
Aku menuju ruang meeting nomer 6 sambil mengendap-ngendap, mengintip sedikit.
Kulihat di dalam sana, banyak cewek-cewek ngerubungin Desy yang sedang tampak mengerutkan keningnya dengan sebal. Mereka tampak bertanya banyak hal dan Desy mulai kewalahan menghadapi.
Aku menarik nafas panjang dan kuhampiri Desy.
Seperti yang di duga, mereka langsung berlari ke arahku dan memelukku. Membuat Desy yang melihatku mencibir, “Mas Dimas Sok’Sok’an jadi sultaaan banyak selirnyaaa,” seru Desy kencang-kencang.
“Nggak usah gabung ya Des, kasihan Rizka,”
Desy mengibaskan tangan padaku, “Makan Hati melulu kalo aku jadi istri Mas Dimas sih!”
“Bikinin minum yak,” Desisku sambil mengiring para fans ke ruang meeting yang full kaca biar keliatan dari luar.
“Aku bikinin minum dapet apaaahh?” desis Desy.
“Cium pipi,”
“Oke Mas Dimaaaaas!” Desy langsung ngibrit ke pantry.
Mengenai bagaimana caraku meyakinkan para cewek supaya pergi, kurang lebih sama lah dengan caraku menyadarkan Vanessa dan Hanny kalau aku bukan milik mereka. Nggak usah diceritain yak, ribet soalnya.
**
Di suatu siang yang terik.
Kami sedang berada di warteg gedung sebelah. Aku bersama dengan Daniel, Tresna, Heksa, Okky, dan Ari Sangaji si cewek ganteng.
Kenapa sampai kita melipir di warteg gedung sebelah?
Bukan, kita bukannya mau mempromosikan kegantengan kita sampe ke gedung orang lain, bukaaaan.
Tapi si Trio Kuliner ini, Tresna, Heksa dan Okky, yang bahkan aneka ciki aja mereka review kenikmatannya, menemukan hidden gem diantara gedung-gedung tinggi.
Kata mereka loh.
Setelah tiba di sana kata Ari "Ini mah warteg biasa Nying. Di komplek gue bejibun yang kayak gini!" seru Ari dengan congor bebeknya.
"Lah dikata tempet gue kagak ada ginian?! Masakan emak gue juga lebih sedepp!" sahut Daniel dengan mulut nyinyir gaya soang mangap.
"Si goblok…" Tresna mengeplak kepala mereka berdua pakai paklaring seseorang. Kenapa juga dia bawa-bawa paklaring?! Bukannya harusnya ditarok di meja Pak Danu buat di tandatangan yak?!
(Apa Itu Paklaring? Paklaring adalah surat yang menyatakan seseorang pernah bekerja di suatu perusahaan atau instansi. Di dalam surat tersebut disebutkan mengenai posisi dan jangka waktu bekerja).
"Tres? Itu Paklaring sapa?!" tanyaku.
"Punyanya Pak Stephen, Pak. Pak Arman buatin ginian karena kan beliau jatohnya mutasi dari Garnet Grup ke Garnet Bank.
"Lu ngapain bawa-bawa begituan ke warteg sih? Itu kan surat penting…"
"Emang si Tresna sekretaris gada akhlak. Gue aja bertanya-tanya kenapa lo bisa jadi sekretaris," desis Heksa.
"Kita juga bertanya-tanya kenapa lo bisa," desisku dan Daniel berbarengan ke arah Heksa.
Heksa mencebik, "Lo nggak tau aja mengenai kemampuan gue sesungguhnya dalam menyortir surat masuk," si anying menyombongkan diri.
"Yang gue denger… Yang jadi sekretaris Pak Danu harus laki-laki. Karena pas perempuan, mereka sering kejang-kejang ketakutan," gumam Okky.
"Heh…" kami pun menyeringai sinis. Ternyata mereka berdua tumbal Vampir. Karena mereka polos banget dan cenderung bisa dibegoin, jadi ketemu Pak Danu udah nggak ngeh aja seremnya.
Sudahlah, anggap saja mereka berdua cowok pemberani, untuk positif thinking. Nggak boleh sudzon looooh.
"Di sini itu… Kemarin Ibu-ibu kantinnya bawa menantunya. Anaknya baru nikah bukan lalu, naaaah menantunya di rumah nganggur," kata Heksa.
"Terus apa hubungannya sama kita mak- widihhhh!" aku tidak melanjutkan kalimatku karena kulihat di ujung sana, cewek seksi, semok, putih, bajunya kaos sepaha tanpa bawahan lagi, "Mochi anget di dalam warteg," desisku langsung kasih kode.
"Nah itu Pak Dim! Itu maksud gue! Kaaan jadi betah makan di sini!"
"Ini mah penglaris kaga ada akhlak!" seruku.
