
Baru kali ini aku sangat malas ke Kantor,
Di Kereta saat ini, yang kulihat di pelupuk mata hanya wajah manis Bu Meilinda. Bahkan seringkali para wanita di sekitarku wajahnya berubah jadi Bu Meilinda.
Seakan kejadian saat aku kecewa kemarin terhapus seketika saat datangnya pagi.
Bu Meilinda pakai hijab, Bu Meilinda lagi dengerin lagu pake earphone, Bu Meilinda lagi hamil dan duduk di kursi prioritas, Bu Meilinda bawa-bawa karung isi baju jualan dan turun di stasiun Klender. Yang setelah dia turun aku baru sadar kalau itu nenek-nenek yang memang biasa naik KRL jurusan Bekasi - Klender.
“Makasih Mas Ganteeeng,” pamitnya. Aku memang beberapa kali membantunya menurunkan jualannya keluar dari kereta dan menghalangi orang-orang yang berebutan naik dengan tubuhku ini agar dia tidak tersandung. Tinggiku 185 cm dan bobotku 75kg, memang lumayan mengganggu kalau ada di tengah-tengah gerbong. Tapi akan berguna kalau ada yang minta ‘dilindungi’, seperti si ibu jual baju ini.
Untung walau pun mataku nggak sinkron, logikaku masih berjalan. Karena nggak mungkin Bu Meilinda naik KRL bawa-bawa karung gede.
Aku pun menaikkan maskerku dan turun di Stasiun Manggarai, mau lanjut naik KRL ke jalur lain untuk ke daerah Sudirman.
Dan kupasang earphone ke telingaku untuk mendengarkan lagu yang judulnya ‘Sempurna’ dari Andra and The Backbone. Sepanjang jalan aku lanjut sibuk memikirkan Bu Meilinda.
Saat aku sampai di kantor, di samping lift banyak orang berkerumun. Karena penasaran, aku bergabung bersama mereka. Kulihat ada iklan di layar televisi di samping lift.
"Seleksi Terbuka
Garnet Security Agency
Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
Sehat jasmani dan rohani (surat keterangan sehat dari institusi kesehatan);
Berwibawa, jujur, adil dan berkelakuan tidak tercela;
Lulus pendidikan dan pelatihan pembentukan Pasukan Keamanan GSA.
Dinyatakan bebas narkoba dengan menyerahkan surat keterangan bebas narkoba dari instansi kesehatan pemerintah (RS Pemerintah atau Klinik BNN/BNP/BNK);
Membuat surat pernyataan bermaterai bersedia ditempatkan di seluruh wilayah di Dunia.
Berani Mati Terhormat Membela Keamanan Klien dan Perusahaan."
Dan pengumuman itu ditandatangani Sebastian Bataragunadi.
Kami semua tercengang melihat kriteria yang terakhir. Ya namanya juga Bodyguard, resiko terluka pasti ada.
Tapi seperti ada yang aneh dari kriteria yang ditampilkan...
“Nggak harus WNI dong ya? Juga tidak diatur usianya,” bisik orang di depanku.
“Baru kali ini ada seleksi pasukan keamanan yang tidak memasukan kriteria ‘tidak pernah dipidana karena melakukan suatu kejahatan’”
“Masalah itu sih, soalnya kan Komandan GSAnya sendiri katanya terlibat dalam berbagai tindakan kriminal, dia pernah bunuh anggota dewan katanya, tapi tidak dipidana karena dianggap membela diri,”
“Nggak ada kriteria ‘tidak bertato’ juga, nggak ada ketentuan tinggi badan,”
“Gue kok pingin daftar ya,” terdengar suara Tresna yang ada di depanku. “Kayaknya keren gitu,”
“Pikir-pikir lagi lo, taruhannya nyawa loh,” desis Heksa. “Tapi katanya bisa partime, jadi bisa kerja jadi karyawan sekaligus jadi Bodyguard,”
“Ini Komandannya Pak Arman kan ya? Yang dari Garnet Grup? Nah dia aja bisa jadi Asisten sekaligus Komandan,”
“Ngeliat Komandannya aja gue udah insecure duluan,”
“Gue minta restu nyokap dulu sebelum daftar,” kata Tresna kemudian.
Aku pun masuk ke dalam lift meninggalkan kerumunan itu. Bukannya aku tak tertarik tahu lebih lanjut, tapi karena aku butuh kopi di pantry.
**
Pusing…
“Lo Kenapa Mas? Lemes amat! Ngopi sana!” seru Daniel yang pagi itu mengunjungi ruanganku sambil makan gorengan.
“Udah, nggak ngaruh," desisku sambil menelungkupkan kepalaku di meja.
“Nih, minum... gue barusan beli kopi mehong,”
Kulihat gelasnya, tulisannya Expreso. Gaya bener si Daniel. Marketing sih ya jadi ada budget gini-ginian buat mood booster.
