Office Hour

Office Hour
Nasi uduk dan Raja Diraja



Aku masuk ke kamar setelahnya, menutup pintu geser di belakangku dan mendekatinya.


Ia menangkap rahangku dan mencium bibirku.


Lembut…


Pelan…


dan sesapannya sedikit intens.


“Makasih yah, dan maaf udah membawa-bawa kamu ke dalam masalah saya,” bisiknya.


Aku meraih lehernya dan kami mulai berciuman kembali.


Setelah 1 menit.


Aku mulai tak tahan.


Tangan Bu Meilinda mulai membelai perutku naik turun, hampir menyentuh tubuhku yang menegang. Kami menunduk memandang menyusuri tubuh kami berdua lalu sedikit terhuyung bersamaan.


Aku meraih tangan Bu Meilinda yang dingin, menggenggamkannya ke tubuhku, menggesernya ke bawah, lalu kembali ke atas sambil mengerang pelan dan panjang “astaga...” aku bisa mendengar mulutku berbicara tanpa bisa ku-kontrol.


Aku memejamkan mataku kuat-kuat , kembali membungkuk untuk menyusuri lehernya dengan ciuman, dan dia pun mendorong dadaku dengan lembut.


Aku menatapnya, memperhatikan gerakannya yang anggun.


Ia melepas kait branya.


Bagian tubuhnya yang itu, yang kulihat di kegelapan ruangan saat ia dalam keadaan erikat, kini terpampang sangat jelas.


Aku sangat lapar. Secara reflek aku langsung mengangkat tanganku berniat untuk meremasnya, tapi dia menepisku.


“Yang ini mau kufungsikan untuk bagian tubuh kamu yang itu,” matanya melirik sekilas ke arah celanaku yang membumbung.


Dan ia pun berlutut di depanku, menarik celanaku ke bawah.


“Wah...” aku bisa mendengarnya mend3s4h begitu celanaku sukses lolos ke bawah. “Baru aku yang menyentuh ini? Selain mungkin... jari kamu sendiri?”


Aku hanya mengangguk menanggapinya.


“Dimas, kamu sangat tampan sampai ke bagian ini,” desisnya kemudian.


Aku tidak mengerti artinya, aku hanya bisa mengatur nafasku yang tiba-tiba terasa sesak.


Dan kejadian berikutnya tidak mungkin bisa kulupakan seumur hidup.


Saat ini aku tidak akan lagi memanggilnya dengan sebutan ‘Bu’.


Saat ini, dia adalah Meilinda.


Meilinda-ku.


Hubungan kami sudah terlalu dalam dan intim, saat dia menggenggam tubuhku, meletakkannya di antara dadanya, dan memasukkan tubuhku ke dalam mulutnya.


Rasanya hampir meledak.


Napasku tersengal-sengal dan aku belum pernah merasakan gairah yang sehebat ini seumur hidupku.


Pikiranku mengabur, segala hal yang berkelebat terasa panas.


Untuk sesaat rasanya setiap pertemuan sel di dalam tubuhku telah diperbarui, dicabut, dimatikan.


Saat gerakan kepala Meilinda semakin cepat, ledakan panas mulai bergulir di punggungku dan gairahku membuncah.


Kehangatan merangkak ke atas punggungku dan aku tidak bisa menahan diri saat semua yang ada di tubuhku tumpah di dalam mulutnya.


Aku tidak bisa tidak mengerang lebih keras, rasanya semua lepas dan lega.


Aku menyandarkan diri di kabinet belakang punggungku dan menunduk.


Meilinda menatapku sambil menjilat bibirnya.


dan dia tersenyum padaku.


Senyum yang sulit kuartikan.


Karena semuanya begitu tiba-tiba, bahkan otakku belum dapat mendeteksi kenyataan yang terjadi.


“Maaf,” desisku. Hanya itu yang sanggup kuucapkan, karena aku seketika merasa sangat letih.


“Lain kali, giliranku ya sayang?” desisnya sambil menggigit bibirnya.


**


Pagi keesokan harinya, ia tampak sudah lebih ikhlas menerima semuanya dibandingkan kemarin. Kami bekerja seperti biasa, mengunjungi banyak cabang di Jawa Barat, ambil foto yang banyak biar keliatan kerjanya, dan sorenya kami bertolak ke Jakarta.


sepanjang jalan kembali ke Jakarta untuk mengantarnya pulang, kami tenggelam dalam kebisuan.


Namun ia bereaksi saat kami sudah sampai di rumahnya dan aku mematikan mesin mobil, hendak mengambil backpack ku di jok belakang.


“Dimas," panggilnya.


Aku menoleh dan menatapnya dengan pandangan bertanya.


Ia mencium bibirku.


“Makasih yah sudah mau peduli padaku,” bisiknya.


