Office Hour

Office Hour
Nikah Woy!! (1)



Aku mengantar Mitha, Trevor dan Mas Bram ke Bandara International. Sudah waktunya check in. Mereka akan menempuh perjalanan jauh ke Moskwa sebelum melanjutkan ke Yakutsk. Dingin di sana bisa minus 11 derajat kalau musim panas. Nggak tahu sekarang musim apa.


"Sesuai janji, flashdisk sudah kuserahkan, sekarang aku titip anak-anak yah di rumah Meli." Kata Mitha.


Aku mengangguk.


Aku senang saat Meli langsung menyambut baik anak-anak Mitha, tadi. Ia suka anak-anak.


Membuatku semakin berpikir panjang ke depan.


Mungkin bisa bikin satu atau dua... Tapi itu terserah Meilinda sih, umurnya sudah lanjut dan itu tubuhnya. Terserah dia mau apakan tubuhnya. Ia mau hamil ya oke, dia menolak yah aku oke juga. Hamil di saat berusia setua Meilinda memiliki risiko yang sangat besar.


"Sejak kapan sih kalian bertemu?" Tanya Trevor, lebih terdengar sebagai gerutuan.


"Baru kemarin, ya? Tapi udah seperti adik sendiri nih Dimas," Mitha mengacak-acak rambutku.


"Kamu mau jadi wanita karier loh. Dinasnya jauh pula. Anak-anak gimana?"


"Nanti aku bawa ke sana dong! Di sana kan negara prularisme juga, dan aku dengar banyak sekolah bagus di sana. Aku hari ini mau sekalian lihat-lihat apartemen,"


"Nanti aku temani, aku sudah sering bolak balik ke sana." Kata Trevor.


Aku dan Bram saling menatap.


"Hati-hati Mit... Trevor baru putus sama cewek Jepangnya! Dia lagi dalam masa mencari jati diri. Apalagi kamu secara teknis udah janda," desisku.


"Kan belom sah di mata hukum. Daftar pengadilan agama aja belom, haha!"


Kartu AS yang kemarin kusebut-sebut ya ini. Pak Arman yang mengusahakan semuanya.


Aku mengutarakan ideku ini saat bersama Mitha di Palyground. Yang dia rela bawa-bawa Raka terus ke kantin karena memata-matai suaminya itu.


Aku sungguh kasihan saat itu terhadapnya.


Jadi aku terbersit ide ini. Identitas istri-istri Gunawan sudah kukantongi, lalu apa lagi yang harus kulakukan? Masa aku  berdiam diri saja?


Masalahnya, agar semua mereda, si ibu-ibu yang akan segera jadi janda ini kan harus memiliki penghasilan sendiri dong.


Nah di sana aku mentok, makanya Pak Arman kuberdayakan.


Waktu Pak Arman berkenalan dengan Mitha, ternyata mereka cepat akrab ya.


Atas ijin Pak Sebatian, Aku melacak nomor telepon kedua istri Gunawan yang lain. Tidak susah ternyata karena ternyata sudah sejak lama mereka merasa ada feeling tidak beres, sekali dipancing pakai foto mesra Gunawan dan Mitha mereeka langsung bersedia bertemu kami walaupun sudah tengah malam.


Sampai sana sebenarnya aku tidak ikut-ikutan. Ini cerita dari Mitha. Katanya, kedua istri Gunawan yang lain datang ke cafe hampir berbarengan, tadinya mereka hampir berantem saat bertemu. Tapi akhirnya dilerai oleh... Pak Arman danpesonanya, akhirnya mereka bersedia untuk saling bicara.


Biasa kalo wanita galau ujung-ujungnya tangis-tangisan.


Lalu Pak Sebastian menawari mereka pekerjaan untuk bisa tetap menafkahi anak-anak mereka tanpa sokongan dari Gunawan. Mereka harus jadi independent woman. Langsung posisi bonafit, melihat latar belakang mereka bertiga sebenarnya cukup bergengsi karena mereka dari golongan keluarga terpandang juga. Siapa yang menyangka kalau Mitha adalah lulusan Illinois?! Dan dalam semalam Pak Arman mengurus dokumen ke Rusia untuk dirinya. Ia akan ikut Trevor dan Bram untuk melihat lokasi pekerjaan barunya. Karen alatar belakangnya adalah anggota GSA, ternyata pengurusan dokumen ke Rusia dipermudah.


