Office Hour

Office Hour
Milik Saya



Saat kulepas ciuman itu, aku menatap wanita di depanku.


Berharap dia tidak menamparku dalam kepanikannya.


Aku tahu aku sangat lancang, tapi semua kulakukan karena aku ingin kebaikan di kedua pihak. Terlebih, aku peduli padanya.


Entah sejak kapan aku seperti ini.


Dan Bu Meilinda hanya menatapku dengan mata membesar. Dia hanya diam.


Dia bahkan bagai membeku, tak bergerak, seakan tombol kehidupannya terpencet tanda 'pause'.


Aku melirik ke samping, Mitha dan Gunawan sudah berlalu keluar hotel.


Sedikit lega karena Bu Meilinda tidak berbuat kehebohan yang unfaedah.


"Mas…"


Aku menatapnya dengan tegang saat dia memanggilku.


"Em… Maaf bu, saya-"


"Ke kamar, sekarang," desis Bu Meilinda dengan nada suara yang dalam. Bagai penuh kemarahan.


Ia pun berdiri, lalu berbalik menuju lift.


Aku mempersiapkan hatiku, lalu mengikutinya menuju atas. Jenis omelan macam apa lagi yang harus kuterima kali ini?


Entahlah.


Kayaknya pasti parah sih.


**


Kami memasuki lift dalam keadaan tegang. Bu Meilinda di depanku, berdiri tegak dan anggun sambil menatap ke layar di depan kami yang menunjukkan satu persatu nomor lantai.


Kami hanya berdua di lift sempit ini. Namun aku berharap ada orang lain yang ikut naik sehingga suasananya tidak terlalu mencekam.


"Apa yang kamu ketahui dan saya tidak?" desis Bu Meilinda.


Pertanyaan yang memang perlu ditanyakan.


Aku tahu terlalu banyak.


Aku terjun semakin dalam ke kehidupan wanita ini.


Baik atau tidaknya, itu yang akan berusaha kucari tahu.


Apakah dengan ikut campur akan membuatku tenang, atau malah membuatku sial?


Tapi sepertinya alam semesta semakin mendekatkanku padanya dari hati ke hari. Semakin banyak waktu yang kami habiskan bersama. Semakin kutolak semakin aku terjerumus.


“Banyak hal...” desisku.


“Sudah lama tahu?”


“Hm,”


Lalu keadaan hening lagi.


“Saya...” ia menunduk dan kulihat susah payah untuk berdiri. “Astaga, anaknya sudah tiga,” terdengar gemetar di suaranya.


Aku ingin meraihnya, tapi aku tak ingin lancang lagi. Jadi aku hanya diam di belakangnya,, bersandar ke dinding lift.


"Gunawan sudah menikah 5 tahun lalu. Yang tadi istrinya, namanya Mitha Saravati," jawabku.


"Saya tahu wanita tadi. Dia pernah kerja di GSA, salah satu orang kepercayaan kakak saya," Kata Bu Meilinda.


"Betul, dan saya juga kenal Mbak Mitha," lebih tepatnya, baru tadi malam kami berkenalan.


"Kenapa kami tidak tahu mereka sudah menikah?" ada nada bergetar di suara Bu Meilinda. Aku tahu dia mati-matian menahan rasa sakit di dadanya.


"Gunawan dan Mitha merahasiakan status perkawinan mereka dari Pak Sebastian, karena katanya Pak Sebastian tidak setuju atas hubungan mereka. Karena merasa tidak enak dan sudah sering dibantu oleh Pak Sebastian, mereka jadi menyembunyikan status mereka," jelasku.


"Oh," begitu kata Bu Meilinda, "Jadi tetap saja posisi saya lemah. Mau membela diri sampai jungkir balik juga, tak akan bermanfaat, kecuali saya nekat melakukan tindakan jahat,"


“Tindakan apa pun yang ibu ambil tetap saja merugi di Bu Meilinda,”


Ia terdengar menarik nafas.


“Maaf kalau saya lancang...”


“Padahal kalau tadi tidak kamu hentikan, saya sudah akan labrak semuanya,”


“Di depan orang?”


“Ya, saya tidak peduli kanan-kiri,”


“Untuk apa bu? Untuk kepentingan apa ibu serang mereka,”


“Harga diri saya, kehormatan saya,”


“Ujungnya ibu malah akan mempermalukan diri sendiri di depan banyak orang. Dalam hal ini Bu Meilinda malah akan menyakiti Istri dan anak-anak Gunawan yang tidak tahu apa-apa mengenai kelakuan bejat suaminya,”


“Saya tidak peduli,”


“Saya peduli...” jawabku.


