Office Hour

Office Hour
Ketemu Lexy Lagiiii



Jadi selama satu jam aku membahas mengenai rencana rolling karyawan, biar nggak pada bosen kerjanya. Juga mengenai penyempitan pegawai yang mana kita juga bahas budget untuk pemutusan hubungan kerja... Yang pasti nggak sedikit. Pesangonnya bisa 12x take home pay.


"Gue bukannya tadinya mau diposisikan jadi Direktur Kepatuhan yah?!" tanyaku di akhir diskusi.


"Iya, tapi gue duluan minta istirahat," sahut Pak Danu.


"Bossbro, lo udah 25 tahun di situ loh, kok sekarang minta istirahat? Masih 10 tahun lagi masa lo pensiun,nggak terlalu cepet jadi Komisaris?" sahutku.


"Udah waktunya gue kerja santai, Mas. Dan lagi, si Barong yang minta biar gue fokus ke dia doang," Pak Danu menarik hidung Cecil.


Cecil terkikik.


"Oke, tinggal siap-siap beli baju baru buat kondangan ke nikahan Dimensi lain..." sahutku. "Temanya Kejawen Ningrat kan ya?"


"Temanya, Kain Kafan Organza..." balas Pak Danu.


Kami menyeringai.


Bisa juga dia bercanda yang lucu.


"Gue nggak bercanda, loh," tambahnya.


Kami nggak jadi senyum.


Aku berdehem untuk mengalihkan bayangan kami akan kain kafan berwarna mentereng.


"Posisi direktur yang kosong ada 3 lowongan, digantiin siapa? Kamu resign kan?" tanyaku ke Meli.


Meli mengangguk. "Disuruh resign sama kakak, sahamku ke kamu."


Aku mencium lehernya.


"Yang gantiin kamu siapa?"


"Tebak siapa..."


"Nggak tau."


"Orangnya di belakang kamu sekarang."


Perasaanku jadi nggak enak.


Kayak merinding tapi panas.


Aku menarik napas panjang karena langsung tahu siapa orangnya.


"Pak Dimas..." gerutu Roro Jonggrang. "Lain kali, hape jangan disilent. Sudah sejak jaman baheula edisi henpon roti tawar, ada aplikasi yang namanya ALARM yaaaa... Setidaknya gunakan dan manfaatkan fitur itu untuk hidup yang lebih tertata biar nggak nyusahin dan ngerepotin orang-orang sekitar!! Mana ada manusia yang tidur 2 hari sampe nggak sadar digotong-gotong dari hotel ke rumah, hah?! Situ mati ato lumpuh waktu itu?!" dia berteriak mengomel.


Pak Sebastian rupanya benar-benar dendam padaku sampai menyiksaku pelan-pelan tapi sakit. Buktinya reinkarnasi Roro Jonggrang dia jadikan anak buahku.


"Jadi masalah ini yang membuat lo dan Andrew berantem? Masalah posisi jabatan?" tanyaku.


Dia diam.


"Kata siapa? Tahu darimana?" cecarnya.


Cecil sembunyi ke bawah meja.


Lalu dia menyusup dan kabur.


"Eh, bandel yah! Awas kamu nanti!!" seru Selena nggak sempat ngejar Cecil.


"Maappinn Mbaak Seleeebbb!!" seru Cecil sambil melambai dari balik pintu lift.


"Iya karena masalah ini! Puas?!"


"Mas Bram tau nggak lo jadi Direktur Kepatuhan?!"


"Ini request dari dia ke Pak Yan. Pilihannya saya resign atau dapat jabatan yang lebih tinggi dari Andrew. Pak Yan pilih yang kedua."


"Ini mah bakalan rame. Lo pegang tali kekang ke Andrew sekarang. Gue perhatiin dari awal lo berdua kan nggak akur yak. Kayak Dimas vs Sarah." desis Pak Haryono.


Aku dan Meli saling lihat-lihatan.


Kami merinding.


"Hati-hati Len, demi kenyamanan bersama, lebih baik lo resign. Karena awal mula gue akrab sama Meli kan berkat posisi yang sama persis sama lo dan Andrew sekarang..." kataku.


Semua membeku.


Kayaknya mereka baru sadar.


