
Saat ini di benakku sebagai laki-laki, aku tidak menganggap perbuatan Pak Sebastian salah. Aku akui, sudah banyak keributan yang kutimbulkan sejak perasaanku terhadap Meilinda muncul.
Yang membuat aku khawatir, apakah setelah ini aku bisa kembali bertemu dengan kekasihku itu? Aku bahkan belum menjenguknya, aku tidak mengetahui bagaimana keadaannya setelah kemarin dia panas tinggi dan masih saja memaksakan masuk kantor.
Kenapa ia tidak beristirahat saja di rumah?
Setelah kami berhubungan erat, kenapa ia jadi sering sakit? Apakah aku benar-benar pembawa sial bagi hidupnya?
Belum juga 30 detik aku merenung ibuku sudah membuka pintu kamarku.
"Ya Allah, Leeeeeeeeeeeeeeeee!!!!" dan ia menubruk sambil memelukku. Mungkin senang karena aku sudah bangun. Tapi ia tidak sadar kalau tubrukannya malah membuatku sesak napas.
Mas Bram mendekat dan mengacak-ngacak rambutku sambil menyeringai.
"Gimana perjalanan ke alam baka? Ngeliat siapa aja kamu?!"
Elah...
Ini cuma pingsan kurang oksigen kali, bukan mati suri.
"Yo wes ayo sekarang kita ke rumah Yan!!" seru ibuku sambil menarikku bangun.
"Kalem aja dulu Bu, tunggu emosinya reda," sahut Mas Bram.
"Ora Iso!! Ibu tidak bisa kalem!! Si Yan itu kebiasaan dari dulu itu seenaknya sendiri! Ibu mau maki-maki sampe puas!!"
"Nanti malah memperlebar masalah..." sahut Bram.
"Ibu Maksa!!!" teriak ibuku.
Mas Bram diam.
Aku nyengir.
Selena sembunyi di belakang Mas Bram.
Ibuku berkacak pinggang sambil menaikkan dagunya menantang Mas Bram.
"Okelah kalo ibu maksa..." sahut Bram langsung membopongku di bahunya dan berjalan masuk mobil.
Perintah ibu, No.1.
Laksanakan Grakk!!!
Saat kami tiba, di rumah Meilinda sudah ada Pak Farid. Kelihatannya dia juga sedang bersitegang dengan Pak Sebastian. Di sana juga ada Trevor dan Meilinda yang duduk di kursi masih dengan infus ditangannya.
Astaga kondisi Meilinda ternyata lumayan parah. Sampai diinfus?
Aku turun dari mobil dan langsung menghampirinya tapi tangan Pak Sebastian dengan cepat menghantam dadaku dan mendorongku sampai terpental menabrak Mas Bram yang berjalan di belakangku.
Pak Sebastian menatapku sambil mengejek.
"Astaga, kamu kayak anak SD, dipukulin ngadu ke ibunya," dengan sinis ia berkata.
"Makanya kalo mukul tuh di tempat yang ketutupan baju, biar lukanya nggak kentara. Udah tahu saya anak kesayangan Bu Lastri," balasku.
Sementara Pak Farid terkesima melihat ibuku. "Bu...Lastri?"
"Walah! Fariiiiiddd!!!" seru ibuku langsung senang. Ia memeluk Pak Farid sambil membelai kepalanya.
Tampak sekali kalau ibuku sayang sama Pak Farid. Caranya membelai sudah seperti adiknya sendiri.
"Bu Lastri! Haduuh saya kangen sekalii!" tampak Pak Farid berkaca-kaca saat ia melepas pelukannya.
"Lah aku juga Toh Rid! Kok kowe neng kene, Riiid?!"
"Iyaaa...." Pak Farid melirik Pak Sebastian dengan mimik muka masam. Lalu menatap Mas Bram dan Selena.
"Saya sih sudah ikhlas memberikan Lena untuk Mas Bram. Yan, kamu ini... Kenapa sampai bawa-bawa pekerjaan untuk urusan keluarga, sih?!" Keluh Pak Farid.
"Ya kamu tinggal pilih mau pekerjaan kamu atau keluarga kamu," timpal Pak Sebastian.
Orang tua kalau kelewat kolotnya dan yang lebih parah, dia kaya raya, merasa bisa mengendalikan semuanya, bisa lebih kekanak-kanakan dari alayers. Tapi kupikir Pak Sebastian pasti memiliki masalah yang lebih berat dirasa jadi terbawa emosi saat menghadapiku.
"Kok kamu begitu sih Yan..." sungut Pak Farid.