“Mas, udah tau kan kalau hari ini ada meeting buat bahas temuan OJK ke Cabang-cabang? Hari ini 5 Cabang Utama dulu,” sahut Pak Jaka bersemangat sambil menenteng teh manis dengan gelas super besar. Kulirik merek teh nya, Dilmah Earl Grey… Ya Ampun paaak, sok inggris bener lo tapi logat Jawa.
“Pak, sepertinya saya kurang sehat, kalau pembicaranya bapak saja bagaimana? Nanti kalau ada pertanyaan saya yang jawab,” desisku sambil menelungkupkan kepalaku di Meja.
Pak Jaka menghentikan aktivitas per-ngetehan-nya. “Lah kan kamu yang buat laporannya, kalau saya salah bagaimana?”
Ini Kepala Divisi atau staff sih?! Kok otaknya sempit, “Oke pak saya usahakan, tapi belum bisa maksimal,” desisku akhirnya.
“Dimas, bahan presentasi kalau sudah selesai diemail dulu ke saya, mau saya review,” Terdengar suara, super cempreng, yang membuatku langsung menegakkan kepala.
Gila, migrain… dan pandanganku langsung berkunang-kunang.
Apa kantorku memang seterang ini lampunya? Atau cahaya mentari pagi masuk dari jendela? Sejak kapan Jakarta tanpa polusi jadi atmosfernya bisa sejernih ini? Dan kenapa jantungku jadi berdetak secepat saat aku bersepeda di waktu car free day? Kopi merk apa sih yang kuminum? Jangan-jangan lambungku bermasalah…
Dan bau wangi apa ini? Mungkinkah surga sewangi ini? Terus kenapa ada bidadari di depanku? Apa aku mati mendadak?
“Dimas!!"
Aku tersentak.
Bu Meilinda.
Di depanku.
Dengan setelan putih-putih dan belahan dada rendah. Rambutnya diblow sempurna.
Jari tanganku otomatis bergerak namun pandanganku tak mampu kualihkan dari wajahnya. Begitulah kalau workaholic, tangan dan mata jadi lambat laun memiliki server yang berbeda.
“Barusan saya email,” sahutku. Mulutku kering. Sebat dulu kali yah sebelum mulai meeting.
“Sarapan dulu sana. Tampang kamu kacau banget… udah mandi belum sih?!” omelnya sambil berjalan ke ruangannya.
Tercium wangi roti yang baru dipanggang dari dalam bungkusan. Aku mengintip isinya ada 2 buah roti dengan wangi kopi.
Aku tercengang.
Sarapan… dia yang kasih.
Ini Bu Meilinda loh.
Setelah pintu ‘ruangan panas’ ditutup, semua karyawan mengerubungiku, melihat sarapan roti yang dikasih Bu Meilinda.
“Lo jangan seneng dulu, pasti itu sisa dia makan yang nggak habis,” kata Daniel.
“Atau ada santetnya. Kan dia benci tingkat tinggi sama lo, Mas!” kata Gio sambil mengendus rotinya.
Bukannya aku nggak tau sih tujuan dia tiba-tiba ngasih sarapan. Tapi masa Aib segede itu cuma ngasih aku roti rasa kopi. Aku ini mengetahui 2 skandal terbesar beliau loh...
Pelit amat sih.
**
Meeting.
“Menurut saya itu bukan fraud karena uangnya saya kembalikan lagi ke rekening Nasabah, saya juga ada bukti transaksi saya menyetorkan dananya kembali.” si Kepala Operasional dari salah satu cabang kami sedang disidang di tengah ruangan. Sementara beberapa orang dari cabang lain duduk di jajaran kursi di belakangnya. Menatap kami dengan tegang dan penuh perhatian.
“Tapi kamu tidak melaporkannya ke divisi terkait!” kata Pak Jaka berusaha mempertahankan argumennya. Dia jelas tak ingin kehilangan wibawa di depan Manajemen.
Dan perdebatan terus berlanjut. Divisi Audit VS Cabang-cabang. Ini sesi terakhir di minggu ini.
Aku memijat kepalaku dengan ujung pulpen.
Suasana panas pasti terjadi apabila yang menggelar meeting adalah divisiku. Karena tugas kami ‘mencari-cari’ kesalahan orang, jadi apabila ada laporan pasti ada perdebatan apakah harus dijadikan temuan atau tidak. Bukannya kami tidak mengerti mengenai kondisi orang lain, tapi itulah tugas kami.
Setengah robot setengah mata-mata. Seperti HRD, kami juga tidak punya teman dan tidak percaya siapa pun, karena semua karyawan kami anggap ‘penjahat’.
Aku bisa mendengar kanan-kiriku berbicara dengan nada tinggi, lomba oktaf telah dimulai sejak 2 jam yang lalu. Namun hal itu malah menghilangkan pikiran mesumku.
Baguslah
"Bu Kaops," desisku.
semua langsung diam.
