Office Hour

Office Hour
Vila Vampir (2)



Jadi, kita saat ini berkumpul di Apartemen Leon di kawasan kuningan. Apartemennya luas... 200m2.


Dan perabotannya cowok banget.


Aku dari tadi sibuk main game keluaran terbarunya Beaufort techno. Tentang perang-perangan ngelawan setan. Ini versi 2.0. Versi yang pertama lagi viral di yutub.


Layarnya 100inch jadi aku kesenengan.


Sementara Andrew ikhlas disuruh Leon ini-itu dan siap-siapin koper persediaan buat jalan ke Wonosobo (kami akan naik mobil), aku dan Daniel main game.


Tinggal Fendi yang daritadi main hape sambil ngerecokin bar nya Leon.


“Fen, sampe lo mabok gue tinggal di tengah jalan ye!" ancamku memperingatkannya. Soalnya pipinya udah merah.


"Ntar gue ngesot aje pulang," gumamnya mulai meracau.


Baru juga dua teguk dia udah koit...


"Kita mau ke pedalaman, sekalian buka jalan. Hilang satu nggak papa kan?!" sahut Leon sambil menatap Fendi.


"Nggak papa, Buat Buang Sial. Ntar gue minta orang lagi sama Pak David buat Kacab PIK," candaku.


"Gue juga butuh tumbal proyek nih, buat bangun apartemen,” kata Leon.


“EGPCC...”umpat Fendi. (Emang Gue Pikirin Cuih Cuih).


"Eh tunggu-" aku menghentikan kegiatan main game-ku. "Buka jalan maksud lo apa?!" dan melihat ke arah Leon


"Iya itu jalannya naik turun gunung. Walaupun di kaki gunung Sindoro, tetep aja terjal. Dan di sekitarnya nggak ada kehidupan kecuali tumbuhan dan hewan absurd." sahut Leon.


Aku mengernyit. Hewan Absurd itu maksudnya gimana? Ini masih di area Pulau Jawa gitu loh, dan jaraknya nggak sampai 500 km, gimana bisa makhluknya beda-beda dengan yang Taman Safari?


Teringat hasil obrolan tadi malam di rumah :


Tadi malam saat aku pulang kerja dengan transjakarta andalan, bau keringat (keringat orang yang berdesakan, bukan keringatku ya -tetep nggak mau ngaku), tampang capek, outfit yang biasa satu set masker hoodie earphone sepatu kets, aku mendapati Mas Yan dan Milady pangku-pangkuan di ruang keluarga sambil nonton tv, Meli juga di situ lagi buka-buka online shop.


Perut Milady sudah besar, tinggal menghitung hari buat melahirkan dedek. Dan terlihat kalau Mas Yan raut wajahnya sangat memuja istri dan calon jabang bayinya itu.


Aku sempat tertegun melihat mereka berdua. Beda generasi yang sangat timpang tapi tatapan cinta di antara mereka sangat kentara.


Lalu aku melihat ke arah Meli. Dia sedang melihat-lihat online shop tentang...


Hm... Hoodie laki-laki.


Aku tersenyum dari balik maskerku.


Mudah-mudahan dia cari itu buat aku.


Siapa lagi yang sering pake hoodie selain aku dan Daniel?!


Nggak mungkin buat Daniel kan?!


Jadi agar mereka nggak kaget, aku mengucapkan salam.


Mereka menoleh berbarengan ke arahku. Meli langsung menurunkan ponselnya. Kayaknya dia tidak ingin ketahuan.


Jadi aku membuka maskerku, mencium bibirnya, cium tangan Mas Yan, cium pipi Milady, lalu seperti biasa ke kamar Mamang Hans buat cium tangan.


"Mas, istrimu itu sedang hamil Muda, kalian berdua itu lagi ‘wangi’. Bahaya loh pergi naik gunung!" sahut Mamang. Kami berdua bergabung ke ruang tv setelah aku selesai mandi. Aku menceritakan aktivitas hari ini padanya.


"Yan bilangin Dimas tuh..." sahut Mamang lagi. Aku sih seneng dikuatirin.


Mas Yan cuma menyeringai.