"Heh Yan!!” jerit Ibuku kesal, “Aku itu bukan tipe yang nggak mau bawa-bawa masa lalu buat mengingatkan balas budi, tapi kamu ini kebiasaan jelek suka emosi ora juueellass koyok ngene!!" aku dan Mas Bram menutup telinga karena teriakan ibuku.
Ini sebabnya aku tahan sama suara Meilinda.
Ini kali kedua ibuku berteriak. Yang pertama waktu aku dan Mas Bram ketahuan bikin Tato.
"Kamu bahkan tega sama Farid!! Temenmu sendiri loh Yaaan Yaaan!!! Ora ono Farid wis modar kowe!!! Ora dadi konglomerat wis nang akherat kowe!!" (Tidak ada Farid sudah mati kamu, nggak jadi konglomerat sudah di akhirat kamu).
Aku dan Mas Bram lihat-lihatan. Ini ibuku ngomongin apa, sih?
"Lagipula, kamu ini siapa sih Yan?! Merasa bisa mengendalikan dunia, Iya?! Mau aku bilangin semua aib mu sama bapakmu, iya?!? Ojo macem-macem kowe!!" ibuku melepas sendalnya dan mengambil pose mau melempar ke Pak Sebastian.
Sebenarnya apa saja sih yang dilakukan Pak Sebastian semasa mudanya? Aku kok jadi penasaran...
Setelah beberapa saat ibuku masih memaki-maki Pak Sebastian dengan teriakannya yang aku sudah tidak ingat lagi isi makiannya apa saja, aku menghampiri Meilinda.
"Hei..." sapaku.
Meilinda tersenyum lembut padaku. Terlihat kalau ia sangat senang melihatku.
"Kamu nggak papa?" tanyanya, suaranya terdengar lemah.
"Nggak papa. Cuma segini aja. Kamu gimana?" Aku berlutut dan bertumpu pada lengan kursi sambil mengelus pipinya.
"Aku kangen," bisiknya.
Aku tersenyum "Iya, aku juga..."
Kami sama-sama terkekeh. Biar saja di sana ibuku sibuk mengomeli Pak Sebastian dan Pak Farid sibuk melerai.
"Mel... Kamu... "
Aku ragu-ragu mengatakan hal ini, tapi aku harus bilang.
"Apa?" tanyanya.
"Tidak apa-apa kan nanti kalau kita menikah, kamu tiap hari harus nyapu, ngepel, masak, nyuci...?"
Ia menaikkan alisnya, diam sebentar sambil memiringkan kepalanya.
"Aku nggak bisa sewain pembantu, loh, kalau gajiku masih segini-gini aja." Sahutku lagi.
Sesaat kemudian, setelahia mencerna kata-kataku, ia terkikik sambil menunduk. "Ya Ampun Dimas..."begitu desisnya.
"Kamu juga harus dengerin nyinyiran cewek-cewek yang ngejar-ngejar aku, terus harus bisa ngangkat galon ke dispenser dan mengganti tabung gas sendiri. Bisa jadi kamu juga harus naik genteng untuk bersihin torent,"
Ia terkekeh.
Aku merengut
"Aku serius." desisku.
"Itu yang bikin kamu galau selama ini?!" sahutnya.
Aku mengangguk.
"He, playboy kadut..." sahutnya sambil mencubit pipiku. "Dispenser jaman sekarang ada yang galon di bawah. Dan lagi, Depositoku ada milyaran, kita bisa hidup pakai bunganya. Itu 4x gaji kamu sekarang! Aku bisa sewa pembantu 1 atau 2 orang buat ngurusin rumah! Jadi aku bisa fokus ngurusin kamu!"
Ah iya juga.
Konyol bener yah aku...
"Deposito kamu bukannya pemberian dari..."
"Iih memangnya kamu pikir selama ini berapa gajiku di Garnet Bank?! Aku kan juga nabung, kali! nggak sering-sering beli tas 700juta! Belum deviden yang kuterima... Aku nggak masalah kok punya rumah kecil, yang penting layak dihuni, nggak harus mewah. Sebelum Mas Yan sekaya sekarang, kami juga rakyat biasa kok... Yang ke warung ngutang beli permen karet yosan!"
Ia terkekeh.
Aku tersenyum senang.
Rasanya bunga-bunga bermunculan disekitarku.
Kami berpegangan tangan.
Dan aku memantapkan diri untuk menikahinya.
Gara-gara Yosan...
By The Way, itu bungkus yang ada huruf N nya beneran mitos atau beneran ada, sih? Kok nggak dapet-dapet yah...
Ternyata ada pembaca yang udah dapet nih huruf N, setelah huruf YOSAN dikumpulin terus dituker ke pabriknya, dapet kaos katanya. Sekarang udah dijadiin keset. Tega nian kau Jeng Rider... kalau aku sudah ku-pigura kali itu kaos.