Ia menoleh padaku dan menatapku lekat dengan mata sembabnya, “Kenapa?” isaknya.


Dan lift pun terbuka di depan kami.


Aku menahan pintu lift dan mempersilakannya keluar lebih dulu, lalu mengikutinya lewat belakang.


Sambil menatap langkahku di karpet koridor, aku sedikit menjilat bibirku yang kering. Masih tersisa rasa bibir Bu Meilinda yang manis.


Lalu kulihat ke depan.


Bahu itu tertekuk ke depan, ia sedang memeluk dirinya sendiri sambil berjalan.


Terasa rapuh dan ringkih.


Sosoknya yang saat ini terlihat lemah.


Aku tidak tega.


Kuambil resiko apa pun saat ini, aku tidak peduli dia akan marah padaku atau akan menamparku. Aku hanya ingin merengkuhnya.


“Bu,” Aku pun mengalungkan lenganku ke bahunya, memapahnya untuk stabil.


Ia hanya diam, dan isaknya terdengar semakin jelas. Kami berjalan sepanjang koridor dengan aku memeluk tubuhnya yang mungil itu.


**


Sepanjang sore ia menangis di ranjang.


Aku membiarkannya, dia butuh sendiri.


Sambil melahap sandwich, aku mengerjakan pekerjaan kantorku. Karena kami di Bandung dalam rangka dinas,  setidaknya ada laporan yang bisa kukirimkan ke kantor sebagai bukti kalau kami tidak sekedar bersenang-senang di sini.


Aku juga sudah menelpon cabang Braga dan Gatsu untuk mengirimkan alamat Nasabah Bermasalah di cabang mereka.


Dan lagi-lagi, setelah kutelusuri profil nasabah itu, aku diantarkan ke satu nama.


Dengan perasaan kesal, aku mengusap rambutku ke belakang dan bersandar di kursi.


Harus kuapakan orang ini?!


70% Nasabah rekomendasinya dalam keadaan macet. Kolektibilitas 5 pada nasabah dapat mempengaruhi kinerja penilaian kami di mata instansi pemerintah.


Aku ingin tahu kehidupan orang ini yang sebenarnya. Dia kerja di mana saja, ia memiliki perusahaan apa saja, bagaimana kehidupannya yang sebenarnya.


Dan untuk melacak seseorang sedalam ini, Arya saja tidak cukup. Aku harus minta bantuan profesional


“Yak?” terdengar suara dari seberang sana, aku terhubung secara online dengan Alex Beaufort.


“Gue sebel sama orang ini,” gerutuku.


“Baru kali ini gue denger lo sebel sama manusia,” kekehnya.


“Gunawan Ambrose, siapa dia?”


“Secara umum atau latar belakang?”


“Semuanya, gue pingin tau semuanya,” desisku.


“Siap Boss, gue masuk ke darkweb,”


“Deepweb,” desisku.


“Lo mau gue masuk ke deepweb?”


“Ya, lo pasti punya akses ke sana,”


“Gue harus tahu alasannya, masuk ke situs yang mesin pencari tidak dapat menemukannya, membutuhkan Enkripsi database mutlak agar semua bentuk fintech dapat berfungsi dengan baik. Dengan kata lain, secara otomatis ip gue bakalan kedetect oleh Cyber Crime Indonesia, CIA dan bahkan FBI,”


“Gue yakin banget orang ini merugikan berbagai pihak. Hampir 70% nasabah di Garnet Bank yang dia rekomendasikan, macet,”


“Kalau untuk urusan kerjaan lo, gue nggak mau ah Mas, ujungnya harus Gentleman Agreement karena Garnet juga punya GSA,”


“Ini pribadi,” desisku.


Aku lalu menceritakan mengenai kejadian Bu Meilinda.


Selama 10 menit aku bercerita, dan endingnya, Alex malah ketawa.


“Gilaaaa, Dimas lagi bucin!” serunya.


Gue biarin lo puas-puasin ngetawain gue, asalakan informasi gue dapetin!


“Oke Mas, okeee, gue lacak semuanya,” akhirnya Alex nyerah juga. “Caranya nggak perlu lo tanyain, pokoknya ntar sore beres semua. Harga temen, spesial,”


“Harga temen? Gratis!” seruku protes. Agak jiper juga, mau matok harga berapa ni orang? Dia terkenal nggak manusiawi kalo kasih harga.


