Office Hour

Office Hour
Karyawan Baru Garnet Property



"Mas lo yang bener aja bawa anak orang kemari!!" seru Fathur saat kami masuk ke mobil.


Aku menyeringai.


"Santuy Bang," rayuku. "Pak, ke Garnet Property ya!" aku menginstruksikan ke driver lokasinya.


"Kita mampir dulu bentar, okey?!" sahutku ke personal SAM. "Minum, Yu?" aku menawarkan teh kotak ke cewek itu.


Ia menerima minuman tapi matanya masih fokus menatapku dengan muka semerah kepiting rebus.


Saat kami tiba di gedung Garnet Property, Aku membawa Ayu ke lantai 20, lantai khusus manajemen tempat ruangan para Direksi di Garnet property.


"Pak Dimas, apa kabar?! Sudah lama tidak kemari, Pak," Grace, operator menyapaku, matanya menatapku dengan seksama dari atas ke bawah lalu mengerling padaku.


Aku hanya tersenyum.


"Mau ketemu Pak Bram? Atau Pak Trevor? Atau... saya?" Dia salah tingkah kayak cacing dijemur di aspal.


"Trevor ada?" tanyaku.


"Ada, baru kembali dari makan siang. Beliau di ruangannya."


"Oke, saya langsung ke sana aja boleh?"


"Mau dianterin aja, nggak ?" tawar Grace sambil kipas-kipas lehernya dengan tangannya sendiri.


"Nggak usah, nanti kamu kepanasan," sahutku.


Grace terkikik. "Tau aja deh kamu..." sambil mencubit pelan lenganku.


Aku menggiring Ayu untuk mengikutiku. Ia tampak terpana melihat gedung Garnet Property yang memang tampilannya sangat mewah. Beberapa kali tersandung karena pandangannya menyapu ke segala arah.


"Pak, cewek yang tadi cantik banget!" katanya sambil menatapku dengan pandangannya yang polos. "Itu pacar Bapak?"


"Bukan." sahutku. "Kamu di sini akan sering melihat yang lebih cantik lagi,"


"Saya mah nggak bakalan bisa sebanding pak!"


Wah, dia nggak tau tampang Grace waktu masih jadi anak baru.


Aku mendengar teriakan Trevor membahana dari dalam ruangannya. Lalu beberapa orang keluar dari ruangannya terburu-buru.


Milady, menyambutku dengan ciuman di pipi. Kangen banget aku sama bidadari satu nih.


"Aku datang di saat yang nggak tepat ya?" tanyaku.


"Siapa sih yang bisa nolak kamu, Mas?" lalu wanita itu mengarahkan pandangannya ke Ayu yang bersembunyi di belakangku dengan ketakutan gara-gara mendengar teriakan Trevor barusan. Satu keluarga emang tingkahnya aneh-aneh, mungkin mereka membangun Bisnis dengan teriakan mereka.


"Ini, anaknya?" tanya Milady.


Aku mengangguk.


Dia dan Trevor sudah kukabari maksudku membawa Ayu ke Garnet Property. Lebih tepatnya, aku mengabari Trevor, tapi Trevor selalu memberitahukan semuanya ke Milady.


"Hm," Milady memandang Ayu lalu memperbaiki kerudung cewek itu supaya lebih tertutup, dan merapikan rambut Ayu yang berantakan keluar dari sela-sela kerudungnya.


"Berdoa yang terbaik yah Manis," desisnya ke Ayu.


Ayu hanya menatap Milady sambil terkesima, memang tampilan si Mbak sekretaris ini udah kayak Putri Keraton. Cantik berkelas dan bersahaja. Jujur saja, menurutku ia lebih cantik dari Meilinda dan Selena. Mereka kecantikan Aristokrat, kalau yang ini ala-ala Kesultanan Nusantara. Sampai sekarang aku masih heran kenapa Trevor nggak pernah jatuh cinta sama Milady.


Lalu ia membuka pintu ruangan Trevor. "Trev, ada Dimas nih,"


Saat melihat Trevor, Ayu semakin lebih melipir ke belakangku, aku duga pasti ia langsung merasa berada di dunia lain. Tampilan Trevor memang suka mengintimidasi banyak orang.


"Ayu, kenalin ini teman saya, Pak Trevor Bataragunadi. Dia manajer di sini." sahutku.


Ayu menunduk, meraih tangan Trevor yang terjulur ke arahnya dan menciumnya.


Aku hampir ketawa.


"Jadi tujuan saya ajak kamu kesini, untuk mencarikan kamu pekerjaan." Kataku.


Mata Ayu membesar.


"Pekerjaan untuk saya pak?!" seru Ayu.


