan Leon dong?"
"Saya takut sama kamu, malah." sahut Gandalf. “Soalnya kamu dan Bataragunadi sudah jadi keluarga,”
Aku menyeringai. Sepertinya aku tahu siapa sosok ini.
Sosok Legendaris yang fotonya pernah kulihat di Villa Hambalang punya Putri.
Dan juga, bisa dibilang aku tahu siapa yang mengirimnya ke sini.
Kalau sosok se-sakti ini diutus untuk menemani kami, bisa jadi kami sebenarnya tadi berada di situasi yang benar-benar mengancam nyawa.
"Ngopi, ngopi," aku mengambil gelas dan menuangkan kopi ke depannya.
"Saya suka kopi yang pahit. Bagi rokok juga boleh,"
"Iya biasanya yang kayak aki suka sama Wismilak," Sahutku sambil menyerahkan dua batang ke hadapannya.
"Sama yang merknya Djarum Mas. Yang coklat." tambahnya.
Aku terkekeh. “Banda juga suka itu kan?”
“Mantaaaap! Hahahaha!”
“Hahahahah!”
"Lo kenapa santai banget sih Mas!!" seru Andrew.
"Lah terus harus ngapain bebiiih. Kabur? Capeeek..." semburku.
Leon datang, lalu menepuk bahu Gandalf dengan lebih santai lagi.
"Hey Broki (Bro Aki)..." sapanya ke Gandalf. Lalu menyambar rokok di mulutku dan menghisapnya.
Ih, ciuman nggak langsung.
"Lo tau nggak sih," desis Leon." Jadi ternyata tadi tuh kita di tengah jalan pas kita kira kita lagi parkir di area mesjid. Untung aje belum ada kendaraan lewat. Nah pas gue bilang kita minggir 5 meter baru dah kita ke pinggir jalan. Para supir truk itu dari tadi sebenernya ngeliatin kita dan mau pada nyamperin, tapi setelah mereka ngedeket kita kayak ngejauh terus jadi mereka nggak nyampe-nyampe ke lokasi kita!"
"Lah yang bisa ke TKP ya hanya Saya..." desis Gandalf.
"Yoik. Thank's bro. Jadi... Lo itu utusan siapa?" Leon duduk di sebelahnya sambil menyesap kopinya.
“Kanjeng dong, siapa lagi,” jawab si Aki.
“Aki Tirem ini sebenarnya mau-mau saja disuruh ke sini soalnya tak banyak kesempatannya buat lepas dari si Putri kaaan? Sekali-kali jalan-jalan ya Ki?”
“AH! Kamu ini! Tahu saja hahahahaha!” ia memukul-mukul punggungku.
“Aki Tiren? Mati Kemaren?” desis Daniel sambil mengernyit.
“Yaaa, ‘kemarinnya’ sih sudah lama ya, bisa puluhan ribu tahun yang lalu hahahahahah!” seru Aki Tirem sambil terbahak.
“Aki Tirem, bukan Tiren, ih,” ralatku.