
Ketemu mantan pas pagi-pagi ternyata rasanya campur aduk. Antara pingin meluk tapi nggak bisa.
Pagi ini wajahnya capek, tapi masih memandangku dengan lembut.
Ia bahkan tersenyum padaku.
Lalu menyerahkan dua map di depan pintu Pak David Huang, “Kamu mau yang Ari Sangaji atau Senapati?” tanyanya.
Ini perihal wawancara anak baru untuk divisinya. Katanya karena kasus Nasabah yang Orang Partai kemarin, ia memecat setengah dari karyawan kepatuhan, termasuk Pak Jaka. Pak Jaka kayaknya dibayar pesangom miliaran nih, dia kan udah puluhan tahun kerja sama Pak Sebastian. Langsung buka usaha ternak Gurame kayaknya.
Kenapa aku tidak kena? Padahal dulu aku satu divisi dengan Pak Jaka, bahkan bisa dibilang dia atasanku..
Karena itu bukan job-deskku. Jadi aku dari awal bekerja, tidak terlibat dengan Divisi Kepatuhan dan tidak menandatangai hal-hal yang berhubungan dengan itu.
Jobdeskku dalam hal ini adalah Auditor.
Divisi Kepatuhan dan Divisi Auditor adalah dua unit yang berbeda. Kalau istilah Kepolisian, satunya Bareskrim, satunya Densus. Sekilas tampak serupa tapi tak sama.
“Maryanti masih aman kan?” tanyaku.
“Masih ada Maryanti, aku butuh karyawan perempuan agar lebih teliti,”
“Dia dulu pernah bilang padaku soal anggota partai itu, tapi aku hanya menanggapinya sekilas karena bukan ranahku,” aku membuka -buka isi Map. “Ini Ari Sangaji?! Salah ketik kali ya?!” aku memicingkan mata melihat foto dan jenis kelamin dengan nama Ari Sangaji.
Meilinda terkikik, “Bukan Dimas, aku juga pernah ngomong sama David, ini benar atau tidak. Ternyata ya benar, dia perempuan. Tapi ganteng,”
“Dari mana sih Pak David dapat relasi buat gini-ginian...” desisku sambil membaca biodata si Ari Sangaji.
“Mas,” aku mendengar suara Meilinda memanggilku.
Aku menatapnya dan menutup map.
Dan menciumku.
Dia menciumku di bibir dengan ringan. Hanya sebentar tapi terasa lembut danmanis.
“Aku akan tunggu kamu. Cepat selesaikan semua masalah kamu,” desis Meilinda sambil membersihkan bibirku dari lipstiknya.
Aku deg-degan.
Kurasa... karena perasaan kami masih demikian kuatnya. Sehingga untuk berpisah saja kami tak mampu. Tapi aku takut posisinya sebagai pacarku malah jadi makan hati.
Saat dia membuka pintu ruangan Pak David, aku malah fokus ke bokongnya.
Duh, Dimas... ingat loh dia udah mantan. Dan kamu yang mutusin dia! Masa mau jilat ludah sendiri sih!! Keluhku dalam hati.
Saat membuka pintu ruangan Pak David, aku menarik nafas panjang.
Yang kulihat pertama kali adalah laki-laki, tingginya setara denganku, tapi tampak lebih muda. Alisnya tebal, rambutnya hitam, matanya coklat dan senyumnya menyenangkan. Tapi ada aura kelam yang terpancar di wajahnya. Sekilas sosoknya memang menyeramkan tapi saat ia menatap langsung, aku langsung merasa dia adalah seorang gentleman.
“Mel, Mas, iki loh Senapati,” Kata Pak David sambil menepuk-nepuk bahu pria itu.
“Saya pernah melihat bapak ini, di Lobby Gedung Garnet,” kata Senapati sambil menunjuk diriku. “Setengah dari operator menggodanya,”
“Nggak usah ditambahin kalimat terakhirnya dong Mas Senapati,” desisku sambil berdiri nyender di lemari Pak David.
“Sena saja Pak. Bapak ini mencolok sekali soalnya. Apalagi Pak Sebastian langsung menemuinya saat itu. Pak Arman juga datang khusus untuk menyapanya,” kata Senapati.
Aku berasa orang penting ya. Padahal waktu itu cuma mau ngebahas masalah Gio.
“Nama saya Dimas, usia kita nggak beda jauh, panggil nama aja ya,” kenapa aku ada perasaan kuat kalau Sena ini akan mudah diterima di Garnet Bank walau pun latar belakangnya SMA, belum ambil title, malah dia baru daftar masuk kampus dengan dana dibiayai oleh Garnet.
Tapi caranya bicara, caranya bersikap, menandakan kalau ia memiliki lebih banyak pengalaman berharga dibandingku.