“Ibu direkomendasikan untuk mendapat Surat Peringatan I,“ sahutku. Tiba-tiba satu ruangan hening. Tapi selalu begitu sih saat aku buka suara. “Tindakan kamu tetap dijadikan temuan Auditor karena ada indikasi kamu bekerja sama dengan Nasabah. Tidak ada bukti otentik yang mendukung ucapan kamu dan slip setoran yang kamu tunjukan barusan, apakah itu uang si nasabah atau uang kamu sendiri yang dibuat seakan-akan kamu adalah korban? Saya mendukung Pak Jaka, seharusnya kamu laporkan ke unit terkait. Baru mengenai tindakan selanjutnya kami yang akan memikirkannya,” sahutku.
“Tapi-”
“Ibu sudah 5 tahun bekerja sebagai Kepala Operasional, seharusnya ibu tahu konsekwensinya,” tutupku.
Semua langsung terdiam.
Meeting dibagi menjadi dua sesi, yang satu Terbuka, untuk cabang-cabang. Dan setelah semua selesai disertai dengan gerutuan orang-orang, aku bahkan bisa mendengar salah satu dari mereka berujar ‘ganteng-ganteng judes’ dengan menatap sinis ke arahku, para karyawan dipersilakan keluar karena kami akan melewati sesi II yaitu meeting tertutup.
Pesertanya adalah para manajemen, dan yang dibahas adalah kasus serius danmasalah internal.
Kami lanjutkan dengan meeting lagi selama 1 jam lamanya.
Dan tibalah ddi sesi terakhir, “Next Case,” desisku akhirnya. “Laporan mengenai gratifikasi yang dilakukan Ibu Meilinda Bataragunadi,”
Aku bisa melihat Bu Meilinda melotot padaku.
Semua orang langsung gaduh.
Iya, mohon maaf, tapi laporan ini tidak ada di presentasi yang ku email padanya. Ini sengaja kujadikan kejutan. Kuakui kesalahanku adalah menjatuhkan divisi sendiri sehingga nanti ke depannya kan terjadi ketidakpercayaan orang terhadap manajemen. Tapi lebih salah lagi kalau sudah jelas-jelas salah tapi tidak kulaporkan.
Lagipula, ini meeting tertutup.
“Coba saya dengar,” Bu Meilinda bersandar berusaha santai namun lehernya penuh saraf yang menegang.
“Sesuai dengan ketentuan OJK, “aku menampilkan slide. “Pejabat Bank dilarang menerima segala bentuk gratifikasi dan berhak dilaporkan ke unit pelaporan,”
“Itu bukan gratifikasi dan dilakukan di luar jam kantor,” sangkal Bu Meilinda.
“Tapi berkaitan dengan pemberian kredit Pak Siswoto, ini murni masalah pekerjaan, bukan pribadi,” sahutku.
“Memangnya kalau saya laporkan tas Hermes 700juta, apa yang akan dilakukan divisi kamu, Dimas?” tantang Meilinda.
“Dipajang di Lobby sebagai bukti kalau Direktur kami bernilai hanya 700juta sudah bisa disogok,” desisku sinis.
Bu Meilinda melempar botol aquanya padaku. Aku berkelit menghindar. “Itu bisa dihitung pelecehan yah Dimas,” geramnya.
“Yang barusan juga bisa dihitung kekerasan verbal yah Bu,” balasku.
“Kalian ini kenapa sih,” desis Pak Danu buka suara. “Saya tuh paling suka sebenarnya saat melihat kalian berdebat, tapi ya jangan keseringan dong. Itu berpengaruh ke kinerja kita di jam-jam berikutnya loh. Hayo itu siapa yang taruhan pilih Meilinda atau Dimas…”
“Meilinda,” Pak Haryono, Direktur Personalia, menoleh ke Bu Meilinda. “Kami mengerti kalau Pak Siswoto (Nasabah yang dipermasalahkan) adalah kerabat kamu. Tapi dia adalah nasabah. Dan kamu melakukannya untuk kepentingan bisnis. Hal ini bisa kami tolerir kali ini, tapi tidak ada lain kali yah, tolong lebih berhati-hati lagi… dan Dimas?”
“Ya pak,” desisku.
“Tolong lebih bisa bekerja sama dengan atasan kamu sendiri. Jangan langsung ambil tindakan dan mengumbar di depan banyak orang. Kalau masalah internal kamu bisa adakan rapat tertutup khusus untuk manajemen saja,” desisnya.
"Jadi kita bisa putuskan kalau di kasus kali ini, pemberian penambahan kredit untuk Siswoto direject ya Pak?" tanyaku meminta kejelasan.
Pak Danu mengangguk.
"Maaf ya Meli, kami tolak. Sampai dia tambah jaminan, kreditnya tidak bisa ditambah,"
"Terserah saja," kata Bu Meilinda.
Tapi aku bisa melihat tatapan tajam menghujam diriku.