
Kami dalam perjalanan ke Bandung malam ini.
Bu Meilinda duduk di kursi depan sambil berdandan sementara aku mengemudi dengan perasaan senang karena kali ini yang berada dalam kemudiku adalah... Jreng jreng jreeeng...!!
Bentley Bentayga !!!
Aku lumayan kaget saat dia bilang kalau kopernya dimasukan ke mobil yang satunya saja, jangan yang Lexus. Ternyata dia juga menyimpan ‘Si Benty’ di parkiran basement kantor!
Ini mobil asli ganteng banget dan kabarnya bisa berlari mencapai 301km/jam. Itu berarti bisa berjalan berdampingan dengan Kereta Shinkansen. Walaupun memang sekalinya isi bensin perjalanan Jakarta-Bandung bisa sejutaan , tapi yang namanya nyetir mobil semewah ini, mimpi pun nggak berani saking mustahilnya.
Tahu begitu aku nekat pinjam jaket Balenciaganya Mas Bram tadi. Setidaknya ada outfit yang bisa mengimbangi kemewahan tungganganku. Nah ini aku cuma pakai kemeja kantor buluk yang lengannya dilipet setengah.
"Kamu kenapa sih kalo lagi nyetir suka senyum-senyum sendiri?” tanya Bu Meilinda. "Segitunya suka nyetir mobil, apa perlu kamu saya hire jadi driver juga?"
Hish! nggak suka banget sih ngeliat orang lagi seneng dikit!
Aku tidak mengindahkannya.
Naik supercar ditemani wanita cantik. Apakah begini perasaan para sultan saat naik delman didampingi permaisuri di Jaman Majapahit? Apakah saat itu sudah ada delman? Mungkin bisa diumpamakan delman tapi yang narik di depan bukan kuda tapi naga.
Tapi dalam kasusku karena terkendala minimnya kantong sehingga outfit tidak cetar maksimal, begitu turun dari mobil bukannya disangka pasangan malah disangka kusir delman dan Noni nya.
Ck ck ck ck.
“Eh, kamu lihat tampang cewek-cewek tadi waktu saya datang?” ia bicara dengan berbinar-binar.
“Memang gimana tampang mereka?”
“Melongo kaget gitu, terus kayak benci banget sama saya hahahahaha!” ia terkakak. Tawanya berbeda dengan suara teriakannya sehari-hari. Suara tawanya ringan dan bening.
Terus terang saja, aku lumayan suka mendengar tawanya.
“Saya nggak memperhatikan mereka, fokus saya cuma Bu Meilinda,”
“Ih, kamu udah berani ngerayu yaaa,” Bu Meilinda memukul ringan pahaku.
Tiba tiba, entah bagaimana, di pikiranku ada sekelebat bayangan yang aku tak bisa tolak.
Bu Meilinda, dalam posisi menungging di kap mobil.
Tanpa permisi adekku langsung bangun.
Gawat!
Kacau!
Ini lagi di jalan, pamali banget bisa-bisa kena sial kalo mikirin begituan! Malem-malem pulak!
Tiba tiba pose selanjutnya lewat lagi tanpa permisi.
Bu Meilinda tanpa sehelai pakaian, pose kuda kudaan dengan wajah menunduk ke bawah untuk...
Argh!!
"Kamu kenapa Dimas?! Kok tiba-tiba teriak?!" Bu Meilinda langsung menatapku sambil melotot.
Payah bener ini otakku! Lama-lama aku mutasi ke dengkul saja gimana?!
"Itu...." aku sekuat tenaga mencari alasan. "Saya lupa belum email ke Pak Danu tentang Daftar Nasabah Bermasalah Triwulan Satu," Alasanku hanya bisa seputar pekerjaan karena aku tak pandai mencari alasan. Tapi ya tetap saja jatuhnya bohong karena laporan sudah di email dari hari Jumat minggu lalu.
Bu Meilinda menghela napas sambil kembali duduk santai. "Makanya jangan kebanyakan bengong mikirin saya telanjang! Rabu pagi kamu harus prioritaskan kirim emailnya!"
Lah kok dia tau?!
“Mas, kayaknya kurang-kurangi deh yang soal kamu pegang-pegang pinggang saya, membuat saya jadi merinding,”
“Berlebihan ya bu? Sori kalo jadi takut,”
“Yah, bukan takut sih,"
"Jadi?"
"Sepertinya saya belum terbiasa disentuh seintim itu,"
"Intim? Yang mana?"