Aku semakin bingung GSA ini perusahaan apa ya sebenarnya?


Apakah sebenarnya negara kita ini  memiliki Agen Rahasia sendiri?


Untuk mengusut hal-hal luar biasa di luar nalar?


Mungkin suatu saat aku akan bertanya ke Pak Arman, Tuyul itu Alien atau Jin? Mungkin dia tahu jawabannya.


"Tapi secara agama kamu udah ditalak ya udah masa iddah dong sekarang," sahutku. "Jaga burung lo jangan lari-lari di sana!" sindirku ke Trevor. Aku merasakan percikan cinta di antara dia dan Mitha. Sekilas tapi cukup bikin gerah.


"Kampret, lo ngomong ke gue ato ke diri lo sendiri!" seru Trevor.


"Nanti aku yang awasin." Masku memeriksa pasportnya. "Udah waktunya batas checkin nih, kita juga harus urus dokumen imigrasi."


Ia mengacungkan tangannya padaku, aku mencium tangannya.


"Titip ibu." desisnya.


**


Dua minggu setelahnya,


Hari ini hari pernikahanku.


Jam 00.05 aku malah bengong di depan oven.


Menunggu bolu pisangku matang.


Lumayan asik sih melihat adonan perlahan-lahan mengembang.


Atau aku memang tak memiliki pekerjaan lain yang lebih berfaedah.


Padahal jam 8.00 aku harus mengucapkan ijab kabul.


Yang jelas otakku merespon untuk melakukan kesibukan, dan tubuhku mendukung karena jantungku dari tadi pagi tidak berhenti berdetak cepat.


Apa aku kena penyakit?


Kenapa adrenalinku terpacu begini?!


Pernikahanku rencananya dilakukan dengan sepraktis mungkin. Dan aku benar-benar tidak repot sama sekali.


Tidak ada itu malam midodareni atau ritual tradisional yang harus kulalui. Bahkan seserahan sudah diatur sama Event Organizer.


Mungkin karena ini pernikahan kedua Meilinda jadi 'katanya' tidak semewah pernikahan pertama.


Pernikahan kedua, tapi saat melihat budget yang dikeluarkan... Benar-benar membuatku pusing!


Kata siapa 'tidak mewah'?!


Aku bahkan tidak keluar sepeser pun untuk acara ini. Hanya cincin yang kubeli, dan seperangkat alat sholat yang sudah disiapkan ibuku, peninggalan bapakku saat menikah dengannya dulu.


Semua sudah dipersiapkan, seharusnya reaksiku tidak tiba-tiba galau sampai nekat memanggang bolu di tengah malam.


Lalu ovennya berdenting.


Menandakan kalau set time yang kusetting di oven sudah selesai.


Wangi bolu yang baru saja keluar dari oven menenangkanku.


Lalu aku meletakkan gumpalan tepung manis itu bersamaan dengan 7 bolu lain yang telah selesai kupanggang di atas meja.


Total ada 8 kue yang kubuat malam ini.


Ada yang coklat hazelnut, ada kopyor cake kesukaan Pak Hans, ada red velvet pake cheese cream, ada sakura blossom cake kesukaan Meilinda extra sparkling mutiara edible, ada black forest favorit Masku, ada cake tsunami yang lagi happening, Ada japanese chesecake, dan kini kesukaanku, bolu pisang.


Dari mana aku punya kekuatan untuk membuatnya?!


Dan untuk siapa aku membuatnya?!


Eh, aku sempet tidur nggak sih tadi?


Lalu sambil memasukan potongan besar bolu pisang ke dalam mulutku, aku kembali bengong. Selama sekitar 15 menit aku melahap hampir setengah loyang.


Aku kenapa sih, rasanya tidak ingin melakukan apa pun. Juga tidak merasakan apa pun.


Hanya ingin makan sesuatu yang manis.


Lalu ponselku berdering.


Jam 00.30.


Dan aku berdecak karena melihat nama kontak yang menelponku