Office Hour

Office Hour
Ini Bab Malesin



Terus terang saja aku memiliki firasat buruk dalam hal ini. Wajah Meilinda yang ragu saat melihatku, juga tersirat kemarahan yang memuncak.


Aku tidak tega melihatnya seperti ini.


Aku takut mengecewakannya lagi.


Aku khawatir tabiat jelekku muncul lagi. Terlalu baik ke wanita lain, membuatku terkesan tidak bisa membela Meilinda.  Padahal aku hanya ingin semua berakhir baik.


Nyatanya tidak semua manusia bisa baik padaku.


Ditambah, sebagai laki-laki, ada harga diri yang besar dan rasa gengsi. Kami tidak semudah itu merendahkan diri walau pun itu orang terkasih. Wanita tidak akan mengerti tindakan kami yang terkesan menye-menye kalau berhadapan dengan banyak wanita tapi kalau dihadapkan dengan sesama laki-laki kami terkesan egois.


Itulah kami,


Laki-laki.


Dan tindakan Meilinda menyelesaikan urusanku dengan harta Kakaknya, merupakan hinaan bagiku. Karena dalam hal ini secara tak langsung dia membandingkanku dengan Pak Sebastian yang Agung.


Dikiranya aku tak bisa berdiri sendiri dan mengekor kakaknya terus.


Hal itu jelas tak bisa kuterima.


Sementara Meilinda merasa terhina aku membela wanita-wanita lain di depannya.


Kupikir, hal itu sama. Kita seri. 1 : 1.


Dan ada indikasi aku akan mengulangi hal ini kalau ‘mereka’ datang lagi.


Sementara ada indikasi Meilinda akan bawa-bawa harta lagi untuk menyelesaikan semuanya.


Hubungan ini sudah semakin rumit bagiku.


"Lepasin aku," desis Meilinda.


Aku melepaskan peganganku ditangannya dan menuju lemari pakaian, mencari jeansku. Mau antar Meilinda pulang sekalian ngomong.


"Aku nggak suka kamu bawa-bawa harta kakak kamu," aku mengawali pembicaraan tanpa basa-basi, biar cepat selesai. "Atau jabatan kamu, atau kekuasaan kakak kamu, apalagi dengar namanya. Kalo kamu mau kita nikah aku nggak mau pake uang kamu untuk kebutuhan kita sehari-hari, jadi kamu harus terbiasa nggak pakai beking Bataragunadi."


Dia hanya diam sambil duduk di sofa.


Aku duduk di depannya, menatapnya tajam. "Aku memulai semuanya dari bawah, pakai usaha sendiri. Aku memang nggak sekaya kakak kamu, tapi aku sudah bertekad untuk komitmen dengan hubungan kita. Itu pun... Kalau kamu mau melanjutkan,"


Ia mulai terisak.


"Kamu..." ia mulai membuka omongan. "Berapa banyak lagi pengganggu yang akan aku hadapi?"


"Banyak. Kamu juga udah tau dari awal kan... mengenai kasusu aku sampai pindah dari tempat kerja lamaku, itu bukan main-main."


Ia menghela napas.


"Kamu mau menyingkirkan sendiri atau butuh bantuan aku?" terdengar nada menyindir dari ucapannya.


"Kamu percaya sama aku nggak?" aku balik bertanya. "Aku nggak pernah mau terikat komitmen sama yang lain, cuma sama kamu."


"...tapi peluk-peluk cewek lain di depan aku..." ia menyindirku.


"Itu caraku menenangkan dia."


"...terus ngebelain cewek lain dari ancaman aku. Padahal aku udah coba ngebela kamu."


"...bukan gitu caranya membelaku, kamu malah bikin masalah tambah runyam."


"Kita putus aja."


Anjritt!


"Aku nggak kuat berjuang sendiri. Kamu juga nggak peduli sama usahaku kan? Aku kelojotan perang-perangan sama pacar-pacar kamu sampe diancem mau dibunuh segala memangnya kamu pikir gimana sisi psikologisku, hah?" sambung Meilinda.


Aku hanya diam.


"Aku jadi bertanya-tanya apa posisiku sekarang sebenarnya sama kayak cewek-cewek itu, cuma aku sendiri yang terobsesi sama kamu, kamunya nggak. Mana ada orang yang tahan ngeliat kekasihnya peluk-pelukan sama cewek lain?!"


"Sayang..."


"Nggak usah panggil sayang! Memangnya kamu beneran sayang sama aku? Hah?" dia menghardikku.


"Aku nggak punya perasaan apapun sama mereka." Aku berusaha tetap kalem.


"Memangnya aku tau?!"


"Aku nggak mau putus."


"Aku nggak peduli. Aku capek."


“Kamu dengar sendiri aku bilang ke mereka kalau kamu pacarku, semua juga dengar. Kupikir itu cukup untuk menggambarkan perasaanku padamu,”


“Tidak cukup bagiku,”


Aku diam lagi.


"Aku beneran mau serius sama kamu. Kamu mau apa untuk buktinya? Fair-fairan aja," akhirnya aku berucap begitu.


"Fair ? Kamu bilang fair?! Bagian mana yang aku diperlakukan dengan adil?!"


"Adil buat kamu itu yang kayak gimana? Kasih tau aku! aku akan coba..."


"Nggak perlu coba. Aku pulang ! Capek ! " Meilinda meraih pegangan pintu.


Aku menahannya, memeluknya dari belakang.


Yang aku tahu sekarang, aku nggak ingin kehilangan dia.


Serius.


"Lepasin." desisnya.


"nggak."


"Kamu mau tau yang adil buat aku?"


Aku mengangguk pelan sambil mencium lehernya.