“Karena gue yakin data gue juga bakalan diminta sama Pak Sebastian suatu saat, untuk penghakiman, gue mau yang beda dari lo. Bukan duit kok tenang aja, gue tau lo selalu bokek gara-gara keukeh nabung demi rumah impian,”


Untunglah dia mengerti.


Jadi apa nih harganya?


Tumbal nyawa jangan-jangan?!


“Gue pingin... lo lepas keperjakaan lo untuk Bu Meilinda,” katanya.


“Gobl0k...” gumamku sebal.


“Apa yang harus gue lakuin selain nyari profil?”


“Rekaman video, seandainya ada,”


“Mengenai?”


“Hapus semua video yang berhubungan dengan Bu Meilinda,”


“Sebelumnya lo harus tahu kalau gue bakal ngeliat semua yang berhubungan dengan Bu Meilinda,”


“Makanya... gue minta ke elo, bukan orang lain,”


Terdengar kekehan Alex di seberang sana, “Oke, siap. Rahasia lo aman di gue,”


**


Dan setelah mengalami transaksi njelimet sama Alex, aku pun menghubungi cabang Gatot Subroto, dan meminta alamat nasabah yang menurut mereka paling parah dan tidak bisa diselesaikan oleh Pusat. Lagi-lagi direkomendasikan oleh Gunawan Ambrose. Dalam hal ini aku yakin transaksi mereka bukan hanya modal kerja. Bisa jadi, Mungkin sesuatu yang lebih besar. Karena jatohnya sudah sindikat.


Tidak ada yang memproses si Gunawan ini karena sekali lagi semua tahu kalau ia ‘kerabat jauh’ pak Sebastian.


“Bu,” aku dengan hati-hati mendekati Bu Meilinda.


Ia mengangkat wajahnya yang masih sembab.


Saat ini, sosoknya yang lelah karena menangis, terlihat sangat cantik di mataku.


Tenggorokanku langsung terasa kering.


Kalau harga untuk melihat senyumnya kembali hanyalah keperjakaanku, aku akan rela memberikannya dengan sukarela.


Karena sudah pasti nilainya lebih tinggi dari itu.


Saat ini, kurasa, secara misterius dan dengan proses yang tak terduga, aku sudah terpikat dengan sosok di depanku.


“Saya...” aku berdehem sebentar untuk membasahi tenggorokanku, “Saya mau ke lokasi jaminan nasabah Cabang Gatsu,”


“Saya ikut,” desisnya. Ia dengan lunglai mencoba duduk dan merapi kan wajahnya yang penuh air mata.


“Ibu yakin?”


“Sendirian di sini, tanpa kamu, kalau saya bunuh diri itu salah kamu...” gumamnya.


Aku menarik nafas panjang, deg-degan juga dengar dia sefrustasi ini.


“Siapa tahu kalau kerja saya akan melupakan masalah-“


“Saya mau ketemu dengan nasabah yang ada hubungannya dengan Gunawan Ambrose bu,” jawabku cepat.


“Astaga Dimaaaas,” ia mengeluh dan langsung menelungkupkan kepalanya ke bantal. “Kamu perlu ya nyiksa saya terus-terusan?”


“Sebaliknya bu, saya mau serang dia dari dalam. Dia sudah mengganggu ibu, dia juga mengancam perusahaan, dan saya akan membuktikan kalau dia seorang penipu dan layak ditendang pak Sebastian,”


“Tidak usah, untuk apa kamu lakukan itu? Yang ada kakak malah jadi tahu semua perbuatan saya di belakangnya! Saya akan malu Dimas!”


“Lebih malu lagi kalau dia sebar semua VC Bu Meilinda ke khalayak, Ibu mau Pak Sebastian mengetahui dengan cara begitu? Lebih baik dia tahu dari awal supaya bisa lebih bisa mempersiapkan langkah apa yang akan ditempuh,”


“Ah, ya benar sih... bagaimana dong...” Bu Meilinda tampak depresi.


“Lagi pula, buat apa ibu bersedih untuknya?”


“Saya masih marah dan kesal,” ujar Bu Meilinda.


“Saya rasa sudah tidak ada yang perlu disesali. Karena saat ini, Ibu milik saya,”


“Milik kamu? Maksudnya?”


“Bu Meilinda kan pacar saya. Ibu bisa segera melupakannya, karena sudah punya saya sekarang,”


**