Office Hour

Office Hour
Pemecatan Gio



Pagi-pagi udah kangen sama Meilinda.


Jadi aku jemput dia ke rumahnya.


“Kamu lagi kamu lagi, ngapain lagi ke sini?!” sahut Pak Sebastian.


Kenapa sih pagi-pagi, jam berapapun aku datang, dia selalu ada di depan pintu kayak herder lagi nungguin kelinci.


“Tugas negara,” sahutku cuek.


Dia berkacak pinggang sambil menggeleng menatapku. Pak Sebastian tidak menyuruhku masuk jadi aku berdiri di depan pintu raksasanya sambil menunggu Meilinda bersiap-siap.


“Gimana jam nya, bagus?” tanyanya sambil ikutan berdiri mensejajariku di depan pintu. Nada bertanyanya macam kasih hadiah ke pacar.


“Bagus pak, tapi boleh nggak sih alat…”


“Nggak boleh,” sahutnya, cepat dan angker.


Mungkin dia tidak menyangka aku mengetahui modusnya memberiku jam tangan. Tadinya, sejujurnya, itu Rolex sudah kuutak atik dan kuacak-acak onderdilnya, tapi akhirnya aku membiarkannya tetap seperti apa adanya dengan pertimbangan aku terlibat dengan orang-orang yang tingkahnya rese (siapa ya? Hehe) jadi paling tidak kalau aku terancam atau diculik atau tersesat, lokasiku bisa langsung diketahui. Walau pun kalau aku sudah jenuh dengan kehidupanku aku malah tidak bisa kabur keman apun.


“Yang satu dibawa Bram ya?” gumamnya.


Aku mengangguk. Dia juga mengangguk setuju.


“Nggak sekalian ngasih buat guru SMA tercinta,” aku mancing.


“Eh, sudah pinter ngancem ya kamu. Hebat,” sindirnya.


Aku terkekeh.


Kami terdiam sesaat, aku sih menikmati pemandangan taman di depanku. Entahlah kalau dia sedang berpikir apa.


“Kamu... tujuan kamu terhadap Meli itu apa?” dia berbicara dengan suara rendah. Mungkin sudah menyerah dengan kekeras-kepalaanku. Mungkin juga ia merasa jawabanku tidak mantap waktu ditanya mengenai pernikahan.


“Entahlah. Apa bisa Meilinda tahan dengan saya yang pas-pasan ini? Ngasih makan sehari lima kali sih bisa, tapi nasi uduk doang,”


“Kami tidak terlahir dengan kondisi sudah kaya raya kok,” kata Pak Sebastian sambil memasukkan ponselnya ke saku celananya. Entah kenapa aku merasa ada nada kegetiran yang secara tidak langsung tersirat pada kalimat itu.


Aku mengerti untuk meraih jalan sesukses sekarang, Pak Sebastian mungkin mengorbankan banyak hal.


“Apa dia mau kembali ke masa masih pas-pasan seperti dulu? Kamar mandi saya cuma satu loh di rumah,” gumamku.


“Ya saya juga mau menanyakan hal itu ke dia, makanya saya protektif,” sahut Pak Sebastian.


“Masalahnya perasaan kamu yang saya tanya. Kamu bebal juga ya. Dia sudah berkali-kali dikecewakan soalnya,” umpatnya.


Aku mengangguk.


Kenapa mengangguk?


Karena lagi pingin saja mengangguk.


Rasanya pas aja kalo kepalaku naik-turun.


Aneh? Ya itulah cowok.


“Dia wanita paling menarik yang pernah saya kenal. Mungkin saya akan maju kalo dia izinkan,” Aku menatap Pak Sebastian, entahlah dia akan menafsirkan seperti apa pandanganku saat ini. Tapi bersama dengan Bu Meilinda seminggu ini membuatku semakin terjerumus ke dalam pesonanya.


“Bullshit, Boyokethek,” umpat Pak Sebastian sambil menuruni tangga, meninggalkanku dan memasuki mobilnya.


Aku masih bisa melihat pandangan sinisnya menghiasi wajahnya, menatapku tajam sampai mobil itu berlalu dari pandangan.


