
“Kamu gila!!” seru pak Jaka setelah meeting dan menggeretku ke Pantry. “Kerasukan apa kamu! Kalo kamu tidak suka sama Bu Meilinda Kan bisa dibicarakan baik baik secara internal, divisi kita saja! Kamu bahkan tidak lapor ke saya! Kamu melaporkan atasan kamu sendiri tujuannya apa?!”
Kali ini, kuakui Pak Jaka benar.
Apa yang merasukiku di ruang meeting tadi?
Memang manusia itu butuh tidur cukup. Ternyata efeknya berbahaya.
Kusadari kini, ini sudah masuk ranah pribadi. Aku memang cukup kecewa terhadap kelakuan Bu Meilinda. Tapi aku kenal dia sudah 3 tahun, seharusnya aku tahu tingkahnya yang seringkali naif dan menghalalkan segala cara membuatnya tidak capable menduduki jabatan Direksi.
Namun hal itu seharusnya tidak jadi ranahku untuk mencampuri urusannya. Ada banyak kepentingan owner dalam posisi Bu Meilinda. Mungkin saja Pak Sebastian sudah tahu tingkah adiknya, tapi demi kestabilan dalam perusahaannya dia menempatkan Bu Meilinda di sini, kita tidak tahu... aku hanya karyawan biasa yang digaji.
Seharusnya tidak ikut campur terhadap pengambilan keputusan.
Mau dia fraud, mau dia dapat tas 700 juta, seharusnya aku kalem saja. Bukannya malah mengumbar aib di depan umum. Karena aku kerja untuk swasta, bukan untuk rakyat bukan untuk Pemerintah.
Dalam hal ini,
Kuakui, aku cemburu.
Tapi sekali lagi, harga diriku bermain di sini.
“Kan saya tidak lapor ke Pak Jaka, jadi dengan kata lain ini urusan saya sendiri. Masa kita melaporkan Kepala Operasional yang gratifikasi 1 juta tapi kita tidak melaporkan Direksi yang gratifikasi 700 juta?! Terus apa gunanya Divisi kita? Jadi senjata Direksi untuk melawan staff atau gimana?” kataku berusaha membela diri.
“Ya tapi Bu Meilinda itu kan adiknya Owner!!” seru Pak Jaka hampir histeris. “Kalau kita dipecat keluarga saya makan apa? Ya kamu enak sudah kaya dan bujangan!”
“Ah, itu lagi. Nggak ada orang yang bisa milih mau dilahirkan di mana pak. Tapi orang bisa pilih mau melakukan fraud atau tidak.” Aku melirik ke punggung Pak Jaka.
“kalo pada dasarnya sudah tidak jujur dan tidak punya kredibilitas. Mending di rumah aja jadi princess. Masa jabatannya Direktur Kepatuhan tapi dia sendiri nggak patuh dengan Ketentuan…” Aku tersenyum sinis ke sosok yang berada di belakang Pak Jaka.
“Ya bu?” sahutku ke sosok itu.
Pak Jaka langsung membalikkan badannya dan tersentak kaget. Ia lalu sibuk manggut-manggut dan seketika pantry dipenuhi teriakan cempreng dengan kata-kata makian seperti : Cari muka, penjilat, mau kamu apa Dimas, pecat, mutasi, tunjangan turun, dan lain-lain… semua campur aduk saat aku fokus mengaduk kopi dan menyalakan rokokku. Di mana pun aku berada sepertinya sama saja, aku type karyawan yang mampu menarik orang paling rese sekantor untuk menantangku.
Lalu muncul kata-kata : “Jangan gara-gara waktu itu, kamu bisa seenaknya yah, saya nggak takut diancam!!”
Aku tertegun sambil menatapnya.
Aku sama sekali tidak membahas apa yang dilakukannya malam-malam di ruangan itu. Tapi mungkin karena dia lagi emosi jadinya lebih labil? Masa sih dia mau nunjukin orang-orang mengenai aibnya sendiri?!
Aku, yang mau mengingatkan supaya dia berhenti bicara, seketika jadi gemas sekesal kesalnya laki-laki umur 30 tahun yang lagi berusaha mempertahankan kepala tetap dingin setelah tidak tidur dua hari, jadilah berkata : “Waktu itu maksudnya yang mana, Bu?”
Bu Meilinda langsung berhenti bicara dan menarik napas panjang.
Mungkin dia sadar kalau hampir keceplosan.
“Mau kamu apa, hah?!” Akhirnya ada suaranya lebih rendah dan maju menantangku. Dengan membusungkan dadanya dan mengangkat dagunya, ia menghadapiku.
“Kembalikan Tas-nya,” desisku.
“Itu milik saya,”
“Ibu punya banyak tas sejenis yang lebih mahal,”
“Itu bukan urusan kamu, Dimas. Kamu tidak tahu cerita di balik ini semua... Dan bahwa itu bukan hanya sekedar Tas biasa. Harga diri saya ada di sana, itu sebagai bayaran atas-“
Dan dia pun berhenti. Lalu menghela nafas dan menunduk.
Tak lama air matanya pun turun.
Aku terperangah.
Semua membelalak.
Bu Meilinda terisak.
“Gila, Mas Dimas bikin nangis Bu Meilinda...” desis Sarif di ujung sana.
“Pokoknya,” Bu Meilinda menghapus air matanya sambil terisak, “Kali ini kamu keterlaluan. Oke saya salah dalam hal ini. Siswoto minta penambahan kredit dan saya berjanji akan berikan. Namun dia akan memberikan informasi mengenai siapa anak yang saya lihat di belakang Gunawan saat saya video call malam itu, dan-“
Aku menutup mulutnya dengan tanganku.