"Yang barusan kamu lakukan,"
"Hah? Yang mana sih Bu?" aku beneran nggak ngeh.
"Kamu tadi pegang pinggang saya, itu area sensitif,"
Aku tertegun. Masa sih hanya begitu saja dia merasa terganggu? Bukankah dia pernah menikah? Jadi pernah dong disentuh-sentuh. Juga hubungannya dengan pacarnya baru-baru ini sampai video call vulgar, jadi seharusnya dia sudah terbiasa.
Kenapa jadi terganggu denganku?
Kupikir itu kulakukan memang untuk meyakinkan semuanya kalau aku ada hubungan dengan kategori ‘special’ dengan Bu Meilinda, mumpung banyak terduga 'pengambil sampah' di ruanganku tadi.
Aku pun diam sambil memandang jalanan Jakarta yang padat, di depan sana sudah terlihat gerbang tol. Walau pun letaknya dekat tapi kondisi jalanan sedang macet-macetnya.
Mengenai lalu lintas disini, aku punya cerita. Jadi 2 tahun lalu aku berlebaran di Kebumen, tempat kelahiran Ibuku. Rumah Mbahku cukup besar karena beliau lurah desa dan kami diservice habis-habisan. Setelah 1 minggu entah bagaimana seperti ada yang salah. Rasanya sangat bosan dan salah tingkah.
Seminggu tanpa aktivitas berarti, sampai-sampai Mas Bram menawarkan diri untuk bantu-bantu metik kelapa, aku menyiangi padi dan menangkap belut setiap malam, tetap saja ada yang salah.
Ternyata saat kembali ke Jakarta, aku hampir menangis karena ternyata ini yang kurindukan. Yak! Kepadatan ini, kemacetan ini, desak-desakan di KRL seperti ini yang nggak ada di kota mana pun.
Dan saat ini karena aku sedang menaiki si Benty ini (Panggilanku untuk Bentley Bentayga), jadi aku tidak terlalu kesal dengan kemacetan.
“Besok kalo gitu ganti gaya deh, nggak usah yang terlalu romantis kayak tadi," aku memutuskan begitu dari pada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Eh, jangan!”
Aku mengangkat alisku. “Katanya tadi merinding,”
“Iya, aduh saya ngomongnya gimana yah,”
“Ada yang harus saya perbaiki?”
Bu Meilinda mengusap rambutnya yang di blow sempurna ke belakang dahi. “Yang tadi udah bagus, Dimas. Malahan... "Bu Meilinda terlihat begidik sambil mengelus kedua lengannya yang kurus. "Malahan terlalu meyakinkan,"
Terlalu meyakinkan.
Ah! Akhirnya aku tahu kenapa sikap Bu Meilinda dari pagi terasa aneh.
Aku bukan cowok polos yang tidak menyadari kemampuanku memikat wanita. Hal itu sudah ada di DNA ku sejak lahir, sampai keluargaku kesulitan. Memang harus ‘disentil’ beberapa kali baru aku peka terhadap keadaan.
Dan saat ini aku baru menyadari, kalau Bu Meilinda sudah terjerat ke dalam pesonaku.
Narsis dikit lah yaaa.
“Oh, udah sampai gemetaran belum?” candaku.
Tiba-tiba terasa pinggangku perih. “Arghh.. sakit sakit sakit!" keluhku. Ih! Aku dicubit!
Bu Meilinda mencubitku dengan muka merah. “Kamu tuh ya, kalo bercanda bisa sih nggak mesum!”
“Sakit, Bu…” keluhku sambil mengelus pinggangku. Beneran pedes dah.
“Liat jalan jangan meleng,"
“Gimana kalo besok kita mulai panggilan ‘sayang’?” usulku sambil terkekeh. Aku beneran cuma bercanda loh.
“Gimana kalo sekarang saya jewer telinga kamu?”
Aku hanya mesem-mesem.
“Jadi, tadi habis makan siang saya ke ruangan IT untuk periksa cctv tentang yang suka ngambilin sampah kamu. Makanya malamnya saya sengaja datang ke ruangan kamu dan memprovokasi suasana biar mereka makin panas!" mata Bu Meilinda memandangku dengan bersemangat.
Kok gemes ya liatnya. Dia sebenarnya cantik kalau tingkahnya kalem begini.
“Siapa?” tanyaku tak kalah antusiasnya
“Gio.”