Aku meraih lehernya dan kami mulai berciuman kembali.


Setelah 1 menit.


“Siap-siap dihujat besok di kantor,” desisku sambil melepasnya. Ia hanya terkekeh dan kami keluar dari mobil.


Dan sampai di Bekasi – area kekuasanku - aku menghabiskan waktu di restoran ibuku, mengabdi.


**


Agak malam Bram dan Trevor datang ke restoran nasi uduk ibu, menggeretku yang sedang ditengah-tengah membantu cuci piring sambil ngelamunin bibirnya Bu Meilinda. Mereka memesan nasi uduk 2 bakul dan menuntut penjelasan lebih lengkap mengenai Gunawan Ambrose. Tampaknya mereka sudah tahu dari Pak Sebastian.


Nasi uduk 2 bakulnya udah jelas gratis, kakakku kan pemegang saham mayoritas restoran.


“Males ah,” desisku ingin kabur. Tapi lenganku ditahan Bram. Tenaganya kuat banget deh, beneran kayak kingkong. Dia pernah mengganti pintu restoran ibuku menjadi lebih tinggi karena dia sering kejedot kusen. Setelah pintu diganti orang-orang malah pada sudzon dikira genderuwonya suka keluar masuk lewat pintu itu.


Dikira restoran ibuku pake pesugihan kali yah.


Enak aja, masakan ibuku beneran enak kok.


Tapi beliau memang suka memintaku dan Bram untuk sering berkunjung ke restorannya sih, katanya tampangku buat penglaris.


Elahhh!


“Bisa-bisanya kamu sembunyikan masalah ini dari aku, kakak kandungmu sendiri, dan aku malah tahu dari orang lain..." sahut Bram kalem. Mas ku ini, orangnya kalem tapi suka nusuk. Kalo lagi marah, ibuku juga bisa jantungan saking mulutnya tajem pol.


Kalau watakku lebih rame dan blingsatan, kadang ngomong tanpa dipikir dulu, hampir mirip sama Trevor makanya kami cocok. Biasanya kami berdua bikin masalah dengan keributan kami, lalu Bram yang membereskan, Hehe.


“Aku baru pulang dinas loh ini,” keluhku sambil bersandar malas ke kursi plastik restoran.


Belum  semenit aku istirahat, Roll Royce Phantom VII parkir di depan restoran ibuku. Raffi Ahmad kah? Ternyata bukan.


Yang muncul malah sosok yang paling tak ingin kutemui dan rasanya kaki ini gatal mau kabur aja.


Sebastian Bataragunadi berjalan melalui pintu genderuwo dan dia beneran pas sama tinggi pintunya. Sebastian dan genderuwo sama-sama bikin aku ingin lari.


“Jadi bagaimana?” Itu kata-kata pembuka malam ini, seperti biasa diucapkan dengan nada mengancam. Kok bisa ya orang kayak gini punya anak begajulan kayak Trevor. Lagian siapa sih yang nyuruh dia dateng ke restoran ibuku?!


Kami langsung menegakkan duduk kami.


Pak Sebastian mendekat bergabung bersama kami, duduk di kursi plastik sebiji 50rb milik ibuku sambil meraih piring mau ambil nasi uduk dari baki. Bram dan Trevor berdiri untuk melayaninya, sedangkan Aku? Aku diam saja karena kakiku langsung terpaku ditempat, entah kenapa langsung kesemutan.


Ibuku datang dan meletakkan ayam goreng di meja.


“Loh? Kok Aku kayakno kenal kowe?! (Loh aku kayaknya kenal kamu),” sahutnya sambil menatap Pak Sebastian. Pria itu terdiam sambil menatap ibuku. Lalu dia terbelalak dan… berdiri sambil mencium tangan ibuku. (wah!!)


“Mas Yan bukaaan?!” sahut ibuku lagi.


Siapa Mas Yan?!


“Bu Lastri! Saya tidak menyangka bisa bertemu di sini,” sahut Pak Sebastian.


“Walah walah wis putih kabehhh! (walah sudah putih semua),” Ibuku mengelus rambut dan janggut Pak Sebastian seperti mengelus kucing kesayangannya.


“Iya sudah lebih dari 30 tahun ya bu. Ibu yang punya restoran ini?”


“Lah iyo! Aku merintis restoran nasi uduk ini wis 5 tahun,”


“Ini aku sendiri yang meracik bumbunya loh Yan,”


Akrab bener.


Aku mencolek lengan ibuku sambil memberikan kode bertanya.


“Aku iku pernah dadi guru SMA e Mas Yan ini, Le. Mas Yan iki selain ketua osis puinterr nggitar loh leee, aku sering dibikinin lagu! (aku itu pernah jadi guru SMA nya Mas Yan ini Nak, Mas Yan ini selain Ketua Osis juga pintar main gitar loh nak, aku sering dibikinin lagu,” kata ibuku sambil sumringah mode on.


