
Selena datang jam 9 pagi. Wajahnya sembab, terlihat kalau ia habis nangis semalaman.
Aku jadi nggak enak nyuruh-nyuruh dia, habis wajahnya merana sekali.
Aku memang senang kalau ia dalam posisi sulit. Tapi tidak yang seperti ini. Yang ini miris banget.
Apalagi aku tahu kalau Selana dan Masku lagi kasmaran.
Jadi jelas, karena dia nggak ngomong seharian dan kegiatan kerja kami agak terganggu. Suasananya tegang banget soalnya berasa Presiden Putin duduk di meja depanku. Jadi aku pun inisiatif untuk menceritakan mengenai perjodohan Selena dengan Mas Bram.
Hari Senin, pas kerjaan lagi Chaos, dan aku mengirimkan WA panjaaaaaang ke Masku menceritakan mengani pacarnya dijodohin sama sahabatnya sendiri.
Trouble maker banget nggak sih aku nih?!
Jadi, pembaca,
Ini adalah adegan Bram bertemu dengan orang tua Selena. Karena ceritanya aku nggak ikut ke rumahnya Selena, jadi kita serahkan naratornya ke Author. Diriku nyimak aja sambil sebat.
Persilahkan Author...
**
Bram Hari ini mengambil cuti mendadak. Ini bukan hari libur, ia juga harus merancang ulang jadwal pekerjaan yang sudah ditetapkan. Gara-gara kabar yang datang dari Dimas bagaikan petir di siang bolong.
Tapi ini demi masa depannya, demi hidupnya.
Ada sesuatu yang harus ia perjuangkan. Dan kali ini untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan orang lain.
Setelah kabar dari Dimas itu, spontan ia datang ke ruangan Trevor danmenanyakan mengenai kebenarannya.
Trevor pun hanya menghela nafas panjang dan mengibaskan tangannya “Kalo ada sapi betina single, bisa jadi gue bakalan dijodohin sama tu sapi!” serunya kesal perihal ayahnya. “Kemarin Milady, sekarang Selena... apa pun akan dilakukan bokap gue untuk menjauhkan gue dari Ayumi!”
Bram hanya tersenyum menanggapi sahabatnya itu.
Ia memang marah di awalnya, Tapi, akal sehatnya berbicara...
Pertama, ia sejak awal sudah memprediksi Trevor tidak mungkin menerima perjodohan. Ia dan Dimas mengetahui kalau Trevor punya pacar di Jepang dan Pak Sebastian selama ini menjodohkan Trevor dengan siapapun (terakhir Milady, sekretaris Trevor sendiri) untuk membuat Trevor putus dengan pacarnya yang di Jepang. Udah bucin banget si Trevor sama Ayumi sebenarnya.
Kedua, ini bukan jaman siti nurbaya yang ceweknya mau aja dijodohkan. Kalau melihat dari sifat Selena, pasti sudah kabur duluan ke belahan dunia lain, atau mau menikah tapi setelah itu sengaja bikin masalah sehingga diceraikan.
Ketiga, ini lagi-lagi kejahilan Pak Sebastian. Mungkin pria itu ada dendam tersembunyi sama Bu Lastri. Sedikit banyak mungkin Selena bercerita mengenai perasaannya pada Bram ke Pak Sebastian. Jadi sekarang karena si Dimas nggak kena dikerjain, Pak Sebastian gantian ngerjain Bram.
Masalahnya sekarang, orang tua Selena mungkin jenis kolot yang mengutamakan bibit bobot bebet. Kalau hal itu jelas Bram kalah dengan Trevor. Tapi kalau Trevor-nya nggak mau terus kan nggak bisa juga.
Jadi atas dasar pertimbangan itu, Bram santai saja datang ke rumah orang tua Selena. Dia bahkan belum memberitahu wanita itu. Nanti saja kalau sudah keluar restunya, pikir Bram. Sebenarnya ia cukup percaya diri kali ini.
Farid Al Farouq menghadapi sosok tinggi besar Bram di ruang tamu rumahnya yang mewah, yang dipenuhi dengan perabotan produksi pabriknya sendiri. Kekayaan yang utama dihasilkan dari penjualan furnitur untuk seluruh hotel milik Garnet Hotel. Jadi bisa dibilang pak Farid ini kaya raya karena Pak Sebastian.
Sosok di depannya ini benar-benar membuatnya gentar. Wajahnya tampan namun auranya yang bersahaja membuat siapa pun yang berhadapan dengannya minder. Farid menghadapinya dengan hati-hati, ia tak ingin membuat pria ini marah.
Bram tersenyum dan memperkenalkan dirinya.
"Nama saya Bramantyo, mohon maaf saya datang tanpa pemberitahuan." Begitu kalimat pembuka Bram.
"Oh iya Mas Bramantyo... Nama saya Farid. Perkenalkan ini istri saya Alana."
Bu Alana menatap Bram dari ujung ke ujung dengan mata berkilat, seperti... Maung lagi kelaperan terus nemu kambing diiket di tengah jalan.