"Hah?!" aku beneran kaget.
Bu Meilinda mengangguk yakin. "Saya punya rekamannya. Mau lihat?!" dia menyerahkan ponselnya padaku.
Sedetik, dua detik aku memicingkan mata menatap layar ponsel canggihnya. Lalu berikutnya aku mengerang jijik saat melihat hasil rekaman itu.
Haduh si Gio! Tu anak apa-apa’an sih?!
“Kamu mau saya bikin masalah ini panjang atau pendek?” tanya Bu Meilinda. Panjang berarti tuntutan hukum dan pengadilan, pendek berarti diselesaikan secara kekeluargaan.
Aku mengibaskan tanganku. “Saya saja dulu yang hadepin bu. Mau tahu juga motifnya,"
“Motifnya uang, Dimas. Terlihat kalau dia menjual semuanya ke para cewek dari divisi marketing dan dia terima uangnya, bahkan dia mengadakan lelang besar-besaran loh!”
“Terus laku semua?”
“Awas kamu ya, jangan kepikiran mau minta bagian!” ancam Bu Meilinda.
Aku terkekeh, dia bisa baca pikiranku. “Iya bu, makasih atas penyelidikannya,"
“Susah ya?” tanyanya lagi.
Aku menyesap kopiku sambil melancarkan pandangan bertanya.
“Apanya susah?” tanyaku.
“Susah kalau terlalu seksi,”
“OHOKK!!” aku beneran kaget. Apa dia bilang?! Seksi?! Baru kali ini ada yang secara gamblang ngomong itu. “Ibu ini bercanda saja kerjanya,” dengusku sambil menyambar tisu. Bukan, biasanya dia tidak bercanda, bisa dibilang, bercanda bukan bagian dari hidupnya Bu Meilinda.
“Saya nggak heran sih kalau ada kasus para cewek rebutan kamu. Wajah kamu sangat sempurna dan kelakuan kamu mengundang kesalahpahaman. Tak heran kalau mereka bisa sampai berkelahi memperebutkan kamu,"
“Oh, yang itu juga sudah diselidiki?!” sindirku. Dia jelas-jelas bilang mengenai kasusku di kantor yang lama sebelum pindah ke Garnet Bank.
“Ya, saya kan harus tahu dengan siapa saya bergaul,” sahut Bu Meilinda sambil menyesap kopinya.
“Jangan terlalu banyak cari tahu tentang saya. Wanita terakhir yang menyelidiki hal itu berakhir di rumah sakit, diserang sama wanita yang lain. Cuma gara-gara saya sedikit lebih akrab dengannya dibanding yang lain, saya dianggap tukang ghosting.”
“Ya, tapi kan dia wanita biasa. Kalau saya, sudah beda levelnya. Asalkan kamu mendukung gerakan saya. Kan untuk itu saya membantu kamu?!"
Aku menghela napas. Iya, dia benar. Untuk itu aku meminta bantuannya. Karena levelnya sebagai manusia berkuasa jauh di atas rata-rata wanita di sekitarku.
Tidak ada yang berani mengusik Bu Meilinda. Dia Crazy Rich, kakaknya Penguasa Bisnis, salah omong sedikit mainannya bedil.
"Apa kamu tahu apa kesalahan kamu sehingga bisa terjadi tumpah darah?”
“Apa?” tanyaku.
“Kamu...” Bu Meilinda mencondongkan tubuhnya. “Membiarkan itu terjadi. Kamu diam saja saat kejadian itu,”
“Saya tidak tahu persis apa yang terjadi,” dalihku.
“Kalau kamu benar-benar mencintai salah satunya, kamu pasti akan melindunginya dari serangan wanita yang lain, tapi kamu tidak mencintai siapa-siapa dan hanya ingin ‘bersikap baik’ sehingga semuanya jadi salah paham. Itu kesalahan kamu. Seakan kamu suka suka bermain-main,”
“Jangan fitnah, Bu. Bukan itu maksud saya,"
“Kamu tahu kamu itu seperti apa, Dimas," potong Meilinda lagi. “Kamu tahu persis kalau kamu bersikap baik, semua jadi menaruh harapan. Dasar player,"
Sepertinya Bu Meilinda benar. Saat kejadian itu, bukannya aku tidak tahu. Namun aku juga tidak bermaksud mengadu domba.
Terus terang kejadian itu membuat gambaranku mengenai wanita menjadi berbeda. Dan untuk awal yang baru di kantor baru ini aku sudah bertekad akan memperbaiki diriku.