"Belum punya selir ratu astral kan, biarin aja lah buat pengalaman batin,"


Meli langsung melempar Mas Yan pakai bantal.


Mas Yan berkelit sambil menyeringai licik.


"Ngomongnya di sortir dong kak! Nanti Nayaka nggak punya bapak!"


"Usia kandungan kamu baru 3 bulan udah punya nama aja." Sahutku.


"Bagus kan namanya?" tanya Meilinda.


“Bagus,” aku mengangguk mengakui.


"Lagian nggak usah kuatir sih, ini kan kaki bukit, nggak sampe ke gunungnya. Bukannya Gunung Sindoro termasuk pendakian favorit yah, jadi banyak basecampnya kan?!"


Mas Yan mendengus mendengarku. "Yah... liat aja sendiri." sahutnya. Matanya berkilat. "Memangnya Dimas bisa dilarang-larang," desis Mas Yan lagi.


"Itu tugas kantor, sih... dan lagi aku bawa Leon, kok."


"Oh sama si Awu, Ya udah." sahut Mamang.


Terus semua kembali ke aktivitasnya masing-masing seperti tak terjadi apa-apa.


Lah...


Percaya banget ya mereka sama Leon.


"Serius, nggak papa?!" desisku merasa di acuhkan.


"Ada Jiangwu kan? Ya sudah. Selesai masalah." desis Mas Yan sambil mengecup leher Milady. Wanita itu cekikikan kegelian. ( Jiangwu itu nama kecilnya Leon. Zhang Jiangwu)


Aku berdecak.


Tapi mau ngambek nggak jadi karena Meli udah nyender ke dadaku, dia lanjut nonton drakor.


Udah nggak milih-milih hoodie lagi.


Dan akibat tadi malam, hari ini aku jadi cemburuan sama Leon. Dia kini terlihat memutar-mutar pisau bajanya, memeriksa berat masing-masing dan kepraktisannya.


"Ya kendaraan nggak bisa lewat sana, ini tuh gunung. Jadi harus jalan kaki. Katanya mau gathering, kan?! Mau lewat mana karyawan lo kalo nggak kita bukain jalan?" sahut Leon.


"Lah waktu ngebangun tuh villa lewat mana truk bangunannya?!" tanyaku.


Leon menyeringai. "Coba tanya sama Pak Danu aja nanti, hehehehe..."


Lalu dia memasukan peti senjata ke ransel.


Isinya senapan angin.


"Mau ke gunung kayak mau shooting film perang," dengusku.


"Lo belum liat medannya sih,"


"Lo bukannya pernah ke sana sama Alex?! Orang macam dia mana mau naik-naik gunung?!"


"Orang kayak dia demi cuan mau aja masuk sarang Megalodon. Tapi ya Kita waktu itu ke sana naik heli," desis Leon.


Dia memasukan golok koleksiku ransel-ransel kami


Lalu masing-masing ransel juga dia beri tumbler air minum.


Wah, cekatan juga ni cowok. Jadi inget waktu SD aku dan Bram mau kemping, ibuku siap- siapin bekal ke tas kita.


"Kata Alex sampe depan pager langsung balik pulang." Sahutku.


"Pagar ya,” Leon bergumam pelan. “Mungkin maksudnya pagar tak kasat mata ya...macam selubung transparan gitu."


"Hah?" desis kami berempat.


Cukup kaget pake banget.


Leon menyeringai lalu duduk di konter.


"Nih gue ceritain. Awalnya gue emang lagi nyari tempat soalnya mau ngadain lelang ilegal berlian hitam. Tempatnya harus tertutup tapi nggak malu-maluin, soalnya klien kan orang-orang terpandang semua. Nah, Pak Danu nunjukin foto Villanya di Kaki gunung dan lokasinya. Digambar pake peta soalnya dicari di map virtual nggak bakalan kelihatan. Dari situ aja kita udah ngerasa aneh. Masa tempat 1,5 hektar tidak kelihatan di peta?!"


Fendi melipir bergabung dengan aku dan Daniel di sofa lalu merapat ke lenganku, sok-sok'an serius ngedengerin padahal emang pingin deket-deket aku.


