
Aish!! Gawat!
Ada Pak Sebastian duduk di ruang tamu.
Ini orang yang kubicarakan di episod sebelumnya. Sosok Kakak Bu Meilinda. Sebastian Bataragunadi, 54 tahun, dan sepertinya bukan manusia biasa.
Kenapa tampangnya ketus ya? Apa aku salah ucap salam yah? Atau harus buka sepatu dulu? Atau harus mencet sidik jari dulu? Atau harus nunduk hormat sambil ngomong ‘nuwun sewu’ dulu?
Pak Sebastian dianggap sebagai Legend di dunia treasury Indonesia, dan baru-baru ini usaha propertinya berkembang pesat. Dia adalah tokoh yang harus diwaspadai karena selain sangat sayang kepada adiknya, Bu Meilinda, dia juga pengusaha nomor satu yang konon bisa menggerakkan perekonomian negara ini. Dengan kata lain, dia triliuner yang berkuasa.
“Permisi Pak. Saya Dimas. Mau cari Bu Meilinda," aku memperkenalkan diri seadanya. Karena memang tidak menyangka kalau orang se-agung Pak Sebastian leha-leha di depan pintu sepagi ini dan menyambut pagiku yang cerah tapi suram.
“Hooo, kamu toh tamu agungnya,” dia tersenyum sinis sambil melihat setelanku. Sepatu kets, celana slimfit, jaket hoodie, masker dan ransel. “Meli ada di ruang makan,” desisnya cuek sambil kembali menekuni ponselnya.
Hiii! Merinding aku. Auranya itu loh beraaat! Satu keluarga jutek semua. Aku langsung mempercepat langkahku berniat kabur secepatnya.
“Heh kamu!” terdengar teguran lagi.
Otomatis kakiku mode ngerem. “Ergh, ya pak?” tanyaku sambil berbalik. Salah apa aku? Asuransi jiwaku masih berlaku kan ya? BPJSku sudah dibayar kan ya?! Siapa tahu aku langsung digebuki.
“Masker kamu dilepas ya! Di sini bukan area publik," tegurnya.
“Siap pak.” Aku menghela napas. Ternyata hanya masalah masker, bikin tegang saja deh.
Nah, sekarang ruang makan ada di mana?
“Bro,” Seseorang merangkul bahuku.
Aku terlonjak kaget.
Trevor muncul di belakangku masih dengan kaos oblong dan celana pendek. “Dari pagi tante Meli ngomel tuh nyariin elo,” desisnya sambil merangkul bahuku. “Lo apain dia?”
“Gue cuman senyumin,” desisku malas untuk bercerita hal yang sebenarnya.
Trevor terkakak dan menunjukkan ruang makan. “Gue kasih tau dulu, biasanya dia sarapan di kamarnya. Ruang makan cuma dipake pas lebaran, sampe hari ini bikin kaget semua orang. Lo udah disediain prasmanan tuh, doi siap-siapnya dari jam 4 pagi. Dan sekarang semua orang jadi tau lo yang mana. Bokap gue aja sampe penasaran,”
Dasar lebay.
Ngapain juga sih Bu Meilinda begitu?!
“Bram, adek lo udah nyampe sini.” Trevor bicara begitu sambil mengangkat teleponnya yang berdering.
Eh, Buset! Kenapa Bram sampai telepon Trevor segala, sih?! Kok heboh sih.
Lalu Trevor bertanya padaku. “Bram nanya ada masalah apa sampe pagi-pagi dipanggil Tante Meli?”
Aku menyeringai. “Bilang ke Mas Bram, gue pacaran sama Bu Meli,"
Trevor menghentikan langkahnya karena kaget, "Lu masih waras kan ya?!" desis Trevor. “Halo Bram, si Dimas perlu di ruqyah, kayaknya karena tekanan kerja dia jadi stress. Tuh kan tadinya gue udah ragu masukin dia ke Garnet Bank, lu sih nekat. Gue ada kenalan Ustad di Banten, apa sekalian beli daun Bidara juga?" Trevor melanjutkan obrolannya via telepon ke Bram.
Aku cuek saja lah, Bodo amat mau pada ngomong apa.
Aku tiba di area ruang makan yang indahnya ngalah-ngalahin istana Versailles. Yang jelas ruang makannya saja 2x lipat lebih luas dari rumahku.
“Sarapan dulu, Dimas?” Bu Meilinda, duduk di ruang makan dengan anggun.
Di depannya ada sepiring buah-buahan. Di tangannya ada secangkir teh. Bajunya sudah cetar, rambutnya sudah di blow, wajahnya sudah cantik, tapi tak pakai senyum.
Ingin sekali dipuji sepertinya.
“Pagi bu,” Aku melihat hidangan sarapan ala hotel dihadapanku.
Aku menghela napas dan langsung whatsap Trevor : Bantuin habisin.
“Maaf yah Bu sudah merepotkan pagi-pagi, tapi sebenarnya nggak perlu begini sih, kita akan sering berangkat bareng soalnya.”