Ngomong sih begitu, sekarang malah berhubungan sama wanita yang jauh lebih berbahaya!
Makhluk Tuhan yang di depanku ini, dengan rambut sepinggang dicat coklat dan terblow sempurna, baju bermerk yang selalu matching sama tas dan sepatunya yang kalau discan mungkin harganya bisa beli rumah mewah di pusat kota, dan beliau berasal dari keluarga Crazy Rich Darmawangsa yang hartanya tak habis dimakan 10 turunan, bisa jadi kalau aku macam-macam dengannya kehidupanku bakalan amburadul sampe akhir hayat.
“Boleh jujur, Bu?” tanyaku akhirnya.
“Boleh dong,”
“Memang ada perasaan percaya diri saat melihat cewek-cewek memperebutkan saya, saya berasa seperti… di atas angin melebihi cowok lain. Tapi kejadian yang kemarin itu, benar-benar di luar prediksi saya. Saya cukup trauma sampai sekarang, ”
“Jadi sekarang lagi kalem nih?!”
Aku menaikkan bahuku.
“Seberapa sering sih kamu bercinta?”
Another Epic Question.
“Nggak sesering yang ibu pikirkan.”
“Kamu suka gaya apa?”
Beneran ini dia tanya begitu? Kok jadi mancing-mancing begini.
“Gaya kupu-kupu kali,” desisku cuek.
Dia terlihat menaikkan alisnya.
“Don’t say a word,” desisku menekannya. “Plis…” nadaku cukup mengiba.
“Dasar Perjaka, hahahahaha!!” dia ucapin dong kata terarang ituuu, “Kamu hebat bsa mempertahankannya! Sekalian aja kamu jadi Biksu!”
Aku langsung menutup mulutnya dengan tangan karena semua orang langsung memperhatikan kami.
Dia menatapku dengan kesal karena aku lancang menutup mulutnya.
“Eh! Sori bu reflek,” desisku sambil langsung menarik tanganku. Lipstik mahalnya menempel di telapakku. Bu Meilinda langsung mengambil kaca lipat dan mengoleskan kembali cairan merah untuk menyempurnakan penampilannya.
Sigap banget ya untuk urusan kecantikan! Hebaaat!
"Hm, saya bukannya nggak pernah ngeliat cewek yah, malah cukup sering ditawarin, bahkan disodorin ke depan muka. Tapi untuk yang satu itu, masih dilindungi olehNya. Saya selalu bisa menghindar.”
“Normalnya laki-laki pasti akan ambil kesempatan itu. Apa ada yang membuat kamu menjauh? Apa kamu Gay? Atau jenis yang radikal? Atau jangan-jangan punya kamu kecil?" desisnya sambil menaikkan sebelah bibirnya.
“Saya bukan Gay, nggak terlalu agamis, dan ukuran saya normal. Tapi terserah ibu sih mau ngomong apa," aku jadi kesal.
“Apa yang kamu pikirkan waktu ngeliat saya dalam keadaan lemah waktu itu?”
Aku menatapnya, sedalam-dalamnya aku bisa menatap wajah seorang wanita. “Saya nggak perlu bicara, ibu sudah tahu apa yang saya pikirkan dari kondisi saya besok paginya.”
“Wah, makasih loh, setidaknya saya jadi percaya diri,” sahutnya.
Aku menghela napas. Pembicaraan yang seperti ini membuatku capek. “Saya lebih senang kita membicarakan mengenai pekerjaan dibandingkan perasaan,” kataku mengakui.
Aku tidak suka raut wajahnya saat ini. Aku lebih suka melihatnya marah-marah dibandingkan saat dia tersenyum manis dengan mata menatapku lekat-lekat seakan berpikir rencana licik akan diriku. Dia duduk mencondongkan tubuhnya ke arahku, kaki terlipat seperti cara duduk Sharon Stone di Basic Insting, dengan dagu berpangku pada tangannya.
“Kalau urusan saya dengan Gunawan selesai, saya akan benar-benar memajang foto kamu di instagram saya. Mungkin pasang pose super duper mesra,” ia menyeringai. “Buat bahan gibah, biar gosip semakin santer. Crazy Rich 44 tahun pacaran sama berondong ganteng! Gitu tag linenya!”
Ia sepertinya menyindir. Entah lagi marah-marah sama siapa.
Aku manut saja lah, dari pada diteriakin toa.