Sena menyeringai sambil mengangguk, aku tertegun. Silau Men.
Dengan cepat dia mungkin akan jadi idola di Garnet Bank.
Kedudukanku sebagai orang femes terancam.
Hahaha.
Biar aja lah, biar hidupku tenang.
Aku mewawancarainya sedikit, mengenai apa yang dia tahu dan ia tidak tahu. Dan seperti yang kuduga sebelumnya, posisinya sebagai security malah cocok dengan... Auditor.
“Mel...” bisikku sambil meliriknya.
“Kita rembukan aja, gimana kalau aku minta beberapa anakmu dan anakku ke kamu? Aku terus terang aja nggak ada waktu buat ngajarin ini itu. Temuan kamu untuk divisiku terlalu banyak,” Meilinda bicara sekaligus menyindir.
“Sena ke aku aja. Aku ganti dua orang, Handry dan Tenny. Gimana? Kan mereka udah tahu dasar-dasar Kepatuhan,”
“Boleh lah,” kata Meilinda.
Sepakat.
“Sena, lo di bawah gue ya, nanti gue kenalin ke anggota yang lain yang juga akan ngajarin lo banyak hal,” biar Selena aja yang ngajarin Sena. Biar Masku cemburu. Wekekekekek (Ini ketawa setan).
Tibalah ke kandidat yang kedua.
Aku sampai bengong ngeliatnya.
“Buset...” gumamku saat melihat sosok itu datang. Meilinda bahkan sampai melongo.
“Selamat siang, Bapak-bapak dan Ibu Ratu,” ia menyapa Meilinda secara khusus.
Ibu Ratu katanya.
Ni anak perlu di-
“Ari ke kamu,” begitu kata Meilinda langsung. Dia memang nggak suka sama orang yang macam aku. Dan Ari ini kayak aku versi muda, pemberontak.
“Duh Mel,” desisku sambil tetap menatap Ari. “Divisi-ku bakalan jadi divisi rusuh dah!”
“Ya kan itu yang kamu suka. Kerusuhan,”
“Aku harus numbalin siapa lagi buat kamu?”
“Okky buat aku,”
“Okky paling takut sama kamu!”
“Halah! Lagakmu ngomong kalem-kalem!” seru Pak David di ujung sana, “Subuh-subuh kowe jerit-jerit di ruangan iku opooo?! Pakek nyebut nama Dimas Brengsek-Dimas Brengsek iku opoooo!!”
Aku diam sambil menunduk.
Meilinda berdehem.
“Daniel ke Kepatuhan aja biar genap,” kata Meilinda sambil beranjak, menyudahi sesi wawancara hari itu.
**
“Pak ganteng ini siapa ya?” tanya Ari sambil menoleh padaku yang berjalan di belakang Sena. Aku mengajak dua orang ini yang ternyata sedang berkuliah di tempat yang sama.
“Gue Boss lu,” gumamku. Kayaknya si Ari ini orangnya belagu tapi menarik.
“Gak ada wibawanya sih Pak, sori saya jadi nanya, hehe,”
Tuh kan songong.
“Besok pake Rok ya Ri,” desisku.
“Pak Dimas bisa ngebayangin saya pake Rok nggak?’
“Pasti lucu banget kayak bencong,”
“Makanya demi ketertiban dan nama baik Divisi, saya tetap pakai celana aja,”
“Tapi kalo meeting harus pake Rok, Ri,” kataku, “Sama sepatu hak tinggi minimal 3 senti,”
“Saya boleh nego nggak sih?” tanya Ari. Soalnya masalahnya tampangnya memang ganteng banget. Arab-Arab Turki tapi badboi gitu.
“Itu udah dinego serendah mungkin. Boleh pake celana kalo sehari-hari tapi pake rok pas meeting doang,”
“Gimana kalau,” Sena angkat suara, “Lo panjangin rambut aja biar kelihatan ceweknya. Nggak numbuh jenggot kan ya?”
“hahahahaha!!” aku dan Sena ketawa bareng.
“Bro,” desis Ari sebal, “Gue kalo rambut panjang malah lebih keliatan jantan,”
“Ya sana pake jilbab aja sekalian, hahahahaha!!” aku dan Sena ketawa bareng-bareng lagi.
“Pokoknya kalo meeting gue pake masker aje,” desis Ari sambil buang muka. “Rahang gue nih masalahnya persegi, jadi kesannya gue pejantan banget,”
Tanpa kusadari saat kami jalan bertiga ini, semua orang menatap lekat-lekat.
**
Sore itu, saat Selena dan Cecil sibuk mengajari Sena dan Ari. Aku pun menyibukkan diri dengan Laporan Transaksi bulanan.
Baru juga pingin serius baca transaksi bulanan, ada bantex dilempar ke mejaku.
GUBRAKK!!