Aku pun sedih.


Soalnya aku pingin naik Maybach lagi...


“Hey,” Meilinda merangkul lenganku dan berjinjit untuk mencium pipiku.


Ih, soang...


“Yuk, berangkat,” katanya ceria.


*


*


“Bro,” Pak Danu menyapaku pagi ini.


Aku keluar dari Pantry setelah berganti baju dan menenteng cangkir kopiku, Pak Danu menghampiriku dan memeluk bahuku.


“Lo kemaren nekat ke owner?” Ia menyeringai.


Aku merinding.


Tampangnya persis vampir bener. Nggak senyum aja sudah serem, apalagi kalo senyum, makin deg-degan kayak lagi diintai mau diisep darahnya, asal nggak diisep saja rekening kita. Apalagi kalo doi kurang tidur, pai-pagi sudah suram satu kantor bawaannya, udah pingin merem aja ini mata kalo ngeliat dia lewat depan kita.


Sampai-sampai kalau ada meeting ke gedung BI, orang-orang disana pasti tanya : Pak Danu ikutan meeting nggak? Bagaimana kalo beliau diwakilkan saja?


Di luar tampang seremnya, dia juga populer dikalangan pecinta film horor.


“Iya, gue ke Pak Sebastian, Bro,” desisku. “Tahu dari mana?”


“Pada heboh, tahu dari para sekretaris. Lo nungguin Big Boss di lobby, terus dia ngebatalin meetingnya dan turun khusus buat ketemu lo,”


“Ohya? Masa dia sampe ngebatalin meeting? Ah pada lebay aja,” kataku.


Btw, Kok kayak ada bau melati lewat ya? Haha.


“Jadi keputusannya?” tanyaku.


Ia mengambil satu bantex yang tertera di depannya judul “SUSPECT” eh kayak judul film. Sudah pasti itu kerjaan Pak David, dia suka maen detektif-detektifan soalnya.


“Ini biodata tersangka yang lo kasih tahu. Hari ini semuanya mau dipanggil. Usul dari ‘atas’ untuk Gio diberi SP3 dan mutasi,” kata Pak Danu.


Aku mengangguk puas. Sekaligus terharu karena usulku didengarkan.


Nggak rugi kemarin ninggalin kerjaan buat sowan ke singgasana, ditraktir nasi padang pula.


“Tengkyu infonya Bro. Sori gue ngerepotin terus,” kataku senang.


“Btw...” desisnya. Aku nggak jadi pergi.


“Kapan gue terima undangannya?” seringainya.


Kalo dikepalaku ada kuduknya, rambutku pasti berdiri semua.


“Nanti kalo gue cari masalah, nah pasti dipaksa nikah tuh, lo tunggu 2 hari biasanya undangan langsung nyampe ke meja lo,” desisku sambil beranjak keluar ruangannya.


Aku masuk ke ruanganku, hari ini ada yang aneh, tidak ada keriuhan. Biasanya, di sana sudah ada geng ciwi-ciwi ngerubungin mejanya Gio, lalu mereka suka berisik-berisik gosip dan merayuku sampai aku menyalakan komputerku mereka baru diam dan pergi.


Sekarang sepi, hanya ada Gio yang sedang membereskan mejanya.


Ia berbalik ke arahku, terlihat wajahnya sembab.


“Pak,” ia menunduk ke arahku.


Aku berdiri di depannya sambil melipat tanganku ke dada, memperhatikan tingkahnya ada perasaan sedih mau ditinggal, sih. Tapi di kantor yang berikutnya mudah-mudahan dia bisa lebih baik. Unit Retail di Garnet Retail adalah posisi yang sangat cocok untuknya. Dilihat dari sifat kemayunya, ia juga memperhatikan penampilan. Usaha Garnet Retail adalah perwakilan untuk merek-merek fashion terkenal yang masuk ke Indonesia.


“Makasih banyak Pak, dan saya beneran minta maa… ” ia terisak. Nggak sanggup untuk meneruskan kalimat selanjutnya, ya aku sih sudah bisa memprediksi ujungnya.


