
“Pak Dimas, Ada yang cari Pak Dimas di operator Lobby.” panggil Security saat aku hampir selesai membuat Berita Acara. Siapa sih ganggu saja, padahal tinggal beberapa halaman lagi, mumpung daya ngemengku masih 100% ini, kalo udah kumat malesnya kan bisa-bisa sampe taun depan juga ga selesai.
Itu Selena tadi minta ijin ada acara keluarga mudah-mudahan aja nggak kebablasan sampe besok cutinya. Melas aja kalau urusan ranjang seseorang bisa membuat kerjaan kantor terlantar. Tadi kuijinkan saja dia cuti mendadak setengah hari daripada dia mutung seharian padaku, bikin suasana kantor jadi remang-remang soalnya. Spooky.
Kalau ada yang tanya, mungkin bisa kututup-tutupi saja dengan bilang kalau dia ada tinjauan ke nasabah, daripada nanti gajinya dipotong cuti padahal cuma setengah hari, ya kan kurang baik apa aku?
“Siapa?” tanyaku sambil melepas kacamata.
“Namanya Bu Vanessa, Pak,”
Aku langsung nge-freeze.
Bagaimana dia tahu aku ada dimana, coba?! Siapa yang kasih tahu?
“Bilang, nggak ada lagi ke nasabah,” desisku sambil bisik-bisik.
“Dia tadi sudah bilang mau tunggu bapak walaupun sampe besok.”
Aku menghela napas.
Padahal aku sudah hapus semua kontak dari kantor lama, dan sudah ganti nomor telepon juga. Kenapa masih bisa kelacak.
“Bilang ke dia, boleh aja kalo mau tunggu sampe besok,” desisku kesal.
Saat aku sadar, anak-anak malah sedang menatapku lekat-lekat, “Siapa Pak?” tanya Okky.
“Debt Collector,” desisku cuek.
“OOooh,” gumam semua sambil lanjut kerja.
Nah, sekarang tinggal cari cara bagaimana aku pulang. Apa lewat pintu depan, atau merambat lewat jendela macam spiderman dari lante 15.
Aku berdiri keluar dari ruanganku untuk memeriksa sudut-sudut kantor yang memungkinkan bisa kabur.
Tidak berapa lama Cecilia datang sambil bawa bantex, wajahnya menyiratkan kekuatiran yang berlebihan.
“Pak Dimas!!!” ia langsung memelukku. Halah!
Aku berusaha melepaskan diriku dari godaan gadis muda nan ranum yang nemplok kayak telor ceplok di wajan alumunium.
“Pak Dimas, walaupun tak yakin tapi diriku yang masih belum berilmu ini menemukan adanya keganjilan yang menyiratkan perang dunia ketiga antara Pak Dimas dengan Dewi Khayangan yang ruangannya di sudut itu!!”
Tapi ia tidak tergoyahkan oleh tepisan lenganku, beneran lengket kayak gurita.
“Ya Ampun ternyata Pak Dimas ini tubuhnya keras kayak batu ya!! Tapi hangat dan wangi! Beruntungnya diriku dapat merasakan keajaiban Tuhan!”
“nggak usah cari kesempatan! Haduh si barong! Lepas! hih!” Aku berusaha menjauhkannya.
Siapa yang nggak tergoda, coba? Kecuali Fendi...
Tiba-tiba ia langsung terpaku menatap seseorang di belakangku, tapi masih dalam posisi memeluk pinggangku. “Dewi Khayangan dateng, aduh aku jadi kaku...” bisiknya.
Aku menghela napas kesal melihat tingkahnya akhirnya hanya bisa pasrah bertolak pinggang.
“Kalo nggak lepas, lo bakalan gue kasih SP,” desisku.
(SP : Surat Peringatan, dikasih beginian ngaruhnya bisa ke gaji atau bahkan ke promosi jabatan)
“Jangaaaaaannnnn!!!!” dia bener-bener teriak macam anak-anak jajannya dikurangin. Tapi untungnya akhirnya pelukannya terlepas.
Wangi ini...
Aku merasakan seseorang di belakangku. Otakku sih sudah ngasih sinyal siapa orang di belakangku lewat aroma bunga yang selalu ia pakai. Tapi ternyata emosiku lebih menguasai tubuhku. Meilinda berjalan bagaikan makhluk dari dimensi lain, indah dan memesona. Rasanya levelku jauh di bawahnya. Apalagi dia jadi sering senyum sejak kubawa ke rumah kemarin.
Tapi tampaknya bukan hanya aku saja yang merasa begini, karena Entah bagaimana satu ruangan jadi hening. Terpaku menatapnya.
Seketika, aku langsung merasa tidak suka mereka menatap pacarku segitunya.
“Eling WOY!!” seruku sebal.
Semua langsung seperti kaget, terus nyengir ke arahku.
“Temuan apa?” Aku mempersilahkan Cecilia duduk di depanku dan membicarakan penemuannya.
Cecilia duduk di depanku dengan terburu-buru, membuka bantex dengan terburu-buru pula.