Aku menepis mukanya, lalu menjauh ke sebelah Andrew yang berada di sebelah Leon.


"Pas kita ambil jalan pintas kesana pake Heli, sebenernya dari jarak sekilo bangunannya udah keliatan, gede banget kayak kastil bangsawan eropa, warnanya merah bata, udah berkilau paripurna lah. Tapi, baru aja mau ngedeket, baling-baling gue kayak nabrak sesuatu, terus konslet. Jadilah mendarat darurat di depan pagernya pake parasut.


Dan lo tau pas kita turun depan pagernya?! Kastilnya tidak kelihatan. Padahal pagernya nyata jelas kokoh berdiri di depan kita. Jarak pager ke kastil kalo diliat dari atas tuh paling cuman 20 meter... Masa bisa kastil segede itu kaga keliatan dari depan pagarnya?!"


"Mungkin jalanannya bergelombang?!" desis Andrew.


"Gede kastilnya kayak istana negara. sebergelombang apa sampe ga keliatan, kecuali adanya di bawah tanah. Di situ kita udah ngerasa nggak enak. Kita emang ke situ bohong, bilangnya pinjam villa buat istirahat aja. Bukan untuk transaksi terlarang. Akhirnya... Kita nggak jadi masuk karena Alex masih sayang nyawa. Udah pasti nggak ada sinyal, jadi Alex pake radio sos di Heli."


Aku langsung menelan ludah.


Ini tuh novel komedi.


Bukan misteri.


Plis deh Tante Author. Cukup Banda aja sekelibatannya.


Leon meneruskan ceritanya.


"Akhirnya, kita berhasil menghubungi kantor, nunggu backup kendaraan, ada kali 5 jam kita nunggu di sana. 2 Heli yang ngejemput kita, semuanya rusak. Di heli terakhir gue sempet liat baling-balingnya tuh kayak nabrak sesuatu di langit, terus ada percikan listrik. Hampir aja nekat ambil jalan darat, akhirnya Alex ngehubungin Pak Yan."


Lagi-lagi Mamas Yayan...


"Kita ngehubungin Pak Yan nggak ke ponsel, tapi ke telepon satelit di kantor E-Garnet... Dikirim Heli cadangan, nggak berani ngedeket ke lokasi, kita harus jalan kaki sekitar 50 meter ke arah hutan baru bisa naik heli. Tahu nggak apa yang Pilot Garnet bilang?"


"Apa?" tanya kami berbarengan.


"Katanya dia tidak bisa mendekat karena ada tornado."


"Haaaa??"


"Waktu itu cerah berawan. Dari mana ada tornado?! Kalau beneran ada, kita yang di darat pasti tahu dong! Dan lo tau besoknya?"


"Apa?" tanya kami berbarengan lagi.


"Pak Danu ngirim ketiga Heli kita yang macet di depan Villa, ke kantor Beaufort. Tidak ada yang rusak. Semua dalam kondisi prima. Dia bilang, karena gue mau pake villanya dengan tujuan jelek, transaksi ilegal, jadi penghuni sekitar tidak meridhoi,"


"Mam pooos..." pekik kami.


“Kok jadi lebih serem dari Villa Hambalang Punya si Putri sih?” dengusku.


“Putri? Putri Gandhes maksud lo?” tanya Leon.


“Villa Putri apanya yang serem? Gue bobok nyenyak di sana, mana pelayannya cakep-cakep!” seri Fendi heboh. Kayaknya dia kesengsem sama Banda. Untung dia nggak tau kalau Banda itu ya gitu.


Nggak tega aku bilangnya.


“Sepengetahuan gue, neneknya Pak Danu memang sahabatan sama Kanjeng Gusti. Dan dulunya Villa itu memang milik keluarga Bagaswirya, namun dihibahkan ke Nenek Pak Danu. Terus, dulu itu turun temurun keluarga Pak Danu tinggal di sana, tapi setelah ayahnya Pak Danu menghilang, mereka pindah ke Jakarta,”


Jadi itu bekas kediaman Putri.


Pantas... beda.


Jadi?


Apakah kita nekat tetep ke kastil?


Simak di episode selanjutnya


Huehehehehe