Office Hour

Office Hour
Vila Vampir (1)



Banyak juga yang wa Tante Author secara pribadi dan intens untuk dibahas mengenai Pak Danu. Gara-gara karena dulu Tante Author orangnya cukup otaku (untung ga sampe jadi wibu), dan setelah menikah dan punya anak menginjak usia kepala 4 dikira akan lepas dari kejepun-jepunan ternyata nggak bisa juga. Sampai-sampai visualnya Pak Danu adalah Atsushi Sakurai, vokalisnya Band Visual Kei Jepang namanya Buck Tick.


(Coba tonton you tube, judul lagunya Alice in Wonder Underground)


Nah, teman-teman sesama penggemar jrock yang juga baca novel ini, akhirnya request mengenai Pak Danu.


Tinggal Tante Author yang kebingungan...


*****


Dengan aku lagi, Dimas Tanurahardja Bin Emilio Sandro.


Suami dari Meilinda Adinata Bataragunadi Binti Hansel Bataragunadi.


Kejadian ini saat aku baru 6 bulan menjabat sebagai Dirut. Saat Meli hamil muda.


Mak Lampir baru saja menikah, dan dia mengalami kebosanan akut.


Saat itu kami, para Direksi dan Komisaris, sedang meeting untuk membahas Laporan Triwulan ke III yang akan kami ajukan ke OJK. Sudah pasti akan ada beberapa penyesuaian keuangan dan metode marketing yang akan diterapkan agar pelaporan Desember nggak acak-adut.


Triwulanan III, September kemarin, berkat doa-doa kaum teraniaya di kantorku dan atas ijin Illahi, akhirnya muncul berkah dari Tuhan adanya angka profit yang naik sebesar 180% dari Triwulan sebelumnya. Dan kini kami sedang mempersiapkan laporan untuk Desember. Vibenya udah mau tahun baruan aja nih.


Saat kami cuan, Itu berarti, nyawaku terselamatkan dari totok aliran darahnya Mas Yan.


Sekaligus, ngasih dia uang jajan (alias deviden) untuk beli mobil baru. Secara Bugatti La Voiture Noire baru aja release jadi udah pasti masuk ke wishlist online shopnya tinggal nunggu dana untuk check out nya dari pembagian saham dariku.


(Yaa kali Bugatti ada di online shop... Eh, tau-tau ada lagi, hahaaha! Wong Tesla aja bisa dipesan Online kok).


Aku lumayan penasaran, kalau Mas Yan beli mobil yang harganya setara APBD apakah Milady tahu, yah? Aku aja yang dikasih kado Ferrari jarang kupake karena nggak kuat bayar bensinnya. Belom kalo macet, mesinnya ribut dan gampang panas. Itu belum kuhitung saat menghadapi sleeping police... Harus melipir miring-miring pake ilmu fisika secara rendah banget.


Sebenarnya sih kalo tidur tinggal dibangunin aja, kali.


(Aku tahu kok Polisi Tidur bahasa inggrisnya SpeedBump bukan Sleeping Police. Tahuu kok tahuuu).


Lalu tercetus dari mulut Mak Lampir yang bosan, kalimat :


"Kita nggak ngadain gathering karyawan? Dua tahun saya kerja di sini nggak sekalipun kita ada acara darmawisata." sahut Selena.


Lo pikir anak SD pake darmawisata segala.


"Mau gathering di mana? Dana sih ada. Kan emang sudah harus dibudgetin sama BI. Pilih aja antara Seminar dan Gathering..." kataku


"Seminar, laaaaah !" desis Pak Haryono dan Pak David cepat.


Dasar golongan para suami takut istri...!


Aku berdecak sambil menurunkan kacamataku.


Selama ini memang kegiatan karyawan berputar di sekitar seminar dan training.


Yang dipilih biasanya adalah hotel berbintang. Sertifikat seminar nggak penting, yang penting adalah judul 'nginep di hotel berbintang di luar kota'.


Jadi habis seminar sekitar 5 jam, sisanya jalan-jalan dan leyeh-leyeh di hotel.


Yang penting buat bapack-bapacknya adalah : tempat santai jauh dari anak-istri yang gampang minta ijinnya.


Jiah...


"Kasihani sedikit lah ama yang jomblo-jomblo. Gathering karyawan itu bisa mempererat hubungan kekeluargaan antar karyawan, biasanya jadi makin akrab, lama-lama jadi cilok." sahut Stephen. Jomblo tulen.


(Ayo para single, yang mau kenalan kokoh-kokoh kaya, Marga Huang, umur 45 tahunan, Aset pribadi puluhan Miliar, Aset keluarga nggak habis 13 turunan, hobi maen golf dan nyambi jual real estate, sifatnya romantis menye-menye, tampang mirip So Ji Sub.)