“Jadi ada nasabah yang mencalonkan diri di partai politik, tapi divisi kepatuhan nggak tulis itu di laporan mereka pak. Di proposal marketing juga nggak mencantumkan. Setelah saya cek di internet ternyata saat pengajuan kredit dia sudah dipilih jadi sekretaris parpol.”
“Itu kapan pengajuannya?”
“Dua minggu lalu!”
“Masuk ke kepatuhan kapan?”
“Hari yang sama pak!”
Aku menghela napas.
Yang itu lagi nggak bisa diajak kerjasama. Tapi bagaimana, ini kan kerjaanku.
“Ya sudah masukin temuan,”
“Pak Dimas yaaakkkiiinnnnn????? Atau kita harus rembukan dulu sama mereka?”
“Mana ada divisi audit rembukan?! Coba bayangin kalo ada penjahat terus polisinya rembukan, buat apa ada polisi?”
Cecilia tampak berpikir, terus terkekeh. “ehehehehehehe lucu yaaaaaa... jadi lawak deh hahahaha.”
Ni anak rame bener sih...
(Kenapa nasabah seperti itu harus dilaporkan oleh Divisi Kepatuhan? Karena pekerjaan yang berhubungan dengan politik erat kaitannya dengan fraud atau penyalahgunaan dana, sehinggak dikategorikan ke dalam Nasabah Beresiko. Bukannya nggak bisa dapat kredit, bisa mendapat kredit tetapi unit terkait harus mencantumkan di laporan mereka sebagai bahan pertimbangan Pemutus Pembiayaan)
Akhirnya walaupun tidak yakin, Cecilia memasukan temuan yang berhubungan sama ‘sayangku’ itu.
Seperti kata Meilind atadi pagi, kurasa aku pun setuju sekarang, kalau Divisi Kepatuhan sepertinya harus merombak personel mereka. Anak baru macam Cecil saja bisa mendapat pelanggaran yang cere macam begini masa mereka yang sudah bertahun-tahun kerja di tempat yang sama begini saja bisa kecolongan.
Setelah itu aku menandatangani temuan untuk Divisi Kepatuhan, dan kuemail ke Meilinda.
Entah kapan dia melihat emailnya, aku sebaiknya bersiap-siap.
Siap-siap dicemberutin.
“Mas, “ Fendi mengetuk kubikelku. “Ikutan meeting marketing, yiuk?!” caranya mengajakku sudah macam Meilinda mengajakku mesra-mesraan. Bulu kudukku meremang.
“Lu kenapa masih di sini sih? Bukannya lo jadi Kacab di PIK?!” aku memicingkan mataku.
“SK tentang itu sudah jadi tapi Sarah masih nego katanya.”
“Lah,gimana? Kalo dia nggak ikhlasin lo pergi, bukannya baek-baekin lo atau bagaimana kek?!”
“Masukin aje temuan ah, gue juga ga ngerti! Gue sih pingin banget ya lepas dari jeratan Penunggu Kali Angke macam Sarah!”
“Gampang bener lo ngomong hahaha!” desisku sambil memeluk bahunya memberinya kekuatan.
“Eh, jangan peluk-peluk, ntar gue suka,” kata Fendi sambil balas memelukku.
Aku reflek langsung menarik tanganku.
Suka lupa....
“Dimas?” Terdengar suara yang nggak asing.
Astaga! Yang ini aku juga lupa! Ruang Meeting kan beda lantai harus ngelewatin operator!!
Aku menoleh dan terlihat wajah dari masa laluku.
Eh, dia kenapa jadi jauh lebih cantik dari yang kuingat.
“Hei, Nes...” sapaku, berusaha tersenyum. “...kamu kok di sini?” aku nanya untuk basa-basi aja, tapi tetap aja waspada dan nggak ikhlas.
Dia hanya menatapku lama, sampai-sampai Fendi pamit duluan jalan ke ruang meeting.
Nggak berapa lama, Vanessa memelukku.
“A-a-aku sudah cari kamu kemana-mana!” ia terisak. “Aku juga cari ke rumah kamu tapi belom sampai portal sudah dihalangi sama security!”
Iya, Bram memang rutin bayar hansip setiap bulannya demi keamananku. Mungkin pengertian dia hansip itu sama kayak security kali ya...
“... kamu menghilang begitu saja, kamu jahat banget!!” tangisnya makin keras.
Aku menghela napas, dan berusaha membebaskan diriku dari pelukannya.
Walah!
Pelukannya kenapa melekat begini? Lebih susah ngelepasinnya daripada si Barong!
Dia siapa?
Bukan siapa-siapaku sih.
Tapi dulu kami lumayan sering ngobrol sampai dia diserang sama ‘teman cewekku’ yang lain.
“Kamu kan tahu aku tidak berniat jahat sama kamu! Aku hanya mengutarakan perasaanku!”
Aku berusaha mendorongnya sesopan mungkin. Karena dia wanita, aku tidak bisa menggunakan tenaga priaku.
“Tapi tiba-tiba kamu nggak bisa dihubungi sama sekali, media sosial kamu dihapus!”
Aku tarik kedua lengannya untuk melepaskan pelukannya.