Jujur aja… Itu cewek agak gemuk sebenarnya. Tapi menggiurkan.
Yang cewek kayaknya cuma Ari yaaaaang… Udah ada di ujung sana pesen makanan, loh. Ni cewek laper apa gimana, tau-tau udah nangkring di etalase.
Kami pun mengikuti jejaknya dengan berjalan ke etalase untuk touchscreen.
Iya touchscreen. Tinggal teken kaca tunjuk lauk, terus otomatis diambilin lauknya sama Mbak Warteg.
"Mbak, cantik begini kok jaga warteg?" si Ari tanpa disaring bertanya ke si mbak warteg, "Jadi yutuber juga laku kamu,"
Mbak Wartegnya sampai melongo mendengar si Ari.
Kita juga sih.
"Bener Mas?" tanya si Mbak Warteg. "Bener saya cantik?!"
"Cantik menurut saya,"
"Ah! Saya mah cuma orang desa Maaas, Kata Bapak ibu saya, saya tuh jelek kalau dibandingkan Mbak-mbak kantoran di sini," si Mbak Warteg mengibaskan tangannya.
"Menurut kamu tampang saya gimana?" tanya Ari.
"Ganteng banget Mas,"
"Nah itulah, kata bapak ibu saya, saya ini cantik loh. Saya aja nggak percaya. Makanya kamu percaya aja kalau orang bilang kamu cantik,"
"Kok bisa seganteng ini dibilang cantik sama orang tuanya sendiri?!"
"Kok bisa secantik ini dibilang jelek sama orang tua sendiri?" tanya Ari lagi.
"Biar nggak suka main Maaas. Kalo dibilang dia cantik ntar sombong," kata si Ibu Mertua, datang dari dalam dapur. "Kalau dibilang dia cantik, mana mau nikah sama anak saya, hahahahaha!"
"Lah ibu juga salah bawa dia ke sini. Di sekitar sini tuh orang kantoran semua. Salah-salah kepincut direktur bisa rusak rumah tangga anak ibu!"
"Oh iya ya Mas… Nggak kepikiran saya!"
Dan aku pun menutup mulut Ari sebelum dia menyebabkan kehebohan lebih lanjut, "Nasi telor balado pake perkedel satu, minum nutrisari Mangga pake es, ya Bu!" seruku.
Lalu kuseret Ari melipir ke bangku kami. Orang-orang menatap Ari udah super duper sinis banget, "Lo tuh bakalan dibenci orang sewarteg! Bisa-bisa pemandangan bagus sirna gara-gara looo!"
"Laaah gue cuma ngomong apa adanyaaaa!" ronta Ari.
Tapi beberapa menit kemudian, "ini Mas bolu kukus bikinan saya sendiri loh," si Mbak Warteg datang sambil bawa piring kecil dengan bolu coklat
"Saya nggak pesen ini," sahut Ari.
"Nggak, servis dikit dari saya, hihihi," si Mbak Warteg pipinya tersipu merah, dan buru-buru berlari ke balik dapur.
Kami pun menatap tajam si Ari Sangaji dan berpikir dalam hati, nggak lagi-lagi gue ngajak Ari makan bareng.
**
Pas lagi makan dan ngomongin tentang keseharian Pak Danu, apakah dia minum darah, atau malah ngemil saos tomat aja, apakah dia tidur di peti, atau malah tidur di kandang, tiba-tiba ada beberapa orang dari kantor lain datang. Jumlahnya berempat dan mereka terlihat gahar. Tampangnya mirip lah macam Sena, serius tidak santai tapi tegang gitu. Bedanya yang ini nggak tamvvan macam Sena, tapi bisa dibilang suram muram durhakim gitu. Selayaknya tokoh antagonis di sinetron Azab gitu. Congkak kecengklak.
Mereka kebetulan duduk di meja belakang kami, sehingga kami bisa mendengar perbincangan mereka yang lumayan mengkhawatirkan.
Hasil menguping kami, mereka berasal dari perusahaan Debt Collector yang disewa bank untuk mengurusi nasabah macet. Jadi, mereka itu bukan karyawan Bank.
Terkadang ada bank-bank besar yang memberikan kasus penanganan nasabah macet ke perusahaan yang menyediakan 'jasa khusus penagihan'.
”Berikutnya siapa bang yang mau kita datengin?” tanya salah satunya dengan logat wilayah WITA.
“Namanya...” yang bertubuh paling besar dan sangar menatap ponselnya sambil mengernyit, membaca daftar ‘korban’ makian. ‘Maryanti, dari Garnet Bank. Kolek 5 nih udah 3 tahun nunggak. Tunggakannya 15 juta,”
Kami di meja seberang, hanya bisa diam sambil liat-liatan.
Telor Balado Mbak Kantin seksi, jadi berasa hambar di lidahku.
Bersambung ah...