Office Hour

Office Hour
Hari Apa Sih Ini?



Jam 2 pagi, Pesta masih belum selesai, masih banyak yang datang.


Makin malam tamunya makin aneh-aneh. Seperti baru saja salah satu anggota DPR datang dan foto bersama, dia habis kunjungan ke luar negeri baru saja turun pesawat menyempatkan diri datang. Terus kami dapat hadiah pernikahan dari beliau, seprai dari sutra yang masih ada label harganya, $5,000 harganya, entah lupa diambil ato memang mau pamer.


Presiden dan Pak Wakil dari negara kita tercinta sudah datang duluan jam 10 tadi. Lalu ada salah seorang senator Amerika yang datang saat aku lagi santai menghisap shisha sama Pangeran Arab yang ke... aku lupa dia dari istri yang ke berapa, sudahlah. Dan seorang pengusaha property dari Dubai di lounge, jadilah Senator bergabung dengan kami ngobrolin tentang... KPOP.


Iya, K-pop.


Dulu aku penggemar Brown Eyed Girls , sekarang mereka dah bubar kayaknya. Meilinda juga seringnonton drakor.


Pangeran Arab lagi cerita kalau dia pernah berkencan dengan salah satu member SNSD.


Ada beberapa cewek fansku yang datang namun mereka tak mendekat, hanya berdiri di sudut ruangan dengan menatapku sedih kayak hantu penasaran.


Aku nggak bisa membiarkan mereka, aku biasanya menemui mereka. Tapi aku minta dikawal bodyguard.


Selena dan Cecilia, bodyguardku.


Hehe


"Pak Dimas masih kuat?" tanya Selena sambil mengikutiku berjalan kembali ke Aula setelah mengantar salah satu fans pulang naik taksi online.


"Biasa aja," sahutku.


"Oh."


Lalu dia diam.


Aku tahu loh maksud dia bertanya begitu. Selena kan lagi berantem lagi sama Mas Bram, masalah Andrew kayaknya. Dan kini Selena lagi mati-matian merayu Bram supaya baikan. Bisa jadi dia sudah merencanakan adegan penjebakan ranjang hotel malam ini. Mumpung gratisan.


"Kalau begitu saya boleh-"


"Nggak bisa!” aku langsung memotongnya. “Acaranya belom selesai, panitia dateng duluan pulang belakangan!" ujarku.


Dia dibayar mahal untuk jadi panitia, hampir seharga 1 unit tas Jimmy Choo yang paling mahal, jadi dia harus loyal dong sama acara. Enak aja mau kabur duluan buat mesra-mesraan sama Mas Bram di kamar hotel atas.


Cih!


Aku aja belom sempat cium Meilinda.


Ia hanya merengut sambil mendengus. Lalu menemaniku kemana-mana sambil bawa-bawa cup eskrim untuk mengatasi kekesalannya.


Tapi menjelang subuh tiba-tiba dia kabur.


Yoweslah


Menjelang pagi hari, baru tamu habis.


"Wah... Luar biasa kamu tetap stay disini sebagai pemeran utama. Meli aja udah tepar dari jam 22. Kamu jam 7 pagi masih di sini." Tampang Pak Sebastian sesegar Sarif kalo habis gajian.


Aku tidak menghiraukannya, tetap dengan mobile legend dan kopiku.


Dia duduk di sebelahku, dan aku menghentikan aktivitas game onlenku karena barusan berhasil push rank.


"Kenapa menghindar?" tanyanya.


Kenapa sih tepat sasaran banget pertanyaannya.


"Kamu takut apa?" tanyanya lagi.


Aku menghela napas.


Aku takut apa yah?


"Ambillah yang merupakan hak kamu." katanya lagi.


"Iya Pak...." jawabku.


Lalu kami memperhatikan para pekerja membereskan Aula.


"Sampai kapan mau manggil pakai sebutan Pak?" tanyanya.


"Iya Om," jawabku.


Dia berdecak.


Aku suka deh menggoda si genderuwo.


Iya, aku memang menghindar. Jadi aku menyibukkan diri dengan aktivitas penerima tamu.


Kalian pasti merasa aku ini cowok aneh... karena biasanya malam pertama adalah saat yang paling dinanti kaum pria.


