Office Hour

Office Hour
Tongkat Golf Misterius



"Haduh haduh! Ribut-ribut apa ya ini dari tadi," Terdengar suara yang tidak asing.


Beneran ini suaranya kayak pernah kudengar. Baru-baru ini kayaknya...


"Ayah," sahut Meilinda.


"Yah," sapa Pak Sebastian, tampak dia langsung mundur.


Trevor bahkan langsung berdiri dari duduknya.


"Yangkung," sapa Trevor sambil menunduk.


Dan aku melihatnya...


Mamang Tukang Kebun.


Dengan cangklong dan tongkat.


Masuk ke ruangan sambil tersenyum bersahaja.


Tapi di lehernyamasih terkalung handuk yang biasa dipakai untuk ngelap keringat. Cuma sekarang motif garis, yang tadi siang motif polos.


"Loh, Den Dimas! Kok babak belur?" tanyanya hampir terbahak.


Aku jiper.


"Loh, Mamang kok nggak jagain bonsai, malah di sini? Dipanggil 'ayah' pula sama Dewa Zeus," balasku. Merasa dikerjai. Beneran prank tingkat tinggi!


Aku sudah feeling kemarin, padahal! Pasti si Mamang ini tukang kebun sakti! Seharusnya aku percaya saja dengan insting bertahan hidupku.


"Makanya udah saya bilang tadi itu Bismilah dulu..." sahutnya.


Aku mencibir masam.


Lalu suasana hening.


"Kalian saling kenal ?" tanya Pak Sebastian setelah 10 detik pada diem-dieman.


"Sore tadi dibantuin menanam bonsai di taman," sahut Pak Hans.


"Sampai Ayah saya kamu jilat, luar biasa kelakuan kamu..." ujar Pak Sebastian makin sinis. Kelihatan kalau dia semakin benci padaku.


"Saya nggak tahu kalau dia dedengkot trah," desisku mengaku.


"Dia nggak tahu kalau saya kasta tertinggi," Pak Hans mendukungku.


"Ayah jangan kemakan omongannya, dia itu manipulatif, konsultan, bisa hipnotis!" Sahut Pak Sebastian.


Aku melongo, merasa terhina. Konsultan... sekalian aja aku buka praktek dukun!


Pak Hans malah terbahak.


"Kamu ini Yan..." dia menggelengkan kepalanya. "Terlalu curiga sama orang itu nggak baik loh Yan. Kalian itu mau jadi keluarga,"


"Ayah kasih restu ke Dimas?!" Seru Pak Sebastian, rada panik kelihatannya.


"Lah iya. Ayah sudah kenal Dimas, nggak ada masalah kok." sahut Pak Hans. “Lagipula restu kan dari saya kan? Masih walinya Neng Meli loh saya ini, hehe,”


Aku menghela napas lega.


Tapi Pak Sebastian langsung mengepalkan tinjunya sambil menatapku.


Yah sudahlah...


Kali ini kalau mau 1 lawan 1 kuladeni, nggak ada mengalah seperti kemarin.


Si konglomerat sister complex ini sekali-kali harus diajarin caranya kalah.


Pak Sebastian melangkahkan kakinya ke arahku, aku pun sudah berdiri ancang-ancang mau menyerang.


"Permisi..."


Terdengar suara ketukan, cukup keras sebenarnya, menandakan kalau ia sebenarnya sudah sampai agak lama di sana, namun tidak diindahkan.


Kami semua menoleh.


Milady.


Ada di depan pintu.


Dan ia menggelengkan kepalanya sambil menatap Pak Sebastian.


Lalu menatapku, menganalisa penampilanku.


Lalu menghela napas.


"Wah..." desisnya masih dengan pandangannya menelisikku. Lalu ia menatap Pak Sebastian. "... Sudah saya duga suatu saat kamu akan nyaris membunuh," Sahut Milady sambil memicingkan mata ke arah Pak Sebastian.


Kami diam.


Tegang...


Dari tadi memang sudah tegang, tapi yang ini lebih merinding, kayak ada setan lewat terus kaki kita terpaku di lantai.


Mataku ini jelas-jelas melihat kalau pandangan mata Milady itu ke Pak Sebastian loh.