“Nggak apa, service dari saya. Kamu kan pacar saya,”
“Pacar...” aku mencibir, “Nanti saya jadi terbiasa loh,”
“Itu juga tak perlu kamu kuatirkan Dimas,”
Iya masalahnya nanti nasi uduk ibuku nggak kemakan karena kekenyangan pagi-pagi. Tapi aku mulai mengambil bubur. Habis tampilannya itu menggiurkan.
“Buat apa? Paling dikatain ada santetnya,”
Jreng Jreng Jrengggggg!
Sekali lagi kukatakan, selama dinding kantor anda masih gipsum, jangan ngomong sembarangan. Buktinya dia ternyata dengar kalau kami sering mengata-ngatainya.
“Saya nggak ada niat untuk berbaik hati sama orang kantor. Mereka bisa seenaknya kalau saya terlihat bersahabat. Asal gaji dan fasilitas mereka terpenuhi saya rasa sudah cukup,”
“Hm, begitu ya menurut ibu,” bukannya aku setuju sih, tapi memang dia benar. Realitanya, sikap tegas harus diambil oleh para Boss untuk menciptakan pagar pembatas antara dia dan karyawan. Ini masalah profesionalisme agar tak tercampur dengan urusan pribadi.
“Silahkan cari kantor lain kalau tak puas dengan sikap saya,” sahut Bu Meilinda lagi.
Untung dia cuma Direktur Kepatuhan. Kalau dia diserahi jabatan yang berhubungan dengan kesejahteraan karyawan, seperti Direktur Personalia, bisa-bisa dilaporkan ke Kementrian Ketenagakerjaan.
Setelah itu aku ambil croissant,
“Karyawan itu sebenarnya investasi loh bu, kalau dianggap beban jadinya perusahaan sulit berkembang,"
“Biar itu jadi kerjaan divisi lain saja. Kita ini mengurusi kesalahan orang lain, Dimas. Jadi saya merasa tidak berkewajiban untuk membuat karyawan senang,"
Setelah itu ambil sup jagung, jangan lupa roti garlicnya,
“Pernah mencoba mengeluarkan saya dari kantor?” tanyaku penasaran.
“Sering. Tapi selalu gagal. Waktu itu saya belum tahu kalau Trevor yang memasukkan kamu ke Garnet Bank, "
“Ih Tante,” Trevor masuk ke ruang makan sudah dalam keadaan rapi. “Walaupun tidak ada aku, Dimas akan tetap dipertahankan di kantor mana pun dia berada, tante," Trevor duduk di sampingku, seketika aku merasa aura gelap Bu Meilinda semakin kuat.
Mungkin dia kurang suka dengan kehadiran Trevor.
“Kamu ngapain di sini?!” tanya Bu Meilinda agak sewot.
“Sarapan lah, masa mejeng,” sahut Trevor cuek sambil mencomot apa pun yang didekatnya. “Ingat tante, Pria dan Wanita berduaan dalam satu ruangan, tengah tengahnya setan,"
“Lu Setannya?” Aku menatap Trevor. Trevor hanya mengedipkan mata padaku sambil tersenyum jahil
“Ehem!" terdengar deheman dari arah pintu. Pak Sebastian muncul dan bergabung. “Tumben kamu pagi-pagi siapin sarapan, Meli," tapi matanya menatapku dengan tajam.
“Iya, Kak, siapa tahu dia lapar. Kan dia juga harus menyetir ke kantor," Bu Meilinda menatapku.
“Memang driver kamu kenapa?”
“Dia sehat-sehat saja kok.”
“Terus?” Sebastian tidak mengalihkan pandangannya dariku. Suaranya yang bariton benar-benar mengintimidasi. Aku memperlambat kunyahanku, dilain pihak Trevor malah mempercepat kunyahannya sambil cengengesan.
“Mulai sekarang Dimas akan mengantar jemput aku untuk mengerjakan suatu proyek," Bu Meilinda tersenyum menawan, menatapku genit sambil menggoyang-goyangkan gelasnya.
"Proyek apa?" tanya Pak Sebastian curiga.
"Rahasia," jawab Bu Meilinda.
"Ada hubungannya dengan kantor?" tanya Pak Sebastian lagi.
"Pribadi, kak. Lumayan kan aku bisa dapat bodyguard,"
"Huh! Bodyguard. Kakak kamu ini punya Security Agency, kamu malah ambil karyawan sebagai bodyguard? Memang bisa apa dia?!"
"Dia lebih ganteng dari siapa pun," Bu Meilinda ikutan menatapku.
Kok aku jadi merasa dilecehkan, ya?!
“Asal dia jangan macam-macam," sahut Big Boss akhirnya dengan dengan nada mengancam dan mata memicing ke arahku. Sampai akhirnya Ia melenggang pergi aku yakin telinganya masih memata-mataiku.
Aku dan Bu Meilinda saling bertatapan. Ia terbahak. “Begitu saja pucat,” sindirnya ke aku.
“Turut berduka cita bro," aku menepuk punggung Trevor merasa kasihan karena dia tiap hari ketemu bapaknya.
“Gue udah biasa dari lahir di-sinis-in. Makan dulu bro," Balas Trevor.
“Kuperhatikan, kerjaan Trevor sama hal nya seperti Leon dan Bara. Makan , makan dan makan. Ada apa dengan mereka ini? Stres tekanan kerja atau bagaimana?