Sepertinya kisah Selena dan Masku belum berhenti sampe di sini. Tapi Author udah capek nulis tentang Selena. Ngebayangin Selena ngomong tanpa napas aja udah bikin dada sesak, apalagi harus nulis tentang doi sampe beberapa bab lagi...


Dah lah...


*****


Saat aku masuk ke ruangan, langsung dikerubungin tawon alias temen-temenku. Dan itu segerombolan.


Nyatanya hampir semua orang dikantor hadir di acara pernikahanku, tapi tidak bisa semua kutemui.


Selesai sama temen-temenku, aku masuk ke ruangan baru, ruangan CEO.


Cieee...


Dan aku video Call Bang Sa'ad.


"Bro!" sapaku.


"Wiihhh penganten baruu!!" Sahutnya.


"Kapan lo and the genk ada waktu? Lo kan nggak sempet dateng ke nikahan gue!"


"Maksud lo? Mau selametan maksud lo? Waaah boleeeh! Sekarang juga gue jabanin!!"


Aku tertawa.


"Gue mau ngadain di rooftop Garnet Property, udah gue booking. Sabtu malem minggu depan palingan, prasmanan. Kapasitas 200 undangan, jadi geng bisa ajak bini dan anak-anaknya sekalian. Gimana?!"


"Boleh bro!! Bisa!! Bisa!! Lo mau kado apeee???"


"Lo udah tau lah gue mau kado apa..." sahutku. "Eh iya, kacamata lo buat gue aje."


"Ambil. Oke, sampe ketemu minggu depan!!"


Aku memutuskan koneksi.


Lalu saat aku fokus ke ruanganku, mau kuisi apa saja, Meilinda masuk dan langsung menciumku.


"Pulang duluan yaaa...?" dia beneran merajuk.


Tangannya mulai nggak bisa dikendalikan.


Ini masih siang, dan orang-orang berlalu-lalang.


Aku terkekeh.


Lalu mengangguk setuju.


Bukan masanya kerja. Sekarang waktunya mikirin kesenangan diri sendiri.


**


Aku menyetir si gemoy cantik punya Meilinda.


Lexus LS500


Seperti biasa Meilinda sampai geleng-geleng kepala melihatku senyum-senyum sendiri sambil mengelus-elus setir si Lexy.


Aku termasuk yang suka sama otomotif, tapi nggak segila Pak Sebastian yang suka koleksi mainan mahal sampai bikin perusahaan otomotif sendiri.


Karena nggak ada duitnya.


Eh, tapi tak tahu deh kalo aku jadi triliuner, bisa jadi tingkahku sama juga.


"Bisa jalan agak cepat nggak sayang?" aku mendengar rajukan lembut dari sisi kiriku. Lalu belaian jemari di kejantananku.


"Nanti Pakpol protes Yang," Biarlah tangannya bermain di situ dulu, mau masuk juga terserah. Aku lagi menghayati jadi supir.


"Hm... Sayang?" panggilnya lagi.


"Iya?"


"Aku sama mobil ini seksian mana?"


Hehe...


Mulai cemburu yaaa...


"Mobilnya kalah sexy sama kamu kok sayang," jawabku. Dia terdengar terkikik. Lalu aku menambahkan, "Tapi kalau dibandingin sama exeleronya Mas Yan sih, kamu yang kalah."


"Iihhh!" sebuah cibutan pedas mendarat di pinggangku sampai aku mengaduh.


"Bahaya, sayang!! Aku lagi nyetir ini..." keluhku sambil mengelus pinggangku yang langsung panas.


Lalu kecupan demi kecupan mendarat di leherku.


Gila... Ternyata susah juga menahan hasrat sambil nyetir. Harus dihentikan sebelum ada kejadian fatal, jadi aku mencium bibir Meilinda sekilas biar dia tahu kalau tindakannya bahaya kelas tinggi.


Dia mengerti kodeku dan akhirnya duduk tenang.


Tapi masih ngeliatin aku dengan senyum sangat manis tersungging di bibirnya.


"Mas..." desisnya.


"Hm?"


"Kamu tuh nggak pernah ngerayu aku."


Sepertinya itu pernyataan, bukan pertanyaan.


Aku memutuskan untuk diam dulu, agar ia bisa melanjutkan kalimatnya.