"Mau stok cilok buat berapa tahun, Koh?" sindirku.


Nyari pasangan kok di kantor. Nggak usah niru-niru aku, deh.


Loh...


"Koyok e awakmu sewot nemen karo gathering... ket mau nyocot mbulet ae. Awakmu nduwe pengalaman elek po-piye ?" sahut David. (Sepertinya Anda kurang kurang berkenan dengan acara Gathering, dari tadi Anda selalu terdengar mengeluarkan berbagai omelan dan makian. Apakah Anda memiliki pengalaman buruk terhadap acara demikian?).


Satu lagi marga Huang, tapi jauh lebih bawel. Udah punya bini seksi molek nci-nci kaya punya toko emas di Singapur tapi masih aja nyari yang muda-muda... Buat dijadiin karyawan sih.


Hehe, translate ala KBBI keren nggak?


"Bukan gitu pak. Gathering tuh capek nyari lokasinya. Udah gitu nggak dapet sertifikat. Intinya cuma maen-maen kayak galaksin, terus makan-makan, olahraga bersama, bikin tenda, bobo bareng-bareng kayak pepesan. Udah gitu biayanya lebih gede daripada seminar." keluhku.


"Loh piye iki peno dadi medit koyokiku?! Pueersis Meli nemen mecucu ae ..." sahut Pak David. (perlu ditranslate nggak sih? Nggak perlu lahya... wekekekek. Ini sebabnya Pak David jarang muncul, soalnya capek ngetik dua kali hahahah!).


"Eh, gue kan ada Villa di kaki Gunung Sindoro. Kalo mau bisa loh dipake buat gathering," sahut Lionel.


Kami langsung terdiam.


Menggiurkan...


Karena villanya punya Komisaris sendiri, jadi bisa gratis kan? Paling cuma bayar konsumsi, kan?


"Lumayan luas. Sekitar 1 hektaran lah bangunannya. Sama kebon 1,5 hektar lah," Sambungnya.


Aku mengernyit.


Luas gilak.


Tapi ada pertanyaan yang paling penting.


"Terakhir ditempatin villanya kapan pak?"


Pak Danu menyeringai, taringnya berkilau.


"Terakhir buat tahlilan nenek gue, sekitar 12 tahun lalu,"


Madekipe...


Ada Mbahnya vampir di tahlil-in.


"Yaudah Mas, lo survey dulu deh!" sahut Pak Haryono.


Aku diam.


"Gue?" tanyaku meminta konfirmasi ulang.


"Iya lah sapa lagi?!" sahut Pak Haryono.


"Gue, nih?!" aku masih nggak yakin sama ucapannya.


"Iyaaaa bebiiih. Eeeelllooo. Lo pikir karena lo menjabat jadi Dirut, lo berhenti di bully? Enggakaakkk laaah..." seru Pak Haryono.


Raja Tega emang doi...


Jadi, siangnya habis nyusun anggaran, aku mengadakan meeting mendadak antar staff ahli.


...Di Kantin...


Aku menggeret :


Sudah pasti...


Andrew, Daniel dan Fendi. (Ari dan Mas Sena lagi sibuk pacar-pacaran soalnya. Jarang di kantor) Kami berempat Udah macam boyband.


Kalo yang dari Inggris ada : One Direction


Kalo di Korea ada : Super Junior


Kalo yang dari Garnet Bank : Ojo Sido BAND


singkatan dari One Junior Super Direction.


Juniornya cuma satu si daniel doang dan tujuan kita sangat super syekali karena dekat tapi bikin merinding. Ditambah kita sebenarnya nggak rela jadi kata Ojo Sido itu paling Pas lah. (Ojo Sido = Jangan Jadi) berharapnya nggak jadi berangkat gitu.


"Ogah...." Fendi hampir kabur. Aku sigap menangkap kerah bajunya dan kududukkan lagi di kursi bakso kantin.


"Lo jadi temen harus setia kawan dooonggg," aku menipiskan bibirku menahan geram sambil memeluk bahunya dan kukempit lehernya biar dia megap-megam keselek sekalian. "Kalo gue ilang di gunung, Meli bakalan jadi janda, lo mau gantiin gue?"


"Kenapa harus gue yang gantiin lo jadi lakinya Bu Meli?! Gue lebih feminin dari dieeee! Itu ada jantan-jantan Bang Jago 2 sosok, lo cuekin?!" Fendi sewot.


Aku melirik Andrew dan Daniel.


"Mereka ilmunya kurang bisa mengimbangi kesaktian bidadari." bisikku.


Andrew berdecak.


"Dipikir lo Jaka Tarub kali, nyolong selendang 7 warna bidadarinya jadi bini lo," sungut Andrew.


"Apalagi gue?! Yang ada gue dianggep saingan, bukannya lakik!" seru Fendi. Dia mencoba kabur lagi dengan gaya kemayunya yang dramatis.