Buatku... itu sakral.


Dan nggak bisa diganggu sama tamu-tamu penting yang datang. Aku butuh suasana yang terkendali dan tenang saat itu terjadi.


Jadi aku ingin menuntaskan dulu urusan bisnis di sini.


iya, sambil menyelam, minum air.


Sambil menikah, sekalian kerja.


"Memang mau dipanggil pakai sebutan apa sih, pagi-pagi udah nuntut panggilan sayang aja," desisku sambil menyulut rokok.


Pak Sebastian hanya melirikku.


"Sana tidur. Otak kamu udah overload." dengusnya sambil meninggalkanku.


"Mas Yan..." panggilku akhirnya.


Ia menoleh.


"Terima kasih untuk semuanya. Terutama restunya." sahutku.


Ia tidak menjawab, hanya menaikkan dagunya, lalu pergi dengan elegan.


*****


Aku menghela napas saat sampai di depan pintu kamar hotel.


Lalu berdoa.


Sesuai motto mamang tukang kebun, Wismilak dan Bismillah.


Buat tidur, loh.


Berharap mesra-mesraan tapi kondisi udah drop.


Ngarep yaaaa.


Yah, tapi berbagai kemungkinan selalu ada sih...


Aku lalu menempelkan kartu ke access code.


Lalu membuka kamar.


Meilinda ada di ujung ruangan, lagi manicure sambil nonton gosip selebritis.


"Hai, sayaaaang! Kita muncul di acara selebritis loh! Di setiap chanel ada."


Bodo amat...


Aku langsung selonjoran di pangkuannya,


Lalu tertidur dengan sukses.


*****


Jam berapa ini?


Aku mengerjabkan mata menahan silau.


Masih siang yah? Berapa menit aku tertidur?


Aku menguap dan menggeliat.


Lalu berusaha duduk.


Hm...


Kenapa aku nggak pakai baju?


Lalu menggaruk kepalaku. Dan melayangkan pandangan ke kanan dan kiri.


Eh?


Ini di mana sih?


Perasaan layout hotel nggak begini deh!


Terus...


Itu lemari built up kayak pernah liat?!


Terus...


Ini ranjang kayak familiar?!


Terus itu...


Bukannya meja riasnya Meilinda ya?


Lah!!


Kok aku dikamar Meilinda?!


Bukannya aku di Garnet Hotel ya?!


Ini jam berapa sih?


Hape mana hapeeeee?!


Hari Selasa jam 12 siang?!?


Aku nikah kan Hari Minggu! Kenapa sekarang udah hari Selasa???


Gawat hapeku rusak!!


Lalu hape ku pun berdering. Sempat kaget loh aku! Tapi gara-gara dia bunyi itu aku jadi tahu hapeku nggak rusak. Dasar aku lebay!


Panggilan masuk dari Pak Stephen.


Aku mengangkatnya.


"Bro..." sapanya.


"Ho'oh?" Suaraku serak, nyawa masih 50%.


"Meeting RUPS 4njing! Lo bintang tamunya kenapa nggak nongol!! Gue banyak kerjaan nih sampai kapan gue harus nungguin lo?! Terus ini Meli kenapa di sini tapi lonya malah nggak ada? Aneh aja gue baru kali ini ngeliat ada penganten baru langsung masuk kerja..."


Gilak...


Aku tidur 2 hari?!


“Eeeeh, meeting RUPS apa’an bro? Kok gue diajak?”


(RUPS itu artinya Rapat Umum Pemegang Saham. Biasanya meeting tertutup khusus antara Pemegang Saham dan Pejabat, disertai banyak notaris rekanan. Isinya membahas mengenai struktur organisasi, pergantian jabatan, pembagian saham, dan mau dibawa kemanaaaa usaha iniiiiiii. Gitu.)


“Posisi lo tuh Presdir Njir!! Mana bisa lo nggak ikut!!” serunya terdengar kesal.


Mabok nih orang, kenapa tau-tau aku jadi Presdir coba? Mimpi pun nggak pernah, jangan sampe deh... ribet urusannya!


*****


"Espresso, pahit, buket, ada tolak angin ga? Kalo ada campurin ke espressonya," desisku ke mbak-mbak cafe di lobi kantor.