“Saya nggak nyangka Pak Dimas juga menghadap owner untuk...” dia terisak,


“Dan mengetahui posisi saya saat itu, bagaimana....” terisak lagi.


“Bagaimana Pak Dimas bisa tahu kalau...” terisak, extra turun ingus.


Mengharukan sih suasananya, karena Gio udah kerja sejak awal aku masuk ke Garnet. Kalau dia cewek udah kupeluk kali.


Tapi ini cowok, geng tulang lunak pula, mau peluk nanti salah tafsir.


“Yang penting kamu dapat pelajaran yang sangat berharga, nggak usah ngomong apa-apa ke ibu kamu. Mudah-mudahan kamu betah di Garnet Retail ya,” sahutku, aku kasih senyum manis lah untuk terakhir kali ini. Ia bahkan memandangku sampai terpesona.


Itung-itung hadiah buat Gio yang sudah bantuin kerjaanku selama ini.


“Kalo begitu sebagai perpisahan, Gimana kalo habis ini kita ngop...”


“Ga! Sana Raib,” senyumku memudar dan ngacir ke ruangan Pak David.


Sekarang tinggal mencari pengganti Gio.


Email yang kukirim ke Pak Danu berisi daftar tersangka dan permohonanku agar Gio tidak diinterogasi berbarengan dengan yang lain, dan jauhkan dia dari Meilinda. Wanita itu bisa langsung spaneng kalau ketemu Gio. Itu kulakukan karena aku bersimpati pada Gio. Mungkin Manajemen langsung memanggil Gio tadi pagi sebelum aku dan Meilinda datang.


Dan sekarang aku dipanggil agar berkumpul di ruangan Pak David untuk interogasi selanjutnya.


*


*


Di ruangan Pak David sudah ada ‘Geng Putus’ lagi ngumpul sambil ngopi-ngopi, mungkin kecuali Pak Danu nyeruput darah.


Becanda.


Kenapa disebut Geng Putus, karena mereka adalah pembuat keputusan. Direksi di perusahaan ini ada 6 orang. 4 orang stay di Garnet Bank dan yang dua mengurusi treasury di Gedung Grup pusat, jadi jarang kelihatan.


Diujung sudah ada Meilinda lagi duduk dengan tangan menahan kepalanya sambil menatapku dengan lembut.


Rasanya benak ini langsung dipenuhi dengan bayangan masa depan berdua. Cantik banget dia hari ini. Mungkin kemarin nggak masuk kantor bobonya sudah cukup, jadi masih jinak.


Nggak tahu setengah jam lagi. Nikmati saja dulu pemandangannya.


Lalu ada Pak David sedang duduk di sofa kebanggaannya.


Boss Bro Kamandhanu Rusli di sebelah Pak David,


dan yang terakhir ada Direktur Operasional yang namanya Pak Haryono Ahmad Nadeem.


Kami berlima menunggu staff Pak David untuk memanggil 13 orang tersangka sisanya. Tapi sekali lagi, keputusan diserahkan kepada manajemen. Aku disini hanya sebagai saksi karena aku sebagai pelapor, dan Meilinda yang akan memutuskan sisanya karena dia korban.


“Sudah kumpul semua?” Terdengar suara yang tak asing di telingaku, memasuki ruangan.


“Pak, lama-lama saya curiga bapak ngebuntutin saya,” sahutku sambil meliriknya sinis. Pak Sebastian hanya terbahak.


“Saya ngerti ini hanya masalah ikan teri, tapi kan saya perlu sesekali menunjukkan perhatian saya ke anak usaha, ya nggak Trev?”


“Terserah Ayah saja laaah,” sahut Trevor sambil masuk dan duduk di sebelahku. Aku menatapnya sambil mengerutkan kening.


Trevor hanya mengangkat bahunya.


“Gue lagi makan kacang ijo, langsung digeret kesini, belum minum nih haus banget,” Ia menyambar kopiku.


“Lama-lama lo bisa jadi karyawan sini kali,” bisikku.


Dari tampang manajemen yang disini aku yakin banget mereka nggak butuh ‘perhatian’ dari Pak Sebastian sesering ini.