Kami menatap Pak Sebastian dengan pandangan tak percaya, terutama Trevor.


“Orang lain kali?” dia malahberbisik ke Bram.


Bram menatap Trevor dengan memicing seakan bertanya : mana gue tau lo kan anaknye!


“Shhh Bu Lastri, itu seharusnya hanya ibu yang tahu, liriknya kan khusus saya ciptakan memang buat Bu Lastri,” kata Pak Sebastian.


Ibuku terkikik malu.


Kami makin menunduk, mau ketawa tapi takut.


Kok Romantis yaaaa, hiii!


“Wis yo ketemu neng kene wis takdir iki, piye arep besanan nopo?! hahahaha (Ya sudah ketemu disini sudah takdir ini, gimana kalau kita jadi besan?)," Aku tahu ibuku hanya bercanda, tapi ternyata…


“Boleh saja bu, Meilinda belum menikah lagi.” Pak Sebastian melirikku.


“Lah, si Linda toh?! Apa kabar cah ayu kie?"


“Melinda atasannya Dimas di kantor loh bu, saya lihat CUKUP AKRAB sih, tiap hari barengan pulang pergi ke kantornya,” Sebastian menatapku terang-terangan sambil menyeringai.


Seringainya kuakui cukup… seram. Ada penekanan di kata 'Cukup Akrab' yang mengandung pertanyaan sekaligus pernyataan.


“Walah walah! Tenanan toh Le? Kok kowe ora waton! (Walah walah beneran Nak? Kok kamu nggak bilang-bilang?!)” ibu menggebuk bahuku.


“Gunanya apa coba aku cerita masalah kantor ke ibu?" desisku berusaha sepelan mungkin.


“Ya wajar bu kalau Bramantyo dan Dimas tidak mengenal kami, mereka bahkan belum lahir waktu itu, haha,” sahut Pak Sebastian.


“Lah Iyo si Linda aja masih SD!” ibuku terkakak.


Matematikanya pikir sendiri yah.


“Oh iya bu, ini anak saya, Trevor Michael. Dia rekan Bramantyo di kantor.”


“Walah-walah wis bujang loh yooo!” desis ibuku. Trevor mencium tangan ibuku.


“Iya, ini anaknya Ratna.” Desis Sebastian.


“Ratna, MasyaAllah, piye kabare bojomu iku?!”


“Kami sudah bercerai setahun setelah Trevor lahir,” jelas Pak Sebastian.


“Kok iso kowe cerai karo Ratna? Pacarane wis suwe toh?! (kok bisa kamu cerai sama Ratna, pacarabnya sudah lama kan?!)”


“Yah, namanya juga takdir bu,” Pak Sebastian terdengar malas-malasan saat menjawabnya.


Ibuku cukup tahu diri untuk tidak melanjutkan perbincangan mengenai hal tersebut.


“Yowis dilanjutkan ngobrolnya, sing akur yo le!” sahut ibuku. Entah siapa Tole yang dimaksud terakhir, tapi yang ada di sini memang semuanya tukang rusuh.


Pak Sebastian akhirnya duduk di kursi plastik murah milik ibuku yang amat sangat kebanting dengan sosoknya mahadewa. Ada Raja Di raja duduk di kursi bakmi.


Dia pun menghadap kami dan menatapku. “Oh, anak Bu Lastri yah ternyata kalian. Nggak bisa Saya kerjain dong,” Mungkin dia bercanda, nada suaranya sih bercanda.


Eh, aku nggak yakin deng!


Dia melirikku sambil menyesap kopi sachetan yang memang tersedia diatas meja untuknya.


“Masih bisa dikerjain kok, Ayah. Tapi pelan-pelaaaaaannnn,” Trevor dasar tukang sundut kompor, mau disiram kopi, hah!


“Saya mau tahu kamu ke Bandung ngapain berduaan aja sama Meli, sepanjang Meli belum menikah lagi, dia masih tanggung jawab saya dan Bapak saya, jelas?” Sebastian menatapku tajam.


Dia benar-benar menekanku.


“Saya bukannya mau mengekang pergaulan anak itu, dia juga sudah dewasa, tapi saya tahu persis sifatnya yang ceroboh dan mudah jatuh cinta,” Dia menghela napas. “Apalagi setelah saya mengetahui bahwa predikat kamu sebagai laki-laki ternyata ... apa yah bahasa halusnya?”


“Udah Yah, pake bahasa normal aja,” desis Trevor nggak sabar.


“Nanti kalau Bu Lastri sudah agak menjauh, udah masuk rumah, nah 'habis' kamu,” desis Sebastian setengah berbisik mengancam sambil menyesap kopi.