Tiba-tiba cerita ini akan semakin melebar dan pribadi. Jadi daripada satu kantor tahu, jadi kututup mulutnya.
Tapi tangisannya malah semakin kencang.
Dia menggenggam tanganku, melepasnya dari bibirnya, dan menatapku dengan sendu dan air mata tergenang di pelupuk matanya.
“Kamu tidak tahu yang saya hadapi selama ini, Dimas. Kalau bisa bunuh diri saya akan lakukan-“
“Ssssst!” Aku langsung memeluknya.
Reflek saja.
Dia menangis di pelukanku.
Dan gosip pun melebar ke mana-mana.
Oke.
**
Sore itu, kami di dalam ruangan kantornya.
Pintu sengaja kubuka lebar-lebar.
Masih kulihat di sudut mataku, banyak orang melirik ke dalam bolak-balik berlagak lewat seliweran padahal nggak ada urusan apa-apa. Semua mau tahu ada hubungan apa denganku dan Bu Meilinda.
Aku selesai mengirim pesan ke Fendi dan mengancamnya untuk jangan bilang-bilang ke orang lain kalau aku tidur sekamar sama Bu Meilinda pas di Hambalang.
Fendi malah bilang : wani piro?!
Rasanya ingin sekali aku gebukin dia, kuceburkan di BKT.
Atau kuhubungi saja si Banda, minta si Fendi ‘diberesin’? Yang mana pun kayaknya seru, sih...
kami hanya duduk berhadapan dalam diam.
Aku lupa dari pagi aku belum makan. Rotinya sogokan Bu Meilinda saja belum kusentuh.
Terlihat Bu Meilinda menggigit bibir bawahnya. Ia tampak berpikir dengan pandangan menatap lantai dan alisnya menyatu.
Ya Tuhan,
Sudah ngantuk, lapar pula! Bagi laki-laki urusan perut itu krusial tahu nggak Bu Direktur?! Ah ya tapi beliau kan awam kalau urusan laki-laki.
Aku menguap. Ya maaf saja ngga bisa ditahan. Bosen pula diem-dieman. Mau buka pembicaraan takutnya dia nangis lagi.
Ya sudah, hanya bisa bersandar di sofa dengan lemas dan menatap langit-langit ruangan.
Lampu kristal super berat terlihat diatasku. Pengelola gedung harus memperkokoh plafon, khusus di ruangan Bu Meilinda untuk memasang lampu itu demi keegoisannya. Ya Gedung ini juga milik kakak-nya sih. Dari sudut mata aku bisa melihat Meilinda memperhatikan gerak-gerikku tapi aku tetap cuek.
Kecuali ada bencana alam aku saat ini sedang malas beraktivitas. Aku memejamkan mataku sesaat untuk mencharge tubuhku sebentar, semacam stand by mode lah.
“Mas,” akhirnya di memanggilku. Aku langsung menegakkan kepalaku dan menghadapnya.
“Ini, Saya rencananya mau kasih ke HRD habis makan siang.” Katanya sambil menyerahkan secarik kertas.
Aku mengernyit sambil mengambil memo itu di mejanya. Dan kubaca.
Wow... isinya cukup membuatku langsung memikirkan masa depan. Limit asuransi kesehatan dinaikkan menjadi setara Deputi, gaji pokok dan tunjanganku juga naik yang kalau dijumlahkan take home paynya bisa lebih besar dari Pak Jaka. Dan aku mendapatkan mobil operasional serta subsidi pembelian rumah 50% dari harga jual.
Aku terperangah dengan point terakhir. Lalu meliriknya.
Dari tampangnya sih dia nggak begitu ikhlas memberiku fasilitas mewah semacam itu, kan dia pelit.
Tapi... Semurah inikah hargaku?
Aku mendapatkan semua ini apa karena aku memang pantas menerimanya, atau karena aku dianggap ancaman.
Tiba-tiba harga diriku bergejolak.
Tanganku otomatis melempar kertas itu ke mejanya.
“Saya akan bungkam seumur hidup saya. Ibu nggak perlu berbuat seperti ini. Sikap ibu baik ke saya saja sudah cukup,” sahutku sambil beranjak dari dudukku.
Rencananya mau makan siang, aku beneran lapar.
Tak ada ucapan debat dari diri Bu Meilinda sehingga aku memantapkan diri untuk keluar dari ruangannya. Sementara perang batin terjadi dalam hatiku. Sisi kiri membodoh bodohi diriku dengan bilang : “Begooo! Lo butuh semua itu Dimaaas, modal kawin itu! Kalo begini-begini aja kapan lo bakal berkeluarga, kasian ibulo!”
Sementara sisi kanan : “Bagus, Dimas. Yang penting lo sudah nunjukin kalo lo nggak murahan dan berprinsip. Lo nggak bisa disetir siapa-siapa.”
“Dimas, tolong duduk dulu. Saya belum selesai bicara,” katanya.
Aku menghela napas, lalu teringat satu hal.
Aku lapar, pingin makan enak, tapi aku bokek.
Kartu 696969 Mas Bram keburu kukembalikan.
“Bu,” desisku sambil berbalik. “Hal yang seperti ini tidak bisa dibicarakan di kantor. Bagaimana kalau kita bicara saja di luar?”
Bu Meilinda terlihat menaikkan alisnya.
“Oke, kamu benar. Kamu mau makan di mana? Saya yang traktir,”
YESSSS!