Pusing pala aing euyh...


“Adanya minyak tawon Pak Dim,” kata Mbak Cafe.


“Bolehlah sekalian masukin!”


“Pake masako nggak?”


“Lo mau bunuh gue?”


Mbak-mbak cafe ngacir sambil ketawa.


Aku menaikkan hoodieku sampai menutupi dahiku lalu berbaring menempelkan kepalaku di meja, menunggu bapak-bapak Direksi datang.


Aku jatohnya ijin hari ini, aku takut ke kantor. Tadi aku kahirnya menelpon Meilinda bertanya mengenai Presdir-Presdiran itu, dan jawabannya cukup membuatku makin semaput. Sesegera mungkin begitu aku bangun, habis mandi kilat, aku langsung meluncur ke kantor diantar pak sekuriti rumah darmawangsa naik motornya. Aku juga sudah telepon Selena katanya Andrew sudah ambil alih briefing pagi.


Perasaanku jadi nggak enak.


Andrew menjalankan peranannya sebagai penggantiku dengan baik, tapi kenapa aku malah sebaliknya? teledor dan meninggalkan kesan buruk bagi manajemen... Meeting jadi ditunda minggu depan gara-gara aku tak hadir.


Manajer Cafe meletakkan sepiring pesto di depanku.


Aku meliriknya.


"Gue kayaknya nggak pesen ini, bro," sahutku.


"Service dari gue, penganten baru kayaknya lagi pusing!" sahut Pak Manajer Cafe sambil mesem-mesem.


Aku langsung berbinar.


"Widih! Tengkyu bro." lumayan hari ini dapet rejeki indo*mie cabe ijo high level, alias spageti pesto... “Bro, ada nasi nggak?”


Tetep pesen nasi dong.


Menjelang suapan kedua, ada wajah barong nongol di depan mejaku, duduk sambil mesem-mesem.


"Ngomong aja nggak usah cengar-cengir, gue lagi makan mie Itali," sungutku. Beneran kedatangannya mengacaukan rasa pesto Italia jadi berasa mie godog.


"Giniiii looohh Pak Dimaaaasss...." Cecil mencondongkan tubuhnya sambil merendahkan suaranya. Lalu dia tarik nafas panjang. Mode ngomong cepet tapi banyak, Dimulai!


"Sepertinya hari ini Mbak Seleb lagi berantem sama Mas Andrew. Muka dua-duanya beneran mendung, malah mungkin bentar lagi bisa terjadi badai kalau dirimu tidak jadi penengah. Waktu briefing pagi dua-duanya sampai lempar-lemparan sindiran. Kita sih udah tahu yah hubungan keduanya mantan, tapi kan anak-anak yang lain enggak. Masalahnya perseteruan mereka itu kentara banget loh Paaaak, mbak Meli mau deket-deket aja sampe nggak berani. Kayaknya sih, kayaknya loh yah, ini hanya prediksi saya siiih, waktu acara pernikahanmu, Mas Andrew sempet bicara empat mata dengan Pak Bram, terus habis itu Mbak Seleb dicuekin sama Pak Bram sampai sekarang. Soalnya waktu Mbak Seleb kabur ninggalin dari tugas panitianya dini hari itu, dia habis nerima telpon dari Pak Bram. Di kamar atas. Kemungkinan mereka menyelesaikanurusannya sampai pagi, soalnya di leher Mbak Selena merah-merah. Makin meradanglah Mas Andrew. Terus masa akhirnya Mas Andrew pagi ini ke Granet Property tiba-tiba, katanya urusan pribadi. Apakah dia mau pindah pekerjaan? Ada yang tahu?"


Di akhir kalimat, aku sudah menghabiskan empat suapan pesto.


"Paling si Andrew mau nge-gombalin Ayu buat pengalih perhatian...” gumamku.


“Siapa Ayu?” tanya barong.


“Udahlah Rong, Itu masalah mereka, gue nggak bisa tau-tau ikut campur main nyelonong kasih argumen." kataku.


"Iiyaaaa aku ngertiii, setidaknya dirimu hadir loh. Kan siapa lagi yang bisa dicurhatin sama mbak Seleb selain dirimu?"


"Kan ada Meli yang sesama wanita."


