Office Hour

Office Hour
Lamaran Diterima



Setelah lamaran disambut baik, Bram makan siang bersama orang tua Selena, sambil mengobrol mengenal masing-masing karakter.


“Pak Farid, Saya tidak memberitahu Selena kalau saya ke sini,” kata Bram.


“Oh ya? Jadi dia belum tahu? Mama nggak kasih tau Selena juga?” Pak Farid menoleh ke arah istrinya,


“Tidak Pah, Aku malah pikir ini semua rencana Selena,” kata Bu Alana.


“Waaah, ya kalau begitu biar saja, hahahaha!” kata Pak Farid.


“Ya masa dia sampai tidak tahu sih Pah,” kata Bu Alana.


“Masih kerja dia, kalau datang ke sini nanti bawelnya dobel, pusing aku. Pas malem berantem sama dia waaah, ini rumah sampai bergetar kaca jendela. Serak suaraku Mah,” keluh Pak Farid.


“Ya papa sih udah tahu tabiat anak memang begitu dari kecil, masih nggak mau kalah juga. Memangnya sekarang zaman Jodoh-jodohan. Selena bukan kucing Pah, pakai di pijah-pijah segala,” sungut Bu Alana, “Toh kita dulu bertemu juga tidak karena orang lain Pah, menikah atas dasar keinginan sendiri. Masa Selena harus dijodohkan, kan tidak adil,”


“Ya sekarang aku memang berpikiran begitu,”


“Pak farid,” Bram angkat bicara, “Tadi saya dengan dari Bu Alana kalau Selena belum pernah membawa laki-laki ke rumah?”


“Ya mungkin karena dia judes banget jadi laki-laki pada takut sama dia, hahahaha!” seru Pak Farid. Bram hanya menunduk. Orang tuanya tidak tahu bagaimana kelakuan anaknya di luar.


“Aku kirim pesan aja, bilang kalau Papa panggil ke rumah. Kalau datang ya bagus, kalau tak datang ya sudah,” kata Bu Alana sambil mengutak atik ponselnya.


“Mas Bram,” Pak Farid mencondongkan tubuhnya, “Pernah ketemu pak Yan langsung?”


“Pernah Pak, apalagi adik saya, Dimas, Itu pacaran sama bu Meilinda,”


“Hah?” Pak Farid dan Bu Alana membeku.


Bram hanya menyeringai, “Sulit dipercaya ya Pak?”


“Linda? Linda Bataragunadi kan ya?” Pak Fardi tampak belum bisa menyembunyikan kekagetannya.


“Iya Bu Meilinda Bataragunadi yang itu. Yang katanya lebih galak dari Selena, hehe,”


“Lah kok bisaaaa??” seru pak Farid. “Bilang ke adikmu Mas, hati-hati loh! Kalau si Yan sampai tahu si Linda kenapa-napa, bisa habis itu satu keluarga!!”


“Tapi keluarga saya kan Bu Lastri,”


“Ohiya aku lupa, nggak mungkin Yan ngapa-ngapain Bu Lastri, hehehehe,” kekeh Pak Farid.


“Hehehehe, Pak Farid, saya pingin tahu deh lirik lagu yang dipersembahkan Pak Yan ke ibu sayaaaaaa,”


“Mau tahuuuuu? Romantiiiis betul lah pokoknya! Jadi yang saya ingat ini :


Kala cinta terbelit lidah


Tenggorokan tak sanggup bernapas lega


Wajahmu membuat mataku terpana


Hati ini berdebar-debar jadinya.


Lastri, Lastri Oh Lastri, Namamu seindah lautan berbuih mutiara.


“HUAHAHAHAHAHAHAHAAH!!” seru Pak Farid dan Bram bersamaan.


“Ih, menurutku kok romantis banget ya, sekali-kali bikinin aku yang seperti itu juga dong?” kata Bu Alana.


**


Sampai akhirnya bintang tamunya datang.


"Pah, aku cuma punya waktu sebentar yah! Jam makan siang cuma sampe jam satu! Nanti bossku bisa ngomel-"


Dan langkahnya terhenti saat melihat Bram di meja makan bareng orang tuanya.


"...Pak... Bram..!?" Selena mundur selangkah.


Mengira ini cuma mimpi.


"...kok..."


"Sini, cantik," Bu Alana memanggil Selena dengan tangannya.