Aku menahan kerahnya lagi.


"Aah Dimaaass lo pas udah jadi Dirut kenapa galak banget seehhh!!" Fendi mulai merajuk sambil merapihkan kerah kemejanya.


"Lo kan baru aja gue naekin gaji, gue kasih mobil operasional, gue kasih nasabah, cuma nemenin gue ke Villanya Lionel susah amat sih!" aku mengomel meminta balas budi.


"Duile, kalo tau balas budinya bisa mempertaruhkan nyawa, mending gue gantiin Sarif dah!!" dia balas mengomel.


"Pokoknya temenin gue!" sahutku.


"Cium dulu," Fendi memonyongkan bibirnya.


Aku terpaku. Lalu ngambil botol sambel. Ngancem mau gue ***** mulutnya pakai sambel rawit.


"IYA IYA gue ikut dah, puas lo! Gue kasih sekalian nyawa dan tubuh gue buat pengabdian tanpa batas ke elo nih. Kagak cukup kali sebulan digaji 20juta." sahutnya sambil bersungut.


"Udah tenang aje, nanti gue bawain nasi uduk special pake jengkol balado buat maksi." sahutku.


Menu baru di restoran nasi uduk ibuku.


"Gue levelnya nasi ayam hainan."


"Itu sama aja nasi uduk pake ayam goreng, kampret! " balasku.


"Betewe, Mas. Kita cuma berempat nih? Angka sial loh..." sahut Andrew sambil mengunyah gorengannya.


"Gue sempet kepikiran. Mau nggak percaya mistis tapi gue tetep khawatir. Jadi gue udah antisipasi personel tambahan, baru balik dari Sisilia dengan membawa kemenangan. Mudah-mudahan dia bersedia ikutan,”  aku langsung menyambar ponselku dan mencari nomor telepon korban selanjutnya.


Aku sih nggak percaya sial-sialan, tapi demi ketertiban bersama.


"Lagian emangnya lo kagak punya kerjaan lain apa, setara Dirut disuruh survey padahal semua persetujuan elo yang teken,"


"Yang ini kasus special," desisku.


Aku menemukan nomor telepon korbanku, lalu menelponnya.


"Lo sibuk?" Sapaku.


"Ya iya lah pasti sibuk, lo pikir Boss gue malaikat?!" lawan bicaraku mengomel.


"Lo udah di Indonesia belom?!"


"Udah! Mau apa lo? Gue lagi shiatsu nih pegel-pegel habis di teror sama Adam Quon!"


"Halah... Lo pegel-pegel gara-gara habis ketemu Adam Quon lo nekat maen ama Farah seharian! Kagak inget umur lo?! Gue mau nagih lo bayar hutang perihal kontak kenalannya Mas Yan nih!"


"Ceile! Baru juga seminggu udah nagih aja lo! Cicilan pertama tuh biasanya bulanan bukan mingguan."


Kenapa sih hari ini banyak orang emosional.


"Gue minta ditemenin ke vilanya Lionel yang di kaki gunung Sindoro dong. Lo kan udah biasa ke pelosok. Gue butuh guide niih..." sahutku merayu.


"Lionel... Danu Rusli maksudnya?"


"Iya."


"Khamandanu Rusli Komut lo itu? Ketua geng putus?"


"Iyaaaaaaa..."


"Ga ah! Mending gue nemenin Alex nyelem ke palung daripada ke Villa Dedemit!"


Lalu sambungan telepon terputus.


Aku menatap ponselku dengan terperangah.


Berani-beraninya Leonard Zhang nutup telpon dariku! Mau dikutuk rupanya dia sama lakinya ibu juragan kungfu hustle!


(nggak usah bilang-bilang Meli aku ngatain dia ibu juragan kungfu hustle. Kalo ngomel mirip banget bawelnya soalnya. Punya jurus Auman Singa. Untung tampangnya kayak Barbie.)


Aku menghubungi Alex.


Ngadu, ceritanya... Hehe


"Aleeeexxxx," aku merajuk.


"Hate you a lot." seperti biasa, itu kata pembukanya. Di latar belakangnya kayak ada suara banyak orang pakai bahasa Arab.


"Oleh-oleh kurma, yah."


"Males. Berat." sahutnya. "Cepetan ngomong, gue lagi konferensi, bentar lagi naik podium,"


"Masa Leon nutup telpon gue, padahal gue cuma minta ditemenin ke Vilanya Pak Danu," aku merengek.


"Vilanya Danu. Yang di kaki gunung itu bukan?"


"Kok lo tau!!"


"Hm. Tahun lalu hampir aja nginep di situ, begitu nyampe baru depan vila, gue balik pulang lagi. Lo udah dikasih tau tampilannya belom sih?"


"Belom."