“Baik pak," Bram beranjak dari duduknya.


Terlihat Sebastian menatap kakakku lekat-lekat. Memang sih saat berdiri ketahuan banget badan Bram guedeee, mungkin otomatis radar perang Pak Sebastian langsung waspada.


Alert Alert! Gitu...


Bram menghampiri ibu, berbicara dengan suara yang tidak kudengar, lalu ibuku masuk ke dalam rumah.


Fix habis ini kusantet si kutu kupret dua ini!


Mati lagi aku.


Bram kembali ke meja membawa gorengan dan kacang pilus sebagai teman makan nasi uduk. Lalu kembali duduk sambil menyeringai padaku. Dia memang sangat senang melihat adiknya yang lemah ini lemas.


“Situasi terkendali Pak,” desis Bram sambil duduk lagi dan mengerling padaku.


“Dimulai Yah,” sahut Trevor.


Aku sambil dzikir.


Ya Tuhan Tolonglah Hambamu yang teraniaya ini!


Cerita diawali dengan tangan sebastian meremas kerah kemejaku.


“Udah berapa lama kamu dekat sama Meli? Kamu tahu nggak kalau saya muak sama tukang main cewek macam kamu. Awas ya jangan sampai terbersit di otak kamu pikiran mesum tentang adik saya!”


Tampangnya nggak berubah masih dingin nada suaranya juga kalem, tapi tangannya mencekikku.


Beneran ini serem banget!


Bram menatap dengan antusias sambil menggigit tempenya. Trevor terkekeh.


Apa yang harus aku lakukan dalam situasi ini? Mungkin aku harus tetap tenang.


Aku mengenggam tangan Pak Sebastian dan menariknya lembut. Menyiratkan bahwa semua bisa diselesaikan secara kekeluargaan.


Terdengar Bram dan Trevor bersuara “Wih…” berbarengan.


“Santai saja pak, Bu Meilinda juga masih baik-baik saja kok sekarang," desisku.


Kubuat nada suaraku sekesal mungkin karena terseret sama masalah orang lain. Aku mengawali malam itu dengan bicara seadanya, sebisaku menyembunyikan hal-hal vulgar yang berhubungan dengan nama baik Bu Meilinda di depan Bram dan Trevor.


“Terus terang yah pak, kalau saya tidak mendampinginya saat itu udah pasti ada adegan cakar-cakaran di lobi hotel, di depan banyak orang, di depan istri dan anak-anak Gunawan. Trauma macam apa yang akan mereka ingat? Apalagi status Bu Meilinda kan masih pacar! Sudah pasti kalau media tahu, fakta akan diputar balikkan menjadi status pelakor, karena disitu kan ada istri Sah nya, salah satu istri sahnya. Eh, tunggu, nggak tahu juga istri sah ato nikah siri doang yah?”


“Tampangnya yang kayak apa?” tanya Trevor.


“Tampangnya innocent, gampang senyum terus ceria banget,"


“Kayaknya yang ada fotonya di ignya dia ya yang itu ya. Kta sih tahunya Gunawan itu single," kata Trevor.


"Saya sudah selidiki sendiri lewat Garnet Security. Mitha dulu pernah bekerja untuk saya, lalu dia resign dan kami lost contact. Tak saya sangka dia jadi istri Gunawan," kata Pak Sebastian


Betapa dunia ini sempit.


"Kayaknya yang dua sisanya siri deh, bisa jadi masih ada yang lain. Kita juga baru saja cari info dari kejadian Dimas,"


“Astaga,” desisku. Sebejat-bejatnya aku, tak pernah aku sampai punya istri tiga!


Aku menyenderkan punggungku ke kursi dan melanjutkan cerita. “Saya memang akhir-akhir ini dekat dengan Bu Meilinda, karena saya butuh dia untuk menjauhkan fans fanatik yang suka lepas kendali. Dan dia bersedia membantu saya. Karena cewek-cewek itu kan takut sama Bu Meilinda. Kalau dia di dekat saya, dan muncul gosip kalau kami memiliki hubungan special, di mana kedekatan itu sifatnya intens dan membuat orang bertanya-tanya kenapa tiba-tiba kami dekat, maka kejadian di kantor saya yang lama kemungkinan tidak terulang lagi. Lalu kemarin saya memberanikan diri untuk menyatakan cinta,"


Pak Sebastian mengangkat telunjuknya, mengisyaratkanku untuk berhenti bicara.


Tapi Trevor dan Bram keburu berteriak “GILAAAA!!”


“Sahabatku Omku!!” seru Trevor.


“Teman Baikku, Iparku!!” seru Bram


Lalu mereka Toss. Sue' bener...


“Saya belum merestui kalian berdua ya, enak saja Boyo-Kethek, main klaim-klaim,” gerutu Pak Sebastian