"Jadi... bagaimana Mas Bramantyo?" tanya Pak Farid.
"Bram saja Pak. Mohon maaf sebelumnya, tujuan Saya datang kesini sebenarnya adalah untuk melamar anak bapak, Selena."
Gila juga si Bram, baru juga disuruh duduk udah itu aja kalimat pertamanya. Langsung nggak pake basa-basi!!
Bu Alana terkesima mendengarnya.
"Melamar Pah..." Wanita itu berbisik sambil menyenggol-nyenggol lengan Pak Farid.
Pak Farid hanya mengangguk-angguk.
"Sebelumnya Saya mau memperkenalkan diri Saya. Saya dulu atasan Selena di Garnet Property, Selena sudah bekerja 5 tahun dibawah saya..." sambung Bram.
"Oooh kamu yang namanya Pak Bram. Selena sering cerita sama saya." Sahut Bu Alana.
"Mudah-mudahan ceritanya yang bagus-bagus yah bu." Sahut Bram.
Bu Alana mengibaskan tangannya sambil terkikik. "Sekarang saya sudah tahu kamu, tadinya saya pikir dia lebay, ternyata memang sesuai dengan ceritanya."
Pak Farid mencibir
Bram tersenyum dan menunduk menghormat.
"Kalau Mas Bram ini di kantor posisinya sebagai apa? Saya punya banyak kenalan di Garnet Property." sahut Pak Farid.
Ia mencoba mengintimidasi Bram.
"Saya Manager Operasional Wilayah Barat, Pak Farid, dan Saya sudah 10 tahun bekerja disana, jadi bisa dimungkinkan Saya mengenal hampir seluruh karyawan di Garnet Property."
"Jadi kenal sama Mas Trevor?"
"Trevor sahabat Saya, kami berkenalan sejak kami masih karyawan baru di property. Sekarang Dia menangani wilayah Timur,"
"Oooh..."
Bram tersenyum "maaf pak kalau saya boleh berbicara lebih terbuka, saya sudah tahu perihal perjodohan Trevor dan Selena."
Yah, karena Trevor baru saja menolak mentah-mentah. Padahal dia sudah sangat senang karena akan berbesan dengan Sebastian. Otomatis pundi-pundinya akan bertambah. Apalagi Selena sudah cukup umur tapi belum satu pun bawa calon suami ke rumah.
Tapi tetap saja yang ia butuhkan adalah pria yang mapan dan mumpuni, nggak cukup dilamar dengan Bismillah.
Ia juga bertekad tidak akan gentar dengan sosok berwibawa Bram.
"Kalau begitu Saya juga akan berterus terang ya Mas Bram, Selena anak Kami satu-satunya, Kami berharap yang terbaik untuknya. Kalo Saya boleh tahu, bagaimana mengenai keluarga Mas Bram?"
"Ayah saya sudah meninggal 11 tahun yang lalu. Beliau ekspatriat yang akhirnya menetap di sini, Ibu saya dulu guru ekonomi di Sekolah Internasional, sekarang beliau punya restoran nasi uduk di Bekasi. Saya punya satu adik, sekarang dia kepala divisi di Garnet Bank, Selena jadi anak buahnya sekarang." Cerita Bram.
"Ayah kamu ekspatriat dari mana? Saya dulu juga sekolah di Sekolah International satu genk malah sama Pak Sebastian. " lagi-lagi Pak Farid mencoba mengintimidasi.
"Ayah saya bekerja di Kedutaan Italy di Jakarta. Ibu saya di Sekolah International mengajar Matematika Ekonomi namanya Bu Lastri..."
Hening.
Mata Pak Farid membesar.
"Lastri... Ningsih?"
Bram tampak terkaget. "Iya pak, Sulastri Ningsih nama ibu saya."
"Wah!!" Seru Pak Farid. Ia langsung menyambar ponselnya dan menjauh.
Bram dan Bu Alana saling bertatapan heran
"Ehm... Mas Bram silahkan diminum dulu tehnya," Sahut Bu Alana mencairkan suasana.
Bram menurut.
Bu Alana mencondongkan badannya lalu berbisik ke Bram.
"Mas Bram, off record ini ya. Papanya itu stress soalnya pihak Pak Yan menolak perjodohan. Tahu-tahu kamu datang mau melamar kita kaget sekali ini. Kalau saya sih terus terang saja, Lena dekat sama saya, dia itu sejak pertama masuk kerja itu sudah suka sama kamu. Sampai saya bosan dengar ceritanya. Dia itu kan sebenarnya supel, aktif, keras kepala banget kayak bapaknya, suka kabur dari rumah dan muncul belahan dunia lain. Tiba-tiba kenal kamu malah jadi kalem, terus jadi belajar dandan, malah langganan salon. Kemarin itu habis berantem mereka... Selena sama Papanya, gara-gara jodoh-jodohan itu,"
Bram hanya mengangguk-angguk menyimak.