"Hm..." terdengar keriuhan dari latar belakang Alex. "Leon tahu tempatnya sih, gue hubungi dia buat nganterin lo, oke."


"Sip bro, tengkyu."


"Tapi gue nggak tanggung jawab atas semua yang terjadi kalo lo tetep nekat ke sana ya. Baiknya lo juga hubungin Pak Yan untuk keadaan darurat."


"Ha?"


"Ya pokoknya gitu."


Dan dia menutup telponnya.


Setelah itu selama setengah jam, saat kami menyibukan diri dengan gorengan, indomie, rokok dan kopi sachet, tiba-tiba dari kejauhan aku menangkap sosok ganteng oriental bersetelan mahal. Beda banget sama aku yang cuma pake kemeja beli online sekaligus selusin.


Dia mengeplak kepalaku pake gulungan kertas.


"Kagak usah ngadu ke Alex kaliiii!!" omelnya.


Aku cengengesan.


"Emang jitu si Alex, sampe lo jadinya nyamperin gue ke sini," desisku.


Leon dengan bersungut-sungut ngambil kursi plastik dan duduk nyempil di antara Andrew dan Daniel. Aku melihat semua langsung menatap Leon dengan ternganga seakan melihat PS 5 turun harga.


Intinya, pada penasaran.


Siapaa??? Fendi membentuk mulut tanpa bersuara. Terlihat matanya berkilauan.


"Ohiya... Kenalin, Presdir Beaufort Mining. Leonard Zhang."


"Astaga..." Andrew langsung menjauh. Lalu menunduk sungkan. "Serius ini, dia Leonard Zhang?" Bisiknya padaku.


"Iya. Kenapa?"


"Kok lo bisa kenal?!" tanyanya lagi.


Daniel malah berlindung di belakangku.


Leon melirikku sambil mengutak-atik ponselnya. Ia cuma mendengus licik.


"Gue udah biasa sama reaksinya," sahut Leon.


Aku masih nggak ngerti apa yang terjadi.


Andrew menggeretku ke pinggir menjauhi Leon.


Daniel mengikutinya.


"Gila, gue deg-degan..." desis Daniel.


"Dia itu... Tukang eksekusi di Beaufort. Lo tahu itu?" tanya Andrew.


"Ya dia memang tangan kanan Alex sih untuk semua transaksi."


"Satunya lagi ada... Namanya Bara. Lo juga kenal?"


"Iya kenal. 11 12 sama Leon... Gue denger mereka sepupuan."


"Yang ini terkenal tergabung dengan sindikat! Dia mafia bro... Maenannya beceng!" bisik Andrew.


"Iya, gue juga tahu itu. Kemarin pas di Sisilia kan gue yang jemput." sahutku. Teringat masa lalu di Sisilia saat membebaskan Leon dari jeratan mafia.


"Dia terkenal banget di dunia belakang. Kalo lo bikin tersinggung dia barang satu kata aja, kepala lu bolong."


Otomatis mataku menatap ke atas, ke arah dahiku.


Jadi sebenarnya aku nih udah mati ato belum ya? Nggak kehitung berapa kali aku udah bikin Leon kesal.


Lalu mataku menatap keanehan di depanku.


"Ck ah Leon! Cireng-nya tinggal satu ituuuuuu!!" jeritku.


Leon masukkan semua cireng ke mulutnya sekali lep.


Aku memekik tertahan.


Dia menyeringai sambil mengunyah.


Rujak Cireng favoritku...


Yang sengaja kusisakan terakhir...


Mana tinggal satu-satunya dijual di kantin...


Ajak duel aja, apa !!


Rasanya sama seperti perasaan kesal menyisakan kulit ayam kaefsi paling terakhir tapi tiba-tiba dimakan sama pacar karena dia mengira kita nggak suka.


Kesel tapi nggak bisa marah.


"Cuma cireng doang, udah deh relain aja dari pada lo kenapa-napa!" bisik Andrew sambil mencegahku berbuat kekejaman.


Aku mendengus, duduk di depan Leon sambil pasang tampang sedingin biang es.


"Awas lo ye, kapan-kapan gue bales!" desisku.


"Ini tuh belom sebanding sama ongkos gue kesini. Gue tuh tamu! Bukannya dibikinin minum," dia menyeruput kopiku, lalu mengambil sebatang rokok dari kotakku. Lalu merogoh lighter dari kantong jasnya.


Astaga!


Lighternya tuh Zippo edisi Moon Landing, harganya 58jutaan, masa rokok aja minta Wismilakku! Bah!!


"Jadi, lo mau nemenin nggak? pilih IYA ato Iya Kepaksa." sahutku.


"Sama aja bedul,"desisnya sambil menengadahkan kepala ke atas dan meniupkan asap rokoknya.


Tidak ada pilihan.