"Udah diterima yah lamarannya, jangan ngambek lagi!" Seru Pak Farid.


"Lamaran?!" Seru Selena kaget.


Bram hanya tersenyum menatapnya.


“Maksudnyaaa??” seru Selena masih kaget.


“Sori nggak bilang-bilang. Seharusnya minggu depan aku baru ke sini, tapi mendengar berita kalau kamu akan dijodohkan, jadi aku berinisiatif datang,” kata Bram.


Selena masih melongo menatap ke arah Bram dan orang tuanya. Ketiganya sedang duduk di meja makan, bersenda gurau layaknya sebuah keluarga.


“Yah, pingsan berdiri deh dia,” desis Pak Farid.


**


Bram akhirnya mengantar Selena kembali ke kantor. Selena tidak mungkin bisa berlama-lama di rumah karena ia harus bekerja. Padahal ia ingin lebih menghabiskan waktu dengan Bram, calon suaminya.


Astaga...


Pipi Selena langsung bersemu merah.


Calon Suami !!


Seharian tadi ia mendiamkan Dimas, walaupun semua pekerjaan yang disuruh Dimas ia kerjakan namun ia tidak banyak berbicara, pun dengan orang selain Dimas. Apalagi waktu Meilinda lewat, ia cuek saja tidak menatapnya. Bodo amat mau dibilang apa.


Apa pun itu ia sedang mencari jalan agar bisa bersama Bram. Sewaktu sedang sibuk mencari rencana tiba-tiba Bu Alana mengiriminya pesan singkat. Katanya penting mengenai masa depan.


Sepanjang perjalanan ia menyusun kata-kata sangkalan apabila dibahas mengenai perjodohannya dengan Trevor.


Lamaran...


Di hari kerja Bram melamarnya.


Langsung datang sendiri sehari setelah berita heboh itu terjadi.


Selena meliriknya.


Bram masih fokus menyetir. Ia tampaknya tidak memperhatikan Selena.


Baguslah, Pikir Selena. Karena saat ini wajahnya semerah kepiting rebus.


"Len, kamu nanti pulang jam berapa?"


Sial sekali ! Apa aku minta Dimas saja yang membereskannya? Dari tadi kankerjaannya Cuma ngopi dan sebat doang.


Bram mengangguk. "Kalau nanti mau pulang kabari yah, nanti Aku jemput."


‘Aku’.


Panggilannya buka ‘Saya’ lagi.


Tapi jadi ‘Aku’ dan ‘Kamu’.


Selena tak bisa menahan senyumnya.


Ia langsung mengambil ponselnya dan menelpon.


"Yak." Terdengar suara Dimas dari seberang.


"Pak Dimas, sisa berita acara tinggal pembahasan mengenai giro kosong, kasus terakhir, dan barbuk sudah saya lampirkan jadi tinggal kata-katanya saja, mohon dapat dilanjutkan yah pak. Saya ada keperluan keluarga, penting, mohon maaf kemungkinan tidak kembali ke kantor, tapi besok saya akan datang lebih pagi untuk membereskan yang tertunda." Sahut Selena.


“Haa?” dengusan dari Dimas, “Gimana Len? Ngomong lo udah kayak Cecil, pelan-pelan gue buffer nih!”


“Intinya saya nggak balik lagi ke kantor Pak Dimaaaaaaas, ada acara keluargaaaa!!” seru Selena tak sabar.


Jawaban dari Dimas datang agak lama, mungkin dia memeriksa komputer Selena dulu.


"Oke, gue udah dapet datanya. Gue aja yang lanjutin,”


"Makasih Pak." Selena menutup sambungannya.


“Bentar Len!!” seru Dimas dari seberang.


“Apalagi seh?!” seru Selena sewot.


“Mas Braaaaaammmm!! Jangan kenceng-kenceng goyangnyaaa! Inget badanmu segede kingkooong!!”


Dan telepon pun terputus.


Lalu Selena menoleh ke Bram. "Nggak usah didengerin," sahutnya kemudian dengan wajah masih merah.


Bram tersenyum. Ia jelas sudah hapal tingkah adiknya itu.


"Mau makan atau jalan-jalan?" Tanya Bram.


Selena terdiam


Mau ngomong tapi takut disangka nakal.


Tapi gimana dong ia sudah menahan hal ini sejak lama.


Tapi Bram tampaknya mengetahui kegundahan Selena.