"Kalo saya sih terserah Lena, karena nanti dia yang menjalani. Tapi kalo Papanya kan prinsipnya yang jadi menantunya harus lebih baik dari dia. Dia senang sekali kemarin waktu Pak Sebastian bilang mengenai rencananya, apalagi kan mereka berteman sejak SMA. Tapi lah ya itu, muluk-muluk kriterianya. Jujur saja ya Pak Bram, ukuran sejahtera Papa itu adalah harus mapan, harus kaya, harus dari keturunan yang baik kalo bisa keraton sekalian. Ya kalo saya ya pakai logika saja, Selenanya kan juga kerja bukan pengangguran, siapa pun calon menantu kami yang penting dia bisa bikin Selena senyum terus, kalo saya sih begitu maunya..."
Bram hanya tersenyum.
“Saya dan Papa juga mulai dari bawah.... saya kan di sini kaum minoritas, pendatang, kalau bukan karena Pak Sebastian bantu suami saya, kami tidak akan hidup sejahtera seperti ini. Sejak hamil Selena saya menetap di Indonesia, kami dianugerahi banyak sekali rezeki dari Tuhan lewat Pak Sebastian, jadi kami ya tahu diri ya,”
Memang kalau mau mengulik rahasia seseorang paling pas ya ngobrol sama ibu-ibu.
"Mas Bram!" Seru Pak Farid sambil menghampiri Bram dengan tergesa-gesa. Lalu meraih tangan Bram dan menjabat tangannya.
Terlihat matanya berkaca-kaca.
"Saya ini banyak sekali dibantu sama Bu Lastri!!” Serunya.
“Oh...?” sahut Bram.
Ibuku Lagi? Pikir Bram takjub
“Kalau boleh saya tahu, apa kabar Ibu, Mas Bram?”
“Baik pak, masih energik,”
Pak Farid tiba-tiba terisak.
“Jadi... Kami itu satu genk itu ber empat...” Pak Farid memulai ceritanya.
“Teman-teman saya semua itu anak pengusaha kecuali saya, bapak saya itu kerja di perusahaan kayu, sekaligus guru ngaji, Mas. Dia Imigran dari Turki membawa kami anak-anaknya masuk ke Indonesia. Karena saya nggak bisa bahasa Indonesia ya saya belajar di Sekolah Internasional. Masalahnya, biayanya itu besar sekali. Bu Lastri... membantu saya untuk biaya sekolahnya. Kadang mereka berempat, Yan, Jago, Malik dan Bu Lastri itu patungan buat biaya semesteran saya sekolah...”
Pak Farid menghapus air matanya sambil mengingat masa lalu.
“Yan itu dulu suka kabur dari rumah, soalnya suka dipaksa sama Pak Hans untuk kerja di perusahaannya, belajar ekonomi, katanya. Kami bertiga suka nemenin Yan kabur. Kaburnya kemana? Ya ke rumah Bu Lastri. Dia itu sampai berusaha meyakinkan kami kalau ekonomi itu menarik untuk dipelajari, Mas... setiap hari ngasih kami les. 1 + 1 kalau bisa hasilnya 3, karena kalau 2 itu sama saja nol, karena kamu nggak profit! Itu saya inget pelajarannya hahaha!”
Bram menyeruput tehnya sambil berpikir.
Benarkah itu ibunya? Ya tapi dia bisa mengerti mengenai saham, reksadana dan investasi memang dari ibunya sih.
Bu Alana menyenggol-nyenggol lengan Pak Farid lalu mengernyit mengingatkan.
“Ohiya, Mas Bram, mengenai Selena.” Pak Farid kembali lagi ke topik awal, dia berdehem.
“Seandainya memang Mas Bram sudah mantap memperistri anak kami, ya saya sebagai walinya hanya bisa berpesan. Tolong jaga anak itu sebaik saya dan ibunya menjaganya, kalau bisa lebih baik dari kami. Bagaimanapun melihat dia selalu senang, selalu bahagia ya itu tujuan hidup kami sebagai orang tua.”
Bram mengangguk menyimak.
“Tapi seandainya, ya ini seandainya ya kalau bisa sih tidak terjadi, Seandainya suatu saat Mas Bram dan Selena sudah tidak ada kecocokan sudah tidak bisa bahagia berumah tangga, yaa... mohon dikembalikan ke saya. Tapi itu ya bukan harapan saya...”
Hening.
Jadi ini diterima atau ngga ini lamarannya? Bram tampak berpikir, kadang orang tua kenapa suka bertele-tele sih.
Kalau dari kalimatnya sih diterima, tapi kenapa nggak terdengar jelas ya.
“Jadi... Pak Farid, memberi restu kepada kami untuk membina rumah tangga?” tanya Bram.
“ Tentu Mas Bram! Saya merasa sangat terhormat kalau Mas Bram bersedia jadi keluarga kami..!"
Wah, pulang-pulang harus sujud sama ibu. Pikir Bram lega.