Sampe gelasku jatoh ke lantai. Untung saja nggak pecah.
Bu Sarah, dedengkotnya Marketing a.k.a Kadiv Pendanaan, ada di depan mejaku dengan muka semerah kepiting rebus. Dia nomor 2 dalam kandidat ibu-ibu suara menggelegar.
Nomor 1 tetap Meilinda.
Kalo berdua nyetop tukang sayur di ujung jalan pasti seRT denger semua.
Fendi mengikutinya dengan mimik muka kuatir. Ia tampaknya nggak menyangka Bu Sarah bakalan berbuat keributan dengan melempar bantexnya. Dari yang kubaca judulnya, ini hasil temuan Divisi Audit terhadap Divisi Pendanaan & Marketing hasil meeting kemarin yang aku datangnya agak telat karena masalah mantan.
Mantan fans maksudnya.
“Saya nggak terima ya sama hasil temuan kamu!! Nggak bisa kamu seenaknya masuk-masukin hal remeh! Memangnya kamu pikir kamu bisa gajian tanpa kita hah?! Di sini itu yang nggaji kalian-kalian itu tim marketing!! Pakai otak kamu!!!” Dia berteriak-teriak sampai satu lantai kedengeran gaungnya.
Pak Danu sampai keluar ruangan.
Pak Haryono... malah masuk ruangan, sambil mengibaskan tangannya, dia mengkode kalo malas dengerin suara Bu Sarah.
Aku diam dulu, mau ngeliat aksinya.
“Kalo kamu nggak mau ngerubah hasil temuannya, saya nggak segan-segan ya laporin kamu punya hasil kerja ke Big Boss! Saya nggak takut walopun kamu pacar Meli! Kalau perlu saya lapor ke Pak Hans!!”
Widih...
Padahal aku belum ada tanggapan apa pun, dia udah ngeluarin kartu AS duluan.
Di belakangnya Fendi menempelkan telunjuk ke mulutnya, memberi kode ke aku supaya diam saja jangan ngelawan, biar Bu Sarah cepat pergi. Aku sih memang ada rencana buat diem saja, orang gila kok dilawan.
“Mohon maaf, tapi di sini itu yang menggaji kita adalah pemegang saham,” kata Sena di seberang sana, “Setiap Divisi bersinergi untuk kesejahteraan Shareholder, jadi kalo salah-salahan begitu tidak tepat bu, silakan ajukan keluhan ke Manajemen untuk merubah Aturan Yang Berlaku,”
Bu Sarah menatap Sena dengan tajam.
“Tapi kalo se-sewot itu ke hasil investigasi, jangan-jangan sebenarnya memang ‘ada apa’apa di divisi-nya ya?” tanya Ari juga disertai senyuman sinisnya.
Fendi sampai memekik terkesima dan mengelus dadanya, tanda kalau ia setuju sekali dengan pendapat Sena dan Ari tapi tidak pernah bisa ia ucapkan.
Bu Sarah baru pergi dari kubikelku sambil mencak-mencak, sementara Fendy mengerling ke... Ari. Lalu buru-buru mengikuti Bu Sarah yang keluar ruangan.
“Njir,” desis Ari sambil garuk leher.
Aku dan Selena hanya terbahak. Fendi belum tahu kalau Ari sebenarnya perempuan.
Cecilia menatap bolak-balik ke arah hilangnya Fendy dan Ari, “Pak Fendy tu sebenarnya beneran kaum pelangi atau bukan sih? Karena menurut yang kutahu, kaum itu seharusnya bisa mendeteksi indikasi gender. Kalo tak salah termasuk ke fenomena Gaydar (Gay Radar). Nah ini dia tak tahu kalau Ari ini Non atau Mas. Memangnya tidak bisa dilihat secara kasat mata ya? Dari ketiadaan jakun aja seharusnya sudah bisa ditebak loh. Bulu matanya juga lentik kece badai ini, walopun dadanya memang flat sih membuat-ku jadi lebih pede dikit gitu!”
“Mbak Cecil, pernah dapat keluhan kalau dirimu mangap bikin jiwa pendengar letih lelah nggak?” tanya Ari.
“Pak Fendi di Kantor Pusat juga terkenal loh pacarnya banyak. Pacar dalam tanda kutip maksudnya,” kata Sena.
“Bukannya Pas ya kalo seandainya Fendi jadi suka sama Ari?” tanyaku.
Aku dan Sena ketawa lagi barengan.
“Nasib gue, Apa nasib bumi pertiwi? Wahai kenyataan alam Wahai kenyataan diri Wahai kenyataan zaman Apa nasib bumi pertiwi?” Ari nyanyi lagu Iwan Fals.
DI Bab ini Selena nggak dapat jatah ngomong. Aku pun senang riang gembira.