Eh, gila nggak bergeming sama sekali!
“Tapi aku tahu kamu, kamu pasti menghilang gara-gara cewek gila itu kan! Tapi kenapa aku juga kena, itu yang aku nggak ngerti!!”
Aku menggeliat untuk mencoba Plan C cara membebaskan diri dari pelukan lintah, apa aku tabur garam saja biar pelukannya mengkeret?
Tiba-tiba Vanesaa tersentak ke belakang.
"Heh! Beyotch!! Who do you think you are?!"
Aku mendengar suara yang juga aku kenal lainnya. Suara serak yang seksi.
Hanny.
Kenapa mereka pada tau lokasiku di sini?!
Siapa Hanny?
Hanya cewek kaya yang salah paham saat aku panggil namanya. Dia kira aku manggil dia Honey (Sayang). Lagian punya nama udah bernada romantis dari akte lahirnya, terus aku harus panggil apa coba?!
Hanny mencengkeram rambut Vanessa dan menamparnya sampai wanita itu terjungkal ke dinding.
Orang-orang mulai berkumpul.
Saat Vanessa limbung, Hanny menarik leherku dan menciumku yang juga sedang menyeimbangkan posisi berdiriku, karena saat dia menarik Vanessa aku juga ikut tertarik.
"Finally i found you," d3s4h Hanny. Main cium-cium aje nih cewek, berasa aku tembok kali ya, dicium gada yang liat. Akunya ke-enakan pulak! Bang-sat emang akunya.
Yah...bukannya nggak mau sih. Apalagi, dia juga jadi tambah mont**k
"Oh GOD, you're so sexy.. Soon baby, you'll be mine." tambahnya sambil membelai dadaku. Ia mendorongku ke dinding dan kembali menciumku, diiringi keriuhan orang-orang.
Aku mencengkeram kedua pergelangan tangannya.
Karena mereka berdua lah hidupku jadi merepotkan banyak orang. Kalo nggak bisa diusir, aku jadiin bini aja yah semuanya? Itung-itung bikin harem nggak kehabisan stok.
"No, just leave," pintaku memohon. Aku mencoba berbicara baik-baik.
"I just found you now you ask me to leave? What the heck request of that?! "
"Don't you realized i constantly avoiding you!"
"Why!!" dia berteriak marah.
"Who wants to get closed if you always attack brutally!"
"What the hell !!" serunya.
"Just leave me alone!" aku mendorongnya sebisaku.
"Dimas!! How supposed i can show you that i really love you!"
"And how supposed i tell you that i dont love you?! Hah? You always get pressure on me!"
"I can be what you want! I promised... Please be mine..." pintanya sambil mengikutiku.
Aku hanya ingin ke arah lift untuk mengikuti meeting.
"Dimas, please!" ia memelukku dari belakang. "Please dont leave me..." yang tadi
lintah, sekarang yang ini bekicot.
Kayaknya besok aku pake Autan aja biar nggak diserang serangga.
Drama Queen banget ya.
Udah lah nggak usah ditranslate, kasian yang ngetik, capek. Intinya si Hanny mohon-mohon supaya aku nggak hilang lagi dan jadi miliknya.
Tiba-tiba Hanny tersentak ke belakang, rupanya Vanessa sudah bisa memulihkan dirinya dan menjambak rambut Hanny. Kuku hanny yang tadinya mencengkeram pinggangku meninggalkan sobekan di kemejaku karena ia tertarik Vanessa..
Eh, gila tajem bener tu kuku, diasah pakai apa, coba?!
“Gara-gara elo, bang-st, lo selalu ganggu gue sama Dimas!! Kepentingan lo apa sih!!” seru Vanessa sambil menarik Hanny ke belakang.
Hanny menamparnya sekuat tenaganya.
“It’s supposed be my question! Moron!!”
Pipi Vanessa tersambar kuku wolverinenya. Meninggalkan jejak darah di pipi mulusnya.
Astaga...
Terdengar beberapa orang yang menonton juga memekik kaget.
Tapi rupanya Hanny tidak berhenti sampai disitu, ia kembali melayangkan tangannya.
Aku reflek menahannya.
“Are you Crazy?!” umpatku. “You can kill her!”
“I am! I want to kill her!! Let go off me!!”
Aku meraih tubuhnya untuk menjauhkannya dari Vanessa yang shock dengan tangan bergetar memegangi pipinya.
"I loved somebody else!!" Akhirnya untuk meredakan amarahnya ke Vanessa aku mengaku.
Aku mengaku kalau aku jatuh cinta ke Orang Lain.
Mereka berdua terdiam.
“What...?” desis Hanny menatapku.
Vanessa hanya menatapku tak percaya sambil melotot.
Aku melepaskan peganganku.
"Who?" desisnya. Tampangnya jadi kayak medusa mau nyihir aku jadi batu biar bisa dibawa pulang
"Siapa?!" sambung Vanesa.
Meilinda berdiri di depanku, menghalangi mereka.
"Saya pacarnya," sahut Meilinda. “Kalian berdua ini siapa?”