"Mbak Meli sampai sekarang belum bisa menjangkau Mbak Seleb. Aku juga nggak bisa. Dia itu rumit banget pikirannya. Semacam masih jaga image gitu. Nah, kalau berhadapan dengan dirimu kan biasanya dia langsung menumpahkan segala emosi dan kekesalannya..."


Iya sih.


Tapi Roro Jonggrangnya nggak minta ke aku buat ikut campur, jadi aku mungkin akan menunggu sampai dia sendiri yang datang padaku.


Dan lagi Mas Bram udah kasih warning supaya aku tidak terlalu dekat dengan Selena. Sekali peringatan dari Mas Bram sudah cukup untukku.


"Mau makan siang apa? Sana pilih di menu. Bokin lo bentar lagi dateng, kita mo miting..." aku menyesap kopi pahit.


Mitang miting mitang miting, yang ada otakku ke-piting!


Bueh... Beneran pahit!!


Tapi pandanganku jadi terang...


Sip lah, level semangat meningkat 100%.


Sekitar 10 menit kemudian, Lionel datang sambil bawa-bawa bantex tebal.


Bantex diambrukin ke depanku lalu dia asik ciuman sama Cecilia.


Aku berdecak sambil membuka bantex. Data para karyawan.


Sebagian besar aku kenal.


Aku kenal semua yang ada di Garnet Bank kantor pusat, tapi untuk 250 cabang lain aku nggak kenal. Di solo aja ada sekitar 10 cabang, yang kena kasus kemarin yang areanya di kantor pusat Solo.


Belum yang Cabang pembantu.


Belum yang di luar negeri.


Ada berapa karyawan yang kami punya...


Hm...700 karyawan tetap, dan 2.500 karyawan Outsourching.


Jadi aku fokus sama laporan KPI dari cabang aja, sama yang di kantor pusat Jakarta.


Lalu Pak David datang dan menepok punggungku. “Laopo Koweeee? Malah cangkruk neng Andhok marai rusuh! Jiiaaan jian!!” (Ngapain kamu? Malah nongkrong di warung bikin rusuh).


Dia datang bareng Pak Haryono.


"Wiiiih! Penyelamat gueeee... " Pak Haryono mendekapku dari belakang. "Seneeng lah sama jabatan baru lo, bro... Udah kagak bisa lo ngerjain gue mulai sekarang, keadaan berbalik!! Wuhuu!!" serunya.


Aku menyesal...


Menyesal nggak puas-puasin ngerjain Pak Haryono pake temuan, dulu.


"Langsung jadi CEO Garnet Bank lu, beneran diiket pake rante!!" sahut Pak Haryoono lagi. Besok gue kepang rambut panjang lo Pak, kalo lo lagi ngantuk di Mushola.


"Gimana caranya biar gue bisa dipecat tanpa dibunuh?" tanyaku.


"Yo awakmu bundir." Jawab Pak David. "Tapi asuransi jiwane ogak tak ganti yo," (Ya kamu bundir, tapi asuransi jiwa tidak kuganti ya).


Aku berdecak.


"Kita bisa atur lah kronologis kecelakaan asal gue gak dijadiin CEO lagi kalo lo Innalillahi," kata Pak Danu sambil senyum sinis ala vampir.


"Becandanya gada akhlak ni," dengusku. "Btw..."


Semua memperhatikanku.


"Berapa ratus juta asuransi jiwa atas diri gue?!"


"Gblk... Nawaetu kok bundir." sahut Pak Haryono.


Tak berapa lama Pak Stephen dan Meilinda datang.


Meilinda langsung mengklaim pangkuanku.


Bukan karena bangku di sana penuh, tapi karena itu tempat favoritnya.


Aku mencium rahangnya.


Ia terkikik.


"Kamu nih... " ia mencubit pipiku.


"Sori," desisku.


Aku beneran minta maaf, gara-gara stress jadi nggak bisa tidur, begitu bisa tidur malah kebablasan sampe hampir dua hari.


"Siapa yang angkut aku ke kamar kamu?" bisikku


"Kakak."


Aku merinding.


Idih...


Aku nggak tanya-tanya lagi gimana prosesnya, ngebayanginnya aja nggak kuat.