"Kamu nggak seperti laki-laki lain yang di sekitarku. Aku cukup sering loh dirayu, digombalin, disanjung. Yang sering malah kamu ngejahilin aku terus..."


Aku menyeringai mendengarnya.


Iya, sori.


Tapi aku suka kalau melihat dia marah-marah.


Apa aku ada sejenis kelainan yah? Fetish melihat Meilinda ngambek.


Apa dia tahu kalau kejahilanku itu sudah pertanda kalau aku tertarik padanya?


Aku bukan jenis laki-laki yang suka bercanda dengan wanita. Tapi bukan jenis yang mellow juga.


"Aku sering melihat kamu dari jendela ruanganku, ya walaupun dulunya perasaanku sama kamu nggak sekuat sekarang. Kamu itu... Punya aura yang sulit ditolak siapa pun. Kamu dulu jarang senyum, tapi mata kamu kalau ngeliatin orang seperti... Menusuk ke kalbu."


Jiah! Bahasanya puitis banget.


"... Mungkin itu yah kelebihan kamu. Kamu tidak menjudge orang lain, kamu mendengarkan mereka, kamu memberikan pendapat hanya kalau diminta, dan kamu memberikan solusi."


Aku mengangkat bahuku mendengarnya.


Tadinya aku mau diam saja, karena dia sudah menilaiku, jadi apa lagi yang harus diperdebatkan. Pendapatnya sah-sah saja bagiku, karena pada dasarnya orang lain lah yang bisa melihat sikap kita, walaupun kita tidak bermaksud begitu sebenarnya, seperti kata pepatah :


Banyak orang yang pintar menilai orang lain, tapi bodoh menilai diri sendiri.


Aku pun begitu.


Aku selama ini bergerak berdasarkan insting, jadi aku tidak bisa menilai diriku sendiri.


Tapi tetap wanita type Meilinda nggak bisa dicuekin atau dia bakalan ngambek. Jadi aku bertanya...


"Kamu memangnya mau dirayu?" tanyaku.


"Kamu memangnya bisa merayu?"


"Hm." aku tertantang.


Lalu memutuskan untuk meminggirkan mobil ke bahu jalan dan menyalakan lampu hazard.


Lalu tanpa memberi aba-aba aku meraih tengkuk Meilinda dan menariknya mendekat. Kali ini aku menghadiahinya ciuman yang cukup intens, cukup dalam, dengan sedikit permainan lidah dan sesapan menggoda, hasil pengalaman belasan tahun jadi player.


Dan tanganku?


Menyusup masuk ke panty dan memainkan bagian tengahnya dengan lembut.


Dia sudah ba sah, pantas minta ngebut.


Terdengar pekikan kagetnya.


Aku senang dan semakin in tim menggodanya.


"Aku suka kalau kamu bersuara begitu..." bisikku di sela-sela ciuman kami. Jariku menyusup masuk ke dalam.


Dia mengeluh menahan nikmat.


"Nanti aku mau posisi kamu seperti saat kita pertama bertemu di ruangan keramat itu..." bisikku lagi. Dia tidak menjawab hanya mendesah kencang.


"Kamu yang waktu itu, paling cantik di ingatanku," bisikku lagi.


Aku mempercepat gerakan jemariku. Jari tengah dan jari manisku masuk dan keluar berkali-kali.


"Dimas..." ia kembali mendesah. Genggamannya dilenganku mengencang. Kukunya menancap di otot atas.


"Dimas, please..." lenguhnya. Aku mengecup lehernya, rahangnya, lalu berbisik lagi di telingaku.


"Istriku..." desisku.


Ia berteriak.


Lalu lepas...


Aku?


Puas...


Hanya dengan melihatnya seperti itu aku sudah merasa menjadi lelaki yang paling jantan sedunia.


"Kamu mau sering dirayu begitu?" Tanyaku menggodanya.


"Kalau itu senjata kamu untuk merayu, kamu benar-benar berbahaya!" ia terengah-engah dan mencoba mengatur napasnya.


"Cuma sama istriku aja kok. Buang-buang waktu kalau sama yang lain, nanti aku susah sendiri..." aku kembali menginjak gas.


Oke, sudah sampai rumah.


Sekarang apa yang harus kulakukan?


Aku beneran mati gaya.