Aku diam lagi.


"Ngerti?"


Aku melepas pelukanku.


"Oke..." aku menjauh.


"Ya udah kalo gitu lakuin besok kalau mereka dat..."


"... Oke kita putus."


Aku memutuskan hubungan dengannya. Wanita alpha yang tak mau kalah seperti ini. Sudah pasti nggak akan mau diajak kerja sama urusan rumah tangga. Aku mencintainya sebagai wanita, bukan sebagai majikan.


“Kita... Dimas, kamu mutusin aku?!” ia mentapaku kaget dengan mata bulat besarnya itu.


“Iya,”


“Astaga, aku-“ ia tampak tercekat.


“Aku memutuskan hubungan denganmu bukan karena aku tidak mencintai kamu, tapi karena aku takut terjadi sesuatu padamu. Terutama hati kamu. Dan sudah jelas kamu tidak akan bisa menerima apa pun yang kulakukan,”


“Kamu breng-sek,” ia terdengar geram.


“Kamu sudah tahu dari awal,” gumamku pelan.


**


(Catatan Author: Dalam pertengkarannya dengan Meilinda, Dimas lebih banyak memakai Logika dan Ego-nya. Memakai logika hanya ada dalam kamus laki-laki, sementara wanita lebih banyak memakai emosi. Novel ini memang bertujuan untuk memberikan pengertian kepada pembaca bagaimana isi hati laki-laki sesungguhnya saat persiapan untuk berkomitmen terjadi. Terutama saat pasangannya adalah wanita yang lebih superior darinya).


**


Aku cuma nggak mau Meilinda memakai caranya. Aku juga punya harga diri. Menjadi Budak Cinta nggak ada dalam kamusku.


Kenapa aku setuju putus? Kita pake logika aja.


Aku ingin jaga hubungan baik, dengan siapa pun.


Kita tak tahu siapa yang akan membantu kita, saat kita di masa depan terpuruk.


Oke kemarin-kemarin aku memang kurang tegas dengan cewek-cewek yang mengklaim sepihak atas diriku. Besok aku akan ubah metodeku agar mereka mengerti kalau perasaan manusia tidak bisa dipaksakan.


Kalau main usir-usir aja menurutku itu bar-bar. Memangnya mereka kucing garong,


Maen usir.


Mereka jatuh cinta padaku juga bukan salah mereka, seperti kata pepatah, cinta itu buta.


Di lain pihak aku memang tidak mau kehilangan Meilinda.


Kenapa aku berbuat begini, karena aku nggak mau dia tersakiti. Setidaknya aku ingin kita berdua tidak ada ikatan apapun sampai cewek-cewek itu nggak menggangguku lagi, aku


akan bereskan satu persatu. Karena aku nggak ingin memakai cara Meilinda.


Kami dari golongan rakyat biasa, mereka golongan kelas atas seenaknya memakai kekuasaan mereka untuk menyingkirkan manusia yang tidak mereka suka tanpa memikirkan akibatnya.


Memangnya mereka pikir mereka bisa kaya karena siapa? Semua manusia sama dimata Tuhan.


Bagaimana kalau di masa jeda ini Meilinda naksir orang lain?


Simple aja, jadi dia bukan jodohku. Terus, harus kupaksa begitu?!


Kecuali saat ini dia sudah resmi jadi istriku, barulah aku akan pakai cara kasar untuk menjauhkan barisan para mantan.


Udah ngapain aja aku sama cewek-cewek yang mengejarku dengan fanatik?


Nggak ngapa-ngapain.


Mereka sih seringkali menyodorkan diri. Tapi aku selalu menghindar. Mungkin itu sebabnya mereka mengejarku. Mereka masih penasaran denganku.


Aku nggak suka mengumbar janji.


Kalau aku kasih, bebanku berat. Dan mereka akan merasa punya ikatan denganku. Aku nggak suka komitmen dalam hal cinta-cintaan,


Kecuali memang orientasiku untuk menikah, seperti dengan Meilinda.


Aku mengantar Meilinda pulang karena ia nggak bawa mobil, tadi langsung digeret Selena soalnya. Perjalanan 1,5 jam karena agak macet, dan kami tidak saling bicara.


Ia menangis sepanjang jalan.


Aku diam saja.


Nggak ingin ngasih tau juga.


Dia udah bukan anak kecil lagi seharusnya dia bisa introspeksi. Kenapa selama ini hubungan cintanya berakhir dengan kegagalan? Dia terlalu menganggap dirinya manusia paling penting, selalu dibayangi kakaknya.


Aku juga harus bersiap-siap kalau Pak Sebastian menggangguku dan keluargaku.


Saat sudah sampai depan rumahnya aku menahannya agar tidak langsung turun.


"Meli..." aku ingin dia paham perasaanku. Aku ingin dia menungguku sebentar. Dan aku ingin menjalani percintaan dengannya tanpa gangguan.


Hanya ada dia dan aku.


"Aku masih sayang kamu. Mungkin bisa jadi perasaan ini nggak akan berubah seumur hidup." aku menghela napas. "Kamu ini cinta pertama untuk aku. Tapi kalau pacaran denganku cuma bikin kamu nangis dan cemburu setiap hari, aku lebih baik tidak memiliki ikatan apa pun sama kamu. Aku nggak ingin kamu merasa sakit lebih dalam. Aku berharap kamu bisa tunggu aku."


Ia hanya menatapku dalam diam.


Aku tidak ingin lebih lama menahannya. Kami butuh ketenangan.


Ia hanya menunduk, lalu ia mengangguk.


Mulai hari ini kami putus secara baik-baik.


Pacaran itu ternyata sulit juga ya.


Ribet...