"Iya, katanya ada lowongan buat lulusan SMA seperti kamu di sini,"


"Saya mau bekerja apa saja pak! Yang penting halal pasti saya lakukan sekuat tenaga!" seru Ayu lagi. Dia beneran girang.


"Saya ada lowongan Office girl buat kamu. Kerjanya bersih-bersih, fotokopi, bikin kopi,


ganti galon..." kata Trevor.


"Nggak apa-apa pak!" seru Ayu senang.


"Berapa sih angsuran bapaknya?" tanya Trevor kepadaku.


"Sebulan sekitar 3jutaan, bro,"


"Habis dong gaji si ayu kalo semua buat bayar cicilan bapaknya," Kata Trevor.


"Ya makanya gue bawa langsung ke elo. Bisa kan?! Gue kasih lo imbalan lain deh," aku tersenyum manis kepadanya, merayu.


Ia mencibir.


"Lagi-lagi hipnotis pake senyum, bangk3 lo emang," Trevor menyerah. "Sebulan 6 jutaan deh kasih dia, tapi dengan catatan!" katanya lagi.


"Kamu ngobrol dulu sama Bu Lady, sana." Trevor mengusir Ayu dari ruangan. Milady menggiring Ayu sambil terkikik ke ruangan HRD.


"Terus apa imbalannya?" Tanya Trevor padaku.


Aku membuka sarung kain yang dari tadi kutenteng. Nggak kedeteksi di pintu masuk karena memang tadi kami berdua masuk ke gedung pakai jalur khusus Direksi.


Mata Trevor langsung berbinar...


"Gilaaaaa! Bikinan Tasik ini...?!" seru Trevor mengagumi golok yang kupamerkan.


Aku mengangguk.


"Wow!" desahnya lagi.


Yak, kurelakan salah satu golokku kepadanya.


Sambil menunggunya sibuk mengagumi harta karunnya, aku main game.


Ayu menghampiriku sekitar 15 menit kemudian, dia langsung mencium tanganku sambil menangis. Gumamannya nggak jelas tapi kuasumsikan saja dia berterima kasih.


Saat kami sudah berada di dalam mobil lagi, ia bercerita.


"Nanti pekerjaan saya di Garnet Property sebagai Office Girl pak. Bersih-bersih, siapin minum, nyapu ngepel. Katanya saya nggak lewat agen jadi diangkat langsung jadi pegawai tetap. Saya juga dapat lemburan dan asuransi kesehatan setara pegawai tetap. MasyaAllah Pak Dimas, gaji saya 6,5juta pak! Itu gede banget buat saya!! Katanya setara dengan karyawan biasa yang sudah 5 tahun kerja! Tapi tadi Bu Lady bilang ke saya, saya harus mengaku ke bapak saya kalau gaji saya


cuma 3.5juta. Soalnya setengahnya pasti akan diminta bapak saya buat cicilan di Garnet Bank. Tadi saya jadi minta dibikinin dua rekening pak. Yang satu untuk ditunjukin ke bapak saya, Satu rekening lagi untuk dana pribadi saya! Saya bisa nabung untuk masa depan pak! Ohiya, saya juga disekolahin katanya, saya harus kuliah sambil kerja di Garnet University, kuliahnya malam!! MasyaAllah impian saya terkabul berkat Pak Dimas!!" Dia bercerita sambil nangis.


Aku ikut senang sih kalo dia menghargai usahaku.


Saat kami tiba di rumah Pak Kibul, dia juga cerita ke bapak dan ibunya di depan kami, kecuali masalah jumlah gajinya. Jadi sekeluarga akhirnya nangis-nangis senang.


Aku hanya berharap hidup mereka bisa berubah setelah ini. Mudah-mudahan mereka jujur padaku.


Malamnya saat di rumah aku cerita ke Mas Bram sambil memamerkan golok baruku. Dia maksa besoknya ikut ke rumah Bang Sa'ad sekalian aku antar Golok Tere warisan bapakku.


Katanya dia juga mau beli koleksinya dan mau rekrut orangnya Bang Sa'ad untuk jadi kru pembebasan lahan di proyeknya.


Kejadian itu udah terjadi 6 bulan yang lalu, saat ini cincin yang dibeli dari Bang Sa'ad masih nangkring di jari tengah Pak Jafar.


Akhirnya Pak Kibul menjual rumahnya sendiri dan melunasi hutangnya di Bank. Sementara Ayu saat ini sedang ikut ujian kenaikan jadi staff pegawai tetap karena kata Milady kerjanya bagus, kantor jadi kinclong dan anaknya rajin banget. Sisa gaji yang tadinya buat angsuran bapaknya jadi bisa buat modal untuk meneruskan usaha nasi padang.