"Len...ngomong aja. Apa pun yang kamu mau. Kita kan sebentar lagi menikah." Katanya.


Selena merasa degup jantungnya makin cepat.


"Aku boleh ngomong apa pun yang aku mau?"


Bram mengangguk.


"Kamu nggak akan tersinggung?"


Bram kembali mengangguk.


"Walaupun nanti aku menunjukan diriku yang lain?”


"Di depan Aku, kamu bebas." sahut Bram.


"Oke... Boleh kita ke apartemenku?"


Bram tersenyum lagi.


Lalu mengangguk perlahan.


**


Selena membuka kunci apartemennya dengan terburu-buru, tangannya gemetaran sampai-sampai kuncinya jatuh bergemerincing. Bram meraih pinggang wanita itu dan menariknya mendekat lalu memeluknya sambil menciumi lehernya.


"Sabar, sayang... Yang mana kuncinya?" bisik bram di telinga selena. Sementara tangannya sibuk membelai dada wanita itu dan tangan yang satunya menahan pinggangnya supaya Selena tetap berdiri.


Selena melenguh nikmat dan mengangkat kunci lalu memicingkan mata berusaha mencari kunci dengan diameter terbesar. Ketemu, lalu ia berusaha menahan hasratnya dan memasukkannya ke lubang kunci.


Pintu apartemennya terbuka mereka berdua masuk dengan cekikikan


"Ya Ampun, nggak pernah kepikiran masuk ke apartemen bisa sesulit ini!" sahut Selena sambil kembali mengunci pintu itu.


Bram sudah tidak peduli ada barang apa saja di dalam apartemen Selena, yang ia pikirkan hanya merengkuh wanita itu dan bersatu dengannya. Pria itu mendesak Selena ke meja terdekat, mengangkat rok wanita itu supaya ia bisa memposisikan tubuhnya yang besar ke pelukan selena. Mereka berciuman dengan panas, saling menautkan lidah dan merasakan aroma masing-masing.


Astaga rasanya luar biasa saat berciuman dengan orang yang benar-benar disayang. Pikir Selena.


Tangan Bram menyelusup ke dalam kain segitiga tipis dan membelainya dengan posesif. Selena melenguh nikmat dan mengangkat wajahnya, membiarkan leher jenjangnya bebas. Bram meraih leher itu dengan bibirnya dan menyesapnya. Beberapa detik kemudian bibirnya mulai turun ke tengkuk Selena.


"Buka, sayang," Perintah Bram serak dan tak sabar.


Selena tertawa lalu mendorong Bram.


"Jangan di sini dong," Ia setengah berlari menjauh dari Bram namun telunjuknya memberi isyarat supaya Bram mengikutinya.


Selena meloloskan gaunnya ke bawah. Kini ia hanya berbalutkan bra dan panty putih berenda.


Bram terkekeh dan membuka kaosnya ke atas sambil mengikutinya. Otot dada dan perutnya yang membuat wanita manapun berliur terpampang dihiasi tato dari lengan sampai dadanya, terasa gagah saat ditubuh Bram.


Selena berguling di ranjang berhiaskan secercah sinar matahari siang dari furing gorden. Tubuh langsing dan dadanya yang bercup c membuat birahi Bram meninggi. Ia menghampiri Selena bagaikan singa yang bersiap menerkam buruannya. Bram meloloskan celana jeansnya sambil menghampiri Selena. Kini tersisa hanya boxer hitam yang membuat Selena menelan ludah, terlihat jelas bayangan anggota tubuh yang paling dinantikan Selena. Ukurannya di atas rata-rata pria manapun yang dikenal Selena, padahal belum sepenuhnya menegang.


Selena menggigit bibirnya dan menatap Bram tajam. Pria itu merengkuh Selena dengan mudah dan mereka berciuman dengan panas.


"Bram," Desis Selena disela-sela pergumulan bibir mereka. "Plis..."


"Hm..." Gumam Bram.


"Sudah kutahan bertahun-tahun, ayo cepetan masuk,"


Bram menyeringai senang. "Kamu seksi banget," pria itu merengkuh bibirnya. "Aku pasti akan buat kamu puas," bisiknya berjanji.


Lalu menarik Selena dan memasuki tubuhnya jauh lebih dalam.


"Aku cinta kamu... Kamu akan secepatnya jadi Istriku.." Desah pemilik suara bass itu.