"Sudahlah, ada baiknya keluarga Dimas mengajukan tuntutan, dengan demikian kamu bisa dipenjara dan menyerahkan saham kamu ke Trevor dan kami bisa bekerja dengan lebih tenang tanpa mendengar kesinisan lidahmu,"


Kalimat yang luar biasa lancang dari Milady.


Semua yang di situ entah bagaimana langsung merasa yang dimaksud dengan 'kamu' dalam kalimat Milady barusan adalah Pak Sebastian.


Terbukti dari Pak Sebastian yang langsung mengeram sambil memalingkan wajahnya.


"Siapa sih yang manggil dia ke sini?" Umpatnya.


"Aku..." gumam Trevor. "Habis Ayah agak keluar batas kali ini."


Pak Sebastian menatap Trevor sambil memicingkan mata. Di matanya tersirat sedikit dendam.


"Lady... Apa kabar sayang?" Pak Hans merentangkan tangannya menyambut Milady, lalu mencium kedua pipi wanita itu. "Kamu sehat? Jangan terlalu banyak bekerja, kamu ini mau-maunya jadi budak korporat! Kamu bukannya mau menikah?"


"Pak Hans sendiri bagaimana? Lady Valentinenya jadi raksasa, dikasih formula apa pak?"


"Saya kasih micin."


"Ah! Serius pak!"


"Serius dong!" Pak Hans tergelak.


Mereka berdua tertawa berbarengan.


"Jadi, bisa kami bantu, Lady?" Tanya Pak Hans.


Milady langsung menatap Pak Sebastian. Pria itu balas menatapnya seakan menantangnya, namun dengan cara yang lebih lembut. "Kamu dan Saya harus bicara. Empat mata," sahutnya tegas dengan tatapan mata lurus ke arah Pak Sebastian.


Hal itu membuat semua orang yang ada di sana saling berpandangan. Dalam sejarah hidupnya, bahkan terhadap Pak Hans yang merupakan ayah kandungnya, Pak Sebastian tidak pernah jadi 'follower'. Ia tidak pernah berjalan di belakang orang, atau menuruti orang lain tanpa protes terlebih dahulu.


Saat mereka berdua sudah hilang dari pandangan, kami langsung heboh.


"Anjrit!! Barusan tuh apa Cuy!! Kayak nyonya besar lewat!!" seruku ke Trevor.


Trevor terbahak. "Gilaaaa!! Nggak gue sangka efeknya damage! Padahal tadi cuma iseng wa Milady buat kesini!!" serunya sambil ketawa.


"Maksudnya mau nikah tuh apa?! Siapa sama siapa?! Banyak bener yang mau nikah nih!!" aku berusaha menyingkirkan firasat burukku.


"Lah, gimana sih Den, kamu masa nggak tahu kalau Trevor dijodohkan sama Milady?" sahut Pak Hans.


"Udah lama kali, ada statement itu! Saya pikir itu cuma becanda, Mang!"


"Itu kerjaan si Yan, loh... Saya sih nggak mau jodoh-jodohan!" sungut Pak Hans.


"Mas Bram tahu masalah ini?!" tanyaku.


"Tahu, sih... Tapi kayaknya Trevor santai-santai aja. Kita malah curiga sama Pak Sebastian." sahut Mas Bram.


"Iya." Trevor mengangguk. "Bokap gue, nurut sama Milady. Nurut tingkat dewa. Lebih nurut daripada sama Yangkung, jangan kesinggung yah Kung!"


Pak Hans melambaikan tangan.


"Nggak tersinggung, Yangkung malah kebantu. Si Yan itu keras kepala soalnya, Yangkung pingin hidup tenang ngerawat bonsai aja lah, udah tua jugaaa..." sahut Pak Hans.


Aku menyeringai.


Trevor berbinar.


Mas Bram mengelus janggutnya.


Pak Hans menghirup cangklongnya.


"Wis uwis! Udah selesai toh masalahnya? Ibuk juga udah lega udah teriak-teriak! Tak pesenkan prasmanan nasi uduk piye?!" sahut ibuku.


Kami semua mengangguk setuju dengan bersemangat dan segera menuju ke ruang makan menanti delivery order Nasi Uduk.


**


Akhirnya sambil menunggu pesanan datang, kami bersantai ngopi di ruang tamu.


"Jadi gimana ceritanya?!" aku menuntut penjelasan sambil ngopi.


"He, aku itu udah temenan sama Yan 40 tahun, nggak pernah melihat dia jalan ngikutin orang lain. Selalu dia yang di depan. Tawuran aja paling depan." sahut Pak Farid.


"Jadi yang tadi diomongin ibu itu masalah tawuran?!" tanyaku.


"Si Yan itu kebacok, terus jatoh. Masih bisa bangun tapi terlambat sedikit aja lehernya pasti putus! Untung saya di dekatnya, saya tarik dia terus kita sembunyi... Di rumah Bu Lastri! Hahahaha!!"


"Saya kok nggak tahu ada kejadian itu." sahut Mamang -eh, Pak Hans.


"Iya soalnya dia panik, katanya kalo sampai Pak Hans tahu pasti sabuk melayang, warisan raib, akte kelahiran dibakar! Hahahaha!!" seru Pak Farid.


Pak Hans ikutan terbahak.


Walah... Gara-gara itu toh!


"Sampai seminggu loh dia menginap di rumah ibu!" sahut ibuku. "Sampai lukanya sembuh dan bisa disembunyikan pakai alas bedak."


"Saya pikir waktu itu dia kabur lagi... Ternyata berteduh." sahut Pak Hans.


"Ini terus gimana sama si Milady? Ceritanya gimana?" tanyaku.


"Panjang ceritanya, nanti lah di novel berikutnya! (Yang udah baca Lady’s Gentleman, Makasih banyak yaaa) Yang jelas, bro..." Trevor mencondongkan tubuhnya. "Sejak mereka ketemu di acara perjodohan gue sama Milady, Bokap gue sering pergi sama Milady. Dan cara bokap gue mandangin dia, wih, Sendu redam romantis anjay pokoknya!"


"Kapan lo dijodohin?! Kok ga ngomong-ngomong?!"


"Males... Itu hari paling malesin pokoknya! Milady juga semingguan ada kali dia ngedumel terus sejak acara perjodohan."


"Itu Pak Sebastian yang maksa?!"


"Iya..."


"Hm..."


Kami terdiam.


"Liat nggak tadi dia ngikutin Milady?"


"Ho'oh,"


"Kayak hamba sahaya,"


"Yoi,"


"Gue pikir dia masih bucin ama nyokap gue." Kataku.


"Kayaknya udah beralih," kata Trevor.


Lalu kami semua menyeringai licik kayak kejatohan duren.


Tak berapa lama, Milady muncul dari ruang kerja sambil menyampirkan tongkat golf di pundaknya.


Aku kenal banget bentuknya!


Itu tongkat yang hampir saja meremukkan kepalaku!


Trevor melirikku, ngasih tanda kalau dia yang kasih tau semuanya ke Milady. Lalu dia menghampiri Milady.


Perbincangan mereka tidak kedengaran, tapi Milady mengerling padaku, pertanda semuanya sudah dia bereskan.


Kayaknya aku harus traktir dia ngopi lain kali...


Hal hebat lainnya adalah Pak Sebastian muncul dari ruang kerja dengan luka dipelipisnya.


Kami terperangah.


Trevor menghampirinya dan mereka tampak mendiskusikan sesuatu dengan serius sambil berbisik, tapi tampak jelas kalau mata Trevor langsung berbinar.


Lalu Pak Sebastian melirikku.


Aku sadar lebih dulu dan tidak dapat menyembunyikan seringaiku.


"Mengejutkan yah bagaimana cinta bisa mengendalikan semua pergerakan kita," Sahutku.


Pak Sebastian melewatiku sambil mendengus. "Terserah..." Geramnya. "Ayah, Farid, saya mau bicara," sahutnya.


Pak Hans dan Pak Farid mengikuti Pak Sebastian ke dalam.


Kami yang tersisa menghela napas, lega.


"Sayang... Aku juga mau ngomong." kata Meilinda sambil menatapku dengan pandangan penuh arti.